Posted by: Maik | December 24, 2009

Ibadah Haji; 30 hari mencari Cinta

 

(Sebuah Perjalanan Spiritual, bersua dalam pelukan Tuhan)

Bismillahirrahmanirrahim

Panggilan ibadah haji bagiku merupakan suatu anugerah besar disepanjang hidupku. Tiada terbandingkan, tiada terungkapkan, betapa ku sangat mensyukurinya. Terlebih panggilan ini mengiringi awal langkahku ditahun ke-empat studi al-Azharku. Selain demi memenuhi rukun Islam yang kelima, Kupikir, ini Sebuah kesempatan dan karunia besar dari Allah untuk bermesraan dan curhatan penuh bersamaNYA, meniti perjalanan ubudiyah ruhaniyah, berkontemplasi, serta usaha ikhtiyar tuk jelang masa depanku nanti.  

Alhamdulillah…Seminggu sudah aku sampai di Kairo dari perjalanan ibadah haji yang memakan waktu sebulan penuh ini. seminggu ini pula rasanya hatiku masih belum sepenuhnya berada di kairo. Perasaan kalbu yang merayap pada kegelisahan, kegundahan dan kerinduan yang teramat mendalam pada ‘Haramain’ (tanah suci Mekkah dan Madinah).  Hari-hari ini aku masih lebih senang berpikir dan melamun. Semangat belajarpun masih belum sepenuhnya kutangkap. sakit batuk dimalam hari masih kurasakan semenjak pulangku dari mabit di Mina hingga sekarang di Kairo.

Dimalam yang semakin merayap pada kesunyiannya, dalam lipatan selimut kabut udara dingin Kairo ini, tiba-tiba gundah gelisah hati semakin memuncak. Meskipun Buku diktat kuliah (muqorror) masih dalam genggaman, namun tak terjamahkan oleh pikiranku. Segera kuberanjak mengambil laptop kecilku, ingin kumenuliskan isi hati ini, berikut kesan dan pengalamanku, menjejaki setiap langkahku diTanah suci nan Agung. segera tanganku kembali menari diatas keyboard yang sekian lama tak kusentuh ini. rasanya lama sekali aku tak menulis..hingga aku merasa banyak kehilangan bendahara kata di file memori otakku. Tapi biarlah…ku ikuti arus gelombang alam pikiranku.

Pra Pemberangkatan

Seabrek aktifitas musim panas Kairo masih padat, membanjiri timing scedule ku. “duuh..tugas masih banyak, janji pada penuh, buku-buku masih bertumpukan di rak, mana kajian lagi bejibun, masalah datang silih berganti, BT, pengen pulang ke indo, bosan dan jenuh pun semakin melanda..belum lagi tiap kali nelpon keluarga, ortu selalu nanyain kapan aku berangkat haji nya…pusing dech..gimana coba?”, begitu aneka keluh kesah dan kebingunganku sekitar sebulan sebelum pemberangkatan.

Rasanya niat ku untuk haji masih belum sepenuhnya mantap. Masih penuh kebimbangan, selain karena aku tak mungkin menyisakan hutang tugas, akupun masih takut kuliah ku jadi absen. Lantaran tahun ini aku takhalluf (bawa satu materi kuliah) termin satu, dan yang lebih penting lagi, karena aku belum ada mahrom asli. Namun, sungguh  dukungan, motifasi, usaha dan semangat orang tua agar aku haji membuatku harus segera memantapkan niat Lillahi Ta’ala.

Seperti yang selalu didengungkan banyak orang, “hati-hatilah dalam melaksanakan ibadah haji, karena disanalah saat amal perbuatan kita dibalas olehNYA. Bisa dianalogikan, haji laksana yaum al-Hisab (hari pembalasan) “. Ada lagi, “itulah, kenapa kebanyakan artis lebih suka umroh daripada haji, karena saat haji, mereka takut menghadapi azab atas segala maksiat yang mereka lakukan didunia”, ku kutip dari obrolan salah satu temanku. Sedetik kemudian wajahku berubah pias, aku tersenyum kecut. Ah… rasanya, bagiku peringatan ini  kurang pantas disematkan, karena menjadikan ibadah haji tidak lagi bagian dari sakralitas ibadah yang selalu di elu-elukan, bukan lagi sebuah great event untuk bersanding dengan Tuhan, eh malah berkesan phobia dan menjadi suatu pekerjaan yang menakutkan. Sejenak aku berpikir, “Ya Rabb..jika demikian adanya, pantaskah aku datang kepadaMU dengan bekal lumuran dosa ini? layakkah aku, hambaMU yang hina dina, rendah dan kotor ini merangkak diatas permadani RumahMU nan suci?”. Siapalah yang lebih tau kadar dosa kita kecuali Allah. Sekalipun artis, penjudi atau pelacurpun bisa jadi dosanya lebih sedikit daripada kyai atau pemimpin yang ternyata dusta dan memakan uang rakyat. Selain itu, aku tetap berkeyakinan, “Sebesar apapun dosa hambaNYA, yakinlah, bahwa Ampunan dan RahmatNYA sungguh lebih besar dan melimpah, tiada satupun yang menandingiNYA”.

Kubulatkan tekad, “Rabb.. aku datang memenuhi panggilanMU”.

Haji, perjalanan kesabaran dan uji ketakwaan pada Tuhan

Itulah sejatinya!!! Kurasakan, tak ada satu jengkal perjalananku yang tak lepas dari ujianNYA. Mulai dari masalah pengurusan tashdiq untuk visa yang dipersulit oleh ablah kuliahku hingga dua minggu berturut-turut aku manggut-manggut saja dikampus demi menunggu mencairnya hati sang ablah yang dikenal paling sulit itu, juga imunisasi (vaksin flu babi) yang harus bolak-balik keliling rumah sakit seantero Kairo selama dua hari.

Belum lagi ketika masa pemberangkatan, fasilitas pun kurang memadai. Seperti terlantarnya kami (sekitar 200 mahasiswa yang satu pemberangkatan) di emperan toko-toko sepanjang jalanan masjidil Haram. Entah tiba-tiba supir Bus menurunkan kami dipinggiran jalan bersama koper dan barang-barang bawaan tentunya. Kaget, Bingung, letih !!! ya..itulah yang kami rasakan setibanya dinegeri seberang, Saudi Arabia. Tak ada tempat tinggal yang menyambut, jam sudah menunjukkan pukul dua belas  malam, terlebih kami masih dalam keadaan Ihram. Dua jam lamanya kami manggut-manggut saja, menunggu kabar dari travel yang tak kunjung jelas.

Akhirnya kami memutuskan untuk melaksanakan  umroh dahulu, berjalan sejauh dua kilo bersama koper dan barang bawaan menuju masjidil Haram. Lantunan lafadz ‘Talbiah’, “Labbaik Allahumma Labbaik..dst” menjadi kesejukan tersendiri, mengiringi derapan langkahan kaki, tuk menapaki tanah suci ini. 

Selanjutnya, ujian dan cobaan mental semakin berbondong-bondong  menghadang…apalagi dengan status mahasiswa yang notabene semua keamanan, kesehatan dan kebutuhan menjadi tanggungan sendiri. Namun, jauh dilubuk hati yang mendalam, aku sangat yakin, Allah tidak akan menelantarkan tamuNYA. Dengan modal keyakinan dan niat yang tulus, insya Allah setiap langkah akan ditemaniNYA J.

Pandangan Pertama-ku dengan Ka’bah

Sesampainya dimasjidil Haram, Subhanallah..!!! betapa megahnya..bak titisan Istana Surga. Keajaiban Masjid ini tak hanya dinilai dari sejarah dan ibadahnya saja, namun keunikan seni bangunannya yang memiliki 99 pintu inipun sungguh sangat menakjubkan. Sejurus mata memandang, nampak puluhan juta manusia berbaju putih menyemut mengitarinya, datang berduyun-duyun dari sentero jagad raya, berseru lantang penuh semangat, haru dan tangis demi memohon rahmatNYA  dengan seruan Takbir, Tahmid, ayat-ayat suci Al-Qur’an dan doa-doa.

Lantas kubergegas mempercepat langkah menuju arah Ka’bah. Bangunan kokoh persegi empat yang tak pernah lepas didampingi sang batu Surga, ‘hajar Aswad’ yang semerbak mewangi itu dan yang selalu setia bersanding dengan maqom Ibrahim as, tepatnya ditengah-tengah masjidil Haram. Spontan, jantung terasa berdetak lebih kencang dan perasaan hati semakin berdebar-debar. Allahu Akbar…dalam pandangan pertama, entah..air mata menetes begitu saja, badanku tiba-tiba merinding, kumenunduk syahdu, sambil kutengadahkan tangan menyambut keagunganNYA. Sungguh pandangan pertama yang teramat berkesan, tak kan lepas dari memori hidupku. “Rabb…inilah istana agungMU yang dibangun oleh nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail as. inipula pusat ibadah umat Islam sedunia, arah kiblat seluruh kaum muslimin”.

Bersama teman-teman, kumelaksanakan Thowaf Umroh tujuh kali putaran, dilanjutkan dengan Sa’i antara Shofa dan Marwah kemudian berakhir dengan tahallul. Alhamdulillah…berjalan dengan lancar, penuh sendu dan haru.

Saudi Arabia, Penjaranya kaum perempuan

Dua minggu pra pelaksaanaan haji, aku dan teman-teman yang sama-sama melaksanakan haji tamattu’ lebih suka menghabiskannya dengan banyak berdiam diri di masjidil Haram. Yaah…inilah yang menjadi kendala haji perempuan. “Saudi Arabia laksana penjaranya kaum perempuan”, itulah realitanya. “ disini, tanahnya saja yang suci, namun orang-orangnya tak lebih dari binatang yang liar dan ganas”, seru salah seorang pekerja asal Bangladesh. Dan aku baru menyadari, ternyata ketentuan adanya mahrom bagi perempuan bukan hanya sebatas hukum negara, namun lebih dari sebuah kebutuhan (kebutuhan yang teramat sangat). Hal ini tak lepas dari cara laki-laki Saudi memperlakukan kaum perempuan yang sungguh jauh dari norma-norma keislaman. “ May…Saudi bukan Mesir apalagi Indonesia..jangankan anak gadis, nenek-nenek yang sudah tua keriput pun mereka bernafsu. Pelecehan seksual sudah merajalela, perempuan kian menjadi mangsa kebuasan para pemuja syahwat yang bersarang di mayoritas penduduk Saudi ”, begitu saudaraku mewanti-wanti. 

 “Ah..Disinilah baru terasa indahnya Mesir, asri dan damainya Kairo, sang kota idaman yang bebas, menghargai perempuan, kaya akan khazanah keilmuannya, ramai dengan tokoh-tokoh keilmuannya”, gumamku senada dengan keluhan teman-temanku juga. Di Saudi, jangankan untuk berjalan sendirian, naik taksi bersama dua teman perempuanku pun kami tak berani. Dan lagi, yang lebih mengecewakan, jangankan suka membaca, bersekolah pun mereka enggan. Pantaslah, penduduk Saudi hanya kaya materi namun miskin ilmu. Secara empiris, sebenarnya masih banyak yang ingin aku ungkapkan atas kemirisan dan kepedihan realitas yang aku saksikan, terlebih saat meratapi terali yang melilit dalam kubangan jeruji besi yang dialami kaum perempuan disini. Namun, tak cukup kulontarkan semuanya sekarang.

Walau dalam lubuk hati yang mendalam, ingin sekali melaksanakan umroh lagi, seperti mereka yang melaksanakannya berkali-kali, hanya saja pelaksanaan miqat nya yang memberatkan. tapi biarlah…tak mengapa..mungkin disini Allah lebih banyak menyuruhku untuk berkontemplasi penuh. Kuyakin, ada hikmah dibalik semua ini. selain kubisa menikmati indahnya arti perjuangan, ku juga jadi lebih banyak berpikir dan berpikir, tadabbur dan tafakkur, mendialogkan hati dan akal, menelusuri arus berdesirnya ruh-ruh keimanan, menatap, memandang dan menilai tanda-tanda keESAan Allah dari pancaran cahayaNYA yang senantiasa menyelimuti masjid nan megah ini .

Kembali kuteringat sebuah prinsip yang disematkan guruku, “utamakan Sholat (Ibadah) dan Berpikir”. Karena dengan beribadah sambil berfikir, semakin aku merasakan nikmatnya hakikat Iman dan Islam. Dan benar adanya, secara hakikat, ibadah haji tak hanya dilaksanakan sebatas syari’at saja, namun juga harus diimbangi dengan ma’rifat. Naah..disinilah kemampuan tadabbur, berpikir dan berkontemplasi memiliki peran yang amat urgen adanya.

Haji, Perjalanan air mata

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Al-Hajju ‘arafah, haji ialah arafah. Tersebut, ada tiga tempat sakral dalam haji yang dijanjikan terijabahnya doa dan amalan, 1. Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), 2.  Arafah (padang Arafah yang didalamnya terdapat Jabal Rahmah),  dan 3. Raudha (antara Makam dan mimbar Rasulullah SAW). 

Wukuf di Arafah tahun ini  jatuh pada hari kamis, Tanggal 9 dzulhijjah 1430 H yang bertepatan pada tanggal 26 November 2009 M. Alhamdulillah, atas segala nikmatNYA, Allah masih menganugerahkanku kekuatan dan kesehatan untuk menjalaninya. Namun, rupanya Hujan deras ikut menyambut mengiringi hari Arafah tahun ini. membuatku dan beberapa jamaah haji yang lain terpaksa harus mendelay hari tarwiyahnya, dan belum bisa bermalam di Arafah. Maka, aku beserta teman-teman dan saudara-saudaraku mulai berangkat dipagi harinya (hari wukuf).

Subhanalllah….sejauh mata memandang, dari jabal Rahmah, padang arafah nampak seperti taman yang bertaburan bunga-bunga kapas putih. Allahu Akbar…itukah tubuh manusia??? Rabb…rupanya semuanya sama dihadapanMU. panas terik matahari yang semakin garang membakar tubuh, lapar haus dahaga yang melilit perut,  tiada mereka indahkan. Layaknya Dalam satu komando, mereka berbondong-bondong  menyeru asmaMU, bersimpuh tunduk penuh khusyu’ mengharapkan rahmatMU. Bibir terasa kelu, lisan pun membisu, hanya berbahasakan linangan air mata. Seakan dosa-dosa melebur seiring tetesan air mata yang mengalir..amin ya robbal alamin.

Kuberpikir, inikah keadaan manusia di padang mahsyar nanti???

Setelah matahari terbenam, ketika malam mulai larut, merangkak menuju ruang gelap-gulitanya, kembali ku bergegas menuju muzdalifah untuk bermalam disana dan sambil lalu mengumpulkan beberapa kerikil yang hendak dilontarkan untuk jumroh di Mina nanti. Dalam perjalanan disepanjang bebukitan muzdalifah, kulihat  jutaan manusia mulai merebah, tidur terlentang dengan bibir yang terus bergerak dan tangan bergetar…”oh Rabb…dihamparan bukitMU nan lapang, kami sebuih kapas bernyawa ini menempel. Lemah, kecil, kotor, berbekal tumpukan dosa yang mengarat ditubuh kami…akankah Kau hendak mengusap jiwa bertubuh dosa ini? Rabb… hanya peluk mesraMU, belaian kasih sayangMU, sentuhan-sentuhan cintaMU yang kuimpikan…

Dipenghujung sepertiga malam, tepatnya sekitar pukul 02.00 dini hari, masih bersama dalam satu rombongan, kuberanjak lagi menuju masjidil haram untuk melaksanakan Thowaf Ifadhah, Sa’I dan kemudian tahallul. Malam ini terasa damai nan indah…gemerlapan kerlap-kerlip cahaya lampu yang menghiasi Masjidil Haram mencerminkan titisan NUR ILAHI yang sangat menakjubkan. Terbentang sayap-sayap jutaan malaikat yang menaunginya, menambah pesona kemegahan istana suciNYA.

Keesokannya, ku bersiap-siap tuk menempuh perjalanan ke Mina. Tepat pukul 21.00 malam hari, aku beserta rombongan mulai bergegas dengan botol kerikil ditangan. Kumelewati jalan terowongan Mina, lantas bergegas ke arah pelontaran Jumroh ‘Aqabah. Selanjutnya, mabit (bermalam) di Mina hingga menjelang Subuh. Begitu selanjutnya hingga dua hari berturut-turut.

Alhamdulillah…kesyukuran yang mendalam, perjalanan ibadah haji berjalan lancar, mudah seiring Nikmat dan limpahan Anugerah yang diberikanNYA. Semoga haji Mabrur, Cinta suci nan abadi, Rindu nan menderu, serta nikmatnya Iman dan Islam ikut mengiringi sepanjang langkah perjalanan hidup kami..selamanya…amin Allahumma amin. {Bersambung…nanti setelah ujian :) }

 

 

 

Posted by: Maik | October 17, 2009

“Hubungan Antara Orientalisme dan Imperialisme”

Kajian Politik:

(Dipresentasikan dalam kajian reguler SASC (Said Aqil Siradj Center), pada hari Kamis, 1 Oktober 2009)

Abstraksi

Bagaimanapun kajian orientalis tak memiliki orientasi tunggal. Orientalisme adalah kajian tetang budaya Timur yang bermula dari misi kristenisasi kemudian berlanjut pada misi imperialisme hingga akhirnya berakhir pada misi ilmiah, seperti berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di universitas-universitas tersohor seperti di Barat.

Makalah saya di bawah ini mencoba menjelaskan hubungan antara kajian orientalis Barat terhadap praktek penjajahan Eropa terhadap negara-negara Timur.

***

Bab I

[Pengaruh Studi Orientalis Terhadap Imperialisme]

 

I. Timur Sebagai Basis Kolonialis

Ada dua pembagian Timur yang telah ditetapkan Eropa dan Amerika di abad  ke-19, pertama, Al-Syarq Al-Adnâ atau Timur Dekat, yang mencakup sebelah selatan timur Eropa. Kedua Al-Syarq Al-Aqshâ atau Timur Jauh, meliputi India, selatan timur Asia, Cina dan Jepang.

Namun di awal abad ke-20, pembagian geografis ini lambat laun mulai tergeser dan mengikis seiring terjadinya ekspansi wilayah Timur. Akhirnya kedua kubu ini menyatu menjadi satu kesatuan barisan “Timur Tengah”.

Label Timur Tengah ini tak lain digencarkan oleh seorang sejarahwan-militer Amerika terkemuka, Alferd Thayer Mahan, di tahun 1902, yang mencatat bahwa pelabelan ini tak luput dari siasat politik untuk menguasai kekuatan armada laut dan strategi kekuasaan Timur. Seperti yang digencarkan dalam penguasaan Hawaii, Cuba, Puerto Rico, Philippines dan Amerika Tengah.

Lebih lanjut Alferd Thayer Mahan menguatkan pendapatnya bahwa strategi pembatasan Timur Tengah ini  karena Timur Tengah membentang dari Jazirah Arab hingga Persia, termasuk Afghanistan dan Pakistan.

Beranjak setelah Perang Dunia kedua, istilah Timur Tengah mulai mendominasi hingga disebut dengan “mideast”.

Istilah ini pun akhirnya tak hanya populer dikalangan Barat, namun melintasi pada bahasa daerah Timur Tengah itu sendiri. Sehingga tak sedikit para jurnalis dan protokol-protokol resmi yang menyebut Arab dengan Al-Âlam Al-Arabî atau Negara Arab. Sebagai sebuah isyarat pada seluruh negara yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa nasionalnya, baik yang di Timur Tengah maupun di utara Afrika, dari Irak sampai Maroko.

Karena itu, nampaklah bahwa Timur Tengah merupakan istilah baru yang dirancang sendiri oleh Barat untuk kepentingan politik dan kekuasaan.   

II. Dinamika dan Orientasi Orientalis

Sebenarnya studi peradaban Timur oleh intelektual Barat menjadi diskursus dan wacana kontroversial berkisar pada scholarly knowledge of eastern cultures, languages, and people (Pengetahuan tentang budaya, bahasa, dan bangsa-bangsa Timur).

Kajian orientalis diawali dengan misi kristenisasi akibat pengaruh misionaris yang mulai bergrilya sejak abad ke-8 Hijriah.

Sekedar catatan! Rupanya pengalaman traumatis akibat kekalahan gereja dalam perang Salib menimbulkan dendam kesumat tersendiri. Maka umat kristiani kemudian bersumpah menekuk kekuatan Islam.

Cendekiawan Kristen berpikir keras agar dakwah kristenisasi mengelabuhi pikiran umat Islam. Pemuka gereja juga mulai mendalami ajaran Islam untuk membentengi akidah umat kristiani dari pengaruh ajaran Islam, dan berusaha menggali kelemahan umat Islam.

Sayang misi ini tak berlangsung lama, misi tendensius kristenisasi gereja Latin dan Eropa segera punah seiring melapuknya doktrin gereja yang bersumber dari fanatisme dan kekuasaan membabi-buta gereja Roma.

Pada mulanya studi bahasa Timur sejatinya tak luput dari faktor ideologi kristenisasi, seperti pada Abad Kegelapan gereja tekun belajar bahasa Arab untuk mengenal Islam meski harus mereka akui sendiri semuanya demi niat busuk menghancurkan Islam.

Masa Abad Pertengahan, studi bahasa dan kebudayaan Arab tunduk pada misi misionaris. Sebuah interesting baru dalam mengkaji Timur ini juga tak lain karena terilhami runtuhnya Granada pada tahun 1492 dan hanya meninggalkan sekelompok kecil bangsa Moriscos yang berbahasa Romawi.

Maka seruan untuk mengkaji Timur lebih digaungkan sebagai pengganti dari semakin pudarnya bahasa Romawi, selain juga memasukkan studi Timur setelah menyatu kedalam kurikulum bahasa Semit, sehingga studi Timur pun diupayakan masuk pula di bawah kontrol Vatikan.

Usaha dini ini juga tentunya akan sangat membantu mereka nantinya, dalam usaha peningkatan strategi politik dan komersial yang lebih baik dalam menyambut kebudayaan yang universal dan membantu untuk bisa bergabung bersama studi muslim.

Demi rasa bakhti pada agama, dan jiwa patriotnya pada Perancis, Guillume Postel (1510-1581) ikut berkontribusi besar dalam pembelajaran bahasa Bangsa Timur dengan mengumpulkan sejumlah manuskrip-manuskrip yang bersumber dari Timur.

Murid Postel, Joseph Scaliger (1540-1609), seorang ensiklopedis terkemuka. Scaliger turut berusaha keras meningkatkan bobot kajian orientalis di jamanya.

Abad ke-15 adalah awal kegemilangan Eropa yang  mengawali spirit Renaissence  (arti Renaissence adalah: “lahir kembali”).

Renaissence mampu mereformasi kejumudan berfikir teologi Kristen menuju kebebasan falsafi hakiki. Abad Kebangkitan Eropa mengilhami para orientalis mengkaji Islam dan Timur bukan bermisi kristenisasi, tapi berlajut pada praktik kolonialisasi.

Ada asumsi mengatakan: “pengetahuan berdampak pada penguasaan”. Atau lebih mendetail hubungan ini dijelaskan Focault sebagai keterkaitan antara knowledge and power.

Teori ini kemudian dikembangkan kaum orientalis untuk menguasai wilayah Timur. Artinya, semakin pakar orientalis mempelajari Timur maka semakin banyak kesempatan untuk menjajah wilayah Timur. Penjajahan ini yang dipraktekkan imperialis Eropa.

Seperti India yang dijajah Inggris, Al-Jazaer dijajah Perancis, kemudian Mesir dan Tunis ikut dicaplok juga. Wilayah Asia Indonesia pun tak ketinggalan. Ibu pertiwi Indonesia dijajah Belanda sejak pertengahan abad ke-17.

Pada tahun 1587 percetakan Kardinal Ferdinand de Medici Tuscany mencetak buku-buku Arab di Eropa. Di antaranya adalah karya-karya filsuf Ibn Sina di bidang kedokteran dan filsafat.

Di penghujung abad ke-17 dan awal abad ke-18, isu kristenisasi di kajian orientalis tak lagi mendominasi. Bahkan di abad ke-18, di seluruh Inggris dan Prancis, para orientalis sudah putus relasi dengan ulama-ulama teologia gereja.

Sejak itu riset akademik orientalis murni obyektif. Bahkan tak segan-segan di antara mereka jujur mengakui peradaban Islam.

Periode ini bak masa pencerahan Eropa dalam bidang sains, karya ilmiah, politik, ideologi, dan perekonomian yang ditunjangi oleh ilmu pengetahuan ini.

Kemajuan sains ini terus berkembang dan maju hingga akhirnya tak hanya didasari oleh hasrat misionaris belaka, namun lebih sebagai kebutuhan bagi mereka sendiri.

Pada Abad ke-17 isu kristinisasi pun mulai berkurang. Saat itu Eropa sudah bisa berpikir mandiri. Eropa dapat berpikir sendiri meski tanpa bimbingan gereja.

Seiring dengan bubarnya perang antaragama, dan seiring dengan kesadaran kaum intelektual untuk ilmiah, kajian orientalis cenderung bebas dari misi indoktriner Gereja. Faktor yang membentuk perubahan seperti ini tentunya tak luput dari pengaruh yang rasionalisme .

Sejatinya kemajuan ilmu pengetahuan di zaman Abad Pertengahan dan yang berlanjut pada masa renaissance adalah sebuah pukulan berat yang menghantam ideologi kristiani sendiri.

Barat mulai bergeser menuju sisi obyektifitasnya di abad pertengahan, dikarenakan beberapa faktor: kedekatan geografis, relasi politik yang erat, peningkatan perekonomian, dan perkembangan para misionaris yang berkunjung ke Timur, dan bersatunya umat kristiani di eropa.

Obyektifitas paling besar adalah karena dipengaruhi oleh nilai studi tentang ajaran moral Islam.

Bangsa Eropa melihat bahwa umat Islam di Timur sebagai padang daratan luas yang kaya dan makmur, dan peradaban maju bak sebuah monumen agung mewah yang tak terungkapkan dengan kata.

Zaman renaissance yang identik dengan ciri kosmopolitanisme dan jati diri yang ensiklopedis dengan segala ekspresi budayanya, telah mempersilahkan umat muslim Timur untuk mempelajari hak mereka.

Pada awal abad 20, obyektifitas kajian orientalis mulai nampak mendominasi.  Para orientalis pun berlomba-lomba melakukan riset professional. Bisa kita lihat beberapa Sekolah bahasa Timur dibangun demi kepentingan riset ilmiah seperti di Perancis dan Belanda.

Tak pelak lagi, imperialisme yang digencarkan Eropa rupanya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat dunia.

Imperialisme berhasil menjajah tak lain berkat dorongan ilmiah orientalis yang mengabdi pada ambisi Eropa untuk menguras kekayaan Timur.

III. Kenapa Barat Menjajah Timur?

Kolonialisasi adalah contoh paling signifikan akan bukti tercorengnya harga diri bangsa Timur. Bagaimana tidak, selama berabad-abad umat Islam berhasil menaklukkan pelbagai belahan dunia dari Eropa Timur, Afrika, Timur Tengah hingga Asia telah lumat, tunduk di bawah kekuasaan Islam. Namun, kemenangan itu kini kabur ditelan puing-puing sejarah belaka. Diawali abad ke-19 umat Islam dipaksa tunduk di bawah Adikuasa kolonial Barat.

Harapan terakhir umat Islam bertumpu pada kekhalifahan Turki Utsmani. Namun ironisnya, tahun 1942 kekhalifahan itu diruntuhkan Kemal attaturk, bangsa Turki sendiri yang menganti sistem khalifah menjadi negara repubrik yang sekular.

Runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani serta koalisi bersama Jerman di Perang Dunia, justru semakin memperpanas keadaan. Yang akhirnya praktik kolonialisasi Barat terhadap Timur semakin merajalela. Saudi Arabia berusaha membebaskan diri justru dipatahkan oleh Turki. Libanon dan Palestina pun dirampas Inggris, Napoleon datang ke Mesir tahun 1789, Belanda pun mendarat di Malaka tahun 1602. Inggris dan Perancis pun berebutan tanah kekuasaan di Afrika. Hingga pada tahun 1914, 85% wilayah Timur menjadi lahan subur adikuasa Barat.

Pada Abad ke-18 Eropa mulai masuk menembus perekonomian dan politik. Sejalan dengan itu pula, negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda dan Perancis saling berebut tanah kekuasaan di negara-negara yang berpenduduk Islam. Seperti India, dan sebelah selatan timur Asia, termasuk Indonesia.

Abad ke-19, adalah abad di mana orientalis mencapai puncaknya dalam membentuk kebudayaan Barat.

Orientalis menkaji hampir semua disiplin ilmu seperti eksotika, ekonomi, histori, dan teks politik. Secara umum, orientalis telah berhasil menjadi bagian signifikan dari kemajuan budaya dan peradaban Barat.

Di abad ini pula Abraham Hyacinthe Anquetil dan william Jones telah menangkap khayal imajinatif mengenai masa “kontemporer” mengenai dunia baru yang eksotis, dari Timur menjadi Barat.

British yang berada di India dan Napoleon yang sedang menduduki Mesir telah mengenal potensi besar untuk memanfaatkan orientalis, seperti Jones, untuk membangun imperium mereka. Berhubungan dengan mutu intelektual para orientalis dengan kepalsuan dominasi politik.

Meninjau kembali pengalaman buruk masa lalu, peristiwa dilematis ini kini mengundang pertaanyaan-pertanyaan tak kunjung usai dari   kaum intelektual Timur, apakah penyebab Barat menjajah Timur? Adakah yang salah dengan Timur (Islam)?

Ada dua kelompok cendekiawan Islam yang mencoba menjawabnya dengan jawaban yang saling kontradiktif. Kelompok pertama lebih menyalahkan pada pihak luar. Adi, kenapa umat Islam terpuruk, menderita, miskin dan malang, tak lain karena orang-orang Eropa sengaja ingin menghancurkan umat Islam diseluruh belahan dunia. Alas an ini tentunya mereka menyudutkan para orientalis yang banyak berpartisipasi aktif dalam membantu kolonialis Barat dalam penguasaan Timur terutama dalam bidang politik dan militernya.

Kelompok kedua, lebih memilih menyalahkan diri sendiri, tubuh umat Islam. Kelompok ini memandang bahwa keterpurukan umat Islam, miskin dan bodohnya adalah dikarenakan  kelalaian dan kemalasan mereka dalam mengkaji Al-Qur’an. Dan tak mengindahkan kekayaan khazanah keilmuan Islam yang yang rupanya telah banyak di adopsi Barat jauh berabad-abad sebelumnya. Kelompok ini pun menguatkan, sepanjang umat Islam kuat dan bersatu, maka mustahil Eropa berani menjajah kita. Umat Islam terpuruk, tak lain karena umat Islam sendiri yang jauh dari ruh-ruh keislaman itu sendiri. Karena tak dipungkiri, Barat pun mau karena mengadopsi keilmuan-keilmuan Islam. Yang darinya pencerahan “Enlightenment” Eropa dimulai.

Maka, kelompok kedua ini tak segan-segan mengajak umat slam untuk belajar pada Barat. Karena, hanya dengan menguasai ilmu, teknik, dan filsafat modern Barat, maka Umat Islam akan menemui kejayaanya kembali. Berbeda dengan kelompok pertama yang ‘anti Barat’. Baginya, cara Islam meraih kembali pencerahannya adalah dengan kembali pada tradisi lama Islam. Karena mempelajari tradisi ilmu dan filsafat Barat hanya akan menjerumuskan umat Islam pada system kebaratan yang tak ada sisi warna keislamannya itu.

Sample yang paling dekat adalah munculnya paham liberalisme yang merupakan cermin paling transparan dalam meramaikan modernisme barat. Ada yang berpendapat, liberalisme adalah racun ganas di era saat ini yang mencoba mengaburkan kajian keislaman dari jati dirinya. Namun, kelompok kedua berpendapat bahwa liberalisme perlu dipelajari, di perdalami, dan dipahami secara benar. Jangan sampai trauma searah kolonialisme terulang lagi.

