Enggan Berfikir, Mahasiswi “Pincang”

Diterbitkan di majalah “Afkar” PCI-NU Mesir 25 Februari 2010

… Sistem ‘mendengar dan menerima’ (talaqî) lebih digemari mayoritas mahasiswi ….

Dus, minat membaca dan menulis semakin memudar.

Dinamika intelektual Masisir mlempem! Semangat perubahan, berpikir, menganalisa, mengkritik, membaca dan menulis, nyaris tak lagi tampak, apalagi mewarnai. Karya intelektual, mulai dari buletin, jurnal, bahkan buku, tinggal puing-puing kenangan; mendekam dalam kotak pandora pesan masa.

Alih-alih menjadi sarana alternatif, facebook justru menjadi ajang aktualisasi diri  yang hambar keilmuan. Tradisi nge-blog, wordpress, mailing-list, tereduksi menjadi sarana yang memang lebih praktis dan komunikatif saja. Lebih lanjut, krisis intelektual ini semakin dirasakan kala seminar-seminar bertemakan ‘pemikiran’: dialog, workshop, kajian-kajian bersifat massif dan inklusif, tak lagi mewarnai tebaran pamflet-pamflet, di Masisir ini.

Dus, kenyataan ini adalah problem akut Masisir yang boleh jadi dianggap suatu kewajaran konsekuensif sebagai peralihan per-generasi, berikut modernitas –dalam segala permunculannya—yang mengiringi belum terpotret secara kritis. Sehingga setiap kritik atas tradisi, tentu akan menuai apologi yang dilontarkan balik justru oleh ‘anak’ dari tradisi tersebut.  Percuma, sia-sia.

Terjangkit Phobia ‘Ilmiah’

Stagnansi menjadi problema yang paling akut (?) Bak virus yang kian merajalela dalam belantika dinamika Masisir. Dan lagi, tokoh-tokoh intelektual Masisir makin hari terdengar semakin berkurang, terutama mahasiswi. Krisis figur melanda. Maka, goyahlah panggung intelektualisme: sebuah ‘idealisme’ yang seharusnya menjadi pertaruhan kita sebagai mahasiswa, kini harus tertunduk diambang kehancuran. Hal ini dibuktikan dengan kian minimnya mahasiswi yang terjun di dunia kajian. Minat membaca dan menulis semakin memudar.

Praktisnya, di saat Badan otonom kajian WIHDAH-PPMI berinovasi membentuk study club semerta dengan sistem presentasi makalah tentunya, tak sedikit dari mereka yang menyangkal. Sebagai gantinya, sistem ‘mendengar dan menerima’ (talaqî) lebih digemari mayoritas mahasiswi, daripada ikut berperan aktif dalam memberi, berbicara, berpikir, berargumentasi, apalagi mengkritisi.

Hal-hal yang berbau ilmiah nampaknya semakin menjadi phobia tersendiri di kalangan mahasiswi. Lalu, apakah mundurnya spirit bernalar ini dikarenakan faktor ‘ambivalensi peran’ yang masih meracuni pemikiran kaum perempuan saat ini?

Padahal, Al-Qur`an dan Al-Hadis secara tegas menjelaskan bahwa ketimpangan gender itu tak pernah ada dalam kamus menuntut ilmu? Alangkah indahnya, jika semua perempuan menyadari pentingnya menyelami ‘samudera Ilmu’ dengan kritis dan analitik, bersanding sejajar akan urgensi peran sebagai putri, istri, begitu pun sebagai ibu. Tak mustahil, menjadi Perempuan intelek dan idealis, semerta patuh terhadap suami, solehah.

Fakta pendukung lemahnya gairah intelektualitas mahasiswi ini, semakin terindentifikasi, saat dalam sebuah kesempatan tepatnya di acara dialog tematik WIHDAH-PPMI, yang bertema “Pemikiran Generasi Islam di Tengah Hegemoni Pemikiran Barat”, (31/8/09). Dalam acara tersebut ada sebuah pemaparan dari salah-seorang pembicara yang spontan membuat hati penulis terhenyak:

“Study club atau kajian-kajian pemikiran yang ada di Masisir ini tak lain lebih banyak menjiplak pemikiran-pemikiran Barat, serta berkiblat pada tokoh-tokoh orientalis.  Dan kelompok ini yang harus diwaspadai karena tidak langsung sudah mengkontaminasikan label al-Azhar itu sendiri.

Berdasar seklumit cuplikan itu, pembicara seolah ingin mengilustrasikan bahwa negara Indonesia yang dulunya menjadikan Timur-tengah sebagai ikon intelektual, kemajuan dan peradaban, tak lebih hanya menjadi romantisme masa lalu. Sekarang, tak kurang sebagai ‘boneka’ caplokan Barat yang kapitalis itu. Indikasinya, meskipun semena-mena, fenomena westernisasi dan liberasi yang sedang menjadi ‘cap-trend’ keilmuan, pemikiran, dan studi Islam di Indonesia. Tentunya, perubahan drastis ini tak lain bersumber dari ideologi baru (demokratisasi) yang dibawa oleh para cendekiawan dan kaum intelektual Indonesia berbasis Islam pemikiran. Baik itu mereka yang belajar di negara Barat, Indonesia sendiri, bahkan pelajar di Timur-tengah sekalipun.

