Selayang pandang antara Leksikologi dan Leksikografi Arab

A. Pendahuluan
Menelisik Abad ke dua Hijriah, dimana para pemerhati dan punggawa keilmuan Islam ‘berjejal-jejal’ memenuhi kekayaan literatur Islam. Terlebih Bahasa Arab, ikon terpenting dalam peradaban Bangsa Arab sendiri. Maka para lmuwan Islam dengan penuh perjuangan telah menjaga keautentikan aset terpenting dan mengumpulkan kekayaan Bahasa arab ini dalam aneka ragam karya leksikografi yang nantinya kita kenal dengan istilah “Mu’jam”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian leksikologi secara umum, Semantik dan lekskologi Arab?
2. Bagaimana sejarah perkembangan leksikografi Arab?
3. Siapa sajakah para tokoh leksikolog bahasa Arab serta bagaimana metode penyusunan berikut kritik karyanya?

1. Pembahasan
2.1 Pengertian Leksikologi
Istilah leksikal adalah bentuk ajektifa dari nomin leksikon, yang berasal dari leksem. Dalam kajian morfologi, leksem berarti bentuk dasar yang setelah mengalami proses gramatikalisasi akan menjadi ‘kata’. Sedangkan dalam kajian semantik, leksem berarti satuan bahasa yang memiliki satu makna atau satu pengertian . Karena itu, menandakan bahwa leksikal adalah makna yang sebenarnya atau makna yang sesuai dengan hasil observasi indra dan ia bisa berupa kata atau gabungan kata. Seperti kata “air” ia bermakna leksikal sejenis barang cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Dengan demikian, makna leksikal bukan berarti semua makna yang terdapat dalam kamus karena terdapat juga kamus yang memuat makna lain selain makna asli, seperti makna kias dan makna yan terbentuk secara metaforis. Seperti yang dicontohkn D. A Cruse pada kalimat ” i have disconfirmed the doktor’s prognosis”. Makan Kita tidak akan menemukan kata “dinconfirmed dalam kamus. Karena ia word form (bentuk kata yang sudah mengalami perubahan gramatikalisasi) dan bukan leksem atau kata asli.
Ada juga makna gramatikal (afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi) dan makna kontekstual (makna yang berkenaan dengan situasi, tempat, waktu dan lingkungan penggunaan bahasa itu.
2.2 Semantik Bahasa
Menurut Chaer, makna dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan jenis semantiknya, dapat dibedakan antara :
a. makna leksikal dan makna gramatikal,
b. Makna Referenssial dan makna non refernsial
c. Makna Kata dan makna Istilah
d. Makna Denotatif dan makna Konotatif
e. Makna Konseptual dan makna asosiatif
f. Makna Idiomatikal dan Peribahsa
g. Makna Kias
h. Relasi Makna:
• Sinonim
• Antonim
• Homonimi, Homofoni, Homografi
• Hiponimi
• Polisemi
• Ambiguitas
• Redundansi
Dalam analisis semantik juga harus disadari, karena bahasa itu bersifat unik, dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan masalah budaya maka, analisis suatu bahasa hanya berlaku untuk bahasa itu saja, tetapi tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain.
Sedangkan leksikografi (Dirāsah Mu’jamiyah) adalah pengetahuan dan seni menyusun kamus-kamus bahasa dengan menggunakan sistematika tertentu untuk menghasilkan produk kamus yang berkualitas,mudah dan lengkap. Kegiatan yang terlibat dalam ilmu leksikografi di antaranya adalah perancangan, kompilasi, penggunaan, serta evaluasi suatu kamus.