Bersambung…!

Referensi :

  1. Maxime Rodinson, Europe and the Mystique of Islam, I. B. Tauris & Co Ltd London, 1988.
  2. Zachary Lockman. Târîkh Al-Istishrâq Wa Siyâsah; Al-Shirâ’ `Alâ Tafsîr Al-Sharq Al-Awsath (first ed.). 2007. Beirut: Dar Shorouk.

3. A.L. Macfie, Orientalism, The American University, Kairo, 2000

Posted by: Maik | September 23, 2009

Kau…terlalu sakral bagiku…

(Masa lalu..tangkap aku dalam kefanaanmu…)

Kubutuh ketenangan…

Kuingin kedamaian…

Kuimpikan kasih sayang tulus itu…

Biarkan aku dalam kesendirianku…

Biarkan aku dalam kontemplasiku…

Biarkan aku  dalam alienasi diriku…

            Dalam penghujung malam yang kian tenggelam di kesunyian dan kesenyapannya. Aku terpekur sendiri…menatap gelap kelamnya langit..sepi, sunyi dan hening. Meski jalanan Kairo malam ini begitu ramai, hilir mudik penduduknya yang tak kunjung berhenti, tetap saja tak kuhiraukan. Walau Digemerlapan cahaya lampu-lampu malam sana kulihat segerombolan manusia yang tengah bersua, berpesta ria sambil meneguk Jus buah ala Mesir dikehangatan malam musim panas Kairo yang layaknya musim semi itu, tetap juga tak kuindahkan. Aku hanya duduk mematung disamping flatku…sekali-kali aku berdiri, berjalan searah kaki melangkah. Kumenyelami alam anganku, sambil mengikuti alunan instrument ‘caravansary’ yang sendu, cukup mewakili perasaanku saat ini.  Kadang aku terlalu menikmati kesendirianku ini. menurut mereka aku sendiri, tapi sejatinya aku tidak sendiri. Justru aku merasa berada dalam keramaian dengan obrolanku bersama akal, jiwa, perasaan hati, dan senandung curahanku bersama Ilahi.

            Tapi terkadang aku ingin berontak. Aku lelah dengan kesunyianku. Aku bosan dengan ruang alienasiku. Aku ingin terbang…terbang dalam keramaian..yang bisa membuatku tersenyum, tertawa dan riang bergembira. Aku inginkan kebebasan itu…aku mengimpikan hidup dalam kebebasan. Tidak terbelenggu dalam kehimpitan angan ini. Sungguh!!!aku ingin bebas!!!

            Tapi…Ah…Kau…lagi-lagi kau menjelma bagai singa yang menakutkan! Kharismamu menyulapku menjadi mangsamu yang terkapar-kapar tiada berdaya. Sekian lama aku hanya berjalan tertatih-tatih. Aku melangkah terhuyung-huyung. Hati kecilku berbisik, aku butuh tongkat itu. Tapi aku masih buta, kemana tongkatku. Aku kehilangan tongkatku hingga dua tahun berjalan ini. Kau lah tongkatku. Kau lah dambaanku. Tapi kau juga duriku, kau jurangku. Kau yang telah membuatku sakit…sakit lahir bathin sekian lama. Kau yang telah banyak mengubah alur hidupku…hidupku yang dulu selalu dihiasi  keceriaan, kini hanya berbentuk kesemuan, kejemuan dan pesakitan yang teramat menusuk. Aku ingin bangkit… Sampai kapan aku seperti ini???

Aku takut…ya…aku masih takut mengenalmu lagi. Aku masih terjangkit fobia yang teramat kronis. Kau…terlalu sakral bagiku. Jatuh bangun aku karenamu, Pikiranku kosong terkuras anganmu, waktuku habis tersita karenamu, jiwaku mati terampas olehmu, hatiku hancur terinjak-injak keangkuhanmu. Akankah kesetiaan itu masih berarti bagimu??? Benar kata orang, “kesetiaan itu menyakitkan”. Tapi aku tak punya modal lagi akan ketulusanku, kecuali dengan kesetiaanku ini. salahkah aku jika aku masih menjagamu dihatiku?

            Tapi Kau… pergi dan menjauh. Dan bahkan jauh selama-lamanya. Aku turut tersenyum menyaksikan kebahagiaanmu dari jauh. Meski hanya dengan seulas senyum getir yang menyimpan kepahitan dan bahkan meracunkan diriku sendiri. Biarlah…kau bahagia disana. Biarlah…kau tiada menoleh padaku sedikitpun. Biarlah…kau anggap diriku hanya bagian puing-puing masa lalumu yang tak pantas ditengok kembali. Meski aku masih bertahan menyimpan rapi segala wujudmu dalam lubuk kalbuku yang teramat dalam. Percayalah..!!!kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Meski kau bukan berbahagia denganku.

Kau memang terlalu sakral bagiku…membuatku turut mensakralkan siapapun yang sejenismu. Semuanya bermula darimu, kau membuatku terjatuh, namun tak membuatku bangkit kembali. Kau menjadikanku buta, hingga ku tak lagi mampu melihat indahnya perasaan fitrah manusia. Kau membuatku terpenjara, hingga sekian lama aku terjerat dalam keterkungkungan bathin, isolasi diri, dan gelap pekatnya warna hidupku.  Kau telah membunuhku, hingga ku tak lagi temukan spirit hidup.

            Aku tak kan lagi mengharapkanmu. Ya…karena kau tak lagi membutuhkan harapanku. air mataku mengering, Harapanku berbuah kehampaan. Bagaimanapun warna air mata itu….beningkah, atau darahkah, Mata sembabku lelah menampungnya. Mataku telah berubah menjadi muara dari telaga kesedihan yang bermerah darah. Aku lelah meratap, aku letih mengenang, aku terlelap dalam mimpi yang teramat buruk. Kumohon, lepaskan aku dari belenggu ini…

Aku ingin belajar menghargai hidup. Aku ingin belajar mencari hikmah hidup.  Aku ingin belajar ikhlas. Aku ingin meraih spirit jiwaku, menarik self motivatorku, menggapai citaku. Aku ingin memungut kembali serpihan-serpihan jiwa yang   hancur itu. Aku ingin merebut kembali hatiku, menjadi manusia yang utuh, bak bayi yang baru lahir.

Aku merindukanmu…ya..aku merindukan sosokmu untuk bertemu dalam ikatan suci. Siapapun kau…aku tetap kan menunggumu!!!

Ya Rabb..pasrahku hanya padaMU. Ridhoi-lah ketulusan hamba, lindungi hamba dari putus asa!!!

Posted by: Maik | September 9, 2009

Sikap Kita terhadap Hegemoni Global Barat

  (Upaya Harmonisasi antara Klasik dan Modernitas)

Prolog

Dalam dua dasawarsa terakhir ini, peta dunia sedang ditandai oleh friksi dan tensi krusial dengan ragam wacana pembaharuan yang diprakarsai oleh modus pemikiran multikultural. Tak pelak lagi, iapun merambat melintasi setiap belahan bumi dengan mengatas-namakan dua peradaban besar, peradaban timur dan barat. Rupanya teori analisis “Permanen Confrontation”  yang pernah dicuatkan oleh Prof. DR. Naquib Al-attas dalam bukunya “Islam and Secularism” di awal dekade 1970-an itu kini telah menemukan jawabannya. Dimana konflik abadi antara peradaban Islam dan perdaban Barat itu terus mengalir, yang bermula dari level histori keagamaan menuju militer hingga berpangkal/berujung pada skala keintelektualan.

 

Ironisnya, Negara Islam terbesar, Indonesia, yang dulunya menjadikan timur-tengah sebagai kiblat kemajuan dan peradaban, nampaknya di era materialisme ini ia tak lebih sebagai ‘boneka’ pencaplokan para kapitalis Barat. Bagaimana tidak,  alih-alih Negara Indonesia, Negara yang sarat akan corak pluralitas ini, kini spirit kebersamaan dan kerukunan beragama serta seruan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Divercity) itu nyaris lirih terdengar . Pergolakan antar para penguasa negara yang tak bisa dibendung, perselisihan antar para stake holders, tokoh agama dan cendekiawan muslim, yang saling sikut dan melecehkan, bahkan tak jarang berakhir dengan tindakan anarkisme, maka bisa ditebak, sikap derisif dan kontroversial tanpa ujung ini dapat ditarik benang merah bahwasanya bangsa Indonesia masih terkungkung dalam jeratan konspirasi global. Sebuah konspirasi frontal yang tak hanya dilakukan oleh kalangan internal umat Islam atau Bangsa Indonesia sendiri, namun telah terasuki beberapa kepentingan dan kuasa tertentu di Barat.

Menyinggung soal Barat, peradaban bangsa yang sangat kental dengan ciri sekular-liberalnya ini begitu mudahnya terlepas, ibarat virus atau “penyakit menular” yang ganas, menyerang dan melejit jauh menghegemoni hampir setiap genderang keagamaan dan kancah perpolitikan dunia, termasuk didalamnya merasuki  generasi umat Islam yang sedang tertatih-tatih dalam gerbang persimpangan budayanya ini.

 

Sungguh memprihatinkan! Fenomena westernisasi yang sedang menduduki cap “trend” dan fenomenal ini kerap menyandingi keilmuan, pemikiran dan studi Islam di Indonesia. Hegemoni Barat bukan hanya menonjol dalam bidang ekonomi, politik, sosial ataupun budaya saja, namun terus merayap menghinggapi pemahaman keagamaan (baca: agama Islam).  Paham secular isme dan liberalisme yang lahir dari rahim peradaban barat ini menanamkan distorsi keras dengan upaya mengubah metode kajian Islam mengikuti tradisi Yahudi dan Kristen. Sehingga, mau tak mau, metode ini mengandung resistensi tinggi terhadap konsekuensi menghilangkan pandangan hidup islam dialihkan dengan memeluk paham dan pandangan hidup barat.  Anehnya, jejak liberalisasi agama ini ditelan mentah-mentah oleh para sarjana dari kalangan umat Muslim. Ketika muncul adagium “reduksi egaliter” terhadap interpretasi Nash Al-Qur’an dan Al-Hadits yang diklaim irasionalitas dan bias gender, serentak mereka ‘membebek’ saja membuntuti ajakan metode barat tanpa nalar kritis.

 Tak hanya itu, Graduasi arus pembaharuan serta membludaknya aliran pemikiran ditengah-tengah masyarakat kosmopolitan ini,  selalu dikerucutkan pada agama,sosial dan politik. Bisa diperhatikan dari corak gradasi yang dibentuk dimasa modern ini, sesuai dengan konteks neologi yang beredar, aliran-aliran pemikiran Islam terpecahkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang diformulasikan dalam bentuk tradisionalis, modernis, neomodernis, postmodernis, revivalis, neorevivalis, dan lain sebagainya.

Tak mengherankan, jika kemudian muncul dikotomi ideologi antara golongan progresif  dan kelompok konservatif dikalangan wacana pemikiran Islam sendiri. Pemetaan konfrontatif inilah yang selanjutnya berimplikasi pada benturan-benturan dan perang terminologi dikalangan kelompok masyarakat khususnya kalangan kaum muslim sendiri dan Para cendekiawan muslim Indonesia.

Untuk kesekian kalinya, Indonesia terjerembab dalam “neoImperialisme” yang memprihatinkan. Lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, namun kemerdekaan itu tak lebih hanyalah sebagai simbol formalitas belaka. Kenyataannya, sampai era reformasi ini Indonesia masih belum mampu mengatasi dominasi permainan otoritas barat. Kompleksitas permasalahan antara agama dan politik pun tak kunjung usai. Ibarat menimba air Zamzam di Tanah Suci, pembicaraan tentang masalah ini tidak akan ada habis-habisnya. 

 

Menurut Naquib Al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relativ diterima. Tidak ada satu kepastian! Itu poin kelemahannya. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. ‘Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhanpun dimanusiakan’. Berbagai problem kemanusiaan muncul sebagai hasil dari kacaunya nilai-nilai. Inilah potret kemajemukan berpikir manusia di era materialisme saat ini.

Antara Klasik dan Modernitas

Abid al-Jabiry, tokoh pemikir asal Maroko, pemilik kitab naqd ‘aql al-’Araby’ (Kritik Nalar Arab) ini berkata, bahwa sejatinya bangsa arab sedang mengalami krisis mental dan kemasyarakatan. Keadaannya yang masih terkungkung dalam jerat belenggu kejumudan berpikir membuatnya harus mengakui kemajuan hegemoni Barat saat ini yang kepak sayapnya tak dapat terbendung lagi. Lebih lanjut Jabiri berpendapat bahwa mencari jati diri  dan mencapai kebangkitan Arab dan Islam itu takkan terwujudkan tanpa proses identifikasi diri dari pemikiran Barat. Yaitu melalui proses koreksi-mengoreksi, dan berlangsung dari generasi ke generasi.

Identifikasi diri inipun lebih dapat termanifestasikan melalui sikap yang seletif antara klasik dan modernitas. Tak dielakkan, setiap peradaban dan kebudayaan tentunya memiliki identitas, nilai, konsep, dan ideology sendiri-sendiri yang disebut  wordview (pandangan hidup). 

Lantas, apa maksud dari identifikasi diri itu? Abdul Qahir al-Jurjani mendefinisikannya sebagai sebuah hakikat yang mutlak. Sedang kamus Majma’ Lughah al-’Arabiyah kontemporer mengartikannya sebagai hakikat sesuatu, privasi dan sifat esensial yang membedakan dengan lainnya. Sedangkan makna ‘identitas’ dalam sebuah peradaban berarti sebuah ciri dan sifat yang paling esensial dan membedakan antara konsep dirinya dengan pandangan peradaban bangsa yang lain.  

Bagaimana cara bermu’amalah dengan turats tersebut? Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan, ada empat pokok penting sebagai pemandu ketika kita berhadapan dengan turats (klasik) :

  1. Melihat keshahihan sanadnya. Karena, tidak semua ilmu klasik itu dibenarkan kecuali melalui kebenaran sanadnya.
  2. Hak prerogative kita dalam mengkritiknya, selama tidak bertentangan dengan Nash suci Rasulullah SAW
  3. Sikap yang adil dalam mengkritik
  4. Menggunakan metode kritik yang santun, tanpa adanya unsur-unsur cacian dn makian.

Namun, sikap manusia modern saat ini justru berbeda-beda dalam menghadapi turats. Ada tiga golongan, yang pertama memandang turats dengan penuh kebencian dan kedengkian dan bahkan membuangnya mentah-mentah. Ada dua ciri dalam golongan ini. Ada yang membenci turats karena kesalahan persepsi dan cara pandang, adapula yang memakinya karena sikap sentiment dan ego yang menguasainya. Kedua, mereka yang menafikan turats karena kebodohannya. Ketiga, mereka yang menerima mentah-mentah tanpa memfilter terlebih dahulu. Dari ketiga golongan ini, golongan ketiga merupakan golongan yang paling berbahaya, karena mereka menafikan fungsi akal dan nalar kritis di dalamnya. 

Pengaruh Metodologi Orientalisme terhadap Pemikiran Generasi Islam

Metodologi study tentang peradaban Timur yang diprakarsai para kaum intelektual Barat yang nampak membahana menjadi diskursus dan wacana kontroversial  ini berkisar pada kajian budaya, agama, kultur, sejarah dan bahasa.  

Setidaknya ada tiga orientasi besar yang bisa dikategorikan pada kajian yang digagas oleh para orientalis Barat, diawali dengan misi kristenisasi, akibat pengaruh misionaris yang dimulai sejak abad 8 Hijriah. Rupanya pengalaman traumatis akibat kekalahan gereja dalam perang salib ini menimbulkan dendam kesumat cendekiawan Kristen yang kemudian menggencarkan praktik dakwah lewat kristenisasi. Mereka perdalami ajaran Islam, untuk membentengi akidah umat kristiani dari pengaruh ajaran Islam, dan berusaha menggali kelemahan umat Islam, lantas kemudian menjerumuskan  umat Islam dalam iming-iming yang dipoles melalui upaya kristenisasi. Namun misi ini tak berlangsung lama, diapun segera punah seiring punahnya doktrin gereja yang bersumber dari fanatisme dan kekuasaan Roma.

Abad ke 15, awal kegemilangan Eropa yang  mengawali spirit Renaissence  “Lahir Kembali” ini mampu mereformasi, mendobrak kejumudan berfikir teologi kristen menuju kebebasan yang falsafi. Masa kebangkitan Eropa mengilhami para orientalis untuk mengkaji Islam dan timur bukan lagi bermisi kristenisasi, tapi berlajut pada praktik kolonialisasi. Seperti dalam asumsi, ‘pengetahuan berdampak pada penjajahan’. Siasat inilah yang kemudian dikembangkan kaum orientalis dalam menguasai timur secara keseluruhan. Seperti India yang dijajah Inggris, al-Jazaer dijajah Perancis, kemudian Mesir dan Tunis. Wilayah Asia pun tak ketinggalan, seperti ibu pertiwi kita Indonesia yang menjadi sasarn empuk Belanda selama hamper tiga abad lamanya. Nampak sudah, ternyata tiga Negara besar, Inggris, Prancis dan Amerika adalah dalang dari imperialisme. 

Melangkah pada awal abad 20, obyektifitas kajian orientalis mulai nampak.  Para orientalis pun berlomba-lomba melakukan riset professional. Bisa kita lihat Sekolah bahasa timur, institusi dibangun demi kepentingan riset ilmiah.

Tak pelak lagi, imperialisme yang digencarkan Eropa rupanya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat dunia, terlebih dampak modernisme yang bisa kita nikmati auranya hingga saat ini.

Bagaimanakah generasi Islam bersikap???

Sebagai kaum akademis yang mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, ada dua sikap yang perlu diperhatikan, terlebih menghadapi hegemoni global Barat yang sarat menghegemoni masyarakat dunia.

Pertama, hubungan yang dialogis. Yaitu, dengan cara sharing idea, diskusi dan dialog secara kekeluargaan. Tidak bersikap antipati terhadap pemikiran barat apalagi sampai menghadapinya dengan emosi yang meletup-letup. Namun, harus dihadapi dengan pikiran yang jernih dan sikap kritis  pada level intelektual.

Kedua, melawan hegemoni Barat dengan menguasai budaya, peradaban dan persaingan keilmuan. Sehingga umat Islam mampu untuk bersaing dan tidak hanya menjadi penonton dalam kancah peradaban dunia. Seperti dalam permainan bola, jika sebuah tim melakukan strategi bertahan, maka tim musush akan serta merta all-out menyerang dari segala arah. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah strategi baru untuk menguasai permainan dengan cara menyerang. Seperti dalam pepatah ” menyerang adalah pertahanan yang paling baik”.  

Dua hal tersebut bisa diperoleh oleh umat Islam dengan kembali merekonstruksi infrastruktur pemikiran setiap individu muslim. Minimal dengan mengadakan revolusi pendidikan sebagai media pencetak pemikiran yang akan mempengaruhi pola pandang dan pola laku individu tersebut. Karena pemikiran adalah kekuatan untuk merubah individu yang tersubordinasi menjadi dominasi.

Epilog

Setiap manusia memiliki masa lalu. Masa lalu itu adalah cermin kita pada masa kini, dan cambuk kita untuk masa depan. Seperti kata pepatah “Lâ hâdhira liman lâ mâdhiya lahû, walâ mustaqbala liman lâ hâdhira lahû”. Jadi, masa lalu adalah sejarah yang tak bisa dilupakan.

Islam sebagai agama yang memiliki sejarah yang sangat panjang. Tentunya, dipenuhi dengan berbagai macam pemahaman dan model pemikiran. Maka, untuk memilah mana yang baik dan yang buruk dibutuhkan sebuah referensi yang valid dan bisa dipercaya. Hal ini tentunya akan menyebabkan kita membutuhkan seorang pembaharu untuk mengubah pola keberagamaan kita.

Islam adalah agama yang memiliki dogma gerakan pembaharuan. Seperti yang disebutkan dalam Hadits yang menyatakan bahwa disetiap awal seratus tahun itu akan ada seorang tokoh pembaharu yang akan melakukan pembaharuan terhadap keberagamaan kita. Karena keberagamaan umat Islam dari masa ke masa mengalami reduksi, maka harus ada seorang pembaharu yang dapat mengembalikan umat Islam pada khittah awalnya.

 Tak dapat dinafikan, perubahan-perubahan dalam umat pada dasarnya adalah suatu fenomena social yang akan berlangsung secara terus-menerus. Perubahan itu akan berjalan lebih cepat dan dinamis, antara lain karena makin cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi. Agama tentunya tidak akan berubah, tetapi keberagamaanlah yang akan berubah. Karena, pemikiran manusia tentang ajaran agamalah yang ikut mempengaruhi dan membentuk sejarah peradaban umat manusia selama berabad-abad.  Demikian! Wallahu a’lam bi al-showab

 

Referensi:

 

Dr. Yusuf Qardhawi, Kayfa Nata’âmal ma’a al-Turâts wa al-Tamadzhab wa al-Ikhtilâf, Maktabah Wahbah, 2001

 

Dr. Muhammad Imârah, Al-Istiqlâl al-Hadhârî, Maktabah al-Usroh, 2005

 

Dr. Halah Musthafa, al-Islâm wa al-Gharb mina al-Ta’âyusy ilâ al-Tashâdum, Maktabah Usroh, 2002

 

Zachari Lockman, Târîkh al-Istisyrâq wa siyâsâtuhû, Dar Al-Syuruq, 2007

 

 

Posted by: Maik | August 19, 2009

Kenang-ku bersama Cadar

Tuesday, 7/28/2009 9:03:12 PM

Pagi yang cerah, Mentari pagi yang menawarkan sinar hangatnya, ah…sejuk nian udara pagi ini. tepatnya pukul 10 pagi, aku telusuri setapak  pepasiran kawasan Gami’ hay-‘Asyir. Kupercepat langkahku, kubergegas menaiki Tramco sambil berlari kecil. Dalam benakku, aku harus segera sampai di rumah sakit el-Nour (Tamin) dan menemui dokterku sebelum masyarakat masisir dan penduduk Mesir menyambut siang-nya dan terjaga dari tidur-nya. Sepanjang perjalanan, aku bersibuk ria dengan alam pikiran dan perasaanku sambil menundukkan kepala dalam-dalam (antara malu, takut, ragu dan deg-degan). Dadaku masih berdegup tak karuan, Pandanganku kosong. Pagi ini terasa beda bagiku, aku mendapati dunia baruku…

28 Juli 2009 menjadi saksi bisu atas sejarah hidupku. Karena mulai hari ini aku telah menanggalkan cadar-ku. Mulai hari ini pula aku menatap dunia dengan seluruh muka dan wajahku. Bagiku hal ini sangat bersejarah, karena tiga tahun lamanya aku berhijrah dengan hijab dan cadar kebanggaanku. Tepatnya, semenjak aku menginjakkan kaki di Kairo-Mesir. Jadi, memang tak banyak yang mengenaliku. Namun, kini kain penutup kebanggaan-ku itu terpaksa harus dilepas, karena diagnosa dokter atas penyakit yang aku derita disekitar mata sambung kepala yang ditimbulkan oleh pengaruh cadar. Apalagi setelah dokter memvonis bahwa obat nya harus berkesinambungan, selama hidupku, tanpa henti.  Ya Allah!!! Sembuhkan hamba…

Sungguh tak mudah bagiku untuk melepasnya. Dan sungguh bukan hal yang ringan bagiku untuk mengubah statement hidup dan prinsip diri ini. Sangat berat dan sulit!!! Berkali-kali aku meminta saran dan nasehat Umi-ku. Dua dokter sudah yang aku datangi. Semuanya menyuruhku membuka cadar. Apalagi disaat aku merintih sakit kala sepanjang malam aku tak bisa memejamkan mata, tak bisa menangkap cahaya, tak mampu konsentrasi baca, lantaran mata dan kepalaku yang sakit. Namun apa daya, dengan niat tulus LILLAHI TA’ALA, Bismillah…aku tanggalkan cadarku.

 Di hari-hari pertama aku membukanya, sederet reaksi kaget, sejurus pandangan ketidak percayaan, dan sebaris tanda-tanda tanya, bisa kubaca dari raut muka teman-temanku dan orang-orang yang mengenaliku maupun orang yang belum melihatku sebelumnya. Aku mencoba tegarkan diriku, aku berusaha untuk bisa kuat dan memahami bahwa pro kontra pandangan adalah tantangan bagiku selanjutnya. Meski masih ada beberapa teman yang sempat memandangku sinis, ah…tak perlu aku pikirkan. Yang penting bagiku, tetap dalam garis syari’at Allah SWT. Namun tak sedikit pula teman-temanku yang mendukungku. Mereka memahamiku dan ikut berempati.

Tapi bagaimanapun, banyak hikmah dan pelajaran yang dapat aku ambil dari sederet fase-fase kehidupan yang aku jalani. Aku yakin, disaat aku memakai cadar, tak sedikit hikmah dan anugerah Allah yang sangat aku rasakan karena cadar ini. Begitupun, saat Allah mengilhamiku dengan melepas cadar, aku yakin ada tahapan pelajaran selanjutnya yang sengaja dengannya Allah membimbingku. Yang terpenting, aku tetap harus senantiasa berada dalam garis syari’atNYA dan menjaga segala perintahNYA serta menjauhi laranganNYA. Ya Allah…bimbinglah hamba pada jalan lurusMU…amin

Bagi kebanyakan perempuan bercadar, terkadang cadar menjadi isolasi dan pengikat. Sehingga terasa hidupnya terbelenggu, terdoktrin dan terikat. Tapi bagiku, cadar adalah alat untuk menjaga diri namun bukan berarti lambang ‘iffah diri. Sebenarnya, aku ingin menulis banyak tentang hal ini, terkait refleksi yang bersifat empiris maupun fenomena cadar yang masih ambigu dalam ranah pergaulan sosial. Yah…mungkin suatu saat nanti aku akan menulisnya. Just wait!:)

Posted by: Maik | August 19, 2009

Kala Tuhan-ku Melukis

(Memaknai Tanda Kuasa Ilahi dalam realitas Nyata dan Maya Kehidupan)

Friday, 5/22/2009 7:42:20 AM

Bismillahirrahmanirrahim

Lihatlah, para seniman, musisi, pelukis, sastrawan, wisatawan, pelancong, dan para pecinta alam   serta ribuan penjelajah lainnya…mereka berlomba-lomba memuja dan memuji segala sisi keindahan dunia. Merampas seluruh kekayaan alam yang mereka duduki demi tercipta sebuah karya. Merajut aneka keajaiban, menyulam ragam keunikan, merangkai kata, menjalin makna, semua terukir rapi disela-sela  keterhanyutan mereka oleh keindahan Bumi dan alam Dunia, karya Agung-NYA . Ada pegunungan, lautan, bangunan pencakar langit, Bumi, semuanya merupakan salah satu kreasi MahaKarya Tuhan yang diejawantahkan dalam bentuk daratan dan lautan.  Namun, bagaimana seandainya Tuhan melukiskan Asma-NYA di hamparan permadani langit Agung-Nya?  

Tepat pukul 02:20 tengah malam, aku terbangun dari tidurku. Tiba-tiba badanku bergetar, gemuruh di dada berdegup kencang, jantung serasa berdenyut cepat, perasaanku dipenuhi rasa takut dan ketakutan yang dahsyat, pikiranku masih belum terkontrol. Kulihat jendela kamarku terbuka lebar, terbentang nyata kelamnya langit dimalam hari ini, kesunyian malam pun membuatku semakin menggigil dan bergidik  tak terkira. Entah kenapa, aku tersentak bangun di malam ini, spontan  badanku bergetar, kurasa bukan karena suasana sunyi nya malam…tapi dikarenakan sesuatu yang telah terjadi padaku…tepatnya dalam tidurku beberapa detik yang lalu.

Aku berusaha menenangkan perasaanku. Seketika aku langsung teringat, dan aku kaget dengan apa yang aku alami barusan. bahwa aku terbangun oleh mimpi menyaksikan Lafadz “Allah” dilangit. Keterkejutanku masih belum reda, saat aku benar-benar menyadari bahwa keterhanyutanku oleh kenikmatan Agung-NYA ini ternyata adalah  mimpi. Subhanallah…aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa. Bibirku terasa bergetar seketika aku melafadzkan kalimat “Alhamdulillah” oleh Anugerah besar yang aku saksikan itu meski lewat mimpi.

Sangat nyata aku saksikan, dan kurasa aku menikmatinya dalam rentang waktu yang sangat lama. Awalnya, aku menyaksikan sendiri langit Biru yang anggun, indah menawan, sangat indah…dihiasi awan-awan bak bola-bola salju yang putih nan bersih yang bertaburan seperti  bunga-bungan mawar di permadani istana, , menghiasi sang biru ‘lazuardi’ dengan ukiran-ukiran  ornament menarik, kemudian  ditengah-tengah lapang luasnya angkasa berBackround biru cerah itu muncul lafadz “   الله” sangat besar …menyiratkan keAgunganNYA yang tiada batas. Terlukis kemudian empat lafadz “ الله  ” mengitari lafadz yang besar tersebut…dan dibawahnya terukir lafadz “ “سبحان الله و الحمد لله  .جل جلاله”  terasa lama aku menatapnya…aku tak tau…bagaimana harus kuungkapkan perasaanku ketika itu. Yang kuingat, aku benar-benar takjub, dan diriku yang begitu kecil, hina dan rendah ini semakin merasa sangat kecil oleh keMaha BesaranNYA dan keMAHA KUASA-NYA ALLAH SWT.  Aku menatapnya lama…dengan wajah berseri-seri serta ungkap rasa syukur yang tiada terhingga.

Selang berapa lama kemudian, hari berganti gelap….ikut menggeser langit dari pesona biru nya menuju panorama malamnya yang hitam, tak ada bintang maupun bulan, hening yang kurasa.  Kulihat lafadz itu sedikit memudar dalam kegelapan langit. Oh tidak…!!! Teriakku dalam hati. Lantas buru-buru aku panggil keluargaku. Kurasa setting-nya adalah didepan rumahku bersama seluruh keluargaku. Umi, Aba, cak Ali, Cak Umang, Suci pun cepat-cepat menghampiriku. Lalu segera kutunjukkan mereka apa yang telah aku saksikan dilangit. Tiba-tiba…Subhanallah…Lafadz itu…masih dalam posisi dan bentuknya tadi, berubah menjadi warna yang teramat terang…bintang-bintang dengan cahayanya yang gemerlapan …kerlap-kerlip sinar gemintangnya yang memukau…dipadukan dengan warna merah hati yang memantul diantara sinar putihnya… berkumpul di dalam lafadz itu, membentuk sebuah gugusan yang beredar dalam satu lafadz kebesaran Asma-NYA. Menambah cerahnya pesona langit diantara suram curam kesunyian malam yang  gelap pekat  itu.  Mata kasatku masih terus memandanginya lekat. Ingin sekali menyentuhnya…Astaghfirullah…tangan kecil, hina, kotor ini tak mungkin bisa mendekati apalagi menyentuh kebesaran Asma-NYA. Ya Allah…ampunilah hamba-MU ini.

Kulihat cacak-ku (CAk Ali) belum bisa melihatnya jelas. Karena terlihat LAfadz itu pelan-pelan bergerak menjauh lebih tinggi. Lalu kuambil secarik kertas,kugulung kertas itu, kemudian  dengannya  kucoba meneropongi langit . Subhanallah…bagai berada didepan pelupuk mata, Lafadz itu kulihat semakin jelas…cahaya-NYA  tak sanggup kutatap lama (sekarang aku sadari…memang mata penuh debu dosa ini tak pantas demi meraih NUR ILAHI). Lantas cepat-cepat kuberikan kertas itu pada cacakku. Dan keluargaku pun mengurumuni disekitar tempat aku berdiri, bersama-sama  ingin   menyaksikan lafadz Agung-NYA lebih jelas. Ketika itu juga…(masih didalam mimpi) entah kenapa, aku teringat kak Vi…dan seketika itu juga aku ingin menghubunginya…supaya dia pun  juga ikut menyaksikan tanda-tanda Kekuasaan Allah ini. Ku raih ponsel-ku, kucari-cari  nomor mobile-nya…tiba-tiba aku tersentak bangun.

