In memoriam


(Dalam kenang, aku merajut cita)

Sejak kepiluan itu menyelinap di kalbu, dimulai dari wafatnya Gusdur (tokoh demokratis Indonesia), Sayyid Tantowi (tokoh Moderat al-Azhar), Ustad Sutadji (guru ku yang hebat dan penyayang dengan kaum perempuan, mantan direktur gontor putri satu), kini kesedihan itu serasa memuncak, saat sang kakek tercinta, tokoh tauladan spiritual, intelektual, sosok teduh, sederhana, dan penyabar itu harus meninggalkanku, tanpa sempat ku mampu membaktikan diri merawat dan menemani masa-masa tuanya.

Dalam renung aku berpikir (berkontemplasi); seiring waktu berlalu, tokoh-tokoh dunia rasanya nampak mulai berguguran. Seiring bergantinya fase, figur-figur teladan pun mulai menjauh dari dinamika yang dilakoni. Dalam resah aku mengadu; Rabb..inikah sunnah MU? Dalam realita pilu terkadang aku ingin mengelak, aku masih ingin masa itu terulang kembali. Dalam sedih aku menjerit, ‘aku masih ingin mengeruk lembah ilmu dari mereka’ :(

Mengingat kematian, sarat menyiratkan makna esensial dari hidup itu sendiri. hidup hanyalah sekali, setiap individu hanya diciptakan satu kali, tak ada inkarnasi. Maka, berbuatlah yang berarti untuk dunia ini. Sebagai penyandang gelar ‘khalifah’, manusia memiliki kewajiban penuh untuk memperbaiki dunia, memimpin dan mengarahkan makhluk bumi ke arah kemajuan dan pencerahan.

Kembali kuteringat kata-kata pepatah, “kalau menanam jagung, diperlukan waktu tiga bulan. Menanam kelapa, diperlukan waktu tujuh tahun. Tetapi, menanam manusia, diperlukan satu generasi”. Untuk mengubah karakter umat manusia, diperlukan investasi waktu sekitar 25 tahun. Apa yang ditanam kini baru diketahui hasilnya baik atau buruk 25 tahun mendatang.

Guru-guru ku tercinta…semua ide, gagasan, akhlak, prinsip dan cita-cita agungmu akan selalu terpatri dalam relung hati dan terabadikan dalam spirit jiwa ini..forevermore…amin

Mengenang sosok tauladanku, kakek-ku tercinta

“Utamakan Sholat dan berpikir”, Sebuah prinsip kuat yang sarat makna ini rupanya sangat kental ku temukan pada sosok tua renta, yang akrab kupanggil ‘Batuan’ itu. Aura teladan akhlak Rasulullah SAW sarat terpancar dari kepribadiannya.

Karakter relegius dan jiwa spiritual yang tinggi layak aku sematkan padanya. Sholat wajib lima waktu selalu dilaksanakannya tepat waktu dengan berjama’ah di masjid. Begitupun, sholat Sunnah malam, muakkad maupun ghairu muakkad tak pernah lalai di lakukan. Dzikir, wirid, membaca Al-Qur’an setelah sholat adalah ritual yang tak pernah absen disetiap rangkaian waktu yang dilaluinya.

Menginjak umurnya yang sudah semakin tua, pantaslah kiranya anak-anaknya yang lebih banyak merantau ke luar kota itu saling berebut untuk memintanya tinggal dirumah mereka. Namun, dengan halus ‘batuan’ menolaknya, dengan satu alasan; “aku tak mau berpisah dengan masjidku”. Subhanallah…disaat waktu semakin memakan usiamu, ku kira sudah saatnyalah anak-anakmu melayanimu. Tapi kau justru memilih untuk melayani Tuhan, mengabdi padaNYA sepenuh waktumu.

Dalam sebuah kesempatan, disaat sedang menjenguk salah satu putrinya (ibu saya) di Bangkalan, disaat waktu menunjukkan sekitar se-jam menjelang subuh, kudengar sayup-sayup lantunan sholawat Nabi dari lantai bawah. tanpa pikir panjang, aku langsung beranjak bangun, mencari tau siapa gerangan empunya suara yang mengalun lembut dimalam yang bagiku masih petang ini. ya Allah…betapa mengharukan, ternyata dia adalah kakekku, laki-laki setengah baya yang khas dengan sorban dan jubah putih bersihnya itu. Dalam hati aku menangis, betapa aku cucunya yang berada dibangku pendidikan agama ini sangat memalukan, yang masih selalu memanjakan malam dengan balutan selimut.