Menurut Ibn Jinî, kalimat “Mu’jam” dimbil dari huruf ‘ain, jim, mim, yang berarti tidak terfahami, samar, tidak jelas dan tidak terang. Sebagaimana firman Allah swt :
•
“Dan kalau Al-Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab”
Dan kitab pertama yang memberi nama “Mu’jam” adalah Mu’jam al-Sahaabah karangan Abu Ya’li Ahmad Ibn ‘Ali Ibn Muthanna (210-307 H). Jadi, kata “mu’jam” kali pertama digunakan oleh tokoh Hadith bukan tokoh leksikologi Arab.

1.2. Leksikografi Bahasa Arab dan Perkembangannya
Tak diragukan lagi, bahwa orang Arab dikenal memiliki keistimewaan yang tak dimiliki bangsa lain sejak masa dahulu kala, ialah seni “vokal” (menghafal). Hingga tak terfikirkan mereka untuk mengkodifikasi bahasa mereka dalam bentuk kamus. Sungguh mengherankan, dimasa jauh sebelum masehi, saat bangsa Asyuriya telah menorehkan tinta sejarah pertama akan bangsa yang membentuk kamus bahasa mereka, begitu juga Cina dengan kamusnya yang dikenal dengan nama “Yubyan” karya Kubi wang, dan Yunani yang dikenal negeri berperadaban tertua mereka telah berhasil mengabadikan bahasa mereka dalam sebuah buku monumental, namun bangsa Arab rupanya masih ‘terpulas’ dalam tidur yang berkepanjangan. Senjata “hafalan” mereka masih tetap kukuh dipegang, hingga satu abad setelah datangnya Islam, barulah bangsa Arab mulai merangkak kembali membangun peradabannya dalam bidang keilmuan, khususnya kodifikasi bahasa mereka, Bahasa Arab.
The phoenicians (Finiqiyyun) adalah pembentuk pertama urutan abjad (abad 10 SM) dan baru ditemukan pada tahun 1868 M kemudian dimuseumkan di museum Luver Paris. Adapun istilah “abjadiah” berasal dari kata “abjad” yaitu alif, Ba’, Ta’, dan Jim. Sebagaimana terangkai dalam 22 huruf berikut :
ابجد, هوز, حطى, كلمن, سعفص, قرشت.
Kemudian dikembangkan oleh orang arab dalam 28 huruf dengan tambahan enam huruf yang terkumpul dalam kalimat ثخذ, ضظغ . namun, dikarenakan bangsa Arab masih belum bisa membedakan antar huruf yang serupa seperti misalnya huruf ح dan ج maka Hujjaj Ibn Yusuf yang ketika itu menjadi gubernur Irak dimasa khalifah ‘Abd Malik Ibn Marwan memerintah seorang penulis dan khot handal Nashr Ibn ‘Ăshim al-Laithî (abad satu Hijriah) untuk meletakkan tanda “titik” pada tiap-tiap huruf yang serupa sehingga menjadi pembeda antar satu huruf dengan huruf lainnya yang serupa. Maka jadilah urutan huruf yang dibentuk oleh Finiqiyyun (The Phoenicians) berbeda dengan urutan yang dibentuk oleh ‘Aşim kecuali pada urutan ك, ل, م, ن.
Pada awalnya, proses pemaknaan kosakata dalam bahasa arab bermula melalui metode pendengaran (al-sima’),yaitu pengambilan riwayat oleh para ahli bahasa dengan cara mendengarkan langsung perkataaan orang-orang badui. Kemudian metode pendengaran bergeser ke metode analogi (qiyās),yaitu pemaknaan kata dengan menggunakan teori-teori tertentu yang dibuat oleh para ahli bahasa. Dasar- dasar kodifikasi bahasa Arab: a) Mayoritas masyarakat Arab yang masih ummi , b) Tradisi nomadisme dan perang , c) Bangsa Arab lebih senang dengan bahasa lisan.
Adapun Faktor pendorong penyusunan bahasa Arab diantaranya:
a) Kebutuhan bangsa Arab untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an
b)Keinginan bangsa Arab untuk menjaga eksistensi bahasa dalam bahasa tulis.