Dan disaat bangun, kurasa aku diingatkan akan kematian. Kurasa dosa-dosa ku serasa di depan mata. Entah…tiba-tiba gemetar tubuhku semakin menjadi disaat pikiranku dan hatiku semuanya membisiki kematian dan hisab dari Allah. Ya Allah…ampuni hamba-MU yang terlalu berlumur dosa ini.  Aku hanya ingin menangis….tanpa isak maupun suara.

Segera ku ambil wudhu’…ku gelar sajadah-ku…aku ingin tenggelam bermesraan dengan Tuhan-ku…Allah SWT Ilahi Rabby.  Dan sambil lalu kunikmati lagi tilawah Al-Quran Surah “Qaff” yang dibaca Syekh Masyari Rashid itu. Begitu sejuk, damai kurasakan.

Semoga mimpi ini bukan sekedar bungan tidur, namun, Anugerah Allah pada diri yang terlalu hina ini. Sebuah ‘peringatan besar’ bagiku untuk lebih mengenal-NYA dan mendekatkan diri dengan-NYA..amin ya Robbal ‘Alamin.

اللهم أنسنا بقربك, واملأ قلوبنا بحبك, ولا تخالف قلوبنا إلى أحد غيرك

Posted by: Maik | July 22, 2009

Wacana Teosofik Râbi’ah al-’Adawiyah

 

Sosok Promotor Sufistik Dunia yang Ideal dan Moderat

(Di Presentasikan dalam kajian Reguler PPMI-Mesir, 19 Juli 2009

Prolog

Islam hadir di tengah-tengah masa ambiguitas bangsa Romawi atas sisi kemanusiaan perempuan. Pelbagai seminar digelar sebagai respon atas pertanyaan yang selama ini menghantui mereka. Antara lain, “Apakah perempuan tergolong suatu benda atau manusia? Apakah perempuan hanya berfungsi sebagai alat penyenang kaum Adam ataukah mereka masih memiliki watak dan sisi kemanusiaan?

Pelbagai pertanyaan terus bermunculan dan berakhir pada satu kesimpulan yang menyatakan bahwa perempuan tak memiliki nyawa sama sekali. Ia dianggap tak memiliki hak menikmati kehidupan berikutnya di kehidupan kedua kelak. [4]

Demikianlah pandangan mereka ini kekal hingga akhirnya Islam datang mengangkat harkat dan martabat perempuan. Fakta ini kian berpijar dengan aktifitas Nabi ketika menggelar pelbagai halaqah keilmuan. Di mana Nabi memberikan hak meniti ilmu pada laki-laki dan perempuan dalam porsi yang sama. Dalam pelbagai pertemuan misalnya, Nabi turut menyertakan kaum perempuan untuk menyiarkan dakwahnya.

Persamaan hak pendidikan antara kaum Adam dan Hawa yang dilakukan Nabi melahirkan munculnya teladan-teladan kaum Hawa yang signifikan. Semisal Khadijah Binti Khuwailid. Beliau terlahir sebagai sosok cerdas yang mampu memberikan perlindungan pada Nabi ketika berselimut duka. Simbol penenang Nabi dalam kekalutan. Penyelesai pelbagai persoalan yang menimpa Nabi.

Aisyah patut kita jadikan sebagai contoh. Ia dikenal sebagai perawi hadis Nabi. Perempuan cerdas yang disebut Nabi dalam sabdanya, “Ambillah setengah pengetahuan agamamu (Islam) dari perempuan yang wajahnya merah merona ini.”[5]

Beberapa era kemudian, kita temukan sosok-sosok muslimah yang pandai mencarup ilmu agama dan menebarkannya pada masyarakat semisal Ummu ‘Ammar Bin Yasir dan Sayyidah Zainab yang memberikan dorongan penuh pada Imam Husein hingga kematiannya. Sosok lain yang tak lupa kita sebut, Sayyidah Nafisah, muhaddis dan ahli fikih yang darinyalah Imam Syafi’i menuntut ilmu-ilmu Islam.

Masih lengkap dalam ingatan, sosok muslimah prolifik yang memiliki hati mulia nan menentramkan batin. Mendengar namanya akan memberi stimulan kuat pada kita untuk beraktifitas religi lebih baik. Ikatan batin yang nampak ketika menggelar kisah kasih dengan Tuhan mencuat terang hingga membuat kita berbinar dan berdecak kagum. Betapa dia kekasih Tuhan. Ya, dialah Râbi’ah al-’Adawiyah. Muslimah yang mendapat predikat sebagai salah satu pembesar kaum teosofis.

Wacana Sosio Kultural Masa Kenabian

Nabi ialah sosok paripurna yang memiliki keistimewaan luar biasa. Ajarannya secara karakteristik bisa dikategorikan menjadi tiga, posisi beliau sebagai seorang hamba Allah, sebagai penyebar syariat, dan pemimpin umat. Nabi amat zuhud, fakih sejati, dan pelopor penyebaran Islam di pelbagai penjuru.

Dari kezuhudannya, Nabi tak pernah sedikitpun meninggalkan salat tahajjud. Malam hari dipergunakannya untuk beribadah, siang untuk mengatur sistem pemerintahannya. Hidup seadanya. Rumahnya seumpama gubuk yang dihuni kaum papa. 

Terkisah, Nabi dan istrinya tinggal di dalam rumah yang terbuat dari batang tebu. Beliau tak hiraukan keadaan ini. Di dalam gubuk ini, Khodijah mendidik anak-anaknya, termasuk di dalamnya ialah Fatimah. Hasan dan Husein anak Ali dan Fatimah menatap pola hidup yang dirasakan ibunya. Itulah sebabnya Khodijah dan Fatimah memiiki nilai hidup sufistik yang diikuti perempuan setelahnya.[6]

Nabi sebagai penyebar syariat Allah, di pelbagai kesempatan, Rasulullah mengajarkan Khadijah tata cara salat, wudhu, dan bagaimana menetapkan waktu salat.[7] Ajarannya pada Khadijah ini turut mendarah daging di kalangan para ahli fikih setelahnya hingga kini. Terbukti dengan bilangan karya fikih yang melanglang buana di dunia Islam. Dengan tipikal fikih ini, mustahil kita meragukan bahwa Nabi hanya menyebarkan Islam tanpa mengajarkan syariat.

Sedang posisi Nabi sebagai pemimpin umat terbilang meraih kesukesan menjulang. Di beberapa peperangan, umat Islam meraih kemenangan. Dakwah Islam meluas dengan mudah dan diterima dengan welas asih oleh umat manusia.

Ketiga posisi Nabi tersebut di atas rupanya telah mengerucut pada pengelompokan umat Islam menjadi tiga kelompok. Sosok beliau sebagai seorang pemimpin umat diikuti oleh kaum bangsawan yang menempatkan posisi mereka di ranah perpolitikan. Posisi Nabi sebagai seorang fakih, mengantarkan kaum menengah meraup ilmu untuk menjadi mujtahid fikih. Terakhir, posisinya sebagai hamba Allah yang zuhud dan ahli ibadah diikuti para kaum papa untuk menjadi seorang sufi.

Di samping itu, didikan Nabi atas kezuhudan pada anak istrinya diikuti oleh para muslimah setelahnya dengan berkiblat pada pola ibadah dan kezuhudan Khadijah Binti Khuwailid dan Fatimah hingga tibalah masa hingar bingar sufistik era Basrah.

Biografi Singkat Râbi’ah al-’Adawiyah

Irak awal abad dua hijriyah berhiaskan fenomena nan kaya akan spirit kehidupan, kekuatan, dan pemikiran. Kota Basrah ketika itu didaulat sebagai kota terbesar di Irak, mercusuar keilmuan dan ajaran makrifat sufistik Islam. Medan pencarian titian ilmu para ilmuwan dan pemikir. Kebesarannya mampu melahirkan empat ribu ulama yang berujar tentang makrifat.

Di tengah-tengah fenomena menyegarkan ini, kita akan temukan kafilah dari kaum mukmin Persia, Arab dan Romawi. Di antara mereka hiduplah kaum papa yang hidup di ujung Basrah di gubuk-gubuk kecil yang temboknya rentan runtuh. Dari sekian gubuk-gubuk reyot itu, hiduplah seorang lelaki tua pecinta ibadah dengan istrinya yang tengah hamil dan ketiga anak perempuannya.

Setiap tahun, istrinya hamil dan melahirkan anak perempuan. Setiap kali lahir anak perempuan, sang istri tersedu sedan. Baginya, kelahiran anak perempuan merupakan beban berat yang harus dipikul. Sebaliknya, suaminya yang taat beribadah menerimanya dengan rasa syukur. Detik-detik dilahirkannya Râbi’ah, keluarganya tak memiliki harta apapun. Minyak yang dipergunakan sebagai penerang tiada sedikitpun. Yang tersiapkan hanyalah sepotong baju lusuh sebagai kain penutup anaknya ketika dingin. Untuk meminta pada tetangganya, ayah Râbi’ah malu.

Dengan langkah kaku, Ayah Râbi’ah mengetuk pintu tetangganya satu persatu hanya untuk meminta minyak sebagai sumber alat penerang gubuknya yang reyot. Namun tak seorang pun terketuk hatinya memenuhi permintaannya itu. Hanya satu tetangganya yang memberinya sepotong kain sebagai kain penutup badan Râbi’ah. Akhirnya, dia hanya pulang dengan membawa sepotong kain.

Malam yang penuh derita itu menjadi saksi keluh kesah ayah Râbi’ah dan istirnya. Sembari menunggu anaknya lahir tanpa bantuan siapapun dan hanya menemani istrinya, ia hanya bisa terpekur bermunajat pada Allah atas apa yang menimpa diri dan keluarganya. Terpekur sendu menanti pertolongan Allah dalam sekejap. Tiba-tiba lampu menyala dan istrinya melahirkan Râbi’ah dengan susah payah.

Suatu malam, ayah Râbi’ah bermimpi bertemu dengan Nabi. Dalam mimpinya itu, Nabi berkata, “Janganlah bersedih. Tersebab anakmu ialah perempuan mulia. Sesungguhnya 70 orang dari umatku akan mengharap syafa’at darinya.” Kemudian Nabi memerintahkannya untuk menemui Isa Zadan gubernur Basrah dan menulis surat padanya yang mengabarkan bahwa Nabi telah mengunjunginya ketika dia terlelap istirahat di malamnya yang panjang. Dalam mimpinya itu, Nabi memerintahkannya untuk menemui Isa Zadan dan bersabda padanya, “Kamu telah membiasakan salat 100 raka’at salat tiap malam. Khususnya malam Jum’at, kamu membiasakan salat 400 raka’at. Sayangnya, di Jum’at terakhir kamu lupa. Maka dari itu, bayarlah 400 dinar pada pembawa surat ini sebagai kafarat atas kelalaianmu.”[8]  

Râbi’ah kecil tumbuh di tengah tempaan ilmu dari ayahnya, seorang ahli ibadah, zuhud, dan fakir. Sedari kecil, benih-benih kecerdasan nampak dari biasan wajahnya. Dari kecerdasannya itu, tak menampakkan bahwa dirinya masih berusia muda. Misalnya nampak pada kecerdasan batinnya yang tak nampak seperti kawan seusianya. Dia tak meminta sesuatu seperti yang dimiliki kawannya. Ketika duduk mendapatkan makanan, dia tak berebut meraihnya dan tak akan meminta tambahan.

Sedari kecil dia sudah fasih membaca al-Qur’an. Orangtuanyalah yang sedari kecil telah mendidiknya secara paripurna untuk menjadi anak yang berakhlak mulia. Dengan imannya yang murni dan rohani yang mulia, Râbi’ah menjadi anak taat akan perintah agama. Suatu ketika, ayahnya mengajaknya makan malam dengan keluarganya. Kemudian dia memperhatikan ayahnya dan berkata padanya, “Ayah, saya tak menganggap apa yang kau makan halal ini ialah sebagian dari makanan yang haram.”

Dengan penuh kesabaran, ayahnya berkata, “Yang kita makan ini bukanlah dari yang haram”. Râbi’ah kecil menjawab dengan sopan, “Kita bersabar dari kelaparan di dunia ini itu lebih baik daripada kita bersabar dari api neraka di hari kiamat nanti.” Ayahnya tersentak kaget akan jawaban anak semata wayangnya ini. Ia tak pernah mendengar gaya tutur yang dilontarkan Râbi’ah kecuali di majlis kaum zuhud dan halaqah para ahli ibadah.      

Suatu malam sebelum tidur, Ayah Râbi’ah melewati kamar Râbi’ah. Betapa terkejutnya ayahnya ketika mendapati Râbi’ah kecil bermunajat pada Tuhan. Munajatnya itu tak henti hingga sang fajar menampakkan bias-biasnya. Selepas mengkhatamkan lelahnya di istirahatnya malam itu, sang Ayah terpaku karena mendapati putri yang dicintainya masih di atas sajadah menengadahkan diri pada Tuhan.

Belum memasuki usia dewasa, Râbi’ah terpaksa kehilangan orangtua yang mendidiknya. Dia terpaksa terpisah dengan saudara-saudaranya. Râbi’ah kecil hidup seorang diri dan berpisah dengan saudara perempuannya. Ia hidup papa. Ayahnya hanya mewarisinya perahu yang biasa dipergunakan ayahnya untuk mengantar orang-orang dari satu pantai ke pantai yang lain. Dari perahu ini, ia mengantar orang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Malang sekali nasib Râbi’ah, kala itu Basrah sedang ramai-ramainya memanfaatkan kaum papa sebagai budak. Râbi’ah yang masih hijau terpaksa menjadi budak di sebuah keluarga kaya nan bengis. Tiap hari tumpukan kerjaan harus dilakukannya hingga lengan tangannya terluka penuh lecet. Di suatu malam, Râbi’ah bermunajat pada Allah, “Ya Allah, lenganku penuh dengan luka. Aku harus merasakan sakit yang mengaduh dan pahitnya keyatiman. Apakah Engkau ridha akan apa yang terjadi padaku, ya Allah? Ya Allah, inilah yang ingin kuketahui.[9] 

Suatu hari selepas ia bekerja seharian, malamnya ia bermunajat sebagaimana biasa. Tuannya yang seorang pedagang tiba-tiba melewati bilik reyotnya, ia mendengar munajat Râbi’ah dan menghampiri kamarnya. Matanya terbelalak ketika menyaksikan penerangan yang biasanya terletak di sudut ruangan berputar-putar di atas Râbi’ah. Esoknya, pedagang itu memerdekakannya seraya berkata, “Kamu saya merdekakan, wahai Râbi’ah. Setelah ini, jika kau berhasrat bersama kami, kami sekeluarga akan membantumu. Namun, jika kamu ingin pergi, pergilah! Aku restui kepergianmu.”

Râbi’ah akhirnya segera bangkit dan menuruni tangga rumah tuannya dan pergi meninggalkan kehidupan perbudakan yang dideritanya selama ini.[10] Adapun setelah itu, ia mengarungi kehidupan sufistik selayaknya kaum sufistik lain.

Ritual Sufistis Râbi’ah Adawiyah

  1. Puritas Rohani

Râbi’ah Adawiyah meraih derajat kejernihan rohani secara bertahap hingga pada tahap  paripurna. Pencapaiannya ini tak didasari taklid, akan tetapi merujuk pada tabi’at anugerah Ilahi. Sebagaimana dikisahkan Abû al-Qâsim al-Nîsâbûrî, suatu hari Hayyûnah, salah seorang tokoh sufi perempuan mengunjungi Râbi’ah dan mendapatkan Râbi’ah tertidur di tengah malam. Kemudian dia menyentuh kaki Râbi’ah dan berkata, “Bangunlah, telah tiba waktu berkumpulnya hamba Tuhan yang mendapat hidayah, wahai pengantin dan pembesar salat malam.”[11]   

Fase-fase sufistiknya berawal pada aspek ridha pada Allah. Terbukti dengan kerelaannya beribadah dan menjalankan kewajiban yang digariskan Allah. Di samping itu, ia menghafal al-Qur’an semasa kecil. Hari-harinya dipenuhi dengan ritual zikir pada Allah. Karena baginya zikir ialah wasilah penyentuh kalbu.

Fase selanjutnya yang ditempuhnya ialah fase murâqabah yang kemudian menjunjungnya menuju fase makrifat. Pada fase ini, berubahlah fase cinta-Nya pada Allah menjadi fase cinta yang paripurna. Fase yang menggeliatkannya berfikir untuk apa dirinya beribadah dan atas dasar apa ia beribadah. Apakah untuk meraih surga-Nya dan takut akan siksa-Nya? Bukankah Allah merupakan satu-satunya yang berhak mendapat cinta dan hanya pada-Nya lah manusia beribadah. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menaikkannya mencapai martabat sufistik tinggi, dari fase ridha pada Allah menjadi cinta pada Allah semata.[12]

  1. Cinta Ilahi

Di suatu kesempatan, Râbi’ah al-’Adawiyah berkata, “Aku tidak menyembah-Nya karena takut api neraka-Nya, dan bukan pula karena cinta kepada surga-Nya, sehingga aku bak seorang buruh yang tidak baik. Namun, aku menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya.”

Di lain, Râbi’ah al-Adawiyah ditanya tentang sebab penyakit yang menimpanya. Ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu sebab penyakitku. Surga ditawarkan kepadaku, kemudian hatiku jatuh cinta padanya. Lalu aku menduga bahwa Kekasihku merasa cemburu kepadaku kemudian Ia mencaci maki diriku. Tetapi biarlah Ia berhak untuk mencaci maki.”[13]

Menurut al-Muhasibi, apa yang diucapkan Râbi’ah al-’Adawiyah berupa konsep fana’ dan konsep cinta hubb merupakan  sesuatu yang dilebih-lebihkan pelakunya. Para pelaku bentuk mistik seperti itu telah keluar dari apa yang digariskan oleh Islam yaitu al-Qur’an dan Hadis. Al-Muhasibi sendiri memandang bahwa dalam beribadah kita memerlukan adanya al-Khauf dan al-Raja’ yang berprinsipkan al-Qur’an dan Sunnah. Karena Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang takwa berada di dalam taman-taman (surga) dan aliran-aliran mata air sambil mengambil segala apa yang didatangkan Tuhannya kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang selalu berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di waktu sahur (akhir malam) mereka selalu memohon ampunan kepada-Nya.” (QS 51: 15-18)[14]

Al-Qur’an menghimbau kita agar mau menempatkan nalar dan pengambilan pelajaran sebagai salah satu cara untuk mencari jalan keselamatan dari azab Tuhan, sebagaimana Dia berfirman:

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Mereka selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, seraya berkata, “Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan (alam) ini dalam keadaan sia-sia. Mahasuci Engkau! Lindungilah kami dari siksa neraka” (QS 3: 190-191)

Konsep ibadah dan cinta yang masyhur di kalangan sufi tidak ada keterkaitannya sama sekali dengan rasa takut (rahbah) dan keinginan (raghbah), sebagai suatu pengabdian kepada Allah secara tulus. Dengan mengesampingkan pikiran takut pada neraka dan keinginan untuk meraih surga, konsep cinta dan ibadah mereka merupakan suatu yang tidak benar menurut al-Muhasibi. Sebab sikap itu bertentangan dengan penjelasan al-Qur’an dan Sunnah yang mengajarkan pada kita agar –dalam melaksanakan kewajiban- mengajak orang untuk beriman, dan melakukan amal salih harus selalu didasarkan atas rasa takut dan harapan itu.[15]

Konsep al-Hubb al-Ilâhî juga menghantarkan Râbi’ah pada penolakan pernikahan. Hal ini dipaparkannya dalam suatu pertanyaan yang disodorkan padanya:

“Ada tiga hal –penyebab kebimbanganku-. Apabila terdapat seseorang mampu menghantarkanku pada ketiga hal ini, maka aku akan menikah dengannya:

 

Yang pertama, apabila aku meninggal, aku dapat menemui- Nya dengan iman yang murni.

Yang kedua, apabila aku mendapat raport pahalaku dengan tangan kanan di hari akhir nanti.

Yang ketiga, apabila telah tiba hari pembangkitan, golongan kanan akan masuk surga, dan golongan kiri akan ditenggelamkan di lautan api neraka. Di antara kedua tempat itu, siapakah yang dapat menjamin tempatku.”

Sang penyodor permasalahan tak kuasa menjawab. Yang terkais dari kedua daging merah yang menyembul sedikit di bawah hidungnya hanya sekelumit ujar, “Aku tak mengetahui sedikitpun tentang itu. Yang Mengetahuinya hanya Sang Pencipta.”

Râbi’ah lantas menjawab, “Kalau memang begitu, bagaimana mungkin aku membutuhkan pernikahan, sedang diriku masih sibuk dan bersiteguh dengan tiga perkara ini.”

Râbi’ah telah terpaut hatinya dengan Tuhan. Tak secuilpun rongga hatinya diberikan pada selain-Nya. Acap kali Râbi’ah menyenandungkan syair sufistik.

راحتي يا إخوتي في خلوتي                و حبيبي دائما في حضرتي

لم أجد لي عن هواه عوضا                  و هواه في البرايا محنتي

حيثما كنت أشاهد حسنه                     فهو محرابي إليه قبلتي

إن أمت وجدا و ما ثم رضا                 وا عنائي في الورى وا شقوتي

سا طيب القلب يا كل المنى                 جد بوصل منك يشفى مهجتي

يا سروري و حياتي دائما                   نشأتي منك و أيضا نشوتي

قد هجرت الخلق جميعا أرتجي             منك وصلا فهل أقضي أمنيتي[16]

 

Signifikansi Gaya Sufistik Râbi’ah

Sejarah mencatat, Irak, sebuah negara berperadaban besar yang menoreh tinta emas di sepanjang perjalanan sejarah keilmuan dunia, corak negara yang berkontribusi besar demi kepesatan lalu-lalang para penggali ilmu agama sejak abad pertama Hijriah. Konon, tiga kota besar di dalamnya, Bashrah, Kufah dan Baghdad  yang sarat membidani banyak para tokoh bahasa, Tasawwuf, Filsafat dan Fiqh ini  menjadi gerbong pertama, di mana cikal-bakal disiplin keilmuan Islam dilahirkan.

Sebut saja Bashrah, kota bersejarah yang melahirkan sosok Sufi perempuan terkenal, Râbi’ah al-’Adawiyah. Nama perempuan suci ini dikenal dunia karena kisah-kisah kehidupannya yang selalu menakjubkan bahkan berbau kemistisan.

Konon, Gaya sufistik Râbi’ah nampak ideal, unik dan berbeda dengan tokoh sufi lainnya. Adapun para ahli ibadah lainnya mengekspresikan ketawadhu’an dan rasa ketakutannya dengan cara berteriak histeris, menangis sekeras-kerasnya, meratap tersedu-sedu. Seperti yang dilakukan oleh Abdu al-Wahid Ibn Zaid, seketika dalam halaqah pengajian di sebuah masjid yang kala itu hadir sebagai penceramah  adalah Malik Ibn Dinar. ketika sang Malik menyebutkan sebuah ayat Allah yang berupa peringatan, seketika ‘Abd al-Wahid berteriak histeris, hingga jamaah pendengar yang hadir di masjid itu tak dapat mendengar suara Malik karena terlalu nyaringnya jerit tangis sang sufi Abdu al-Wahid. Berbeda dengan tokoh sufi Râbi’ah Adawiyah, dia memilih jalan beribadah dan berzuhud  dengan diam dan tenang. Sehingga bilik tempat tinggalnya yang kecil, nampak semakin damai dan syahdu. Inilah yang menjadi ciri khasnya, yakni bersuara dalam kalbu.

Adapun dua teori besar yang diusung sosok teosofik berpengaruh ini , adalah teori ‘al-Hubb dan al-Khullah’ atau “Cinta Ilahi dan Berteman dengan Tuhan”. Tak pelak, sebuah adagium “Cinta Ilahi” yang disorot dari konsep kesufian Râbi’ah ini mampu mengubah konsep awal yang telah berdiri lama, sejak abad pertama Hijriah. Yaitu teori “Rasa Takut”.  Di mana, Teori ini mengajarkan beriman pada Allah karena rasa takut pada neraka, dan merebut surga-Nya.  Munculnya teori ini karena terilhami dari berbagai fenomena gonjang-ganjing perpolitikan masa itu, juga keadaan sosial yang menganut sistem rasisme serta krisis perekonomian masyarakat yang sekarat, dan otoritas kekuasaan yang tak dapat dibendung lagi. Akhirnya fenomena ini membuat banyak penduduk Bashrah lebih memilih sikap berlindung pada Tuhan daripada menghadapi segala ancaman kerusakan dunia yang menghujam kejam saat itu.

Namun, seperti layaknya sunnah alam, peradaban pun mengiringi perubahan, dan menawarkan konsep baru yang lebih mencerahkan. Muncullah di abad kedua, teori fenomenal yang diusung Râbi’ah beserta kawan-kawannya, adalah “Cinta dan Berteman dengan Ilahi”. Esensi dari sebuah konsep Cinta ini lebih mewarnai sisi kedamaian dan ketenangan pada jiwa para Sufi. Teraplikasikan dalam jiwa Râbi’ah, bagaimana besarnya kecintaannya pada Allah dibanding pada semua ciptaanNYA. “Jika aku menyembah Allah karena takut NerakaNYA, maka perdekatkanlah neraka itu padaku, jika aku menyembahNYA karena ingin meraih SurgaNYA, maka jauhkanlah surga itu dariku, janganlah sekali-kali beriman pada Allah karena mengharapkan upah dariNYA, tapi Cintailah Dia dengan penuh keikhlasan dan ketulusan”, inilah pijakan dasar dari konsep Cinta yang didengungkan oleh sang perempuan suci, Râbi’ah Adawiyah.

Sebuah kisah yang menakjubkan, dari perbincangan Râbi’ah dengan salah seorang tokoh Sufi Riyah ibn ‘amr al-Qaysi, disaat itu Râbi’ah terkejut melihat Riyah menciumi anak kecil yang sedang bermanjaan dipangkuannya. Râbi’ah bertanya, “kamu mencintai anak kecil itu?” iya, jawab Riyah. Tak pernah kusangka, ternyata kau masih berani menyisakan ruang cinta kepada selain Allah”, tegur Râbi’ah heran. Riyah pun tak kalah takjub dengan penuturan Râbi’ah, lantas dia pun segera jatuh tersungkur, menangis seraya berteriak, “Sungguh merupakan Rahmat Allah yang tercurahkan kepada hamba-Nya melalui rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan kepada anak kecil”. kisah ini menyerap sebuah perbedaan mendasar antara ‘Cinta Ilahi’ khas Râbi’ah dengan ‘Cinta Ilahi’ versi tokoh sufi lainnya. Bahwa kecintaan Râbi’ah pada Allah sangat murni, menangkis semua embel-embel cinta meski kepada satupun dari makhlukNYA. Sedangkan Riyah, tokoh sufi ini menyatakan cintanya pada Allah dengan mengaplikasikannya pada cinta terhadap makhluk-Nya.  

Sebuah riset filologi membuktikan[17], bahwa teori “Cinta Ilahi” Râbi’ah ini terpengaruh dari ajaran “neoplatonisme” melalui syi’ir-syi’ir Dzu-Nun al-Masri. Konon, Ajaran Neoplatonisme yang mengajarkan kasih cinta pada Tuhan ini  dibawa oleh Hellenisme berkebangsaan Yunani  yang saat itu menyebarkan ideologinya di kota Alexandria, Mesir. Dzu-Nun al-Masri, seorang guru besar filsafat, berkebangsaan Mesir  yang banyak bersentuhan dengan filsafat Yunani ini bersenandung dalam syi’ir

أحبك حبين حب الوداد     #     وحبا لأنك أهل لذاك

فأما الذي هو حب الوداد    #      فحب ششغلت به عن سواك

وأما الذي أنت أهل له    #    فكشفك للحجب حتى أراك

 

Syi’ir ini sangat mirip dengan salah satu lagu syi’ir Râbi’ah yang disenandungkan pada Tuhannya:

 

أحبك حبين حب الهوى     #     وحبا لأنك أهل لذاكا

فأما الذي هو حب الهوى    #     فذكر ششغلت به عن سواكا

 

Dzu-Nun al-Masri yang hidup satu masa dengan Râbi’ah, tepatnya dilahirkan tahun 180 H dan wafatnya tahun 245 H ini, sangat memungkinkan adanya keterpengaruhan ideologi antar mereka berdua, walau dalam bentuk filologi sekalipun.

Menarik dicermati, dari syi’ir ini nampak Râbi’ah dalam ambigu dalam dua bentuk cinta yang ada dalam hatinya. Pertama, Cinta karena kemauannya. Dan kedua, Cinta karena Allah memang Pemilik cinta dan berhak dicintai. Dan cinta yang pertama, diaplikasikan dengan cara berdzikir pada Allah, sedangkan yang kedua, semata cinta murni dan tulus pada Allah dan ini  merupakan sebuah ‘keistimeawaan’ yang Allah karuniakan untuknya.

Teori “Hub Ilahi” inipun  juga dikatakan sebagai pengaruh dari guru Râbi’ah, ‘Abd al-Wahid Ibn Zaid. Konon, Abd al-Wahid Ibn Zaid dikenal sebagai tokoh sufi pertama yang menyeru ‘Kecintaan pada Tuhan’. Yaitu dengan teori yang lebih mengarah pada cara mencintai Tuhan, bukan bagaimana cara melihat Dzat Tuhan itu sendiri.

Hayunah, seorang perempuan sufi Bashrah, yang terkenal sebagai ahli ibadah dan zuhud inipun juga memiliki andil yang sangat besar sebagai salah satu guru spiritual Râbi’ah dan dalam mewarnai siraman Ruhaninya[18]. Meski Hayunah tidak menggunakan teori khas sufi seperti tokoh sufi lainnya, namun begitu tingginya jiwa spiritual dan kekhusyu’an Hayunah hingga dikenal dengan sebutan “Pelayan Allah” dan seorang tokoh sufi Sufyan al-Tsaurî memberinya gelar “Jamuan Allah”.

Hayunah memang perempuan yang paling kuat ibadahnya. Ritual puasanya tak pernah berhenti, hingga tubuhnya menjadi hitam, kurus-kering. Akhirnya diapun menjadi bahan cemoohan orang, karena mereka memandang puasanya telah menyiksa tubuhnya sendiri. Namun dengan sigap, Hayunah menatap langit dan berkata, “Ya Allah…makhluk-Mu telah menghinaku karena pelayananku pada-Mu. Tapi, hamba tetap akan selalu setia menjadi pelayan sejati-Mu meski tubuhku tinggal tulang belulang sekalipun”. 

Terkisah, suatu hari Râbi’ah sedang menginap di kediaman Hayunah. Disaat malam menjelang, Râbi’ah yang kurus dan tubuhnya yang kecil nampak tidak kuasa bangun untuk beribadah malam. Dia memilih menarik selimutnya dan terbang ke alam mimpi. Namun, dengan penuh kesabaran Hayunah mencoba membangunkan Râbi’ah, menasehatinya dan membimbingnya supaya terbiasa menghabiskan waktu-waktu malam bersama sang kekasih, Allah SWT. Sejak itulah, kehidupan rohani Râbi’ah tercerahkan, dan menjadikannya sebagai sosok penguasa waktu malam, bermunajat pada Allah SWT. 

Sedangkan teori kedua,  teori “al-Khullah”[19], ‘Berteman dengan Tuhan’ adalah sebuah konsep yang dia dapati dari salah satu tokoh sufi ‘pecinta Ilahi’ lainnya, Riyah Ibn ‘Amr al-Qaisy. Konsep ini berangkat dari “al-Hubb al-Ilâhî”, sebuah kecintaan pada Tuhan yang begitu  mendalam, mendominasi seluruh jiwa, nafsu dan hatinya. Hingga dalam tingkatan yang paling tinggi, rasa cinta ini meliputi dan menguasai seluruh jiwa raganya, hingga Allah pun akan membalasnya dengan kecintaan yang serupa. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Maidah ayat 54,” Allah Mencintai mereka, dan merekapun mencintaiNYA”. Sehingga, jadilah hubungan antara Tuhan dan hambanya laksana teman dan sahabat  karib yang saling mencintai.