Disela-sela nasehatnya, ummi ku selalu menceritakan kisah tauladan kakek nenek semasa hidupnya. Ummi juga kerap berpesan, rajin-rajinlah bersedekah dengan mengatas-namakan kakek nenek yang telah meninggal. Ketika itu, spontan aku bertanya; “lho ummi..koq buat kakek nenek? Bukannya itu dari saku ku?”, ujarku mengelak. Dengan lembut ummi menjawab, “putriku sayaang, kakek nenek harus selalu kita doakan, kita kirimkan bacaan al-Qur’an, amal kebajikan, sedekah jariyah, agar kuburannya selalu diterangi cahaya Rahmat Allah. Jangan cemas, percayalah bahwa niat baikmu itu niscaya akan dibalas juga oleh Allah SWT”, begitu tutur ummiku bijak. Mungkin dari didikan kasih sayang inilah, melahirkan kecintaanku yang mendalam pada kakek nenekku.

Sosok pemikir, itulah satu sinyal dari sekian kekagumanku pada ‘Batuan’. Berdiskusi adalah aktifitas yang sangat digemarinya. Berkisah telisik histori kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat, bercerita tokoh-tokoh pahlawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia, berdialog tentang problematika fiqh dan hukum agama, merupakan rangkaian isi perbincangan yang tak luput dari rekaman ingatanku ketika bersama beliau dimasa kecil. hal ini menyiratkan kegemarannya membaca dan kecintaannya pada ilmu.

Dari pancaran jiwa kharismatiknya, beliau tak pernah bersikap memaksa atau menggurui meski kepada anak dan cucunya sendiri. nasehatnya selalu bergaya analogi. Cerita-cerita edukatif tapi lucu menggelikan adalah satu motif dari ajarannya, seperti kisah rakyat cerdik kritikus dengan penguasa pintar tapi bodoh, di masa raja Harun al-Rasyid  dan sang penyair Abunawas. (He3…aku merindukan cerita-ceritanya yang lucu dan mendidik).

Sewaktu kecil, aku juga sering menemaninya berjalan, seperti perjalanan menyeberang dari Surabaya ke Bangkalan-Madura. Atau saat aku berlibur (liburan pondok) ke rumah beliau di desa Sampang. Kupikir, inilah kesempatan emasku untuk banyak bertanya kepada beliau tentang ilmu-ilmu agama dengan lebih praktis, kritis, dan dialogis, dibanding yang kudapatkan dipondok yang ajarannya masih bersifat normatif dan formalis.

Meneladani akhlak Rasulullah, itulah pedoman hidup yang mencerminkan setiap gerak aktifitasnya. Kakekku adalah orang biasa (bukan kyai yang memiliki pesantren) tapi justru dikerumuni anak-anak muda untuk menyantri kepadanya. Sikapnya yang ramah, pola hidupnya yang sederhana, tutur katanya yang lembut, khazanah keilmuannya yang luas, sudah  cukup disegani oleh masyarakat luas.

“Setiap kata-kata lisan yang selalu mengandung hikmah dan menyejukkan adalah karakter Rasulullah SAW”, begitu maroji’ yang senantiasa didengungkannya. Meski praktik poligami juga dilakukannya (he2), “karena Rasulullah pun melakukannya, asal dengan niat dakwah bukan berlandas nafsu”, sanggah beliau dengan seulas senyum. Bagiku beliau benar-benar meneladani Rasulullah ketika beristri sayyidah Khadijah hingga wafatnya, yang kemudian berpoligami dengan istri-istri lainnya. Praktisnya,  “berpoligami setelah wafatnya istri pertama”.

Profil hidupnya begitu menakjubkanku. Hingga suatu waktu, kesehatannya mulai terganggu. sejak dua tahun yang lalu ‘Batuan’ terserak penyakit stroke dan lumpuh. Membuatnya harus terbaring ditempat tidur tanpa mampu bergerak banyak. Dalam keadaan kritis ini, bukti bakti dan pelayanan seorang anak tak lagi bisa ditepisnya. Dan dua tahun ini pula beliau tak lagi mampu beritual penuh di Masjid kebanggaannya.