2.3 Potret Tokoh Leksikografi Arab, Metode dan Kritik
Ditinjau dari segi metode dan tujuan, sistematika penyusunan leksikografi Arab terbagi menjadi dua jenis:
1. Sistem kata (mengandung rangkaian kumpulan kata)
2. Sistem makna (mengandung ragam makna sebuah kata dalam satu bab)
Adapun yang pertama, sekumpulan kata yang mengandung makna berikut penjelasan, asal kata, cara membaca, serta contoh peletakan kata tersebut dalam sebuah kalimat yang benar. Sedangkan yang kedua, adalah mengandung sekumpulan kata yang diletakkan dalam satu makna atau satu bab, seperti “al-Maṭar” karangan Abu Zaid Ibn Aus (w 215 H), juga “al-Nabāt”, “al-Shajar”, al-Nakhl” karangan Al-Aşma’î, “Fiqh Lughoh”karangan al-Tha’alibî (w 429 H) dan al-Muntakhab min gharîbi kalām al-‘Arab karya abu Hasan al-Hanā-î yang disebut Kurā’i al-Naml dengan contoh berikut ini :
باب النوم
يقال نام نوما دلخما و دِلخما اي طويلا, والفخيخ : الغطيط فى النوم, يقال هدكر الرجل هدكرة : اذا غطّ فى نومه و هكر هكرا : نام نوما شديدا.
ويقال غطمط عليه النوم غطمطة: غلب عليه, والغطمطة : غلبة النعاس, والهدف من الرجال : الثقيل انوم والتهويم : انوم القليل.
Meski demikian, leksikografi yang membahas tentang makna ini tergolong sedikit dan kurang ada perkembangan dibanding leksikografi yang memakai sistem kata.
Adapun leksikografi dengan sistem kata tergolong banyak berkembang dan terbagi menjadi tiga aliran:
1. Aliran dengan metode “pembalikan huruf”dalam satu kata
Susunan ini dibagi menjadi dua: pertama, susunan menurut makhraj (fonetik) yang paling jauh dari mulut. Susunannya adalah: ع ح ه غ خ ق ك ج ش ض ص س ز ط ت د ظ ث ذ ر ل ن ب م و ي ا.. Kedua, menurut urutan huruf hijaiyah. Seperti contoh pada bentuk segitiga berikut ini: ض

ب ر
Setelah Huruf-huruf tersebut di bolak balik, maka akan menghasilkan kalimat kalimat berikut ini: 1. ضرب 2. ضبر 3. ربض 4. رضب 5. برض 6. بضر
hasil dari enam kata diatas, maka kata yang memiliki makna, akan dijelaskan makna tersebut, namun bagi kata yang tidak memiliki makna di bahasa arab maka diberi tanda sebagai kata yang ihmal atau “tidak terpakai”. Maka bagi cara yang pertama, semua kata tersebut ada pada urutan huruf “ض” karena huruf tersebut adalah huruf yang paling jauh unsur fonetiknya dibanding huruf ر dan ب. Namun bagi cara yang kedua, maka semua kata tersebut bisa ditemukan di urutan huruf ب karena ia merupakan urutan huruf paling awal dari pada lainnya dalam urutan abjad hijaiyah.