Adapun konsep ‘teman’ disini adalah sistem yang dijalankan dengan saling bertukar dan timbal-balik. Seperti hukum mencuri atau berzina yang dihukumi boleh untuk mereka, sehingga bukan lagi berpatok pada hukum halal. Sebagaimana dibolehkannya seorang teman mengambil hak milik temannya, meski tanpa izinnya. Sistem inipula berlaku pada para sufi yang menganut teori ini dalam hubungan persahabatannya dengan Tuhan.

Teori ‘al-Khullah’ atau ‘persahabatan’ ini dijadikan pijakan dasar beberapa kaum Sufi, yang diambil dari kisah nabi Ibrahim as sehingga diangkat oleh Allah dengan gelar “ Kholil Allah”. Kisah  nabi Ibrahim konon menjadi figur  suri tauladan berpengaruh bagi mereka, seperti yang diterapkan dalam penyembelihan kurban oleh dan untuk Allah, hingga mencuatkan ide bagi mereka untuk menjadi kurban dan domba Allah. Yang darinya, hidup mereka dipersembahkan untuk menjadi domba Allah yang menuntun mereka nantinya pada kematian hakiki untuk Allah semata. Terlebih, Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali dibakar hidup-hidup dalam kobaran api dunia, yang kemudian diselamatkan oleh Allah SWT, nabi Ibrahim pula manusia yang pertama kali berpikir tentang alam ciptaan Allah, dan juga seorang hamba yang pertama kali meminta ketenangan batin, seperti firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 260: “ Allah berfirman, belum yakinkah kamu? Ibrahim manjawab, ‘aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. karena itu, teori “khalîl Allah” ini adalah sebuah konsep yang berlandaskan pada Al-Qur’an.

Tak aneh, sebuah tuduhan ‘Sufi Atheis’ kerap ditudingkan kepada tokoh teosofik Râbi’ah Adawiyah beserta tiga tokoh sufi lainnya yang mengatasnamakan dirinya sebagai tokoh penegak ’al-Hubb al-Ilâhî dan al-Khullah’ ini, mereka ialah Riyah ibn ‘Amr al-Qaisy, Abu Habib dan Ibn Hayyan al-Hariry. Julukan ini berangkat dari implementasi keempat tokoh sufi ini yang lebih berlandaskan pada teori filsafat, atau lebih tepatnya dengan mensifati Tuhan sebagai manusiawi atau memanusiakan Tuhan. Meskipun nampak segi penafsirannya adalah dengan cara melihat ayat-ayat Allah dengan pandangan esoteris Islam.

Sebuah kisah yang menjadi isarat falsafah kesufian Râbi’ah, suatu hari sekelompok anak muda melihat Râbi’ah membawa air di tangannya dan api di tangan satunya lagi. “Hendak kemana kau, wahai perempuan Sufi dan apa yang ingin kau lakukan?”,tanya mereka keheranan. “Saya mau pergi ke langit, untuk menyemburkan api ini di surga, dan menuangkan air ini dalam neraka, hingga tak ada lagi  orang yang berperasaan takut (dari siksa neraka) dan berharap (pada kenikmatan surga) dan akhirnya mereka akan memusatkan pikirannya pada cinta Allah dan kekal dalam pelukan cinta kasih Ilahi”, jawab Râbi’ah tegas. Apalah artinya, jika beriman pada Allah hanya karena mengharap kesenangan materi saja, bersibuk ria dalam Surga dengan aneka kebahagiaannya tanpa menoleh lagi pada Allah SWT. Demikian penggalan kisah Râbi’ah, sosok perempuan yang Mencintai Allah dengan segala keikhlasan dan ketulusannya hingga menjadikan Allah sebagai kekasih dan sahabat sejatinya hingga ajal menjemputnya. Dan dari cara pandang inilah Râbi’ah akhirnya diklaim sebagai Sufi Atheis.

Pengaruh Gerakan Sufistik Râbi’ah ‘Adawiah dalam Pembentukan Karakteristik Teosofik Setelahnya

Dimensi spiritual Râbi’ah Adawiyah yang menakjubkan, serta gaya sufistik ideal dan moderat yang diperankannya, rupanya mengundang sambutan hangat dari banyak kalangan aliran sufi, seperti aliran tasawwuf Sunni, tasawwuf murni dan tasawwuf falsafi[20]. Terbukti pengaruh besar yang tercermin dari ritual dan teori sufistik Râbi’ah hingga mewarnai pemikiran dan keyakinan ketiga aliran yang saling berbeda tersebut.

 Adapun aliran sufi Sunni, memberikan apresiasi besar terhadap Râbi’ah hingga menyebutnya sebagai ‘tokoh sufi berkedudukan tinggi’. Gelar agung ini sangat pantas diterimanya atas landasan tiga konsep dasar yang diangkat Râbi’ah, yaitu: “Keridhoan, Cinta, dan persahabatan dengan Tuhan”. Dengan tiga tiang utama inilah yang menjadi pemicu mencuatnya para tokoh-tokoh sufi yang meneruskan tongkat estafet keimanannya. Diantaranya adalah, Syaqiq al-Balkhi, Ibrahim ibn adham, Sahl Ibn Abdillah al-Tastary, dan berujung pada Abu hamid al-Ghazali.

Sedang teori “al-Hub al-Ilahi dan al-Khullah” yang dicuatkan oleh Râbi’ah, rupanya memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap praktif sufistik yang murni dan  bahkan menstimulasi kuatnya paham gnostisme. Yang karena terbentuk dari aliran inilah, beberapa golongan ekstrim menjuluki Râbi’ah sebagai tokoh teosofik atheis.

Selanjutnya, sejarah juga mencatat besarnya dampak sufistik Râbi’ah terhadap dua madzhab besar, yaitu  madrasah Syam dan Madrasah Baghdad. Abu Sulaiman al-Darani, Seorang Guru Besar berkubu madrasah Syam ini senantiasa tekun mengkaji pemikiran ‘al-Hubb al-Ilâhî’ dari sang Râbi’ah. Begitu juga tokoh sufi perempuan dari Syam yang bernama Râbi’ah Bintu Ismâ’îl al-Syamiyah (istri Ahmad ibn Abi al-Hawariy) yang muncul di abad ke tiga Hijriah ini, justru mengenal dunia tasawwuf karena terilhami dari ajaran Râbi’ah Adawiyah, lewat gurunya Abu Sulaiman al-Darani.

Sedang tokoh madrasah Baghdad yang ikut menyerap pemikiran ‘al-Hubb al-Ilâhî’ Râbi’ah Adawiyah, terpancar dari sosok Sufi besar, al-Hallâj dan al-Syablî.

Demikian sosok Sufi perempuan Râbi’ah Adawiyah yang berpengaruh kuat, berpemikiran tinggi , berwawasan luas, ahli ibadah dan pandai bersya’ir.

  1. A.      Kritik Nawal Sa’dawi atas Sikap Kaum Patriarkis Pada Râbi’ah Adawiyah

Kepribadian Râbi’ah al-’Adawiyah yang dikenal masyarakat dunia sebagai tokoh sufi yang mempersembahkan hidupnya demi Cinta pada Allah semata, rupanya mengundang kritik keras dari Sosok feminis kontroversial, Nawal Sa’dawi.

Nawal mengecam bahwa wacana ini sengaja diangkat oleh kaum patriarkal untuk membedakan antara tokoh sufi laki-laki dan sufi perempuan[21]. Dengan  mengindahkan segala perjuangan kaum sufi laki-laki dan dominasi mereka dalam dunia tasawwuf, berikut mengaburkan bentuk perjuangan tokoh sufi perempuan dan asumsi miring terhadap mereka yang dianggap minim dan lemah.

Nawal pun maju sebagai pihak provokatif dan menuding dengan berbagai macam bentuk sarkasme kepada para penyebar wacana sosok Râbi’ah al-’Adawiyah yang terkesan bias. Terkhusus kepada Husein Marwah, yang buku-bukunya banyak menceritakan sisi miring dari perempuan sufi ini.

Dalam salah satu bukunya, Husein Muruwah banyak mengisahkan tentang biografi dan sisi keilmuan al-kurkhi yang dianggap pakar dalam ilmu ‘Ladunni’, sehingga mengenal Allah secara kognitif, melalui ilmu dan pemikirannya. Berbeda ketika mengkisahkan sosok Râbi’ah, Muruwah justru menyebutkan bahwa Râbi’ah mengenal Allah hanya karena sebagai pecinta saja, yang berpatokan pada perasaan dan emosional. Dari sini, Nawal melihat bahwa banyak kaum patriarkal yang menilai kepribadian perempuan sebelah mata saja, bahkan  keintelektualannya  dikucilkan dari wacana publik.

Secara realistis, gerakan sufi digencarkan saat itu sebagai pelarian dari sistem pemerintahan arab yang carut-marut, serta kebijakan pemerintah yang nyaris menyimpang dari syari’at Islam, penuh kedzaliman dan kelaliman. Akhirnya, tak sedikit mereka yang menghindar dari interaksi sosial, menjauh dari hiruk-pikuk pemberontakan kepada pengalienasian diri dengan bertaqarrub pada Allah.  Namun, yang sangat disayangkan, mengapa justru ritual ‘uzlah yang mereka praktikkan lebih ditujukan sebagai penghindaran  dari nafsu kepada perempuan. Seperti ‘Amir Ibn Abdu Qais yang pernah berdoa, supaya Allah mencabut rasa cinta dari dalam hatinya kepada perempuan”. Apalagi dalam pidatonya,  Hasan Basri, pakar Sufi tersohor itu pernah berkata, “Jika mengharapkan kebaikan dari Allah, maka jauhilah istri dan anak-anakmu”.

Disalah satu riwayat hidup Râbi’ah Adawiyah dikatakan,  jika malam menjelang, Râbi’ah segera  bergegas naik ke  atap rumahnya dan berseru, “ wahai Tuhanku…saat langit memancarkan cahaya gemerlapan bintang-gemintangnya, kala manusia terlelap dalam mimpinya, para penguasa mengunci gerbang istananya, dan disaat sepasang kekasih mabuk dalam asmara cinta kasihnya , dan inilah aku…sedang bersua, ingin bermesraan denganMU”. 

Husein Marwah menilai, bahwa kalimat munajat cinta yang dituturkan ini menyiratkan bahwa Râbi’ah adalah satu dari sekian banyak perempuan yang mengalami derita dilematika psikologis. Dimana pengaruh peristiwa traumatis yang dialaminya  semenjak kecil, membuatnya putus asa. Histori kehidupannya yang selalu berhadapan dengan penderitaan lahir-batin  oleh derita kemiskinan, kefakiran, terasingkan dari lingkungan sosial serta penyiksaan  sebagai hamba sahaya yang dialaminya, membuat jiwa Râbi’ah memilih mengisolasi diri dari lingkungan, tidak menikah dan sebagainya. Jadi, Marwah menganggap bahwa munajat Râbi’ah ini lebih cenderung sebagai curahan seorang perempuan yang sedang mengalami tekanan bathin dan kebenciannya pada laki-laki, sehingga lebih memilih Tuhan sebagai kekasih sejatinya.

Selanjutnya Nawal berdalih, Pemberontakan dan kritik pedas pun mengalir deras dari tulisan-tulisan Nawal yang ditujukan pada Husein Marwah yang dianggap satu dari sekian penganut sistem paternalistik. Diantaranya, 1) Mengapa dalam konsep ‘al-Hub al-Ilahi’, Râbi’ah justru lebih dikenal sebagai sosok perempuan ‘pecinta berat’ daripada perempuan ‘berintelektual luas’? 2) Mengapa Râbi’ah mengenal Allah hanya dengan melalui ‘cinta’ dan bukan secara kognitif (Ma’rifah) seperti yang dilabelkan pada tokoh Sufi al-Kûkhî  3) Mengapa Husein Muruwah tidak pernah menuliskan kisah seorang Sufi laki-laki yang terbelenggu cintanya dari perempuan? Mengapa permasalahan laki-laki selalu berkutat pada perpolitikan, sosial, agama dan filsafat saja? Dan mengapa hanya perempuan yang selalu terikat dalam problem cinta dan keputus asaan? 4) dan Mengapa kesufian mereka dijadikan alasan besar atas alienasi diri dan penghindaran dari makhluk bernama perempuan?

Dari sini Nawal memberikan konklusi mendasar, rupanya ahli sejarah telah menggunakan  skala riwayat yang tercampur aduk, terutama kaitannya dengan reputasi sosok Râbi’ah al-’Adawiyah. Tak ada satupun riwayat yang mengatakan akan ‘ilmu Ma’rifah’ yang dimiliki Râbi’ah, pun perjalanan keintelektualannya, nyaris tak banyak yang mengenalnya. Hingga  konsep “al-Hub al-Ilahi” pun disosialisasikan sebagai bentuk pelarian dari cintanya yang terputus dari makhluk Adam. Jadilah, perempuan semata terbentuk sebagai korban wacana, sebatas jasad yang perasa dan bukan seorang intelek yang berpengaruh besar bagi  peradaban manusia

G. Epilog

Dari historisitas Râbi’ah yang singkat ini, ada sedikit pembelajaran bahwa Râbi’ah ialah salah satu promotor sufistik dunia. Ia seorang muslimah namun itu tak membuatnya berfikir bahwa ia tak berhak dinobatkan sebagai salah satu motor penggerak sufistik Islam. Ini membuktikan bahwa perempuan dapat disejajarkan dengan kaum Adam. Mereka memiliki kemampuan luar biasa yang selaiknya ditunjukkan pada dunia.

Dengan cara memaparkan kisah Râbi’ah dan mendaulatnya sebagai tokoh penggagas sufistik al-Hubb al-Ilâhi, akan kita temukan bahwa eksistensi perempuan sedemikian nyata. Perempuan sudah saatnya membuktikan bahwa mereka mampu tegak berdiri di tengah-tengah pendapat simpang siur para filosof. Misalnya pernyataan Voltaire. Dalam buku Mu’jam al-Falsafah, dia bertutur,

“Ketika kami merujuk al-Qur’an berdasar interpretasi ulama yang tak masuk akal, kami meyakini bahwa al-Qur’an tak berisikan interpretasi semacam ini. Anehnya, banyak penulis kita yang dengan mudahnya mengemukakan bahwa Muhammad menempatkan perempuan sebagai hewan pemilik kecerdasan. Dan dalam timbangan syariat, mereka serupa hamba sahaya yang tak berhak memiliki kebahagiaan di dunia. Dan tak mendapat posisi di akhirat kelak. Tak dinyana, asumsi ini terang benderang ialah asumsi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sayangnya, banyak manusia yang mempercayai.”[22]

Naguib al-Raihani berkata, “Perempuan adalah suatu elemen yang tanpa eksistensinya pun, kehidupan akan tetap berjalan. Fakta ini merujuk pada perilaku kehidupan Adam yang tetap eksis sejak awal penciptaan. Bahkan sebelum diciptakannya Hawa.”[23]

Dengan langkah ini, kita telah cukup membuktikan pada dunia dan telah menegakkan sisi kemanusiaan perempuan. Karena pada dasarnya, menegakkan sisi kemanusiaan perempuan menjadi sedemikian penting di tengah hingar-bingar gerakan feminisme yang cenderung liar dan tanpa arah. Nilai penting tersebut karena muncul satu asumsi kuat bahwa kaum perempuan hanyalah hewan yang memiliki kecerdasan. Label semacam itu hanya akan mengarah pada stereotip ketakberdayaan wanita. Di samping akan melemahkan semangat mereka dalam menjalankan amanah kehidupan

Sikap-sikap subordinatif masyarakat terhadap perempuan perlu segera dihapuskan. Karena image-image yang memojokkan perempuan akan menimbulkan tindakan ketidakadilan gender di masyarakat. Seperti terjadinya double burden (peran ganda),[24] subordinasi, stereotype (pelabelan),[25] violence (kekerasan),[26] dan marginalisasi.[27] Ketimpangan tersebut akan teratasi dengan mengadakan pendekatan kepada masyarakat melalui deep dialogue and critical thinking. Penulis yakin, model pendekatan ini akan membentuk persepsi dan opini yang sehat dan jernih terhadap perempuan. Di samping itu, tentu perlu mengadakan gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan sebagai upaya memahamkan hak dan kewajiban perempuan secara proporsional sebagaimana diatur oleh agama.

Di samping itu diperlukannya reaktualisasi peran-peran perempuan di pelbagai ranah dengan mengkisahkan perempuan-perempuan sukses dunia sehingga menarik perhatian kaum perempuan untuk menyuarakan kembali suaranya. Sehingga hingar bingar peran perempuan kian menyuarakan bahwa perempuan pernah menjadi sosok pelopor di ranah intelektualitas. Termasuk salah satunya dapat kita temui dalam ranah pengembangan sufistik ini.    

Menurut pendapat penulis sendiri merasa perlu adanya kesatuan ide dan prinsip yang jelas dari gerakan pemberdayaan perempuan itu sendiri. Yang mungkin dapat penulis sampaikan ialah bahwa gerakan pemberdayaan sejatinya memperhatikan tiga asas kebangkitan perempuan, yaitu perlunya menjunjung tinggi kemanusiaan, mempertahankan sisi keperempuanan, dan memberikan label kehormatan. Adapun spesifikasi dari ketiga asas ini, diperlukan beberapa studi intensif dan kesempatan yang sesuai.[28]

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Muhammad ‘Athiyah Khumais, Râbi’ah al-’Adawiyah, al-Jazîrah li al-Nasyr wa al-Tauzî’, 2006.
  2. Al-Sayyid Hasan Mansûr, Râbi’ah al-’Adawiyah; al-’Âbidah al-Zâhidah Baina al-Hubb al-Ilâhî wa al-Ma’rifah, Maktabah al-Husain al-Islâmiyah, 2000.
  3. Dr. Ibrahim Hilal, Tasawuf: Antara Agama dan Filsafat, Pustaka Hidayah, 2002.
  4. Muhammad Raji’ Kannâs, Hayâh Nisâ’ Ahli al-Bait, Dâr al-Ma’rifah, Beirut-Libanon, 2008.
  5. Abdurrahman al-Baghdadi, Emansipasi Adakah dalam Islam, Gema Insani Press, cet.I, Jakarta, 1998.
  6. Mushthafa al-Sibâ’î, al-Mar’ah Baina al-Fiqh wa al-Qânûn, Maktabah Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2003.
  7. Sayyid Shiddîq Abdul Fattâh, Rawâi’ Min Aqwâl al-Falâsifah wa al-‘Uzhamâ’, Maktabah Madbouly, Kairo, 1999.
  8. Dr. Nawal Sa’dâwî, ‘An al-Mar’ah; al-A’mâl al-Fikriyyah, Maktabah Madbouly, Kairo, 2005.
  9. Dr. ‘Ali Sâmî al-Nasysyâr, Nasy’ah al-Fikri al-Falsafî fi al-Islâm, Maktabah Dar al-Salâm, Kairo, 2008.
  10. Dr. Su’âd ‘Alî Abd al-Râziq, Râbi’ah al-‘Adawiyah Baina al-Ghinâ’ wa al-Bukâ’, Maktabah Al-Anglo al-Masriyah, Kairo, 1982.

[4] Abdurrahman al-Baghdadi, Emansipasi Adakah dalam Islam, Gema Insani Press, Jakarta, 1998, cet. I, hal. 9.

[5] Al-Sayyid Hasan Mansûr, Râbi’ah al-’Adawiyah; al-’Âbidah al-Zâhidah Baina al-Hubb al-Ilâhî wa al-Ma’rifah, Maktabah al-Husain al-Islâmiyah, 2000, hal. 41.

[6]  Muhammad Raji’ Kannâs, Hayâh Nisâ’ Ahli al-Bait, Dâr al-Ma’rifah, Beirut-Libanon, 2008, hal. 113.   

[7]  Ibid, hal. 114-115.

[8] Muhammad ‘Athiyah Khumais, op. cit, hal. 16-17.

[9]  Ibid, hal. 30.

[10]  Ibid, hal. 30-31.

[11] Ibid, hal. 63.

[12] Ibid, hal. 63-65.

[13] Dr. Ibrahim Hilal, Tasawuf: Antara Agama dan Filsafat, Pustaka Hidayah, 2002, hal. 74.

[14] Ibid, hal 75-76.

[15]  Contohnya, antara lain, adalah firman Allah:

Berdoalah kepada Allah dengan penuh rasa takut dan penuh harapan (QS 7: 56)

 

   Mereka selalu memohon kepada Tuhannya dalam keadaan takut dan penuh harapan (QS 32: 16)

 

 Sesungguhnya, mereka selalu berlomba dalam kebaikan. Mereka selalu berdoa kepada kami dalam keadaan penuh harapan dan ketakutan (QS 21: 90)

[16] Muhammad ‘Athiyah Khumais, Op.cit., hal. 48.

[17] ‘Alî Sâmi al-Nasysyâr, Nasy’atu al-Fikr al-Islamî fi al-Islâm, Maktabah Dâr al-Salâm, 2008, Juz 3, hal. 1382

[18] Dr. Su’âd ‘Ali Abd al-Râziq, Rabi’ah al-Adawiyah bayna al-Ghinâ’ wa al-Bukâ’, Maktabah al-Anglo al-Masriyah, Kairo, 1982, hal. 25

[19] ‘Âli Sâmî al-Nasysyâr, op.cit, hal 1366.

[20] Ibid, hal 1389

[21] Dr. Nawâl al-Sa’dâwî, ‘An al-Mar’ah, al-A’mâl al-Fikriyah, Maktabah Madbouli, 2005, hal. 153

[22] Mushthafa al-Sibâ’î, al-Mar’ah Baina al-Fiqh wa al-Qânûn, Maktabah Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2003, hal. 142

[23] Sayyid Shiddîq Abdul Fattâh, Rawâi’ Min Aqwâl al-Falâsifah wa al-‘Uzhamâ’, Maktabah Madbouly, Kairo, 1999, hal. 27

[24] Double Burden (peran ganda) ialah adanya dua beban pekerjaan bahkan lebih yang harus diemban oleh perempuan. Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 59.

[25] Stereotype (pelabelan) ialah label-lebel negatif yang diberikan masyarakat kepada perempuan, karena budaya di dalam masyarakat kita, pelabelan atas dasar seksualitas masih berlaku. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 59-60.

[26] Violence (kekerasan) ialah suatu tindakan yang menyakitkan atau tindakan penyerangan yang menimbulkan luka, trauma dan penderitaan yang berkepanjangan terhadap korban. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 60.

[27] Marginalisasi (pemiskinan) ialah pemiskinan terhadap perempuan yang terjadi di tempat kerja, dalam rumah tangga, masyarakat, bahkan dalam negara. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 63.

[28]  Selengkapnya lihat: Tim Penyusun, Mi’ah Âm ‘alâ tahrîr al-Mar’ah, al-Majlis al-A’lâ li al-Tsaqâfah, Kairo, 2001.

 

Menguak Citra Perempuan melalui Estetika Sastra dan Studi Kultural

-Dipresentasikan dalam kajian Regular-Eksklusif  ‘Salsabila Study Club’ pada hari Ahad, 12 Juli 2009

  1. A.   Prolog

Membincang dunia perempuan dalam realitas kehidupan masyarakat madani saat ini ternyata masih hangat menjadi santapan para diskusan di berbagai kalangan.  Baik di lingkungan akademis, sosial, politik, ekonomi dan bahkan dunia sastra. Topiknya selalu mengundang wacana yang diskursif dan debatable. 

Mengenai  perempuan arab, sejenak tergambar dibenak kita akan sosok perempuan yang pasif, mengisolasi diri, terkungkung dalam jerit tangis batin tiada terhenti, dan tak sedikit pula mereka yang cenderung mnginternalisasi diri terhadap laki-laki.   tak pelak lagi, berbagai macam eksploitasi sekian lama dideritanya. Hak perempuan mendapat pendidikanpun belum lama ini dirasakan mereka, tepatnya dimulai baru awal abad ke 19 M. Apalagi kiprah sosial, nyaris kita mendapatinya hanya segelintir dari sekian banyak mereka yang masih tersudut dalam domestikasi peran.

Perempuan merupakan hewan   yang paling sombong dan paling besar tipuannya melebihi Singa, paling besar nafsunya daripada kera, lebih berbisa daripada ular, dan lebih banyak kepalsuannya daripada jin” , tuding Robert Sarson tajam.

“Rasanya potret degradasi martabat perempuan yang tersirat dari kritik pedas bertubi-tubi ini lebih disyukuri daripada mereka yang mempraktekkannya dengan jalan mengubur bayi perempuan hidup-hidup dengan dalih menjaga aib kodrat perempuan itu sendiri, apalagi  jika diimplementasikan melalui marginalisasi sosial bahkan mengalienasikan kedudukan perempuan, lantas kemudian  mereka berdalih bahwa ini semua adalah  perintah kitab-kitab Samawi, sungguh hal ini lebih bejat dan lalim adanya”[3], tutur Ghodad Saman menjawab kritikan tersebut.    

Memetik sebuah tragedi bersejarah mengenai ‘pembunuhan bayi perempuan hidup-hidup’ yang konon menjadi tradisi masyarakat primitif arab zaman dahulu kala, rupanya noda hitam sejarah ini masih merambat implikasi buruknya hingga zaman kapitalisme di sepanjang dasawarsa ini. Bedanya, meski bukan lagi penyiksan total secara fisik, seperti pembunuhan bayi perempuan hidup-hidup yang mereka lakukan tersebut, namun diskriminasi sosial, politik, budaya dan nasib pendidikan perempuan  yang masih terpasung, serta pandangan masyarakat dunia yang didominasi oleh sistem patriarkal , rupanya dari peristiwa traumatis ini, kini lahirlah  para feminis-feminis arab yang bangkit menumpas kekejaman ideologi masyarakat yang tak kian mendera ini.  

Kini mereka bermunculan,  menduduki berbagai sektor-sektor penting masyarakat, baik itu kajian perpolitikan dan peran sosial seperti yang diduduki sang feminis Fatimah Mernissi asal Maroko,  atau yang ditekuni seorang penulis dan penggelut kancah perpolitikan serta sang tokoh kontroversial Nawal Sa’dawi asal Mesir, dan banyak lagi tokoh feminis , penggarus kebebasan kaum perempuan lainnya seperti Huda Sya’rawi, Mey Ziyadah, termasuk didalamnya, tokoh feminis kontemporer yang akan kita kaji kali ini, yaitu Ghodad Saman, tokoh feminis yang bergerak dalam dunia sastra.   

Tak lain tujuan utama gerakan feminisme ini adalah untuk menuntut persamaan hak, harkat,  derajat dan martabat perempuan sebanding dengan laki-laki dalam semua ranah yang dicapai masyarakat. Baik itu dalam skala perpolitikan, sosial, pendidikan, dan ekonomi. Yel-yel ‘kesetaraan Gender’ adalah jargon pertama yang mereka sebarkan. Dalam Women’s Studies Encyclopedia disebutkan, bahwa ‘jender’ sendiri adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat. Para feminis arab pun tak ketinggalan andil dalam memperjuangkan ‘spirit equality’ ini demi mewujudkan sistem pola kehidupan masyarakat yang adil dan rasional.

Ghodad Saman, perempuan pakar sastra berkebangsaan arab ini lebih bergerak memperjuangkan citra kaumnya melalui karya-karya sastra yang dizaman kontemporer ini, namanya cukup fenomenal dan mendunia, terlebih dikalangan para sastrawan  kontemporer.

Konon, sastra arab merupakan salah satu obyek tersohor pertama yang memiliki peran pemicu terbesar  bagi peradaban bangsa arab sejak dua abad kuno sebelum datangnya Islam, yang kita kenal dengan zaman jahili. Hal ini didorong oleh rasa kebanggaan mereka yang sangat besar terhadap bahasa arab, bahasa peradaban tertua yang masih eksis dan akan terus maju hingga akhir abad nanti. Tentunya karena bahasa Arab merupakan bahasa Al-Quran, kitab suci umat Islam yang janji Allah akan selalu dijagaNYA sampai akhir masa nanti.

Bahasa arab dikatakan bahasa tertua yang paling eksis, karena ia  satu rumpun dengan bahasa semit lainnya yang berdiri sejak tahun 2500 Sebelum Masehi[4]. Namun, rupanya kinibahasa-bahasa tersebut telah banyak punah seiring dengan aliran zaman yang kian berganti. Sebut saja seperti bahasa  Ibrani (bahasa kaum Yahudi), assyiria (bahasa bangsa assyiria), babilonia (dari bangsa babilon), kan’an (bangsa Nabi Luth), Habasyiayah, Akdiyah, dan bahasa kuno lainnya yang penduduknya pun turut punah ditelan puing-puing sejarah.  Hanya bahasa Arab lah satu-satunya bahasa semit yang masih berdiri kokoh menantang zaman melalui aneka mu’jizat yang Dianugerahi Allah SWT kepadanya.

B.   Studi Sastra-Kultural berbasis Feminis

Berbicara tentang sastra, sejenak bergelayut dalam benak kita akan aktivitas yang berkisar pada otak-atik  imajinasi dan kreativitas. Tampak sekilas, sastra lebih mengkerucut pada dunia fiktif dan imajinatif. Ironis sekali, jika ada yang beranggapan bahwa sastra tak lebih hanya sekedar gambaran produk manusia yang bersifat khayal dan fiktif belaka, Sastra cukup bercirikan keindahan dan kesenangan berkontemplasi saja, apalagi jika mendapatkannya cukup sebagai alat penghibur atau refreshing  tanpa mengambil kandungan bermakna dan pesan-pesan moral yang tersimpan  dibalik aneka karya sastra yang banyak mewarnai corak kehidupan masyarakat.

Namun, perlu ditekankan disini, bahwa Sastra tak ubahnya merupakan sebuah medium transformasi kenyataan dalam teks, upaya menyajikan dunia dalam kata, mengandung pengetahuan-pengetahuan sistematis yang dapat dibuktikan, dan karya sastra juga merupakan rekaman-rekaman kebudayaan.  Jadi, pemahaman teks sastra disini bukan sekedar renungan terhadap teks itu sendiri, tapi lebih sebagai pengkajian atas sejarah dan pengkajian yang berdampak politis. Memahami teks bukan sebagai pandangan sekilas tentang sebuah kenyataan yang dianggap ‘mungkin terjadi’, namun teks adalah acuan timbal balik dari kenyataan yang menciptakannya.  

Karya sastra adalah pesan kebudayaan yang ditampilkan oleh  realitas kehidupan manusia  dalam usaha mengidentifikasi diri.  Sedangkan studi kultural adalah upaya untuk melihat dan memahami nilai-nilai budaya yang hidup dalam suatu masyarakat. Sastra dan kultural memiliki ikatan yang sangat erat dalam mengkaji aktivitas manusia. Seperti halnya sastra adalah hakikat fiksi, maka kebudayaan adalah hakikat fakta.  Dan jika sastra merupakan kemampuan imajinasi yang didasarkan kemampuan emosional, maka kebudayaan adalah kemampuan akal yang berdiri diatas cermin intelektualitas.

Berbalik pada sastra feminis, maka disini hendaknya pembaca atau penonton tidak hanya membacanya secara objektif, tetapi sebagai langkah intervensi. Dimana para feminis mencoba merekam peristiwa-peristiwa diskriminatif yang terjadi di masyarakat, yang pada umumnya, perempuan selalu menjadi korban ketimpangan yang ada. Sembari mereka juga melihat nilai-nilai budaya dan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam tingkatan praksis kebudayaan. Yang kemudian, kenyataan yang terjadi di lingkup sosial masyarakat ini diangkat oleh para feminis sebagai obyek tema karya sastranya, setelah menyampaikan berbagai kritikan-kritikan dan pesan bermakna bagi seluruh masyarakat.