Dan satu lagi kekaguman dan kebanggaanku padamu wahai kakekku tercinta..saat masa-masa kritismu, kudengar satu permintaan terakhirmu menjelang akhir hayatmu, “aku ingin melihat (mengunjungi) masjid-ku”. Subhanallah…ketergantungan hatimu dengan ‘masjid’ begitu menguat, hingga menjadikannya satu-satunya tujuan menjelang detik akhir nafasmu. Alhamdulillah…puji syukur hanya bagi Allah…dari jauh aku dapat merasakan; “betapa ribuan malaikat menyertaimu, saat detik-detik terakhirmu kau berbahagia telah melepas kerinduan hati setelah dua tahun kau hanya terbaring lemah. Kini, dengan pesona senyum indahmu, kau dapat memandang masjid-mu meski sejenak, hingga beberapa jam kemudian, Allah memanggilmu dalam pelukan rahmatNYA..(amin).

Begitulah seulas kenangan ku dengan kakek tercinta. Meski kini aku tak punya kakek dan nenek lagi di alam realita, namun, aku memilikimu selamanya di sepanjang doa dan muara hatiku. Doaku selalu menyertaimu..semoga segala amal kebaikanmu diterima, dosa-dosamu diampuniNYA, Ridho Allah menyertaimu didunia dan akhirat..amin.

[Teruntuk kakak dan adik-adikku tercinta…mari kita teladani budi baik yang telah diwarisi oleh kakek-nenek kita. Mari kita doakan beliau serta sanak saudara yang telah meninggalkan kita. Sabda Rasulullah SAW; *jagalah diri dan keluarga kita dari api neraka*]

Kairo, 19 maret 2010

Salam baktiku;

Ba Maik🙂


4 thoughts on “In memoriam

  1. subhanallah.., ketika membaca : “Mengenang sosok tauladanku, kakek-ku tercinta” dan skilas isinya, apa yg penulis alami, persis dg apa yg saya alami tp, beda nya adalah “dia bpk-ku” beliau jg telah tiada. Alhamdulillah ketika menjelang sakaratul mautnya kbr dr indo: diakhir2 hayatnya di rmh sakit dg tubuh yg tak berdaya tuk beranjak dari ranjangnya, tp ghiroh u/ sholat berjamaah di masjid tdk berhenti, itu sebuah rutinitas & sudah menjadi kebiasaan beliau disetiap 5 waktu walaupun dlm keadaan yg capek habis kerja, dan selalu di shof pertama, melihat rajin dan semangatnya sholat berjamaah menjadikan ksalutan tersendiri bagi kami sekeluarga..juga kebiasaan beliau adalah tiada hari tanpa baca Al qur’an sehabis maghrib dan subuh, mudah2an rutinitas ibadah beliau menjadi hujjah dihadapan ALLAH.. amin..

  2. terpesona sekali aku dengan cerita-cerita diatas, ingin sekali rasanya kegiatan rutinitas seperti itu kurasakan kembali, kesibukan menjadi kambing hitam dalam hidup ku saat ini…..ya Allah kuatkan hati ini untuk selalu berazam kepadamu…..dan cinta terhadap rumahMu

  3. Khushushon ILaa Arwaahi Mbah Margono (KH. Abdul Fattah) Bin Mbah Supeno… Bin mbah Rosyid… Wa Silsilatihim Wa Usulihim Wa Furu’ihim …. Syai’u Lahumul Faatichah …. :

    اغفرله وارحمه وعافه واعف عنه واجعل الجنة مثواه.

    اللهم لاتحرمنا اجره ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله
    اللهم اءجرنا في مصيبتنا واخلف لنا خيرا منها.

    له الفاتحة ………..
    اعوذُ بِاللهِ منَ الشَّيطاَنِ الرّجيم
    بِسْمِ اللهِ الرَّحمنِ الرَّحِيْم ۞ أَلحَمدُ لِلّه رَبِّ العَالَمِين ۞ ألرَّحمَنِ الرَّحِِيم ۞ ملِكِ يَوْمِ الدِين ۞ إيّاكَ نَعبُدُ وَ إيّاكَ نَستعِين ۞ إهدِنَا الصِّرَاط المُستَقِيم ۞ صِرَاطَ الَذِينَ أنعَمتَ عَليْهِمَ، غَيْرِالمَغضُوبِ عَليْهِم وَلاَالضَّالِّين ۞ أمِين

    إشهدوا بأنه من أهل الخير و من أهل الجنة….. :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s