Adapun tokoh leksikografi Arab yang menggunakan cara pertama diantaranya ialah Khalil Ibn Ahmad Al-Farahidi dengan kitabnya “mu’jam Al-‘Ain, Abu ‘Ali al-Qāli (wafat 356 H) dengan mu’jamnya Al-Bāri’, al-Azharî (wafat 370 H) dengan kitabnya Tahdhîb al-Lughoh dan lain sebagainya. Adapun nama lengkap imam Khalil adalah imam al-Khalîl ibn Ahmad Abu ‘Abd ar-Rahman al-Yahmudi al-Azdi al-Farāhidi(wafat tahun 175 H), sang pemimpin dan pelopor utama dalam penyusunan kamus yang mengikuti aliran ini dengan Mu’jammonumentalnya “al-‘Ain”. Beliau juga penggagas pertama ilmu “’Arūđ” (ilmu yang mempelajari tentang penentuan rima syair Arab). Diantara karya lainnya adalah: kitab “al-î-qa’ wa al-Nagham”, al-Jumal, kitab Al-Nuqat wa al-Shakl, al-Shawāhid, dan Ma’āni al-Hurūf. Beliau adalah guru para tokoh leksikolog Arab diantaranya al-Asma‘i, Sibawayh dan al-Nadr ibn Shumayl. Beliau adalah seorang yang dikaruniai dengan kecerdasan otak dan daya kreativitas tinggi oleh Allah SWT. Ia adalah pecinta ilmu yang sejati. Terbukti, ia gemar berkelana dari satu desa ke desa lain yang jaraknya berjauhan hanya untuk mengambil periwayatan lain dari penduduk desa demi memahami satu makna kata. Teori-teorinya banyak terbentuk dari hasil penelitian Ilmiah di lapangan.
Khalil rela bergaul dengan penduduk Arab Badui di pedalaman untuk memahami makna bahasa . Hidupnya habis demi perkembangan ilmu bahasa dan sastra Arab. Pada akhirnya, Khalil pun tumbuh menjadi salah satu ulama terbesar di bidang ilmu bahasa Arab. Ia adalah ulama yang menguasai ilmu nahwu(sintaks), bahasa(Linguistik),dan satra Arab. Selain itu, ia juga mumpuni di bidang ilmu matematika, ilmu syariat(hukum Islam), dan seni musik. Melalui karyanya yang berjudul Mu’jam Al-‘Ain, Khalil dikenal sebagai peletak dasar-dasar leksikologi, sehingga tak berlebihan jika Khalil disebut sebagai ‘Bapak Leksikolog Arab’.
Adapun metode yang digunakan ialah:
a) Menggunakan metode “pembolak-balikan huruf” seperti yang dijelaskan diatas
b) Penyusunan yang dimulai dengan huruf yang paling jauh makhrajnya dari mulut yaitu dimulai dari huruf ‘ain dan diakhiri dengan huruf yang paling dekat dengan mulut (al-aşwat al-Şautiyah) yaitu waw, alif, ya’ dan paling akhir adalah huruf hamzah karena ia bisa diganti untuk menjadi huruf mad.
c) Pembentukan kalimat diawali dengan الخماسي, الرباعي, الثلاثي, الثنائ. Contoh al-Thunā-i ialah صر dan صرصر, maka keduanya ditemukan di al-thunā-i
d) Mengembalikan kata yang mempunyai tambahan pada asalnya atau “tajrîd al-kalimah”
e) Setelah melewati mudā’af thunā-i, kemudian dilanjutkan dengan thulāthî sahîh dan diakhiri dengan mu’tal. Adapun hamzah maka dianggap menjadi bagian dari pada huruf ‘illah.
f) Khalil menguatkan makna kata dengan perkataan orang Arab yang paling fashih, dalil Al-Qur’an dan Hadith al-Nabawi
g) Tetap memperhatikan kaidah nahwu, Sharf, dan juga menunjukkan sebuah kata pada lahjah yang sesuai
Contoh mu’jam ‘Ain adalah sebagaimana berikut ini :
باب العين والشين والياء معهما
(ع-ش- ب-, ش- ع- ب , ش- ب- ع- , ب- ش- ع, مستعملات. ب- ع- ش, ع- ب- ش مهملان)
عشب :
رجل عشب و امرأة عشبة, اى قصير فى دمامة و ذلة, تقول :عشب يعشب عشبا و عشوبة.
و انعشب :الكلأ الطب. وهو سرعان لكلأ : اي اوله فى البيع (البيع) شم يهيج فلا بقاء له.