Salah satu buku kumpulan cerita, karya monumental Ghodad saman adalah berjudul  ‘Imro’ah Arabiyah…wa hurrah’ (Perempuan arab serta Kebebasannya). Disana Ghodad bercerita tentang kisah disebuah pesta, dimana terjadi pertudingan sengit dari seorang laki-laki arab  yang menyebut salah seorang perempuan miskin yang ditemuinya saat itu dengan sebutan “Drakula”. Drakula disini digambarkan seperti yang dilakukan orang pintar tapi gila akalnya , pergi ke sebuah kawasan pertkuburan massa, kemudian orang tersebut menggali setiap gundukan tanah perkuburan, lantas mengumpulkan tulang belulang mayat manusia, dikumpulkan menjadi satu bentuk kerangka manusia berburuk rupa, yang kemudian ia menyebutnya sebagai ‘Drakula’. Tentunya lucu dan klise, kisah pembentukan sang drakula yang tidak punya identitas pribadi ini.

Kemarahan serta cemoohan laki-laki ini tak lain karena disebabkan perempuan itu mengenakan pakaian bercorak barat. Lantas menyebut perempuan tersebut seperti drakula yang tak punya malu  dan tak ada identitas pribadi.  Ghodad pun menyangkal tudingan laki-laki ini dengan alasan bahwa disinilah muncul sikap arogan dan hegemoni otoritas para laki-laki arab yang selalu semena-mena mengekang keleluasaan gerak perempuan. Disatu sisi, Ghodad berdalih bahwa saling keterkaitan dan keterpengaruhan antar budaya Bangsa adalah lazim adanya. Disini Ghodad bukan berarti membenarkan pola pakaian yang dikenakan perempuan itu, melainkan ia ingin melontarkan soal kritis, tentang bagaimanakah kebenaran hakiki fenomena pengalienasian perempuan yang dianggap berlaku buruk, ataukah perempuan semacam ini dianggap sebagai bagian dari gejala penyakit masyarakat?

Disini Ghodad berusaha menghadirkan sikap kasih sayang antar sesama makhluk, tanpa perbedaan ras, etnik, apalagi jender. Salah satunya adalah kesopanan berbicara, sehingga tidak lantas memanggil perempuan dengan olokan-olokan hewani yang tak manusiawi. Dan kemudian dia menyatakan bahwasanya perempuan yang terpengaruh oleh peradaban barat, bukan lantas dia kehilangan identitasnya, akan tetapi hal ini menggambarkan ‘krisis kebudayaan dan peradaban’ yang melanda bangsa arab itu sendiri. sikap mengekor pada  kebudayaan bangsa lain telah lama menggejala  di tubuh kebudayaan arab, maka hal ini perlu diarahkan dalam pandangan komprehensif, bukan memicingkan  sebelah mata saja.

Bentuk karya satra feminis yang lain, adalah seperti yang ada di Indonesia, Sebagaimana yang kita ketahui di Indonesia sendiri,  bahwa gerakan feminisme tak kalah hebohnya dibandingkan dengan yang terjadi di Negeri-negeri Arab dan Barat.

Sebagai contoh yang paling dekat, Belum lama ini kita disuguhkan oleh sebuah tayangan layar lebar, dari Novel berjudul “Perempuan Berkalung Surban” karya Abidah. Siapapun yang membaca ataupun menonton film  tersebut, tentunya akan meneteskan air mata kesedihan yang begitu mendalam, saat kita dipertontonkan berbagai penyiksaan yang dialami seorang perempuan, baik itu siksa mental, batin, gerak sosial, hak memilih pasangan hidup, dan bahkan pendidikannya pun turut terbelenggu.

Sebuah apresiasi terhadap keberanian sang novelis ‘Abidah ‘ dalam mengangkat suara perempuan pesantren, berikut kritikan-kritikannya yang tajam, dan dibungkus ‘apik’ dalam sebuah karya novelnya yang sempat kontroversial tersebut.

Film ini mengisahkan sosok Anisa, anak seorang kyai yang masih menganut sistem patriarkal, sehingga pesantren yang dipimpinnya pun membudayakan tradisi Islam yang tak ramah pada perempuan. Bisa dilihat ketika banyaknya ajaran-ajaran yang disuguhkan pada santri-santrinya mengenai perempuan yang tak layak menjadi pemimpin, perempuan yang tak patut mengenyam pendidikan perguruan tinggi, perempuan yang tak berhak bersuara bahkan untuk memilih pendamping hidupnya, apalagi berangan-angan untuk merancang masa depannya. Semuanya di ancam garis pembatas ‘otoritas dan hegemoni paternalistik yang masih meracuni pemikiran masyarakat dunia.

Nampak beberapa pihak yang kontra terhadap film ini mengancam keras terhadap penanyangan film tersebut  karena menganggap bahwa ajaran Islam yang diaplikasikan adalah bias jender.

Namun, menurut hemat saya, justru sang  penulis membawa pesan moral yang begitu tinggi dan cermat kepada para pembaca dan para penonton bahwasanya Islam sangat ramah terhadap perempuan. Islam sejatinya adalah Rahmat bagi seluruh umat. Hal ini nampak pada sosok ‘lek Khudori’, yang cukup moderat, seorang alumnus Al-Azhar yang telah banyak mengenyam pendidikan berbasis agama. Sosok nya hadir di pertengahan akhir cerita, untuk mengakhiri sekian lama  jerat dilematika kehidupan yang dijalani Anisa, kemudian menawarkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Bahwa Islam mengangkat derajat wanita tiga kali lipat lebih tinggi dari laki-laki, Islam menganjurkan perempuan supaya berpendidikan tinggi dan bahkan berpartisipasi aktif dalam aktivitas keilmuan yang kemudian digambarkannya lewat usaha pembangunan perpustakaan, seperti idealisme yang pernah dicita-citakan oleh Anisa. Islam juga menunjukkan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan wanita dengan segala kelebihan dan kelemahan masing-masing, sejatinya untuk saling menyempurnakan satu sama lain, saling membantu kelemahan, memaklumi dan melengkapi kekurangan yang ada. Hal ini tergambar ketika sang suami ‘lek Khudori’ ikut membantu mencuci piring yang sewajarnya dilakukan istri,namun  karena dia melihat sang istri sedang sibuk menulis, yang merupakan salah satu idealismenya, maka sang suami pun ikut memahaminya. Selain itu, sang suami juga ikut membantu dan menemani istri masak untuk kemudian dimakan oleh mereka berdua. Jadi, jauh dari kategori Islam, jika ada yang berimej buruk terhadap perempuan yang tercipta laksana kutukan alam, sebagai helper laki-laki, sebagai the second Human being, apalagi korban para hedonis (pemuas nafsu kesenangan belaka) na’udzubillah.

Nampak alur cerita film tersebut yang menentang keras pola pikir masyarakat yang saat ini masih ada mereka yang menyiksa perempuan melalui tindakan-tindakan seperti yang dilakukan sang ayah, suami dan bahkan kakak laki-laki terhadap Anisa (tokoh perempuan korban diskriminasi tersebut). Dan kita bisa memahaminya, bahwa salah satu contoh tindakan sang ayah yang tak memperbolehkan anisa mengenyam pendidikan perguruan tinggi adalah semata karena penafsirannya yang salah terhadap ajaran islam yang hanif (lembut) ini.

C. Meneropong gelut kehidupan Ghodad Saman yang Nasionalis dan Moderat

Imperium Yasmin yang terletak di kota Damaskus (ibu kota negara Syiria), salah satu kota tertua didunia,  merupakan daerah dimana Ghodad Saman dilahirkan. Namun, semenjak kecil Ghodad Saman pergi merantau menuntut ilmu melanglang buana di berbagai negeri-negeri Barat seperti Perancis, Inggris dan Amerika. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ghodad adalah perempuan berwawasan Barat, yang berkebangsaan Arab.  

Meski demikian, jiwa patriotik dan nasionalis Ghodad terhadap negeri kelahirannya sangat mendalam, mengakar kuat di hatinya. Dua kota besar yang begitu berpengaruh dalam sejarah hidup Godad adalah, kota Damaskus (Syria) dan kota Beirut (Libanon). Kota beirut, kota mulia yang dipenuhi para dermawan, berkontribusi besar dalam hal pendidikan Ghodad hingga Presiden Republik Libanon pun pernah  menganugerahkannya  penghargaan atas karya produktifnya.

Begitu besar kecintaan Ghodad dengan kota Beirut, hingga tak jarang tulisan-tulisannya yang sengaja menyinggung kebanggaannya pada Syam, seperti “ Asraru hikayatu Gharami ma’a Syam”[5] (rahasia kisah asmaraku bersama Syam). Dalam tulisan ini ia mengisahkan ketika suatu hari Ghodad yang semenjak kecil merantau ke amerika, tiba-tiba pada tahun 1970 M, setelah menikah beberapa bulan yang lalu, dia diutus untuk melanjutkan program magister nya di negeri Syam, tepatnya di universitas Amerika, Beirut. Saat itu kerinduannya begitu membara, hingga dia menyebutnya sebagai “Syijar al-‘isyaq” (pertikaian antara cinta dan kerinduan).

Dan ditahun 1973 M, kala sedang gencarnya penyerangan Israel ke Damaskus, hingga Ghodad menuliskan:  

دمشق, يا لؤلؤة الزمن! ليست مصادفة أن تضربك إسرائيل فأنت أقدم مدينة مأهولة في التاريخ وفي مجرد (وجودك) تحد لكل من يفتقد إلى العراقة والأصالة و العظمة الإنسانية , وكنت دوما مقبرة للغزاة …إنه الحب الكبير , يستمر على الرغم من تماريني السويدية اليومية على النسيان

Damaskus…sang permata dunia! Bukan merupakan suatu kebetulan jika Israel menyerangmu…pantaslah jika kamu dijadikan sasaran empuk mereka, selain karena kau adalah  kota bersejarah  tertua yang paling berpengaruh bagi sejarah peradaban manusia, kau juga tempat dimana para generasi muda mencari arti orisinalitas, identitas dan sebuah keunggulan. Saya akan selalu siap membelamu…karena kecintaanku yang begitu mendalam, meski disana, banyak pihak yang membantahku”.

Dari secercah harapan yang diungkapkan melalui kata-kata indah penuh penghayatan ini menandakan bahwa Ghodad  terlalu mencintai tanah arab kelahirannya, terkhusus negeri Syria, negeri idaman yang melahirkannya dan berkontribusi besar dalam membentuk semangat keilmuannya semenjak kecil. Hingga tak mengherankan, jika perjuangannya membela perempuan Arab selalu menjadi semangat membara yang mendarah daging didalam tubuhnya. Hingga dia berhasil menelurkan banyak karya-karya kritis demi kemajuan dan kebebasan para perempuan Arab kontemporer.

Diantara kotak pemikiran para feminis zaman kontemporer, diantaranya feminis radikal, feminis liberal, feminis sosialis(moderat), maka dari beberapa karya yang cetuskannya, ghodad Saman termasuk salah satu Feminis sosialis yang moderat.

 Dalam salah satu tulisannya, Ghodad menyatakan bahwa dirinya bukanlah feminis yang ekstrim. Hal ini dipertegas ketika dia menangkis bahwasanya, sebuah gambar perempuan porno dan vulgar yang dipajang depan umum,  ia tak ubahnya lebih buruk dari pelecehan terhadap perempuan sekaligus sastra itu sendiri.  Dan janganlah memandang bahwa laki-laki adalah satu-satunya pelaku kriminal yang paling bejat, lantas kemudian menilai bahwa perempuan hanyalah korban massa, jika penilaian ini dijadikan dasar sebagai pembebasan untuk kaum perempuan. Karena, ‘kejahatan terjadi bukan hanya karena pelakunya saja, namun karena kesempatan itu sendiri’.  

Jadi, disini ghodad lebih menjadikan sastra sebagai media ekspresi mengadvokasi perempuan, dan membela hak-hak perempuan dari ketertindasannya, tapi bukan berarti membiarkannya memberikan kesempatan kepada para kaum lelaki untuk berbuat lalim pada kaum perempuan. Ghodad juga berkeyakinan, bahwa merana derita yang dialami kaum perempuan, perempuan arab khususnya, adalah merupakan isyarat nyata dari kesedihan dan keterpurukan negeri Arab itu sendiri. Apalagi ketika dia dihadapkan dalam perjuangan menghadapi norma-norma patriarkal yang merasuki tatanan bermasyarakat, yang selalu saja membedakan atas latar belakang etnis, pendidikan, profesi, kelas sosial, berikut kemampuan fisik dan psikologis golongan tertentu.

D.     Sikap Missogamis Masyarakat barat, sebagai dampak gerakan Feminis-Radikalis Barat Kontemporer

 Sebuah adagium yang menyorot gerakan feminisme radikal diBarat saat ini nampak sedikit meredam.  Sebuah konsep sosiologi “Kesetaraan Gender” yang untuk pertama kalinya digencarkan oleh kaum  feminis London pada medio abad ke 20, tepatnya tahun 1977 itu kini patut memangku  resah dalam tipuan dan penyesalannya,  Terbukti negara Swiss , negara pelopor feminis pertama, seperti yang dipaparkan oleh  DR. Fawzeya Al-Ashmawi, [6]Ketua Forum Muslimah Eropa, dalam forum temu Alumni Al-Azhar di serangkaian acara “Dialog antar Agama” 28-30 Juni yang lalu, beliau menuturkan bahwa saat ini, lebih dari 50% kehidupan rumah tangga penduduk Swiss yang menganut paham feminisme  terancam hancur, dan mahligai pernikahan kini tak lagi menemukan sisi sakralitasnya, pendidikan anak-anak pun kian terbengkalai.

Bagaimana tidak, ketika spirit independensi semakin marak  dikoar-koarkan oleh para perempuan, kala  ego mengalahkan kemurnian hati nurani, ketika  proposisi letak peran laki-laki dan perempuan menjadi kabur dan pincang, Pun manakala arti kodrat (Divine Creation) mereka  rancang semau mereka tanpa menghayati makna ciptaan Tuhan, kala sikap missogamis (membenci pernikahan) itu menghantui naluri mereka, hingga pernikahan yang sejatinya dibentuk untuk membina keluarga yang saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan, nyatanya spirit equality ini hanya menebarkan racun berbisa yang tak lagi menjunjung arti keharmonisan, malah tersungkur dalam kebencian dan dendam sejarah yang tiada berujung.                                                                                                                                                                           

 Apalagi media  informasi ‘kompas’[7]  terbaru, tepatnya pada hari kamis tanggal 9 juli 2009 yang lalu, kembali mengejutkan dunia oleh berita mencengangkan mengenai penemuan Sains yang dicetuskan  ilmuwan Inggris dengan menciptakan ‘Sperma Buatan’. Profesor Nayernia, peracik sprema buatan ini mengatakan bahwa sel batang embrionik yang  menjadi bahan dasar ‘sperma buatan’ ini lebih difungsikan bagi para pria yang kurang subur dan sedikit harapan untuk memiliki keturunan. Namun, menurut hemat saya, penemuan aneh ini lebih besar dampak buruknya terhadap ancaman degradasi nilai perkawinan antara laki-laki dan perempuan.  Dan semakin memicu masyarakat untuk menjauhi pernikahan antara laki-laki dan perempuan, toh mereka akan menganggap bahwa untuk mendapatkan keturunan pun kini tak  lagi harus membutuhkan dua pasangan berlawanan jenis, tapi cukup menggunakan penemuan sains berupa ‘sperma buatan’ itupun,  maka menciptakan seorang anak manusia dapat dengan mudah terwujudkan.

Inilah yang kita saksikan sekarang di dunia realita, budaya masyarakat yang plural sarat melahirkan gejala-gejala miris, bahkan semakin jauh dari norma-susila yang mencerminkan kepribadian manusia yang berbudi tinggi dan berakhlak luhur. Disaat gerakan feminis-sosialis dibutuhkan demi menghapus imej buruk masyarakat terhadap perempuan dan memotivasi perempuan agar berkiprah dan berdakwah di masyarakat, sehingga ia benar-benar menjalankan amanah Allah sebagai khalifah dimuka bumi, namun, semakin gencarnya gerakan feminis ini, hingga berdampak pada  gerakan feminis-radikalis yang mencoba menyamaratakan semua jenis manusia, dari segala sisi, tak hanya dalam lingkup sosio-kultural, tapi juga menuntut kesetaraan dalam sisi biologis. Sungguh menyalahi kodrat yang telah Allah Anugerahkan!

E.      Epilog

Sebuah karya sastra, meski berupa teks dan atau tontonan audio-visual, namun ia tak ubahnya titisan dan jelmaan dari realitas kehidupan manusia, serta bentuk manifestasi budaya masyarakat. Memang ia nampak tak mendidik secara langsung, namun  pengaruhnya sangat besar terhadap pembentukan kwalitas emosional, yang bernilai pendidikan, pengajaran, etika, budi pekerti, dan sistem norma yang lain.

Sastra feminis lebih mengusung fenomena sosial yang erat kaitannya dengan sisi kultural mnasyarakat, tepatnya, menganalisa sejauh implikasi postrukturalisme terhadap kebudayaan yang sempat terjadi pergeseran paradigma, dari kedudukannya di pusat menuju pinggiran. Yaitu sebagaimana yang telah termanifestasikan dalam sikap budaya masyarakat terhadap terminasi ruang lingkup perempuan yang tak membebaskan itu. Wallahu A’lam bi al-showab

Selamat Berdiskusi!

 

 


[3] Ghodah Saman, “Imro’ah ‘Arabiyah wa Hurrah’, al-a’mal ghairu kamilah 16, Beirut-Libanon, 2006, hal 123

[4] DR. Abd al-Fattah Abu al-Futuh Ibrahim Husnain, Dirasat fi al-qira’at al-qur’aniah wa al-Lahajat wa fiqh al-‘arabiah, Diktat Kuliah Al-Azhar fakultas Bahasa Arab, Kairo, 2009, hal 9

[5] Majalah Arab “Al-‘Araby”, Kuwait, cetakan bulan Oktober 2008, hal 116

[6] Dikutip dari makalah seminar beliau, DR. Prof. Fawziya Al-Ashmawi, Chairman of European Forum for Muslim Women, yang berjudul “al-Qiyam al-Islamiyah wa al-Qiyam al-Insaniyah al-Musytarikah bayna al-Adyan”

[7] www.kompas.com, 9 juli 2009

Posted by: Maik | April 20, 2009

Sketsa curahan..Secercah harapan…

Monday, April 4/20/2009 9:38:34 AM

Kata teman-teman, aku ini orangnya cuek, apatis, mereka juga bilang kalau aku kurang care dengan interaksi sosial-ku, yang terlalu tertutup, minder,  dan kuper (kurang pergaulan) dan entahlah… masih banyak lagi kritikan mereka terhadap sikap-ku yang kurang banyak bergaul ini.

Sore hari, menjelang senja ini, ku buka jendela kamarku…ku ambil posisi duduk di tepi jendela kamarku. Sore yang cerah…musim semi yang menyiratkan keasrian dan kedamaiannya. Sedamai perasaanku saat ini. ku pending dulu target bacaanku hari ini. hari ini kuanggap sebagai hari yang paling special bagi-ku untuk bersenandung  bersama seluruh pikiran dan perasaanku ditemani dendangan nyanyian burung-burung kecil yang menari di angkasa sana. Apalagi hari berharga-ku kali ini bertepatan dengan hari libur Mesir demi menyambut musim Semi sekaligus bersayonara dengan musim dinginnya.

Pemandangan yang paling indah bagi ku adalah menikmati panorama galaksi, menatap luasnya angkasa dan menyaksikan edaran makhluk langit yang tiada berujung itu.  Sejauh menatap, menembus setiap lapisan yang menyelimutinya, semakin kutemukan betapa sempitnya,betapa terbatasnya ruang celah bumi oleh makhluk bernama manusia ini. kadang aku mengimpikan, andai aku menjadi seekor burung, yang selalu bebas mengitari alam raya ciptaan-NYA yang tiada kan pernah  tersingkap oleh tabir Maha Karya Agung-NYA. Tapi aku hanyalah seorang manusia…kecil dan lemah…yang hanya mampu mengitari alam-NYA dengan keterbatasan indra yang aku miliki.

 Kubiarkan hempasan angin gurun sahara menerpa rona wajahku…semilir angin semi yang sejuk, menepuk-nepuk wajahku lembut. Dia mengajakku untuk tersenyum…tersenyum tiada henti. Ah..aku benar-benar terlena oleh setiap bahasa kehidupan yang mereka tawarkan kepadaku ini. memang, tak banyak yang bisa aku pandang didepanku ini. Sejauh mata memandang, hanyalah bangunan berbentuk kubus yang aku lihat. Bentuknya yang kubus, warna coklat keemasannya, semakin dipercantik oleh pantulan sinar matahari yang menerpa setiap lapisan gedung apartemen disekitarku ini. Setidaknya, bisa kusaksikan kota peradaban kairo yang kini mulai merangkak menuju kemajuannya, terutama sisi keilmuan dan tradisi Islam yang masih kokoh, erat di genggamannya.

Aku masih tetap ingin tersenyum…menemani sapaan sang burung-burung kecil yang satu-persatu bertengger di dekat jendela kamarku ini.  Sambil lalu kusapa warna-warni bunga-bunga musim Semi yang mengintip manis dibalik kaca jendela seberang flat-ku. Mereka melambai-lambai, menari, bernostalgia bersama terpaan angin senja, seakan meminta aku untuk segera merengkuhnya, menciumi wangi aroma khas-nya, menebarkan kecantikannya,  menyapa setiap manusia di balik  jendela hatinya.

Hingga aku menyadari…memang benar apa yang teman-temanku katakan tentang aku. aku lebih bisa memahami bahasa alam dari pada bahasa manusia. Lembaran-lembaran bisu dan dentingan alam sunyi kerap menjadi  tempat aku bercengkrama. Kadang aku menganggap, mengobrol dengan manusia adalah salah satu kelalaian yang memboroskan. “wasting the time “! Itulah hakikatnya. Ngobrol ngalar-ngidul, gosip, chatting-an, berhura-hura, bercandaan tanpa batas, dan sebagainya, semuanya tak mencerminkan warna keilmuan dan nuansa keintelektualan. Tak berlebihan jika aku boleh mengungkapkan banyaknya sisi ‘kekecewaanku’ dengan interaksiku bersama manusia.   

Aku memang tak punya teman. Ku akui….aku termasuk orang yang selalu gagal dalam berteman dengan manusia. Mungkin aku yang pada dasarnya, kurang care dan cuek. Pernah suatu kali aku mengenal seseorang…kehadirannya sangat berarti bagiku. Dan lebih dari itu, dia bisa merubah pola pikirku serta kebiasaanku pada yang lebih baik. Tanpa kusadari, ternyata aku sangat care dengannya. Aku benar-benar ingin menyayanginya, lebih aku menyayangi diriku sendiri. Hampir aku terlepas Kontrol…aku tak tahu dengan bahasa apa harus kuungkapkan rasa sayang-ku padanya. Aku hanya ingin berusaha membagi seluruh rasa afeksi ini dengan segala bahasa yang aku miliki. kemudian dia mengajariku makna persahabatan. sejak itu, aku mulai belajar… belajar apa itu sahabat, apa itu ketulusan, dan sebagainya. aku benar-benar bahagia punya sahabat seperti dia. banyak pelajaran yang aku dapati. Kala itu, aku merasakan dunia ini begitu indah, dan aku sangat bersyukur bisa mengenal salah satu sosok manusia yang dengannya aku bisa saling berbagi, suka dan duka kehidupan.

Tapi…itu tak berlangsung lama! kepupusan kerap menjadi akhir dari setiap harapanku. Kekecewaan-ku mengenal manusia, siapapun dia, baik teman sejawat, teman sekolah, teman sekitar dan semuanya, selalu saja mengisyaratkan kegagalan. Mungkinkah..terkadang ada seseorang yang apatis, tak pernah care, simpati pun empati…tapi sekali dia merasakannya, rasa sayang itu begitu besar, begitu mendalam, namun ternyata orang yang disayanginya selalu saja tidak memperdulikannya, apalagi menghargainya. Ah…Semua episode kegagalan itu sangat terekam di setiap penggalan memori yang selalu mengajariku arti ‘kefanaan hidup’ bersama manusia.

Ku coba menepis segala kepupusan ini…kualihkan pikiranku, ku edarkan pandangan, sedetik kemudian aku terbentur oleh beberapa sosok manusia yang menungguku disana…mereka tetap berarti bagiku selamanya…sangat berharga..sampai kapanpun! Mereka-lah keluarga-ku yang tinggal di sebuah bilik pulau kecil sana. Di seberang benua sana. Aba, Umi, Kakak dan adik-adikku. Kerinduan-ku pada mereka tiada kan pernah terkikiskan. Mereka yang menghadirkanku didunia ini. hingga aku bisa mengenal banyak keajaiban-keajaibanNYA. Biarlah hari ini aku ungkapkan segala curahan hati, demi rasa terima kasih-ku pada kelurgaku yang dengan segala keikhlasan, cinta dan pengorbanannya, beliau menghadirkanku didunia ini, mereka menghargai-ku supaya bisa menikmati hidup dan mensyukurinya. 

Duhai Ayahanda dan Ibunda tercinta…semudah aku menulis, mengukir kata dari setiap yang aku rasakan…namun, begitu sulitnya kulukiskan kata menggambarkan Kharisma-mu bagiku. Lisanku kelu, jemariku kaku, tak ada yang bisa aku perbuat untuk melukiskan segala kedamaian, kerinduan, rasa hormat dan bakti-ku kecuali dengan segala syukur yang teramat dalam kepada Allah yang menganugerahkanku sosok Ayah dan Ibu sepertimu.

Ayahanda dan Ibunda…ananda sangat bangga menjadi salah satu putri, buah hati kesayangan-mu. Nasehat-mu selalu kan menjadi  panutan, di bumi Allah manapun tempat ananda berpijak. “Ning…meski kau tutup dirimu dengan cadar dan hijab, tapi jangan sekali-kali kau tutup otak-mu dari cakrawala keilmuan dan keintelektualan. Buka mata hati-mu…buka pikiranmu…baca-lah semua  yang kamu lihat, seberangi luasnya bumi ini, tiada menit berlalu tanpa ilmu…meski itu  secuil-pun !!! junjung nilai-nilai Islam, dan selami keMaha Luas-an Ilmu-NYA. Jika jenuh dan masalah melandamu, hiburlah dirimu dengan membaca buku sebanyak-banyaknya”, inilah petikan Nasehatmu disela-sela keputus-asaan ananda.

 Ayahanda dan Ibunda…kau lah teladanku…kau segalanya bagiku…setelah Allah dan Rasulullah. Tiada harapan yang aku impikan, untuk memulai lembaran baru-ku dari hari ini hingga masa yang tak berujung nanti, kecuali menghadiahkanmu apapun yang kau impikan untukku. “With Love…all my Life” forevermore….

  

Posted by: Maik | January 28, 2009

Rindu Menulis

Aku rindu menulis…aku rindu sekali. dua bulan berkutat penuh dengan diktat kuliah, dua bulan ketegangan menghadapi ujian al-Azhar membuatku sangat merindukan untuk bersua kembali bersama perpustakaan kesayanganku yang belakangan ini terlihat agak berdebu. Kurasakan jemariku rada kaku setelah lama tak menari di atas keyboard mungilku.

Hari ini, adalah hari akhir ujianku. Setelah melangkah keluar gerbang kampus coklatku, ah… segarnya udara sore ini, sesegar pikiranku dengan berakhirnya ujian termin satu tahun ke tiga ini. Alhamdulillah…ujian telah selesai, tapi do’a tak boleh berhenti. just keep pray for the wish of life!!! oh..sejuknya lambaian angin senja..iapun turut  menyapu rasa lelah dan letih yang sekilas merayapiku diruang ujian barusan. Meski sedikit rasa kedinginan  menyelinap menyusupi celah-celah sweater putih-ku. kurapatkan kembali pakaian double-ku yang entah sudah berlapis berapa kain…untuk menyelimuti diri dari dinginnya kota Kairo di Winter tahun ini.

Kumelangkah ringan menjejaki pepasiran kampus-ku yang kian menua ini. menapaki setiap jengkal tapak silam yang historis ini. Tak terbayang, bangunan kokoh yang aku pijaki ini ternyata telah memakan usia lebih dari seratus abad. Jika tokoh Fahri dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” berikut film layar lebarnya mengatakan bahwa antara Mesir dan sungai Nil-nya adalah “jodoh”, tapi menurutku penjodohan ini masih terasa hambar dan ganjal. Bagiku, justru Mesir dan Al-Azhar lah yang tercipta untuk ber”jodoh”. Disepanjang perjalanannya yang kini jelang usia 1066 tahun, tak terhitung betapa terlahir dari rahimnya beribu-ribu ulama, tokoh cendekiawan, pun para scientist yang banyak menelu rkan karya-karya monumental berikut generasi-generasi brillian hingga menyebar melintasi segala belahan bumi, di seluruh penjuru dunia. beragam disiplin keilmuan pun banyak yang dibidani oleh keduanya. Jika Mesir dikenal sebagai pusat peradaban dunia, maka Al-Azhar pun tampil sebagai pusat keilmuan dunia. Tak heran…kalau tak hanya sekali ini aku mendengar ungkapan kebanggaan para penduduk mesir di sela-sela obrolanku dengan mereka, yang acapkali mengelu-elukan negeri-nya sebagai “ummu Dun’ya” (Sang Ibu Dunia).  spontan, aku mengangguk mengiyakan kenarsisan mereka yang sambil lalu disambut dengan sunggingan senyum sumringah tanda kebanggaan yang tiada tara.  dalam hati aku membisiki doa, “semoga suatu saat nanti negeriku Indonesia pun dapat bangkit mencetak bangsa berhiaskan ilmu, amal dan takwa hingga penghargaan “Abu Dun’ya” (Sang Imam Dunia) pun mampu di raih-nya…amin. meski tak perlu bermuluk-muluk dalam impian, tapi aku yakin “al-dun’ya min al-mumkinaat” (dunia penuh dengan segala kemungkinan).

Deg!!! sejenak ayunan langkahku terhenti. oh…rupanya aku terlalu sibuk dengan alam pikiranku demi mengitari kampusku tercinta ini. Sedetik kemudian, aku teringat sesuatu! owh…Serasa ingin mengambil langkah seribu, kupercepat jalanku sambil lalu kubergerak berlari kecil. Karena aku harus segera sampai ke flat-ku sebelum hari menjemput malam. Ya..karena aku Ingin sekali segera memeluk teman sejatiku…sang laptop kecilku.

Aku ingin menulis…ingin sekali. terlalu banyak yang ingin aku tulis. Serasa semuanya saling tumpang tindih di angan dan pikiranku. Hingga sulit tuk ku lukiskan dalam kata. Disudut hati yang paling dalam, ingin kumeratapi…entah bagaimana harus ku ungkapan apologi ku yang amat mendalam terhadap sikap apatisku dengan tragedi “Gaza” beberapa pekan yang lalu. Ternyata hari-hari ujian memang selalu memaksaku untuk mengurung dalam kamar hingga ku tak mampu berbuat apa-apa untuk Palestine kecuali dengan lantunan do’a-ku untuk kemerdekaannya dari kekejaman musuh Allah SWT, israel si zionis.

Ku ingin menuliskan bagaimana ungkapan duka dan empatiku terhadap peristiwa “Desember Kelabu” bagi para Mujahid Palestina oleh kaum imperialis zionis-israel itu. Dan bagaimana cara kuungkapkan rasa geramku dan sikap derisifku terhadap para pemimpin Arab yang ikut bersekutu bersama Israel. Apalagi, setelah ku mendengar ternyata presiden negeri tempat aku berkelana ilmu ini (Mesir), Husni Mubarak yang secara diam-diam telah ikut berunding bersama Israel dalam penyerangan Gaza Desember lalu. Sungguh memalukan! Mungkin itulah dua kata spontan yang terucap di bibir keluku saat itu. dalam hati aku ikut mengutuki mereka (segenap tentara Israel dan semua komponen yang bersekutu dengannya) dan mendoakan semoga tanda kekuasaan berikut kemurkaan Allah pada mereka akan segera datang…sebagaimana yang pernah ditampakkan-NYA pada perang Badar dan peristiwa penghancuran Ka’bah oleh pasukan gajah Abrahah dahulu.