Jika kita tilik lebih mendalam, pernyataan ini tak lebih dari asumsi mentah. Maka perlu ditelaah dan dikritisi secara arif. Sejenak, mari kita coba mengingat hadis Nabi yang mengatakan bahwa di setiap generasi pasti ada seorang mujaddid. Simplifikasi makna hadis ini, memberi isyarat bahwa peradaban adalah sebuah metamorfosa kehidupan secara evolutif dan sadar. Jadi, wajar jika ada pertautan, asimilasi dan akulturasi antar budaya, peradaban maupun lokus pemikiran; tanpa menghilangkan ciriwanci masing-masing dan mereduksi “khasanah lokal yang ada”. Semerta kurang etis dan arif, kiranya, sikap konfrontatif ini disematkan untuk semua kelompok kajian pemikiran, apalagi jika “menyelundupkan” isu konspiratif yang tak bisa dipertanggungjawabkan.  Naif, barangkali.

Ironis—kata yang barangkali bisa mewakili—, kala menyadari bahwa pernyataan di  atas tak lebih dari praktik ideologisasi agama. Bagaimana tidak. Implikasi dari pernyataan ini, nampaknya ‘mengubur‘ daya nalar intelektual secara hidup-hidup, hingga menjadikannya “sesuatu yang anti-pati, aneh dan bermentalkan phobia”. Lebih menyedihkan lagi, hal ini  dilontarkan di sekerumun kaum perempuan, yang mayoritas dihadiri oleh mahasiswi baru. Sungguh memprihatinkan.

Solusi, Kesadaran

Bejibun dilema yang ada, terlihat di sini pula kepincangan secara frontal itu. Prestasi akademis mahasiswi yang dinilai lebih unggul daripada mahasiswa, ternyata tak sebanding dengan  budaya intelektual mahasiswi; hemat penulis, jelas-jelas krisis dan melemah. Lalu, bagaimana mendudukkan keduanya secara proposional, antara prestasi dan budaya akademis-intelektual? Semerta sikap apa hendaknya diambil supaya dapat keluar dari jerat terali phobia yang dogmatis itu?

Sejenak, kala menghayati firman Tuhan dalam al Kitab, Al-Qur`an al Karîm: “Sungguh Tuhan tak merubah nasib suatu kaum kecuali dirinya sendiri.” Simplifikasi makna, secara implisit, bahwa ‘kesadaran tiap individu’ hendaknya menjadi prioritas utama. Dalam konteks ini, kesadaran akan pentingnya mengintegralkan gagasan-gagasan multi disiplin ilmu, baik ilmu agama atau pengetahuan; dalam upaya melihat dan menyikapi suatu isu dan problematika zaman yang semakin berkembang dan komplek’s ini.

Kedua, organisasi induk mahasiswa, seperti PPMI, WIHDAH-PPMI maupun komunitas-komunitas lainnya, memiliki peran yang urgen, bahkan vital. Yaitu,  menghadirkan kegiatan-kegiatan berorientasi pada peningkatan akademis dan (semerta) keintelektualan secara seimbang-proporsional. Guna merevivalisasi budaya ilmiah, menfasilitasi dalam menyalurkan pemikiran-gagasan kritis-ilmiah yang membangun. Bukan sebaliknya, mengebiri.

Dan paling urgen lagi, ketiga,  adalah support environment.  Ini penting. Sebab, berinteraksi, bersemayam bersama komunitas yang konsen-interes di ranah akademis-intelektual, akan memberi stimulasi-gairah haus akan ilmu pengetahuan; semerta akan selalu update dengan problematika, dinamika dan  perkembangan intelektualitas di era kekinian.

Betul, setiap individu memiliki prinsip, tendensi dan/atau lokus pemikiran masing-masing, tak dapat dipaksakan. Namun akan terlihat apik-menawan kala prestasi akademis dan budaya intelektual dapat “hadir telanjang” secara bersama berada dalam skala prioritas yang sejajar; tak ada dikotomi yang berkepanjangan antar keduanya. Sehingga, kaum perempuan, selain tersemat nilai akademis yang membanggakan, prestatif, juga mampu bergerak aktif dalam dinamika intelektual, berkontribusi penuh, semerta responsif dengan perkembangan, problematika zaman yang semakin komplek ini. Sebagai misal, suri tauladan, bisa meniru Bintu syati’ istrinya Amin Khulliy yang ulama Tafsir itu. Bukan begitu [?]

*Sekedar “Testimoni  Hati” dari Dilematika  dan Problematika Realitas yang Ada, di Mahasiswi Masisir ini


One thought on “Enggan Berfikir, Mahasiswi “Pincang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s