Selanjutnya, kuingin menulis…mencurahkan segala takjub dan rasa bersyukur-ku yang amat mendalam atas segala tanda-tanda kekuasaan –NYA yang diperlihatkan pada hamba-NYA baik di alam maya maupun nyata. Ayat-ayat suci-NYA yang dua bulan ini kerap menyapa diri yang penuh kehampaan ini.

Ku ingin menuliskan sebuah refleksi tentang riset filologi dan leksikografi-ku yang dua bulan ini kerap menyandingi alam pikiran diantara kasak-kusuk kejenuhanku. meski melelahkan, tapi mengasyikkan !!!

Ku juga ingin meleburkan segala resah gelisah, gundah gulana, hati yang tertekan…disaat ia terpaksa harus melepaskan segala angan dan impian…meski terpaksa harus menepis segala bisikan kerinduan dan membuang semua benih-benih ketulusan dirinya.

tak terlupakan pula, ku ingin mengungkapkan kebahagiaanku menyambut “Expo Internasional 2009” ini. wow…disebut kata “ma’radh” mata-ku langsung berbinar, jantung berdebar-debar, kaki pun jadi tergerak cepat…seakan ingin segera beranjak dan bergegas menuju ma’radh sang idola dan idaman sejatiku. Kehadirannya yang hanya sekali dalam setahun itu membuatku harus berpikir-pikir lama untuk nge-meal Apalagi shopping di bulan ini. Kulirik kembali buku tabunganku tahun ini. “hmm…cukup ga ya nambah rak buku lagi?”, gumamku penuh harap. Segera ku buka internet, kutelusuri informasi dan ku hunting berita jadwal simposium dan seminar serta pagelaran seni sastra yang menjadi sasaran utamaku nanti disana. oh..Ternyata aku memang terlambat! Expo sudah dibuka sejak tanggal 22 januari yang lalu, di saat hari-hari ujianku, dan berakhir pada tanggal 5 februari nanti. Sedih…!!!memang itu yang kurasakan. Entah berapa ilmu yang telah tercecer secara cuma-cuma sejak seminggu yang lalu ini. hiks…hiks..

kalau begitu..sekarang aku tak boleh terlambat lagi…mumpung masih bulan Januari, I think it was not so long ago…I would like to congratulate, “HAPPY NEW YEAR 1430 H and 2009 M”. awali Bismillah sebagai pembuka kata, ungkapkan syukur dengan muka berseri, sungguh ia laksana penyibak tabir diantara dua pintu. Pintu Rahmat dan keajaiban-NYA, diantara tahun baru Hijriah dan Masehi yang datang bersamaan. May..mulailah kau ukir sejarah baru di tahun 1430 H dan 2009 M ini dengan tinta emas, yang berkilau diantara titisan mutiara dan permata yang indah. Bangunlah dari mimpi indahmu…berpandanglah luas, berpikir jauh kedepan…karena kini kau hidup di dunia realita yang penuh dengan tantangan arus ombaknya, meski terkadang membuatmu harus meneteskan air mata.

Those who believe and whose hearts find peace in the remembrance of God. Only in the remembrance of God can the heart find peace.

Posted by: Maik | January 27, 2009

Special Handed…

Adakalanya hidup ini layu. Ada saatnya diri ini rapuh. Lemah tak berdaya karena sebuah getaran yang menyusup rongrong jiwa, kering hampa karena tak tersentuh belaian tulusnya cinta, pun jerit tangis bathin oleh dentuman hina cinta yang memilukan.

Ada masanya seorang insan merindukan sang pelita hati…sosok berkharisma…sang tambatan jiwa…pelipur duka lara…setia menemani kala suka dan duka…bersama sejati tuk merengkuh cinta Ilahi…dirimu-lah kemana kalbu berlabuh…you…as my entire belonging…


how can i not love you

what do i take my heart

how do iam not want you

you are in my arms


Such as sweet and precious heart

That I would love for mine

Would you…could you…let me …be your?


When there is no hope to see a head

And feel so blue today

If we will only trust in Allah

Allah will surely show the way


Sometimes I feel you very strong

And know your thinking of me

Our thought always seemed to intertwine

Where ever we might be


Patient and understanding

In each and every way

I know that I love you more

With every passing day


I know your loves reach out to me

I can feel its across the miles

I can picture that dear face of yours

That’s always full of smile


When I think of you

My heart just filled with love

You stand for all things I know

That’s taught us above


I wake in the morning

Light and…

Can’t wait to call your name

And as I call I know you hear

Since in my life you came


It’s the ending of the day

I’m thingking of you

Thinking how much I love you

And how I miss you too

I know I will always love you

There is no one else for me

For always and forever


I will keep you in my heart

My love for will never cease

While we apart

You filled my days with endless

Fun and love


I’m thinking of you as the day go by

And wonder how are you

My heart relieves sweet moments

With you

And I feel you from a far


The love that was wil

Always be…

In it’s special place

The place for special memories

That can’t be erased


Memories are within my heart

Of our sweet conversation

There will never be another

That could take your place

You always stay in my heart


A time so long and far away

Such happiness I knew

No lonely days and night

Because I was with you

For always and forever


I will keep you in my heart

You are always in my dreams

Sometime I could feel you so near

Could feel your love it seem

I now look foward to winter

Because you are by my side

I love you truely


Blue day…Gami’ Castle, Cairo-Egypt

Posted by: Maik | November 26, 2008

Syaikhona Kholil Bangkalan

(Sang Pemburu Ilmu Sejati)

“Ilmu tidak akan memberimu sebagian darinya, kecuali bila kamu memberikan dirimu kepadanya secara utuh”. rupanya prinsip ini sangat kental mendarah daging pada sosok kita, sang penuntut ilmu yang juga pengikut tarekat al-Qadariah wa al-Naqshibandiah, Syeikh Khalil Bangkalan.

Nama Syeikh Khalil sudah tak asing lagi bagi masyarakat madura khusunya dan penduduk Jawa pada umumnya. Dialah seorang pendiri NU dan ulama terkemuka yang dikenal memiliki waskita serta karomah bahkan cukup masyhur untuk disebut sebagai wali Allah.

Belum jelas kapan tahun kelahiran beliau, hanya saja ada suatu riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada tahun 1252 H bertepatan pada tahun 1835 M. Putra dari kyai Abdul Lathif dan adik laki-laki dari Nyai Maryam dan Nyai Sa’diyah. Dilihat dari nasab, dari garis laki-laki beliau adalah keturunan Sunan Kudus dan dari garis perempuan beliau adalah keturunan sunan Gunung Jati. Dari kedua sunan tersebut, nasab beliau bersambung ke Rasulullah SAW.

Desa Martajazah, tempat pembaringan terakhir sang tokoh spiritual ini, merupakan salah satu central tujuan para pelancong yang hendak mengunjungi Madura. Konon, rupanya nama beliau cukup harum melanglang buana ke hampir seluruh pelosok negeri Indonesia. Sehingga, setiap orang yang berziarah ke makam beliau, tak segan-segan mereka untuk berdiam lama disana, memperbanyak baca al-Qur’an dan berdoa kepada Allah di atas makam beliau.

Semenjak kecil, Syeikh Khalil sudah memiliki tanda-tanda kewalian dan karomah, seakan Allah telah menganugerahkan ilmu tersendiri dalam hatinya. Meski demikian, namun semangat mencari ilmu dan seorang guru panutan tetap tertancap dalam tekad yang membara. Pengembaraan ilmu yang di seberanginya sudah melintasi banyak pesantren. Terhitung ada tiga pesantren yang telah beliau arungi di pulau Jawa, pesantren Bunga, Gresik dengan diasuh oleh Kyai Sholeh, lalu beliau pindah ke pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan di bawah asuhan Kyai Asyik. Tak lama kemudian beliau pindah lagi ke pesantren Kebon Candi, Pasuruan, dengan pengasuh Kyai Arif sambil lalu menimba ilmu pada Kyai Nur Hasan Sidogiri.

Beliau tergolong santri yang berprinsip sangat patuh pada guru dan tunduk pada ilmu. Demi mencari ilmu pada sang guru, apapun beliau lakukan. Meski harus dengan cara hidup yang memprihatinkan. Sehingga, bisa dibilang beliau tak hanya berstatus sebagai santri namun juga budak sang guru. Beliau abdikan seluruh dirinya untuk sang guru, bahkan melakukan segala pekerjaan rumah gurupun juga dikerjakannya. Dari mulai membersihkan rumah, mencuci pakaian guru, menanam di kebun dan sebagainya. Sehingga sang gurupun tak segan-segan menyuruh Syeikh Khalil dengan pekerjaan apapun yang dirasa sulit.

Seperti suatu ketika, di kala musim paceklik panjang menghampiri daerah Bangil, masyarakat sekitar sudah mulai terlunta-lunta oleh kekeringan yang kian memuncak itu. Ketika itu beliau masih nyantri di Cangaan, Bangil. Maka suatu hari, sang guru seperti sudah tau kelebihan Khalil kecil, maka beliau menyuruh Khalil untuk menggali sumur. Khalil kecil pun segera melakukan perintah gurunya. Baru mencapai kedalaman satu meter pun, tiba-tiba air sudah menyembur dengan derasnya. Bagai titisan air zam-zam yang mengalir, air itu tak habis-habisnya mengalir, hingga sampai sekarangpun, tempat air penggalian Khalil inipun masyarakat Bangil menyebutnya sebagai sumur Syeikh Khalil.

Setelah cukup dewasa, keinginannya untuk menimba ilmu di Makkah al-Mukarramah sudah tak terbendung lagi. Dengan bekal tekad dan semangat menggali ilmu serta uang saku yang tak seberapa, akhirnya beliau pun sampai ke tanah Suci.

Di tanah suci Makkah, Syeikh Khalil segera mencari guru tempat beliau menambatkan ilmunya. Di antara guru beliau adalah syekh Ali bin Muhammad Amin bin Athiyah al-Rahbini. Di sini jualah beliau mulai menguasai ilmu Fikih dan Nahwu berikut Tarekat. Jiwa Kemandirian yang telah dimilikinya semenjak kecil tetap dipertahankan. Yang kemudian, berkat kecerdasan akal dan spiritualnya, beliau menulis kitab, Alfiah karangan Imam Ibn Malik. Salah satu kitab Nahwu yang banyak dimbil rujukan oleh para pembelajar ilmu sastra arab hingga zaman kontemporer sekarang ini. Selain itu, dengan keahlian beliau dalam bidang kaligrafi, beliau kembangkan bakatnya yang darinya mendapatkan penghasilan. Namun, setiap penghasilan berapapun yang beliau dapatkan, tak lantas diambilnya sendiri. Tapi semuanya beliau haturkan pada gurunya. Sedangkan beliau sendiri memilih untuk hidup dalam kezuhudan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, sampai pakaiannya pun beliau jadikan sebagai kertas tempat beliau mencatat semua ilmu yang didapat. Setelah dipahami dan dihafal, kemudian pakaian tersebut beliau cuci dan dipakainya kembali. Seperti itu terus menerus yang beliau lakukan hingga kembali ke tanah kelahiran beliau, Bangkalan Madura.

Sesampainya di tanah kelahiran, meski dianggap sudah kenyang oleh ilmu, tapi ilmu laksana makanan pokok setiap harinya dan beliau tetap mencari ilmu meski harus berguru pada santrinya sendiri. Seperti mendalami ilmu Fikh kepada Kyai Hasyim Asy’ari dan lain sebagainya.

Demikian sekelumit gambaran masa hidup Syaikhona Kholil, tokoh spiritual yang kaya ilmu. Sekarang Syeikh Khalil sudah tiada, kini tinggal kita sebagai generasi penerus menanggung beban guna melanjutkan langkah mulianya.

 

Dalam rangka menyongsong Hari Kebangkitan Bahasa Arab 

” حب العرب إيمانا و بغضهم نفاق ” إنه لمن حديث رسول الله صلى الله عليه و سلم بما لا شك فيه أن يصورنا  في حب العرب  و حب كل ما له علاقة به. ولا يريبنا أن العرب هو المنبع الوحيد لولادة الإسلام. حيث ولد فيه من له الأثر العظيم والإيثار لا مثيل له.  وكذلك من تضمنها باللغة العربية التي أنزل بها القرآن الكريم ونطق بها رسول الله صلى الله عليه وسلم في حياته. حتى أصبحت العربية جزءا أساسيا من حياة الشعوب الإسلامية حيث أخذت تتعرب تدريجيا.

طبقا للغة, فإنها “دالة الفكر” و كما قالها الإمام محمد عبده أن اللغة تعتبر بمجلى للفكر. وهي تمتد إلى كل مجالات الحياة البشرية بدون استثناء. ومن فقه اللغة في العناية باللسان مما روي عن النبي صلى الله عليه و سلم : “إن الرجل ليتكلم بالكلمة فينزل بها في النار بعد ما بين المشرق و المغرب, فإذا اراد الله تبارك و تعالى بعبده خيرا أعانه على حفظ لسانه و شغله بعيوب نفسه عن عيوب غيره”.   

وبحكم الطبيعة الاجتماعية للغة, فقد تقدمت حتما اللغة العربية وثقافتها بحيث أصبحتا ذاتي اهتمام عالمي في الشرق و الغرب, وبخاصة في المجالات المعرفية و العلمية.

وفي المرحلة المعاصرة نشاهد تأثر اللغة العربية كمادة اجتماعية بمحيطها الإجتماعي في تطورها وفي تراجعها. فطالما كانت مسيرة اللغة العربية إيجابا و سلبا تأثرت بمحيطها الاجتماعي, مثلما كانت في العصر الماضي فلغة الضاد هي لغة الاستعمال في كل أمصار مجتمعات اللغة العربية. بينما حرمت اللغة العربية من تلك الفرصة الاجتماعية في بعض المجتمعات العربية الأخرى. إن سوريا و العراق معروفان بنجاحهما في تعريب العلوم والمعارف الحديثة. ويؤكد هذا بأن اللغة كائن اجتماعي ينمو وينضج ويتقدم بالتفاعل الكامل مع كل أوجه مجتمعه.

ولكنه من الأسف أن اللغة العربية تكاد تنحط بحادثة لم تكد تحسها بعض المهتمين باللغة العربية منها حادثة تحريفات اللغة العامية للغة الفصحى. وهذا مثلما نقدها رئيس مجمع اللغة العربية بالقاهرة الدكتور شوقي ضيف. فمن الواجب هو مساهمة المسلمين في المحافظة على أصالتها مطلقا. لأن المستشرقين لم يزالون يسعون في محاربة الإسلام حتى أفسدوه  بكل حركة و طريقة قاطبة. و أكبر ما استخدموا من البندوقية الأولى هي اللغة العربية. هاهي ذه اللغة العامية قد نمت أكثر و أثارت أوسع بالإضافة إلى اللغة الفصحى حيث تميت أفكار المسلمين من التعمق والرغبة في علوم دينهم.

وبجانب تأثير العامية, كذلك أدت إلى اللحن العربي. فمما نقرأه في سلسلة التاريخ أنها قد سلمت اللغة العبية الفصحى في العصور الأولى لفظا و معنى عن اللحن والخطأ, حيث كان اللسان العربي صحيحا فصيحا ليس فيه خلل. فلما فتحت الامصار وخالط العرب أجناسا أخرى من الفرس و الروم و النبط و الأحباش, فاختلطت الأمم وامتزجت الألسن وتداخلت اللغات, فأصبح اللحن في الكلام فاشيا. وذلك لكثرة الأعاجم. حتى نشأ الخلاف بين ألئك اللذين لا تهمهم المحافظة على قواعد اللغة و فصاحتها مع ألئك اللذين يرغبون في صيانتها و المحافظة عليها.

كثير من الناس يدعوا أن لغة الإفرنج اليوم أوسع من لغات العرب. فأباه الإمام الألوسي في ادعائهم  بأن اللغة العربية هي أوسع و أحسن لغات العالم. ويؤكد حجته هو كما قاله ابن فرس في “فقه اللغة” بأن اللغة العربية كثيرا ما تنحت من كلمتين كلمة واحدة, وهو جنس من الاختصار, كقولهم “رجل عبشمي” منسوب إلى إسمين “عبد شمس” . ومثال آخر هو كما أنشد الإمام خليل بن أحمد الفراهيدي :

أقول لها و دمع العين جار # ألم تحزنك حيعلة المنادي

فلفظ “حيعلة” مشتقة من تركيب كلمة :” حي على كذا”. يدل على أن اللغة العربية أحسن اللغات صيغا و أساليب و أتمها و أكملها نسقا و تأليفا مع تسويغ النحت عند اقتضاء الضرورة.

فاللغة العربية تمتلك مرجعية لغوية, وقيمية ثابتة تتمثل بالقرآن. وعليه, فإن هذه المرجعية تحد من الإفسد اللغوي بفعل استدخالات الكلام ونمو اللهجات العربية في المناطق المختلفة. ففي تدبرنا هذه الأية ” إنا نحن نزلنا الذكر و إنا له لحافظون” يدل على أن اللغة العربية الفصحى لم تشهد تمزقات تاريخية أساسية مثل اللاتينية , وما زال الشعر الجاهلي مثلا يرجع إليه لتثبيت بنيان اللغة و تصحيحه. ومع ذلك فإن اللغة العربية ظلت وثيقة الصلة بالنص القرآني, والسنة النبوية, و مجمل التراث, والنشاط اللغوي والإجتماعي المنبثق في هذه الأرضية.

طبقا على ذلك, فحي على إعلاء كلمة الله بإحياء اللغة العربية. لئلا نكون من القوم اللذين قد فتنوا و نسو من حقائقهم. فإن حقائقنا فاتت زمانا لم نكد نعيدها إلا البعض. ومن حيث ما نعلم اليوم أن اللغة على سعتها في العربية بين نحو و صرف وأسلوب وبلاغة قد أمتحن بالجديد المعاصر, ثم إننا فوجئنا بالحداثة الجديدة. فاتخذوا هذه المصائب و الكارثة من العبرة النفيسة محاولة إلى ترقية اللغة العربية وتقدمها فائق التقدم بالنسبة إلى الغير.

 

Posted by: Maik | November 7, 2008

Alienasi Diri

 

Allah membiarkan hati kita hancur, agar kita menjadi manusia yang utuh. Dia biarkan kita terluka, agar kita kuat. Dia renggut semua yang kita cintai, agar kita bisa menghargai apa yang telah Dia berikan pada kita.

Ketika seseorang mengalami kekecewaan yang kesekian kalinya…

Ketika keputus asa-an itu dirasa…

Ketika harapan itu pupus…

Disaat semangat itu menjadi mati…

Kala diri sudah merasa kecil dan direndahkan…

Kala keberadaannya tak dihargai lagi…

Akankah sebuah impian suci kan terwujudkan? Padahal ketulusan itu sudah tak lagi diharapkan…pengorbanan itu tiada lagi bermakna…

Hapuslah air matamu..!!! jangan biarkan ia mengalir di atas hati yang terluka. Karena kepedihannya akan semakin terasa. Perih sakitnya tak dapat menyirami rongrong jiwamu yang kian mengering.

Begitu banyak pelajaran hidup yang diberikan-NYA, meski harus melewati segala rintangan, cobaan dan bahkan air mata kepiluan.

Jika kau telah biarkan hati-mu bersuara…namun hampa yang kau dapati, maka kini biarkan hati-mu yang berbisu dan terkuburkan.  

Mungkin ada seseorang yang tercipta untuk ditakdirkan menjadi dirinya sendiri. Yang dapat menguasai bahkan memiliki dirinya sepenuhnya. Hingga tak ada seorangpun yang dapat merebut kembali hati yang pernah terbelahkan itu.

Jangan terbuai kembali oleh hasrat hati yang ternyata menipumu, dan jangan terlena lagi oleh fatamorgana kehidupan. Semuanya hanya membuat diri kita tiada berharga lagi!!! 

Ya…biarlah kesendirian itu yang memilikimu…

Tetaplah optimis…mungkin ini yang terbaik…supaya kau tak lagi menduakan-NYA. Supaya kau selalu memiliki-NYA sepenuh hatimu…

Posted by: Maik | September 20, 2008

Homesickness;

[ Inspired by Moonlight ]

Ditengah asyiknya mengeksplorasi wacana kesusasteraan arab, seketika perasaan-ku dipenuhi distimia yang begitu mencekam. Spontan gerak tanganku macet.

Kulirik jam tanganku menunjukkan pukul dua malam. Masih terlalu dini untuk ukuran malam musim panas Kairo. Tapi kurasakan malam ini tiba-tiba dalam kesenyapannya yang mendalam. Sungguh! biasanya tiap malam, suara riuh perbincangan dan obrolan orang-orang Mesir kerap terdengar dari balik tirai jendela kamarku. Keramaian suasana malam pasar gami’ diseberang flat-ku yang tak begitu berjarak jauh ini memang rentan kedap suara meskipun flat-ku ber-alamat dilantai sutuh( lantai lima, paling atas).

Kurasakan seketika nyanyian yang mengalun lembut dari dedaunan dan pepohonan yang biasa dibelai angin malam pun berhenti sunyi. Sapaan sejuknya angin malam yang biasa mengipasi kegerahanku dari balik pintu jendela ini tak menghampiri lagi. Semuanya berhenti mematung. Termasuk pikiranku yang membuntu ini…

Oh..Hari-hari “Ramadhan” memang saat yang paling tepat untuk ber-kontemplasi (bertafakkur dan merenung diri).

Saat ini..aku memilih untuk duduk di daun pintu jendela kamar-ku. Sambil menikmati sebuah lagu instrumental, ku pandangi langit dengan bulan purnama-nya. Bulan itu indah…putih bercahaya terang..semakin menghiasi dan mempercantik suram gelapnya langit. Dengan didampingi kerlap-kerlip bintang, semakin membuat sang rembulan nampak gagah dan mempesona. Sejenak aku teringat salah satu petuah Ibn Thufail, yang menyuruh agar manusia selayaknya mengikuti “akhlak langit”. Yang selalu memberi, tanpa meminta balasan.

Ah..memandangnya lekat, membuat hati dan jiwa sejuk dan damai. Seakan dunia hanya milik aku bersama sang rembulan saja.

Namun, selang berapa lama kemudian, aku tersadar…ternyata aku tidak hanya di ajak untuk menikmati keindahan-nya saja. Tapi, seperti ada ilham yang menyusup, kehadiran sang rembulan kini menyiratkan kalau disaat persandingan ini, aku diajak untuk kembali menelusuri jiwa yang rupanya masih terjangkit oleh keganjalan iman yang tipis ini.

Tanganku beralih, ku putar lagu “al-Abd” (the slave) dengan vokalis “syekh Mashary Rashed”. Sebuah lagu religi yang sendu, menggugah dan menyentuh hati. Serasa diingatkan akan semua kesalahan, dosa dan khilaf yang senantiasa menyelimuti diri disetiap langkah kehidupan.

Menyelami senandung kata demi kata yang yang terurai, meniti rangkaian bait yang tersirat rapi, mengantarkan pikiran dalam renungan dimasa silam. Mengetuk hati untuk menggapai kasih dan taubat-NYA.

Seketika dada serasa sesak oleh desakan dosa-dosa masa lampau yang masih terasa implikasi buruk-nya hingga sekarang. Terbisik sayup tangis bathin, ” Ya Rabb…tiadalah diri ini, hanyalah seorang hamba yang terlalu menderita karena dosa. Yang gelisah, bersedih dan bermuram durja, karena ketergelicirannya oleh benturan kerikil-kerikil dosa yang senantiasa menemani titian jalan kehidupan hamba”. “Oh Lord..di bulan suci-MU ini, perkenankan hamba menggapai Barokah dan Rahmat-MU. Izinkan hamba untuk kembali berduet nan bersua mesra dengan-MU. Merengkuh cinta abadi-MU sebagaimana KAU pancarkan cahaya cinta-MU melalui pesona sang rembulan di sepanjang malam-nya”.

Pikiranku kemudian beralih pada sebuah bayangan meneduhkan. Bayangan mereka..keluargaku yang begitu aku cintai. Terlintas sosok bayangan “Aba, Umi dan saudara-saudaraku” yang tak terbilang berapa kali mereka menelpon-ku selama bulan Ramadhan ini. sekedar menanyakan belajar-ku, kesehatan-ku dan apa saja yang aku makan ketika sahur dan buka puasa-ku. Sebuah perhatian dan kasih sayang yang tiada pernah kering walau jarak dan masa yang melintasinya.

Aku merindukan mereka…rindu sekali. Rindu dengan suasana ramadhania bersama mereka, event yang paling harmonis dan romantis (kukatakan Ramadhan, karena aku yang semenjak kecil di pesantren, membuatku hanya punya kesempatan bersama mereka di liburan Ramadhan saja). Rindu dengan suasana diskusi dan obrolan ringan oleh semua personil keluargaku disetiap menjelang istirahat malam. Rindu untuk cerita dan tertawa bersama mereka, mereka yang begitu berarti dalam hidup-ku. Yang telah berkontribusi penuh dalam arus pendidikan-ku baik dari segi moril maupun materil.

Ingin kutumpahkan tangis kerinduan ini dalam rangkulan dan keharibaan pangkuan ayahanda dan ibunda tercinta. Sang raja kebanggaan dan ratu jelita-ku. figur teladan-ku. Teringat bagaimana beliau mengusahakan menyambung internet, agar bisa berkontak dan melihat-ku langsung. yang selalu belum merasa cukup dengan sekedar mendengar suaraku melalui telpon, apalagi jika seminggu tak ada kontak. sungguh interaksi dan telepati bathin yang begitu kuat..! semakin dalam keterharuanku dan kebanggaan-ku pada beliau.

Teringat juga bagaimana ca’ umang, caca’-ku yang kedua, yang tak pernah absen setiap malam menasehati-ku lewat sms-nya tentang apa saja yang menyangkut filosofi kehidupan. sosok-nya yang humoris dan bijak. dan ca’ Ali, caca’ sulung-ku yang suka menanyakan problem-problem-ku dan sambil lalu berdikusi santai. Terkenang pula bagaimana suci, leha dan nunk adik-ku yang selalu berkonsultasi dan meminta ide serta pendapatku di setiap masalah yang mereka hadapi. Apalagi Aus, adik bungsu-ku yang lucu dan menggemaskan itu. Dan terekam jelas, bagaimana mereka berjuang mati-matian dan berusaha menegarkan, membangkitkan serta mensupport-ku, khususnya di saat peristiwa “dilematika semi nan syahdu” bulan maret lalu. Yang sempat menggoncangkan mental dan jiwa-ku yang memilukan itu.

Begitu besar harga cinta yang mereka pertaruhkan. Cinta tulus..Murni..tak tertukarkan oleh apapun..meski oleh jiwa-ku sendiri. begitu dalam dan besarnya akan harapan untuk kesuksesan bersama. “Oh Allah…berilah hamba kesempatan untuk membahagiakan mereka…berilah kami umur panjang dan berbarokah..untuk berkumpul kembali dalam sunggingan senyum indah dan tangis bahagia mereka bersama hamba nanti. Seindah cahaya gemerlapan kehidupan langit sana, dengan keharmonisan bersama cerahnya sang rembulan dan kerlipan bintang-bintang-nya.”..Amin Allahumma Amin..

oh my great family..really..i miss you all.

Posted by: Maik | September 14, 2008

Power Sharing

[ Sebuah Adagium; Menyoal komparasi antara maskulinitas dan feminitas yang imbang]

Sejenak aku tertegun dengan tubrukan bacaanku di sebuah weblog, “Kaum hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, bukan dari kepalanya untuk dijadikan atasannya, bukan dari kakinya untuk dijadikan budaknya, bukan dari bawah perutnya untuk dijadikan tujuannya, melainkan dari sisinya, untuk dijadikan teman hidupnya, dekat pada lengannya untuk dilindungi, dekat pada hatinya untuk dicintai, dekat pada perutnya untuk dibuahi dan dikaruniai” sangat estetis dan respektif, begitu kagumku.

Lama aku berpikir dan merenungi esensi dari kata-kata unik tersebut. Dalam hati aku bergumam pelan, “walau unsur penciptaan tulang rusuk yang diklaim mendiskreditkan perempuan, sepertinya analisa filosofis diatas diramu sebagai bentuk eufemistis yang justru menepis asumsi miring para hedonis terhadap artikulasi wujud perempuan”( itupun kalau tidak mau dikatakan sebagai tindakan antitese dari historitasnya yang traumatik dan bentuk pembelaan terhadap hak-hak perempuan dalam hal citra kasih sayang antar sesama). Meski dalam aspek penalaran teks teologis, yang secara esoteris, ia mengingkari penciptaan perempuan dari tulang rusuk adam. Satu titik point alasan bahwa dalam memahami agama tidak harus secara dogmatis, namun berdasarkan penalaran yang kritis.

Terkesan Sangat bijak untuk bisa ditarik benang merah akan filosofi afektif ini, bahwasanya, siti hawa adalah “belahan jiwa” bagi jiwa adam. Bagai dua magnet yang saling tarik-menarik. Artinya, suami istri itu merupakan satu jiwa. Yang nantinya akan melahirkan adanya keterikatan afeksi. Saling membutuhkan dan berketergantungan satu dengan lainnya. Hingga tidak terjadi konflik dehumanisasi yang biasanya banyak bersumber dari dominasi paternalistik.

Betapapun, makhluk perempuan tercipta sangat istimewa. Bahkan seorang tokoh sufi besar “Ibn ‘Arabi” berkekuatan spiritual, intelektual dan filosofi tinggi yang mendapat gelar syaikh al-Akbar (sang Mahaguru) dan Muhyiddin (sang penghidup agama) asal Murcia, Spanyol ini, pernah menyebutkan dalam kitab fusus al-hikam bahwa, “ pada dasarnya, dalam diri kaum perempuan terdapat titisan penjelmaan keindahan Allah SWT yang sarat menonjol, yang kemudian disempurnakan oleh serapan citra keagungan Allah SWT dalam diri kaum laki-laki”. Sebuah pesan sufistik yang terealisasi nyata oleh cara Rosulullah dalam mencintai kaum perempuan dengan pandangan keindahan spiritualitas bukan pandangan keindahan fisik.

Di kitab lainnya beliau menuturkan, “dalam diri perempuanlah Allah SWT lebih sempurna memanifestasikan diriNYA” bahkan di suatu kesempatan beliau menyatakan, “untuk menjadi sufi sejati, maka seseorang harus menajadi perempuan lebih dulu” mengapa begitu?

Terilhami dari sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi,” Kasih-sayang-KU mendahului murka-KU” pernyataan yang mencerminkan dua kategori sifat Allah SWT yaitu sifat jalaliyyah (yang bercorak maskulin) dan jamaliyyah ( yang bernuansa Feminin). Tak dapat dipungkiri, bahwa sifat feminin (Rahman dan Rahim) Allah tentunya lebih mendominasi dalam barisan Asma’ul Husna-NYA daripada sifat-sifat-NYA yang keras. Dari sini, bisa kita petik kesimpulan logis bahwa perempuan, sejatinya ia memiliki peluang besar dalam memahami dan mengenal Allah SWT serta mengamalkan ajaran-NYA.

Dan seperti yang pernah dituturkan Siti Musdah Mulia dalam sebuah refleksinya, “karena sifat feminin yang menghiasi diri perempuan inilah yang kemudian menjadi alasan kuat Rasulullah untuk menghadiahkan seorang ibu dengan penghargaan derajat tiga kali lipat lebih besar daripada seorang ayah”. Disini pula Ibn ‘Arabi mencetuskan analogi brilliantnya, bahwa manusia ideal dan sejati, ialah manusia yang dalam dirinya tumbuh unsur maskulinitas dan feminitas secara imbang, sebagai cermin gambaran Ilahi yang tiada terbatas. Hingga tidak ada dikotomi antara laki-laki dan perempuan.

Lebih dari itu, secara kodrati, perempuan tercipta dengan kemampuan berperan ganda. Hanya dari rahimnya-lah terlahir para tokoh-tokoh besar di seluruh belahan dunia. sosok pendidik utama yang berperan aktif dalam mencerdaskan umat dan mencerahkan bangsa. Tak heran jika Dr. James spaegry asal Ghana, mengatakan bahwa, “ dalam mengajar dan mendidik satu orang laki-laki , sama hal-nya mendidik seorang anak bangsa. Namun, mengajar dan mendidik satu orang perempuan, ia laksana mendidik satu bangsa”. Perempuan memiliki naluri kuat untuk berbagi dengan lingkungannya. Karena itu, sebuah pendidikan cerdas dan bekal keilmuan yang luas, menempati porsi signifikan bagi kaum perempuan.

Sebagai tambahan refleski, aku teringat beberapa tokoh dunia yang banyak menuai kesuksesan dalam etos kepemimpinan, menelurkan karya agung dan menguak ide pemikiran tercerahkan. Dan tak terbantahkan, bahwa dibalik semua kecanggihan yang mereka tuangkan, ada sosok bermuatan kekuatan cerdik, dan toga super inspiration yang menopangnya. Dialah seorang perempuan, sang inspirator utama yang berpengaruh besar dalam mengarungi sepak terjang perjuangan mereka.

Sebutlah seperti Sayyidah Khodijah binti Khuwailid yang dengan harta dan tingkatan tinggi spiritualnya, banyak membantu perjuangan dakwah dan perjalanan wahyu Rasulullah. Saking besarnya pengaruh dan kecintaan Nabi pada sayyidah Khodijah, Hingga tahun wafat beliau diabadikan dengan sebutan “ ‘Am al-huzni”(tahun kesedihan Nabi). Kemudian, sayyidah Asiyah binti Muzahim yang dengan kecerdikan dan kesucian iman-nya mampu melunakkan kerasnya hati dan watak raja Fir’aun. Aura kelembutan dan ketulusannya menghipnotis Fir’aun yang terlalu mencintainya walau harus berhadapan dengan malapetaka besar dengan resiko mengasuh dan mendidik musuh besar Fir’aun( Nabi Musa a.s )dalam istana kemurkaannya. Sehingga membuat Sayyidah Asiyah patut berbangga oleh buah ketaatannya pada Allah SWT dan suaminya berikut jiwa kepahlawanannya terhadap nabi Allah SWT (nabi Musa a.s.). kemudian, Seorang gadis perancis yang memiliki daya interaksi kuat dan intektual tinggi, sehingga dari pengaruh keistimewaan akal dan pola pikir perempuan tersebut, mampu menjadi tonggak penggugah kesadaran sekaligus sumber inspirasi sang tokoh pelopor feminisme Mesir, Qasim Amin. Yang kemudian Qasim Amin boleh merasa puas oleh lahirnya dua karya magnum-opusnya yang terkenal itu. yaitu “tahrir al-mar’ah” terbit pada tahun 1899 dan “al-mar’ah al-jadidah” terbit pada tahun 1900. yang dari keduanya, muncul peradaban pemikiran baru di Mesir pada khususnya dan negeri Arab pada umunya oleh wacana berbasis kebangkitan perempuan yang semula gagap dan stagnan. Dan ada lagi, putri seorang syeikh asal Isfahan, yang dengan ketajaman jiwa sufistiknya dan ketangkasan ilmunya, kehadirannya mampu menyulap Ibn ‘Araby menjadi sang pecinta dan pengagum makhluk-NYA. Hingga terciptalah kitab karangan beliau yang sangat popular “Tarjuman al-Asywaq”. Dan masih banyak lagi kampiun-kampiun perempuan yang berkontribusi besar dalam kedudukannya sebagai mitra laki-laki.

Tak cukup itu, karena mereka tidak hanya hebat dibalik kesuksesan laki-laki. Bahkan, tak sedikit figur ideal seorang perempuan yang berperan aktif dan mandiri dalam mewarnai peradaban dunia. jasa, karya dan nama mereka selalu meniupkan angin segar dalam kehidupan masyarakat luas. bahkan dikitab suci Al-Quran pun banyak mengabadikan nama-nama mereka sebagai perempuan berkedudukan mulia dan tinggi.

Tak asing lagi ditelinga, ketika mendengar nama ratu Balqis. Sang tokoh politik yang mampu memimpin kerajaan super powernya (‘arsy ‘adzim)hingga membuat nabi Sulaiman berdecak kagum, mengakui kehebatan ratu Balqis meski nabi Sulaiman sendiri sempat terkalahkan oleh-nya. Kemudian sayyidah Maryam, perempuan suci pilihan Allah SWT dan “the single parent” yang mampu mencetak dan mendidik seorang putra yang dewasanya, sang putra ter-utus dengan mandat agung untuk menjadi nabi pilihan-NYA (nabi Isa a.s ). Dan Khansa’, Tokoh penyair perempuan yang hidup di dua zaman (zaman Jahiliah dan zaman kedatangan islam), yang dengan syi’ir andalannya berkategori “Ratsa’ ”(ratapan), mampu berdiri unggul diatas para penyair arab dimasa itu. Kemudian sayyidah ‘Aisyah, beliau adalah guru-nya kaum laki-laki(para sahabat nabi). dengan kecerdasan dan keilmuannya yang luas, tak jarang beliau dijadikan “maroji’ “(referensi utama) para tokoh tafsir, fiqh, hukum, hadits, maupun tabib dizaman kenabian tersebut.hingga beliau mendapat gelar “Ummul Mukminin” (ibunda kaum mukmin).Dan Cut Nyak Dien, tokoh pahlawan kemerdekaan. Yang ikut berjuang dalam peperangan melawan para kolonialis. Menyusul kemudian RA. Kartini, sang reformis dan tokoh pendidikan dimasa kemerdekaan dan orde lama. Ditambah kemudian Megawati Soekarno Putri, pemimpin bangsa berkelas dunia, pejuang berkepribadian kuat, visioner dan prinsipil.

Dan tentunya, masih banyak exemplary women lintas agama, politik, ekonomi, pendidikan serta dunia dan peradabannya, yang ikut menjejali barisan tokoh-tokoh diatas.

Namun, dari sekian banyak kelebihan, keunikan dan keistimewaan yang Allah SWT anugerahkan untuk kaum perempuan, ternyata mereka hanya memiliki “satu kekurangan”.

“ Perempuan banyak lupa bahwa ternyata diri-nya sangat berharga”

Posted by: Maik | September 7, 2008

Melacak Akar Penciptaan Perempuan

 

(antara Divine Creation dan Social Construction)

Potret dunia perempuan selalu saja menempati obyek wacana yang diskursif dan diskusibel. Serbuan opini maupun asumsi terhadap makhluk perempuan ini sepertinya memang tak pernah kering dari sorotan kajian-kajian sosio-teologis, filosofis bahkan ideology politik budaya. Perkembangan trade-off system (perubahan) dari matriarchal ke patriarchal pun turut mengiringi jejak peralihan factor reproduksinya yang kemudian tergeserkan oleh factor produksi. Dimulai sejak zaman pra-primitif yang konon, menganut maternal system ( pola keibuan) hingga zaman post-abrahamic religions yang dianggap mentoleri faham missoginy. Kedudukannya pun kian mengalami dekonstruksi dan peyorasi dihampir semua poros kehidupan, sebagai bentuk implikasi negative dari sikap yang telah membudaya dalam pengalienasian fungsionalitas kedudukan perempuan  di ranah social masyarakat maupun faham yang muncul dari sumber tradisi keagamaan yang selalu dinilai bias gender.

Tak ayal lagi, bentuk eksploitasi dan marginalisasi terhadap ruang geliat perempuan ini telah tertancap dan mengakar  pada hampir semua persepsi masyarakat dunia. sekian lama perempuan tersiksa oleh keterpurukan yang lalim dan nista. Sosoknya laksana malapetaka dunia yang terkutuk sejak awal terciptanya sampai hari kiamat.

Contoh yang paling monumental, yang terjadi dimasa primitif, adalah dimana kodrat perempuan dengan masa menstruasinya, yang dianggap tabu (menstrual taboo) oleh bangsa yahudi, hingga menjadikannya harus diperlakukan layaknya binatang bahkan lebih rendah dari anjing hutan.

Contoh lain yang sangat populer adalah sebagaimana yang disinggung oleh Gayatri Spivaks dalam “can the subaltern speak ?” tentang nasib bangsa perempuan dimasa postkolonial yang ditakdirkan untuk “diam”. Diam, kaku dan vakum oleh penindasan bertubi-tubi  dari kaum imperialis maupun laki-laki pribumi. Wujudnya hanya sebagai pelengkap kebutuhan biologis dan obyek despotisme para orientalis dan kaum patriarkat. Dimasa tragis ini, perempuan tidak diberikan hak suara sama sekali. Mereka terbuang dan terbelakangkan. Hak pendidikan pun nyaris tak tercicipi. Disebut subaltren karena ruang geraknya yang terlalu stagnan, sehingga tidak mempunyai kesempatan sama sekali dalam upaya mengartikulasikan diri mereka sehubungan dengan wacana kolonialisme.

Dan gejala derita lainnya, yang amat fenomenal dan terjadi di masa postmodern, dimana perempuan masih terkungkung dalam domestifikasi peran. Semua kerincuhan dan beban rumah tangga bahkan kenakalan anak-anakpun secara otomatis menjadi tanggung jawab ibu. Nilai dominasi pria terhadap wanita menanamkan stereotip keras oleh dikotomi antar jenis kelamin. Signifikansi peran perempuan masih bernilai ambigu dimata public (public views). Disatu sisi, dia dituntut untuk eksis dan mencari nafkah di luar, agar tidak selalu menjadi beban laki-laki. Namun, disaat dia mampu berkreasi dan berkiprah di masyarakat luas bahkan menuai karier yang sukses, nilai kesalehahnya sebagai istri dan ibu diragukan. Padahal laki-laki dan perempuan memegang potensi dan tuntutan yang sama sebagai ‘abid di hadapan Allah dan khalifah di muka bumi. Namun, Lingkup geraknya terbatasi oleh pembagian sektor publik dan sektor  domestik. Secara implisit, terminasi ini melahirkan sikap ambivalensi dikalangan kaum perempuan. Anehnya, ketimpangan peran sosial ini tak banyak disadari oleh mereka, kaum perempuan khususnya. Karena mereka telah banyak termakan racun otoritas patriarkat yang menghegemoni hampir seluruh sektor politik, social, budaya bahkan asas teologi yang diplesetkan. Lebih ironisnya, lagi-lagi mereka menganggap stereotip ini adalah takdir dan kodrat semata (divine creation) dan bukan hasil konstruksi masyarakat (social construction).

Sebagaimana yang telah disinggung diatas, bahwa sejatinya, bentuk diskriminasi maupun tiranisme dalam formulasi sosio-teologis yang tidak henti-hentinya menyelimuti kehidupan kaum perempuan ini, itu semua tidak lepas dari esensialitas penciptaan perempuan yang diasumsikan miring oleh mayoritas masyarakat dunia. karena hawa yang tercipta dari unsur organic adam yaitu bagian tulang rusuknya, sehingga kemudian dicap sebagai “the second human being”. Dan yang lebih naif, karena itu semua efek dari hukum kausalitas “original sin”. Sebagaimana ajaran kaum nasrani yang  mempercayai bahwa turunnya adam dari surga yang penuh kesenangan ke bumi yang penuh kerusakan ini, tak lain disebabkan tipu daya hawa terhadap adam. Sehingga makhluk perempuan dianggap sebagai iblis bumi yang amat berbahaya. Bahkan unsur penciptaannya yang dari tulang rusuk laki-laki itu, diyakini bahwa perempuan semata-mata tercipta sebagai helper, pelayan dan makhluk komplementer saja dalam realitas kehidupan laki-laki.

Memang kerap masih terdengar di perbincangan masyarakat, bahwa asal mula perempuan adalah dari tulang rusuk laki-laki. Pernah suatu kali dalam obrolan ringan, penulis mendengar ungkapan salah seorang teman,” aku ingin sekali cepat menemukan dimana gerangan tulang rusukku itu berada..” ada lagi’ “ sepertinya aku masih merasa cacat karena tulang rusukku yang masih terbelah. Entah dimana dia tersimpan. Ingin sekali cepat mendapatkannya agar aku bisa menyempurnakan hakikat diriku” sekilas kedengarannya meyakinkan. Namun ia tampak klise. secara rasio, mana mungkin perempuan yang secara fisik hampir seluruhnya serupa dengan bentuk laki-laki itu, bisa dikatakan bahwa ia tercipta dari tulang rusuknya. Unsur yang membedakannya hanya terletak pada segi anatomi fisik-biologisnya saja. Analogi absurd inipun baru yang dapat dilihat dari kaca mata logika. Walau terlepas dari keyakinan bahwa segala kemungkinan akan terjadi jika Allah SWT berkehendak.

Kemudian, jika ditelisik dari segi tekstual agama, beberapa ayat Al-Qur’an yang nampak  mengisyaratkan asal mula penciptaan perempuan, adalah 1) Q.S al-nisa’/4:1, 2) Q.S Al-A’raf/ 7: 189, 3) Q.S Al-Zumar /39 : 6. Dari ketiga ayat tersebut, tidak ada satu lafadz pun yang secara eksplisit mengatakan penciptaan manusia dengan nama adam dan hawa. Seperti di ayat 1 surah al-nisa’ :

ياأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dari “diri” yang satu (a single self), dan dari
padanya Allah menciptakan pasangan (pair)-nya, dan dari pada keduanya
Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu
”.

Penafsiran kontroversial dalam ayat tersebut terletak pada lafadz nafs wahidah, dhomir “min”, dan zaujaha. Para ulama tafsir secara umum berpendapat bahwa lafadz “nafs” yang dimaksud disini adalah adam. Kemudian lafadz “min” diambil dengan proposisi makna “dari”(sesuatu dari sesuatu yang lain) dan lafadz “ zaujaha” diartikan sebagai istri adam, hawa. Sehingga dengan mudah dipahami bahwasanya hawa diciptakan dari bagian unsur organ tubuh adam tepatnya pada tulang rusuknya. adapun kitab-kitab tafsir mu’tabar yang turut mengiyakan bentuk penafsiran diatas, diantaranya yaitu, tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Mizan, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Bahr al-Muhith, Tafsir Ruh al-Bayan, Tafsir al-Kasysyaf, Tafsir al-Sa’ud, Tafsir Jami al-Bayan dan Tafsir al-Maraghi.

Berbeda dengan penafsiran imam Abu Muslim al-Asfahani dalam tafsir al-Razi yang mengatakan bahwa maksud dari dhamir “minha” disini bukan dari tubuh adam, melainkan tercipta dari gen, unsur pembentuk adam. Jadi, adam dan hawa sama-sama tercipta dari tanah. Hanya saja adam lebih didahulukan penciptaannnya baru setelah rampung, kemudian Allah menciptakan hawa dari tanah pula. Rifat Hassan, Tokoh feminis muslimah berkebangsaan India itu,  menolak keras dengan penafsiran jumhur tadi. Dia berpendapat bahwa, kata “nafs” disini netral. Tidak harus merujuk pada adam. jika nafs wahidah disini diartikan adam, maka kata”adam” dalam semantis-linguistiknya berarti kata benda maskulin yang sederajat dengan arti al-insan, al-basyar dan al-nas dan bukan diartikan sebagai jenis kelamin. Begitu juga Seorang penasehat menteri wakaf Mesir, DR. Abdul Ghani Shama mengatakan bahwa adam dan hawa diciptakan dari unsur materi yang sama. Sedangkan pihak yang mengatakan bahwa hawa tercipta dari tulang rusuk adam, hepotese ini hanyalah hasil adopsi dari kisah-kisah israiliyat yang tidak jelas keabsahannya.

Menyinggung argumen DR. Abdul Ghani Shama, berangkat dari sejarah awal interpretasi Al-Quran, kehidupan sosial dan budaya yang menjalar ketika itu, adalah kehidupan yang dikuasai makhluk berpaham patriarchal. Tentunya, paradigma eksentrik ini jauh diluar dogma yang telah diajarkan nabi. Tak diragukan lagi, tokoh teladan sejuta umat, pembawa risalah suci sejagat raya, Nabi Muhammad SAW dengan segala praktik gender equality dan spirit equality yang diusungnya, berhasil mengangkat kedudukan perempuan dimasa itu sejajar dengan laki-laki dalam ranah politik, ekonomi, pendidikan baik dalam skala local, regional sampai global. Hingga julukan tokoh feminis dunia pun berhasil disanding oleh sang kampiun penyelamat kaum perempuan ini.

Namun yang sangat disayangkan, implementasi dari exemplary behavior ini hanya mampu tersalurkan cerah dimasa hidupnya nabi saja. Dan belum memasuki ruang masa  interpretasi teks Al-Quran dan Al-Hadits. Apa sebab ?

Menurut penelitian para antropolog, keadaan dunia islam pasca wafat nabi merupakan masa yang sarat akan gejala-gejala dekadensi hukum dan budaya meski sempat tercerahkan sebelumnya. Apalagi keadaan nash Al-Quran dan Al-Hadits yang ketika itu masih berada dalam tahap kodifikasi serta proses interpretasi. Yang tentunya, kondisi dan situasi local yang terjadi pada suatu masa, memiliki tendensius besar bagi para ulama tafsir maupun para exegesist dalam usaha manifestasi interpretasi hukum teologis yang akan ditetapkan.

Pasalnya, Membludaknya penyaringan enkulturasi yang diserap islam dari budaya androsentris yang notabene missogamis, sangat niscaya jika menjamin terkontaminasinya pemikiran para ulama oleh paham patriarki tersebut. Diantaranya, adalah pengaruh ekspansi dakwah islam di hampir seluruh belahan bumi eropa dan Afrika dengan percampuran antara budaya wilayah jajahan Persia di timur, wilayah jajahan Romawi yang teradopsi oleh budaya Yunani, bahkan Mesir yang terpengaruh oleh budaya Mesir kunonya, semakin mendukung pada proses enkulturasi tersebut. Sehingga, sangat beralasan jika kemudian penafsiran ayat-ayat Al-Quran maupun Al-Hadits yang cenderung mengisyaratkan mekanisme penciptaan perempuan itu, kemudian ditafsirkan mirip seperti dengungan redaksi kitab genesis dalam perjanjian lama tepatnya di pasal 21-23 yang mengatakan bahwa, “ketika adam sedang sendirian ditaman surga, maka Allah menidurkannya. Kemudian dalam keadaan tidur, Allah mengambil bagian tulang rusuk kiri adam dan melapisinya dengan daging akhirnya terbentuklah makhluk sejenis perempuan. Dan setelah bangun, muncul disisinya sosok perempuan cantik tersenyum padanya. Bertanya adam, “siapa kamu?” “perempuan”, jawab hawa. “Mengapa kamu diciptakan”?, Tanya adam lagi. “supaya kamu mendapat kesenangan dari saya”, kata hawa. Dan ditanyakan ke malaikat bahwa dia dinamakan hawa karena dia diciptakan dari sebuah benda hidup (tulang rusuk)”. Kisah estetis yang ternyata juga tersirat di kitab yahudi ini dan kitab semit lainnya, ternyata sudah menjadi santapan obrolan lama berikut kepercayaan dasar dari mayoritas umat agama islam semenjak dahulu kala. Bagaimana tidak, la wong ulama tafsir klasik pun menyuapi kisah dan keyakinan yang sejalan dengan kisah-kisah israiliyat tersebut. Dari sini, nampak sudah akar penyebab ayat-ayat yang terkesan bias gender sehingga berimplikasi pada tersubordinasinya posisi perempuan dalam bingkai kehidupan filosofis-teologis berikut sosio-kultural yang menganak-turun ini.

Tak hanya nash Al-Quran, teks Al-Hadits pun turut termanipulasikan oleh budaya dan tradisi lokal. Teks-teks hadits bahkan lebih banyak diklaim bias gender. Posisi hadits yang dinyatakan sebagai bentuk tafsir perincian dan penjelas dari nash Al-Quran ini semakin memperkuat asumsi the second creation-nya perempuan karena tertulis sangat jelas disana adanya lafadz “al-Dhol’i “ yang berarti tulang rusuk. Yang semula di Al-Quran masih bermakna ambigu, ternyata telah tertera sangat gamblang di Al-Hadits bahwa nyatanya perempuan selalu disandingkan oleh kata tulang rusuk. Diperkuat lagi dengan perawi-perawi hadits yang mengupas tentang hal ini, adalah kebanyakan para perawi shohih, seperti Bukhori Muslim. Padahal, jika kita mau menelisik lebih dalam lagi, Seperti yang disinggung saudari Hayati Fasiha, Lc di makalah “Nasib kaum Hawa” disebutkan bahwa, dari sekian banyak hadits yang memuat ciri perempuan yang dari tulang rusuk itu, selalu diawali dengan huruf” lam jeir” yang berarti “seperti”. Meskipun ada sebagian yang bergandengan dengan huruf “min”, itupun hanya segelintir. Dan lagi, kumpulan hadits yang berbicara masalah perempuan ini, tak ada satupun yang berjudulkan “penciptaan perempuan” tapi “ cara bermu’amalah dengan perempuan”. Seperti dalam contoh :

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632).

Telah terpampang jelas tema besar dalam permulaan hadits ini, yaitu “ cara bermu’amalah dengan perempuan” sangat tidak etis jika penafsiran lafadz “diciptakan” diatas, kita artikan secara tekstual. Tentunya, teks kalam Ilahi maupun sabda Rasul mengandung makna eksoterik dan esoteric yang mendalam. Berkaitan dengan makna esoteric, suatu teks yang didalamnya bermakna rahasia yang mampu diketahui oleh orang-orang tertentu saja (orang-orang yang berilmu). Termasuk makna teks hadits tersebut, yang sarat mengandung makna metaforis. huruf “min” diatas berarti “bersifat” yang artinya, perempuan diciptakan dengan “bersifat tulang rusuk”. Isyarat akan ciri kelembutannya, kehalusan perasaannya, sikap dan bawaannya yang mudah berubah-ubah, cepat emosi dan temperamental. Untuk itu, Rosulullah mengarahkan kaum laki-laki untuk bersikap sabar, pemaaf dan bijaksana. Seperti filosofi yang terkandung dalam tulang rusuk itu, bahwa jika sang laki-laki tidak mau memahaminya, bahkan menghukum istrinya dan memaki-makinya, maka niscaya tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali keretakan dan perpecahan dalam rumah tangga. Sangat bijaksana jika kita telusuri makna tabiat “kebengkokan” tersebut, adalah salah satu ciri keistimewaan perempuan oleh pengaruh fungsionalitas anatomiknya yang mengandung, melahirkan, menyusui dan memelihara anak-anaknya. Yang dengannya, membutuhkan feeling yang kuat, perasaan yang halus, dan daya sensitivitas yang tinggi.

Dari sini, bisa kita pahami bahwa hakikat tulang rusuk yang sempat heboh oleh dengungan adagium para ulama tafsir, ulama fiqh serta exegesit klasik, perlu kita kaji ulang teks-teks yang berkaitan dengannya. Pengaruh tradisi, budaya maupun geografis suatu tempat dan masa, sangat identik pada tendensi lahirnya suatu interpretasi teks teologis. Begitu juga ajaran teologis, iapun memiliki dampak yang sangat besar pada pembentukan pola pikir dan kepercayan suatu kaum. Menyangkut beberapa teks Al-Quran dan Al-Hadits yang bias, sehingga menimbulkan ketimpangan sosial, ekonomi politik dan pendidikan serta memunculkan segregasi yang menistakan perempuan. Itu semua memerlukan usaha reduksi egaliter secara matang . Dengan mengutip istilah Nasaruddin Umar, “ Al-Quran perlu kiranya merombak struktur masyarakat yang berciri patriarki-paternalistik menjadi umat yang berciri bilateral-demokratis. Karena yang menjadi ukuran utama bermasyarakat dunia, adalah sebuah prestasi dan kualitas tanpa dikotomi status, jenis kelamin, kedudukan maupun suku bangsa. Wallahu a’lam bish-showab.

 

 

 

 

 

 

Posted by: Maik | September 3, 2008

Kontemplasi dalam Ambiguitas Realita

[ Divine Wisdom to Turn your Life Upside Down ]

Aku tahu…

Pintu itu sudah tertutup…

Dalam keremangan alam bawah sadar…terlihat samar… pintu itu semakin terkatup rapat..rupanya pemiliknya memilih untuk menutup diri dan bergerak menjauh…dan jauh melintasi tegaknya gerbang asas duo konvensi atas perpaduan konsepsi dan persepsi bersama yang telah lama berdiri kokoh itu. Ternyata dia melangkahinya…melanggarnya..tanpa dengungan suara maupun bisikan kata.

Selaksa jiwa yang dilematis dan ironis…ia hanya berdiri mematung..mencoba bertahan walau harus berdiam lama dalam gelap kabut suasana captive mind-nya…menunggu suatu saat pintu itu kan terbuka untuknya. Ia bukan tamu..bukan..ia adalah bagian yang pernah bernaung dalam pelita istana impian itu…yang sempat tercampakkan oleh beberapa kata dan sikap derisif yang menghentakkan jiwa primordialnya.

Tapi, ia tak peduli. “Saya tidak mengenal proses”, begitu dalihnya. Sepertinya ia mengalami jiwa masokistis karena desakan animo-nya sendiri yang menghegemoni perasaan dan hatinya ketika itu. Ia pun kembali mencoba mengetuk daun pintu yang kini terlihat agak memudar dalam pandangannya…mungkin karena telah lama tak tersentuh belaian tulus jemarinya. Ketika jari itu tergerak mengetuknya lembut, ah…pintu itu perlahan-lahan terbuka..ia tersenyum manis…oh rupanya belum terkunci. namun…ow..ia kembali tersentak !!!spontan pintu itu terbanting keras. sangat keras…hingga tak sadar bahwa kini dirinya telah terhempas keluar…terdampar kesudut degradasi esensialitas diri.

Aku sadar…

Ternyata hati itu sudah terkunci…

Kunci itulah yang menahannya kini…kunci itulah yang mengikatnya erat…istana itu bukan lagi berdiri diatas impian..sekarang ia laksana benteng penguat pijakan idealisme yang telah berhasil diraihnya. Rupanya…disana dia bahagia. Tersirat senyuman indah dan tertawa riangnya bersama sang pelita hakikinya. Walau tergores senyuman getir yang tak terhapuskan…dari sang close mate-nya dulu. Sosok pelukis dan pengukir makna relationship dan fellowship dalam meraih idealisme yang idealis dan ideologis. Yang mungkin…baginya hanyalah sebuah puing-puing memory kusam yang usang.

Aku percaya…

Man propose, God dispose

Aral rintang terlalu menanjak untuk meniti sebuah tangga yang prospektif. Fragmen empiris pahit itu masih terlalu kecil dibanding besarnya arti idealisme. “Sekali-kali batu karang raksasa pun mampu pecah karena kemarahan ombak. Maka tak mungkin jika sekerat hati tak pernah retak atau patah, padahal telah banyak badai yang membenturnya”. Tersenyumlah….bukan karena untuk menghibur diri dari dilematika hidup…tapi karena ikhlas oleh Mahakarya skenario agungNYA.

“ENJOY EVERY MOMENT OF LIFE…”

Posted by: Maik | August 10, 2008

Summertime with Wonderland

Malam musim panas yang begitu menyenangkan! Baru kali ini aku pulang larut malam bersama sobatku Cheny dihitungan malam musim panas tahun ini. Biasanya tiap malam aku memilih berdissosiasi di kamarku ngotak-atik perpustakaan kecilku, ngejar target bacaanku, pencet-pencet keyboard dan ngelembur sampai menjelang subuh. Namun kali ini, setelah dibujuk-bujuk cheny yang sepertinya lagi kangen shopping, aku mengiyakannya.

Selepas sholat Maghrib dan ngaji , tepatnya pukul Sembilan malam, aku bergegas bersiap-siap. Kelihatannya Cheny agak lama menungguku. Kamipun segera menuju daerah Abbas ‘aqad (baca: abas sa’ad) dengan transport bis besar 353. Wah Nampak sekali elitis nasr city dari hamparan mall-mall besar disepanjang ruas-ruas jalanan abas ‘aqad ini. Memang pantas kalau daerah ini disebut kota central modernisnya nasr city. Selesai bayar internet bulanan di toko B-tech, sangat disayangkan sekali jika tak satupun mall-mall itu kita mampiri. Walaupun niat shoppingnya sih ke mall Ragab Son dekat hadiqoh dauliah.

Kamipun mampir sejenak ke toko pakaian 9 LE dan toko-toko disekitarnya. Walau disana terpaksa harus mengkerut dahi dulu melihat prize tag yang terpampang cocoknya bagi para borjuis-borjuis Mesir saja. Tapi enjoy saja menikmati jalanan kota apalagi gemericik dan desiran air mancur di taman kota, mencerminkan adanya kehidupan asri disana. Indah sekali.

Sejam kemudian, kami beranjak menuju mall ragab son yang semakin nampak kemegahan eksotika bangunannya dengan taman wonderland-nya . disinilah lokasi yang menjadi alasan kami dengan pengalaman impressif ini. Awalnya kami belanja di super marketnya di lantai bawah.

Tak lama kemudian, terdengar serentak dentangan music semacam hadrah ala mesir. Akupun segera menuju arah bunyi nyaring gendang itu. Dan wow..ternyata ada pesta wedding. Kulihat ditengah kerumunan orang-orang yang mengitari lantai atas itu, dua orang(orang Mesir)mempelai laki-laki dan perempuannya yang Nampak anggun dengan busana hijab bercadarnya yang masih tertutup rapat itu.

Aku terpana! Baru pertama kali ini aku menyaksikan pengantin wanita dengan gaun bercadar (apa mungkin karena aku aja yang paling jarang ke acara walimahan kali ya…? Jadi kuper gini..He he). Aku raih tangan cheny yang sepertinya agak enggan menonton. “Ini sungguh eksotis! Bayangin, pesta pernikahannya di wonderland. Pasti mereka orang berkelas. i proud of her”, bisikku padanya.

Ternyata dugaanku benar. Tak lama kemudian, dua mempelai pengantin digiring sambil diiringi alunan music romanes menuju gerbang taman ria wonderland yang sekilas mirip miniature dreampark. Tak disangka, Kamipun masuk dalam barisan penggiring penganten. Dan bisa ditebak, akhirnya kami masuk wonderland bi-balasy alias gratis he he. Setelah tengok kiri kanan, ternyata kami lah satu-satunya dua cewek turis dalam rombongan orang-orang eksekutif itu. Kami saling tersipu-sipu..wah PD juga kita ya chen?

Kamipun segera berpisah dari rombongan. Yach biasa…mau relax dulu. “may..air terjun tuh..naik itu yuk, ajak cheny dengan wajah cheerfullnya. Rupanya permainan “harry carry”. Kami menghampiri salah seorang petugas, “ ya ‘ammu..law samaht! Ehna na’uzha bi-nirkab harry carry da. Bi-nidfa’ keim ya’ni ?” (hai paman..permisi! kami mau naik permainan harry carry ini. Bayarnya berapa?), tanya kami antusias. “ aho da salalah. Talata gineh bas” (oh yang ini bilang aja salalah. Bayarnya Cuma tiga pound koq..), jawabnya. Setelah bayar ke loket, kami menuju tempat permainan. Dan wuih..! serasa di obok-obok dengan liku-liku terowongan air. Asyik deh…tapi setelah sampai ke bawah, spontan jantungku berdegup kencang. Aku lemas seketika. Ternyata lemah jantungku belum stabil. “ maaf banget ya chen..kayaknya saya ga bisa ngelanjutin ke permainan yang lain”, ungkapku dengan nada berapologi. Dalam hati aku sedih sekaligus kasihan sama cheny. Dia terlihat masih ingin menikmati permainan yang lebih menantang lagi. Aku persilahkan..tapi dia tidak mau naik kalau sendirian. Akhirnya kami delay dulu.

Dan kembali ke wedding party di aula eksekutif itu. senangnya.. kami disambut ramah oleh resepsionis di pintu ruang utama itu dan bahkan diantar menuju ruangan khusus wanita. “Ternyata lebih confidence di negeri orang ya cen…mana berani kita nyelonong kayak gini di negeri sendiri..he he”, kami pun tertawa renyah. Sesampai diruangan yang dimaksud, sejenak kami tertegun melihat mereka semua singing dan dancing. Termasuk pengantin wanitanya. Yang tentunya ruang itu khusus untuk perempuan saja..no else. Dan ternyata mayoritas mereka adalah para wanita bercadar.” Gabung yuk cen…”, ajakku.

Dekorasi pelaminan yang dihias hijau cerah, hiasan-hiasan dinding dan pernak pernik atap dan hiasan cahaya lampu yang sedikit meniru khas Cina itu menambah keceriaan suasana. Namun sangat disayangkan..kamera digitalku sedang dipinjam teman. Jadi ga bisa memotret pengalaman mengesankan ini( yah..sayang banget..hiks..).

Selang beberapa lama, jamuan datang. Sandwich, gibnah rumy, kue party dan minuman soda mirinda, kehadirannya membuat kami harus rehat dulu. Terlihat wanita yang duduk disampingku, memandang kami aneh. Aku memahaminya. mungkin heran melihat wafidat(orang asing)seperti kami. Langsung aku buka pembicaraan. “ehna tholibah gami’atu Azhar min andunisi. Han-syuf faroh da asyan hani’rif nisa’ di bi ni-ob. Ahe gamilah, hilwah awi. Faroh Misr da kuwais. Hilwah!” (kami mahasiswi Azhar dari Indonesia. Kami tertarik sekali melihat keunikan penganten dengan bercadar ini. Ternyata dia sungguh cantik nan anggun. Pesta pernikahan ala Mesir emang unik dan indah), pujiku. Kulihat dia tersenyum bangga. Kemudian dia mengajak kenalan. Kami bersalaman santun.

Tiga jam tak terasa bermalam ria bersama summertime di villa wonderland. Sepertinya party ini sampai subuh. Jam menunjukkan pukul satu malam. Kami berpamitan pulang setelah mendoakan penganten, “sakinah, mawaddah wa rohmah”.

Alhamdulillah..rupanya jalanan raya Nasr city masih ramai. Maklumlah, malam musim panas dengan suasana sejuk dan temperature sedang ini laksana di musim semi saja. Di perjalanan, aku menanyakan cheny, “ cen kayak baru mimpi aja ya kita? He he..apa kesan yang kamu dapat barusan”? “ saya kagum may…saya liat pengenten wanita itu sholehah banget. Sekian lama wanita itu menjaga iffahnya. Sekaranglah saatnya dia berikan segala keindahannya untuk sang suami. dan kamu liat sendiri, ketika tiba-tiba tadi ada cowok masuk ruangan untuk benerin sound, mereka nampak marah dan segera menutup kembali gaunnya rapat. Subhanallah! Tertutup bukan berarti ekstrim ataupun mengisolasi diri. Diapun bisa bebas berekspresi, beraspirasi, dan beraktualisasi diri dalam garis syar’ie”

Aku mengangguk dalam diam. Kembali kurenungi kata-kata cheny yang sarat impresif ini.

Posted by: Maik | August 3, 2008

The Aura of the Authentic Beauty

Pernah suatu kali aku dihujani berbagai disparase ilu yang menyangkut fisikal pribadiku. Tertohok? Ya..sempat itu yang kualami.

Seorang perempuan yang tercaci sebab fisik. Menjadi bahan perbandingan dengan yang lain. Kurasakan seolah-olah dunia telah memurkaiku. Aku sudah dialienasikan jauh dari kosmositas Tuhan. Sebuah wujud manusia yang tak berarti lagi.

Lama aku merenungi diri..bertanya-tanya, kenapa Tuhan harus menciptakan manusia dengan wajah yang berbeda? Kenapa harus ada yang bagus paras dan buruk rupa? Kenapa tidak bereseragam saja? Dengan macam perbedaan yang ada, kenapa harus ada perbandingan? Aku sadar, aku memang tergolong dari sekian macam manusia yang tak begitu cantik apalagi menawan. Aku wanita biasa yang nyaris tak ada yang bisa aku andalkan sisi fisikku. Badan kecil, kurus, muka biasa dan yah…apalah yang bisa dibanggakan? namun itu semua tak lepas dari rasa syukurku atas nikmatNya. cukup diriku saja yang mau membanggakannya. Olehku, untukku dan dariku.

Biarlah kali ini aku mendramatisir pengakuan ini. Benar juga kritikan itu. Tapi biarkanlah saat ini aku memberi kan alasan atas disparitas yang menohokku itu.

Berbeda memang…tak sedikit para lelaki yang menyukai perempuan dikarenakan kecantikan parasnya yang menyulap, keindahan tubuhnya yang membuta. Namun, tak banyak perempuan yang senada dengannya. Ketulusan, kesetiaan, kepertanggung jawaban adalah point primer yang senantiasa diprioritaskan.

Wahai saudari-saudariku tersayang…mari kita renungi sejenak! begitu banyak saudari kita yang dengan manjanya menjadi boneka mainan para designer-designer tersohor sana. Dengan sukanya mengenakan busana tak layak dipandang. Dengan relanya menjadi bahan tontonan para lawanjenis yang tersenyum sumringah dalam gandrungan hedonis dan kacamata fisikis belaka. itukah penyebab kaum perempuan yang kian merambat pada sebuah dekadensi moral dan peran sosio-kulturalnya?

secara substansial, mereka diciptakan bukan untuk pemuas nafsu. mereka tercipta dengan kognitif intelektual. Akankah kita beralih pada sebuah animo yang hanya dijadikan bahan having fun bahkan bagi para passionate lovers only?

Astaghfirullah! Sadarkah kita bahwa kecantikan bukanlah karunia yang harus di beberkan. Namun ia lebih untuk sebuah anugerah besar yang harus disyukuri berikut dijaga agar tak usang. Ada sebuah ungkapaan estetis” yang tak pernah ditebar, tak kan pernah pudar” ada saatnya keindahan itu sepenuhnya kan kita berikan pada yang berhak secara syar’ie.

Cantik, elok nan mempesona, dalam estimasi paripurna ia terlahir dari aura yang begitu esensial:

  • Untuk membuat bibir nan menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan.
  • Untuk mendapatkan mata indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai.
  • Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan.
  • Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari.
  • Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.

Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, bukan dari paras wajah di pandangan kasat mata, atau kemilau rambutnya. Kecantikan wanita terletak pada mata, cara dia memandang dunia. Cara dia membuka wordview dan menyingkap tirai horison islamic rooted, Terletak pada maturity, kedewasaan dalam pikiran, kedewasaan dalam sikap, kedewasaan dalam menatap realitas. Terletak pada lentera hati yang memancarkan inner beauty. Sejuk dipandang, damai dihati.

Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Melainkan pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih senantiasa memberikan perhatian dan aura cinta yang tulus.

Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu. Tiada kan pernah terpudarkan pun terkuburkan sepanjang perjalanan masa dan usia.

Posted by: Maik | July 28, 2008

an Ignored Point

Siang tadi ada lomba pidato dua bahasa. Bahasa arab dan inggris. Dalam rangka pekan keputrian kekeluargaan di WIHDAH-PPMI. Awalnya aku disuruh kekeluargaanku untuk jadi utusan pidato bahasa inggris. Spontan aku menolak mentah-mentah. Pasalnya, aku illfil sekali kalau sudah disuruh ngomong bahasa inggris. Dua tahun berpisah dari ekosistem pondok yang biasa forthnight dua bahasa popular itu, mungkin sangat niscaya pada implikasi minimnya fluensi English speaking ku. “Iam sprue in English”, begitu ungkapan penolakanku ke mereka. Apalagi dalam benak ini, serasa sesak sekali dengan bayangan-bayangan tugas yang menghujaniku. Belum lagi tulisan jurnal yang masih belum kelar-kelar dalam garapan dua bulan ini. Lagi BT kali ya….he he. Akhirnya tanpa persiapan hafalan yang matang, selain juga karena SK yang tiba-tiba, aku disuruh pidato bahasa arab.

Sepertinya memang patut disalahkan atas anggapan apatisku terhadap pidato. Aku tersenyum geli seraya sedikit mengejek, “ah pidato..kayak anak kecil aja..seharusnya kan sudah saatnya untuk aplikasi lomba dakwah lapangan atau retorika dan ga usah pke formalitas pidato segala..”. dari asumsi miring ini, membuatku ogah-ogahan dan masih saja aku sibuk baca tanpa mau menghafal teksnya dengan sungguh-sungguh. padahal sudah aku persiapkan teks nya jauh hari sebelumnya. Tepatnya pukul satu siang, aku datang ke aula KSW dan hanya membawa niat sekedar partisipasi saja. Walau sebenarnya sudah aku persiapkan latihan dan hafalannya meski belum menguasai seluruhnya.

Setiba giliranku untuk membawakan pidato, tiba-tiba di pertengahan penyampaian, aku lupa. Ya..aku tersentak pada diriku sendiri. Lupa dipertengahan menjadikan rintangan besar untuk sampai pada garis finish. Akhirnya, begitulah! Sangat mengecewakan.

Aku pulang membisu. Kemudian melangkah perjalanan menuju KBRI di Tahrir untuk mengajukan proposal jurnalku berdua bersama partnerku. Diperjalanan, aku merenungi tentang diriku yang menjadi sentris akal dan jiwaku saat ini. Belum pernah aku merasakan bias kecewa diriku dalam pidato. Karena selalu aku persiapkan dengan matang. Tapi kali ini, aku meremehkannya. Malu!!!ya aku malu dan sangat malu terhadap diriku sendiri. rupanya eksperimen masa kecilku tak ada sisi profitabelnya sama sekali. Sekilas aku teringat sesuatu. Sebuah pesan backing up dari seseorang. Seorang yang wujudnya kini telah jauh dan jauh sekali. Tapi segala memoar itu masih selalu dekat dan dekat tak terlupakan.

Aa tuh lebih suka kalau de pintar pidato, ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu syari’ah, bahasa arab dan inggris, pergaulannya baik ama setiap orang, bisa menjadi maroji’ di masyarakat, memimpin pengajian, pokoknya sesuatu untuk bekal jadi orang besar. Apalagi sekarang saatnya perempuan berkiprah di dunia. Siap ga? Jangan sia-siakan waktu untuk berleha-leha. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang berguna. Mumpung masih di Mesir, gudangnya ilmu. Keruk semua ilmu untuk bekal menjadi orang besar. Kecil orangnya, tapi besar jiwanya dan lautan ilmunya”, begitu nasehat brilliantnya di sela-sela kemalasanku dulu. Betapa dia menaruh harapan besar agar aku bisa berkiprah didepan khalayak umum. tak hanya sekedar pesan, tapi sungguh motivator utama bagiku yang sarat membakar semangat berapi-api. Seorang cerminan masa depan, idealis dan sangat pro-akademis. Selalu berpandangan dan berafirmasi positif pada setiap geliat keoptimisan. Kekuatan itu muncul drastis. Where are you right now? Are you there?, Still wanna striving to back me up once more?

Nota kecil catatan abadi itu masih erat dalam genggaman. Sepulang dari Tahrir, aku turun dari bus ke Hadiqoh Dauliah dan memilih jalan kaki lonely menuju daerah Tamin. Ingin menikmati suasana summer Kairo di sore hari. Tak ku gubris pandangan orang-orang Mesir dijalanan yang mungkin memandangku aneh. Berjalan di trotoar sambil baca buku, sebuah pemandangan yang masih tabu mungkin bagi mereka. kecuali saat-saat examination days. Tidak seperti nuansa pondokku dulu yang mewajibkan pegang buku kemanapun kaki melangkah. Taking a walk Sembari membaca pesan itu berulang-ulang. Dan merenungi banyak pesan nasehat lainnya yang senantiasa terukir rapi dalam muara hati dan catcilku. aku hanya sibuk ber otosugesti. pidato adalah salah satu medium dalam seni wicara, kekuatan mental sekaligus means of communication. terngiang petuah guruku dulu, bahwa dalam berdakwah, setidaknya kita memiliki tiga sarana besar. yaitu dakwal bi al-kalam (dengan lisan), bi al-Qolam( dengan tulisan pena) wa bi al-hal (dengan perbuatan). urgensitas seni orasi ada di point teratas.

Kekecewaanku bukan karena kekalahanku. Tapi karena diriku yang sudah mengabaikan kepercayaan itu. Aku yang terlalu cuek dan meremehkan. Tendensiusku yang fanatis.

Akhirnya, aku harus berapologi pada semuanya. Pada mereka yang telah mempercayaiku tapi aku yang mengalienasikan trusteeship itu. Pada dia sang memorabel. Pada diriku yang yang lalai akan anugerah agungNYA. Pardon me!

Posted by: Maik | July 27, 2008

Filosofi Bola

[Dimuat di Majalah Afkar PCI-NU Mesir, edisi Juli 2008]

Oase peradaban baru manusia telah merambah ke semua lini kehidupan, termasuk merambah ke modernisasi dan globalisasi. Dan sepak bola pun ikut dijarahnya. Ia memiliki andil dalam mewarnai dunia.

Bagaimana tidak, hingar-bingarnya telah mampu membangkitkan naluri manusia dan masyarakat dunia. Bahkan para pecintanya datang dari santereo dunia demi mendengungkan semangat kesetiakawanan dan empati terhadap simbol-simbol negara yang mereka jagokan.

Tidak hanya itu, media informasipun cukup ramai dijejali berita-berita bola. Cukup menghebohkan. Para penggemarnya datang dari semua garis sosial kemanusiaan. Sehingga, tak jarang tema bola selalu terselip dalam obrolan sehari-hari. Lebih-lebih tahun 2008 ini yang baru saja dihebohkan oleh piala Eropa 2008.

Betapa sepak terjang pengkembangan bola dalam kancah peradaban dunia begitu memuaskan. Pantaslah bola dielu-elukan sebagai “agama baru” yang mendunia. Tergambar jelas oleh sajian-sajian ritual yang menggema, yaitu dengan ditandai munculnya Piala Dunia, Piala Eropa, Liga masing-masing negara, Liga Champion, Piala UEFA dan lain sebagainya.

Sungguh nyata, persahabatan dunia dan persekutuan team work sejatinya mampu dirangkul oleh model permainan macam ini.

Sedemikian besarkah pengaruh bola bundar yang dikemas dalam permainan yang berlangsung dalam durasi 90 menit ini, tak henti-hentinya menghipnotis jutaan publik supaya jatuh kedalam permainan uniknya. Itulah bola. Di sana banyak mengandung sisi filosofis kehidupan yang mengagumkan.

Dilihat dari prinsip setiap pemainnya yang terdiri dari sebelas kepala, masing-masing memegang peranan penting untuk sama-sama meraih kemenangan dari lawan. Karena setiap individu diberikan kepercayaan penuh pada posisinya dan harus ada kerjasama tim, bukan individualistik.

Bola mampu menciptakan suasana keakraban dan kekompakan dalam satu tim. Sehingga, fanatisme pada kelompoknya lebih ditekankan guna meraih persaingan yang matang. Maka, kemenangan yang nantinya diraih, bukan menandakan kehebatan kapten tapi kebersamaan tim. Bentuk kerjasama di dalam tim adalah sarat diprioritaskan. Di sini juga persamaan persepsi dan integrasi visi dan misi dalam dunia bola harus diutamakan.

Kemudian, jika dipantau dalam segi aturan mainnya, permainan dikatakan berhasil jika bola dapat masuk goal. Sejatinya, ia melatih kesabaran, menuntut ketelitian, dan melahirkan ketangkasan juga kecerdasan bermain. Patut ditiru filosofi usaha di dalamnya, yaitu melatih ketekunan. Sikap dalam mengambil keputusan dan kesabaran yang membaja juga perlu ditekankan.

Bola itu bundar bergulir-gulir kesemua arah. Sinyal akan potret fenomena kehidupan yang berubah-rubah. Hal ini menjadi pacuan spirit seorang pelatih Jerman Joachim Loew dalam usaha menyiapkan dan memicu semangat pasukannya. Seperti halnya pelatih Turki yang sempat kehilangan sembilan pemain utamanya, ia senantiasa mengingatkan anak buahnya supaya tetap awas dan waspada.

Gambaran filosofis yang telah dipaparkan tadi, menandakan bahwa bola tidak hanya digemari karena ia bentuk olahraga atau perlombaan saja, namun lebih dari itu, sistem permainannya yang mendecak kagum itu telah mampu membius para anak manusia untuk mengimplementasikan sisi positifnya dalam warna kehidupan yang ada.

Lebih dari itu, perlu disadari, bahwa permainan sepak bola modern ini nyatanya bergerak untuk menghilangkan sekat negara, ras, tradisi maupun aspek kewilayahan. Seperti yang kita lihat di Piala Dunia 2006 lalu, Para supporter yang hadir langsung ataupun penonton dalam siaran stasiun televisi dan juga para pemburu dan pembaca di media cetak, kesemuanya hadir dalam benak yang didesaki gelora semangat untuk memotivasi sambil lalu meneriakkan semangat berapi-api untuk tim idolanya dari jauh.

Berbondong-bondongnya para supporter yang hadir dari berbagai negara dan ras ini, menghilangkan rasa termarginalisasi sekat negara. Permainan ini, secara tidak langsung, mendidik anak bangsa dalam menciptakan kerukunan berbangsa dan keakraban antar bangsa sedunia.

Tak diragukan lagi, sulapan hebat muncul dari aura bola kecil ini. Pertandingan sepak bola tidak hanya mengasyikkan untuk ditonton, namun juga ia menyerap banyak pelajaran kehidupan bagi kita. Lantas, sejauh apakah nilai-nilai positif tersebut menjalar dalam tubuh Islam sendiri? Bagaimanakah pengaruh ajaran Islam sebagai rahmat seluruh alam terhadap multikulturasi peradaban dunia yang bahagia?

Dalam salah satu ungkapan yang pernah dipaparkan oleh Cak Nur, bahwa Islam adalah agama yang paling banyak mencakup berbagai ras dan kebangsaan, dengan kawasan pengaruh yang meliputi hampir semua ciri klimatologis dan geografis. Dari sini, maka Islam harus mampu menembus peradaban dunia lebih dari pengaruh yang terpancar dari permainan bola tadi. Semoga bermanfaat!

Posted by: Maik | June 30, 2008

an Inspired Song

حلوة يا بلدي

Indahnya negeriku…

كلمة حلوة و كلمتين حلوة يا بلدي

Seuntai kata demi kata kan kupersembahkan untukmu wahai negeriku tercinta

غنوة حلوة و غنوتين حلوة يا بلدي

Dengan iringan senandung lagu..hanya untuk negeriku nan elok dan mempesona

أملي دايما كان يا بلدي إني أرجع لك يا بلدي

Impianku selalu ingin kembali dalam pangkuanmu

وافضل دايما جنبك على طول

Dan ku merindukan untuk berada disisimu selamanya

ذكريات كل اللي فات فاكرة يا بلدي !

Kenangan-kenangan diantara kita yang telah berlalu..oh..bayangkanlah..!

قلبي مليان بحكايات فاكرة يا بلدي !

Hati ini senantiasa dipenuhi hiasan ceita-cerita dan memory antara kita berdua

أول حبي كان في بلدي مش ممكن أنساه يا بلدي

Kau-lah cinta pertamaku..yang tiada kan pernah aku lupakan

فين أيام زمان قبل الوداع ؟

Dimanakah hari-hari sebelum perpisahan kita dulu..?

كنا بنقول إن الفراق ده مستحيل

Pernah kita katakan, bahwa tidak akan terjadi perpisahan antara kita selamanya..

وكل دمعة على الخدين كانت بتسيل

Kini..hari-hariku hanya dipenuhi oleh air mata kesedihan yang selalu mengalir di pipiku

مليانة بأمل أن احنا نبقى موجودين

Air mata impian mengharap kita akan bersama lagi..kebersamaan yang kekal abadi

في بحر الحب على شطين

Bersanding bersama ditepi lautan cinta

Selayang pandang dari lagu ini :

Lagu ini diciptakan berikut dinyanyikan oleh seorang pengembara. Dia berkebangsaan Mesir yang sekian lama meninggalkan negeri tercintanya demi menuntut ilmu di negeri sebrang nun jauh disana…

Setelah dirasa cukup pengembaraannnya, ingin rasanya berjuang dan mengabdi untuk negeri tercintanya namun apa hendak dikata impiannya harus pupus karena beberapa kendala yang menghambatnya untuk kembali dalam pangkuan tanah air tercinta. Akhirnya, dia ciptakan sebuah lagu…persembahan khusus demi rindunya yang membara dan besarnya jiwa nasionalismenya pada negerinya. Betapa apresiasi besar atas munculnya lagu indah ini…sebuah lagu asyik, singkat, diwarnai klip pemandangan alam wisata khas negeri Mesir yang sarat akan kekayaan kultur dan sains ini. Yang akhirnya menjadikannya sebagai salah satu lagu nasionalisme Mesir.

Benang merah yang dapat ditarik dari lagu ini, mengingatkanku akan niat awal, tujuan utama dan pertama ke negeri orang. Yang sejatinya, aku adalah duta bangsa yang dituntut untuk menggali potensi meraih prestasi demi mengharumkan nama ibu pertiwi. Dan tentunya masyarakat akan selalu menunggu ku kembali ditengah-tengah mereka. Memandang ku dengan sejuta harapan. Senantiasa menanti siraman ilmu yang sedang aku timba. Sebagaimana disinggung dalam liryk lagu ini, betapa keinginan hati mengerahkan rasa abdi yang sedalam-dalamnya, besar harapan ini untuk kembali dengan bekal yang telah menumpuk, apapun dia korbankan. Namun takdir memisahkannya. Raga terbelahkan, jiwa tetaplah satu. Karena disanalah tanah air yang menumbuhkanku, disanalah lahan subur tempat aku bercocok tanam ilmu.

Walau ironi sedang melanda bangsaku Indonesia tercinta…apalah bekal yang akan aku persiapkan nanti..?

pembaca bisa melihat klip lagu ini, serta pengunjung dapat menikmati ragam obyek wisata dan alam peradaban mesir..sang “mother of the world” ini di:

URL= http://www.youtube.com/watch?v=gKlpwG3f4HE

Posted by: Maik | March 17, 2008

خريجات الأزهر وإسهاماتهن

Kolom Terbaik Pertama versi Lomba Menulis Kategori Kolom Bahasa Arab WIHDAH-PPMI, Maret 2008

يظهر حاليا أن الأزهر من أبرز الجامعات لكليات الدراسات الإسلامية الوحيدة فى مصر. لقد اشتهر اهتمامه الكبير بتكوين شخصية طلابه الذين يدرسون فيه. نحن الإندونيسيون، كطلبة الأزهر نرى أن جامعتنا يتناول دورا هاما فى إعداد خريجه فى مساهمة بناء القوة العلمية وبالأخص عند عودتنا إلى إندونيسيا حيث كانت هي مجالنا فى خدمة الأمة وتطبيق العلوم الإسلامية.

ومما لا شك فيه أن سمعة الأزهر قد ذاعت شهرتها غو أغلبية الدولة الشائعة فى العالم شرقها وغربها قاطبة. واتضح صِيت هذه الشهرة لأكبرها سنا. ومما جدير بالذكر أن الأزهر يشتهر أيضا كجامعة مرموقة من حيث لاتقل شأنا فى إسهامها الأمة لامثيل لها. وذلك، بلا أدنى شك، ينتج من وليدة الخريجين والخريجات الفعالة والعلامة وتشجيعها للعلماء والفقهاء والباحثين كل ممر الأزمان.

نظرا إلى أهدافه الرائعة للتقدم الدراسات الإسلامية وتحقيقا لأغراضها الموجبة، فللأنسب على الخريجات على وجه الخصوص يقمن يإجراء التعمق والتبحر فى العلوم الإسلامية و الخوض فى وسع خزانة تراثنا الفكري الإسلامي حوضا عميقا. وهذا يؤدى إلى وصول درجة جودتها فى تدعيم الإنتاج العلمي حسب أملها الأساسي كطلبة العلم.

ومن اللوازم أن ذلك لا يحصل إلا إذا اتخذن مصر كعبة القصاد ومركز الأدب الباهر التى بها تقوم جامعة الأزهر الأبهة. ومن الأسف أن واقعنا الآن، كانت أكثيرة الطالبات الوافدات يعقدن الأمل حيث يعتمدن كثيرا بمجرد المواد الجاهزة فى الجامعة فقط دون الزيادة. هن يستغنين كثيرا عن التجربات والعلوم الإسلامية المنتشرة حوالينا بمصر. ففى بعض الإحصائيات أن نسبة اللاتى يهتمن بذلك لا تصل إلى 40% مع أنهن عشن فى أرض التراث العربية الإسلامية.

لذا يبقى وجوب طرح الحل لهذه الإشكالية المعقدة. نرى سويا أننا فى أمس الحاجة إلى غرس “حب العلم”, معناه لا بد لنا أن نشجع وأن نطبق النشاطات العلمية فى نفس الطلبات الوافدات لاستيلاء على العلوم على مختلف أصنافها. عليهن أن يجتهدن فى بحث الكتب معاصرة كانت أم أصالة (التراث) مالم يتعلمن فى الجامعة. وهذا يعتبر عن تبرير لاتساع المفاهيم عن القضايا عصريا وقديما فى ذهنها.

والحق أن علينا أن نحرص الخبرة والعبرة الفعالة الجادة مادمنا على وطئ هذه الأرض المفتخرة تزوادا لمقابلة مجتمعنا ومحاولة لمواجهة نهضة أمة إندونيسيا وفقا لظروفنا المستقبلة. بالاضافة إلى استيفاء الحاجة وتحسين الحالة للمجتمع قدما إلى الأمام فالخبرة والعبرة الفعالة تمارس مهامها فى جميع مجالات الحياة. وهى ضمن المجتمع على تفعيل الشعب وترقية النشاطات المستفيدة. حتى أصبح المجتمع متطورا فى مجالات الحياة. فما لنا إلا أن نحرص الخبرة والعبرة الفعالة لإصباح دور الخريجات فى المجتمع دورا عظيما وأكبر من قبل. إذ كل فرد من أفراد المجتمع لديه اعتراف لفعالة الخريجات بجامعة الأزهر.

وفى إطار نجاح هذه المساعى فى تكوين دور الخريجات بجامعة الأزهر فى المجتمع تتسلحن هن بخزانة العلوم والأسس الدينية الإسلامية وذلك أن جامعة الأزهر إحدى من الجامعات الموجودة فى هذه الحقبة العولمة التى تتأثر فيها العلوم والفنون وجميع التطورات العلمية والعملية التى كان لها آثار كبيرة فى إعداد الخريجات المستوليات على العلوم والفنون المتنوعة. إذن تبحر طالبات الأزهر فى العلوم المقررة لهن واجب بجنب القيام ببحث الكتب التى لايتعلمنها فى جامعتها.

ومن أهم ماتجدر الإشارة إلينا أننا فى عصر التقدم العلمى وطبقا على مسيرة العصر المعاصر، تبدو إسهامات المسلمات كخريجات جامعة الأزهر فى الحضارة الإنسانية والثقافة المتقدمة كانت ذات أهمية بالغة. لتقدم الزمان وما فيه من العراقل والمشاكل التى لايمكن تحليلها إلا أن تكون إسهامات المسلمات فى الحضارة والثقافة فى حيقيقتها. فمن خريجات الأزهر هنا لديهن دور عظيم فيها. ومن المعروف أن التيار قابل للتغيير عرضة لدعامة النضال. فلتكن مؤهلة لنيلها فى مختلف الميادين.

وختاما، فعالية الخريجات بجامعة الأزهر فى المجتمع لاتمكن حصولها إلا أن تبني على الخبرة والعبرة الفعالة الجادة. فالاستعداد والاعداد فى توفر خزانة التراث الإسلامي يوصل الطالبات إلى كونهن خريجات لهن دور عظيم فى بناء المجتمع فى الأيام المقبلة.

Posted by: Maik | November 15, 2007

Mahasiswa, Mari Kita “Membaca”!

[Dimuat di Buletin Ukadz, Edisi VIII/15 November 2007]

Bisa disimpulkan dunia mahasiswa adalah dunia membaca. Sebuah dunia yang simpel tapi mengesankan. Simpel karena membaca bukan pekerjaan memberatkan, modalnya cuma buku yang cukup ringan dibawa tangan, mengesankan karena isi buku memberi kita nilai pengetahuan, merubah otak kita jadi bermutu.

Membaca tidak akan menganggu aktivitas kita sehari-hari. Kita bisa melakukannya tanpa perlu menundah agenda lain yang kebetulan berbarengan ketika kita sedang membaca. Kita bisa membaca sambil tidur-tiduran, ketika naik bus, nunggu giliran tobur, saat ngafe dan lain sebagainya.

Membaca tak ubahnya proses menemukan perspektif baru untuk meng-“upgrade” perspektif lama yang ada di intelek kita. Ketika seseorang membuka buku dan membacanya ia harus “sadar” bahwa dirinya siap digugat oleh perspektif baru yang tak diketahuinya. Dengan begitu pengetahuannya semakin bertambah.

Beruntunglah kita yang maniak baca, balasannya pasti ada. Ia berhak menciduk ilmu di buku yang ia baca. Keuntungan membaca merubah hidup kita serasa penuh wawasan. Pengetahuan yang kita kumpulkan dari bahan bacaan akan memperkaya akses keintelektualan kita.

Di negeri kaya literatur ini, naluriah kemahasiswaan kita yang haus ilmu sebaiknya digunakan untuk membaca buku sebanyak-banyaknya. Di mana lagi ada kesempatan terbaik untuk membaca selain di sini. Mumpung hidup di Mesir. Jangan sampai kesempatan singkat kita terlewat sebelum membaca literarturnya.

Anis Manshur, penulis produktif Mesir, menilai membaca adalah ruh kehidupan, untuk itu ia tekun membaca setiap hari. Masa mudanya dibuat untuk membaca; habis lahap satu buku pindah ke buku lain. Membaca buku ibarat orang bernafas yang membuatnya tetap bertahan hidup. Baginya, orang yang tidak membaca samahalnya tak bernafas, alias mati. Anis mengakui agar orang terus hidup ia wajib membaca.

Manfaat membaca membuat seseorang kaya wawasan dan luas cakrawala. Tak ada orang ada kaya ide dan gagasan kecuali diawali dengar gemar membaca. Figur Anis Manshur kecil, dalam buku Âsyû fî Hayâtî (Mereka yang ada di Kehidupanku) bercerita hari-hari dininya dihabiskan bersama buku. Ia selalu sibuk membaca.

Di usia senjanya sekarang, ide Anis mengalir dengan derasnya di koran-koran Cairo. Beliau menjadi kolomnis tetap di harian Syarq al-Awsat. Dengan sadar semua kita mengakui bahwa ide Anis yang berhambur-hamburan itu adalah pancaran atas ketekunan dan banyaknya buku yang pernah ia baca di masa mudanya.

Menyadari akan urgensitas membaca, pemerintah Mesir tak jenuh-jenuh memasang iklan di berbagai tempat stategis memikat warga “gila” membaca. Sebab membaca adalah “obat mujarab” membuat seseorang jadi berpengetahuan. Itulah cara Mesir membangun peradaban negaranya.

Intinya, tidak boleh tidak mahasiswa harus membaca karena itu “dunia primordial” mereka. Identitas seorang mahasiswa dinilai sejauh mereka kreatif membaca. Apa arti mahasiswa kalau tidak membaca. Memang, akhir-akhir ini penegasan membaca bagi mahasiswa penting ditekankan, lebih penting lagi karena kurang 2 bulan kita siap-siap menghadapi ujian term pertama. Mari kita biasakan membaca.

Older Posts »

Categories