شعب :
الشعب : الصدع الذى يشعبه الشعاب : وصنعته الشعابة قال : قالت لى النفس اشعب الصدع واهتبل
لاحدى الهنات المعضلات اهتبالها.
والمشعب : المثقب, والشعبة :القطعةيصل بها الشعاب قدحا مكسورا ونحوه.
Namun, dengan segala kelebihan dan keistimewaan mu’jam ‘Ain serta pengarangnya yang begitu hebat ini, tentunnya ada beberapa sisi kekurangan didalamnya, diantara sisi kritik yang dikemukakan oleh para kritikus leksikolog Arab pada mu’jam ini adalah:
• Masih terdapat kesulitan dalam mencari sebuah makna berikut penjelasannya
• Terlalu banyak pengulangan kata. Hal ini wajar terjadi, disebabkan sang pengarang lebih menprioritaskan kuantitas kata dan pengetahuan pembaca (terhadap sebuah kalimat) daripada perhatiannya mengenai motode pencarian kata yang lebih sistematis –meski tidak bisa dikatakan tidak sama sekali (dalam hal penyusunan yang metodik)-.
Walau demikian, sisi kritik ini tentunya tidak mengurangi akan kredibilitas Khalil Ibn Ahmad Al-Farahidi, terlebih sebagai pelopor pertama leksikografi Arab, sehingga tak berlebihan jika muridnya yang bernama Nađar Ibn Shāmil berkata:
أكلت الدنيا بأدب الخليل وكتبه وهو في خصه لا يشعر به
“ Sungguh dunia telah memakan ilmu dan karya buku Khalil, walau tanpa dia merasa.
Selanjutnya, tokoh leksikografi Arab yang mengikuti cara kedua ialah Naşr Ibn ‘Ăşim (wafat 89 H atau 707 M) beliau adalah peletak pertama urutan huruf hijaiyah. Dan juga Muhammad ibn al-Hasan ibn Duraid, Abu Bakr (wafat 325 H). Ibn Duraid menamakan kitabnya dengan nama al-Jamharah karena beliau telah memilih di dalamnya jumhur percakapan Arab.
Kaidah penyusunannya adalah sama dengan kaidah penyusunan Khalil tetapi yang membedakan aliran ini dengan aliran sebelumnya ialah cara susunan huruf kamus tersebut. Jika al-Khalil menyusun mengikut makhraj huruf, Ibn Duraid pula menyusunnya mengikut susunan huruf yang normal. Sebagai contoh kalimahركب, كبر, ربك . Kalimah-kalimah ini dicari pada huruf ba’. Hal ini karena dalam ketiga-tiga kalimat tersebut, huruf ba’ adalah huruf yang paling awal dalam abjad hijaiyah. Beberapa kelebihan dalam mu’jam al-Jamharah adalah:
 Kemudahan dalam mencari sebuah kata, karena ia diawali menurut urutan abjad hijaiyah
 Terdapat qirā’ah Qur-aniyah dan penjelasannya
 Ibnu Duraidd menunjukkan kata berikut lahjahnya yang sesuai
 Kehati-hatiannya terhadap kalimat yang mu’rab ataupun al-dakhîl
Namun terdapat beberapa sisi kekurangannya, diantaranya ialaah:
 Terdapat banyak kata-kata yang klise (dibuat-buat) atau yang sebenarnya tidak terdapat dalam perkataan orang Arab
 Banyaknya kata-kata al-tawlîd dan diragukan keasliannya. Dikarenakan kitab tersebut banyak mengandung kata-kata asing diluar bahasa Arab, maka hal ini menimbulkan pandangan kontroversial dikalangan tokoh leksikolog Arab dan menyebutnya telah mengingkari nama dari mu’jam tersebut yang berarti kumpulan semua perkataan orang arab namun sebenarnya ternyata tak lebih dari kumpulan antara bahasa arab dan bahasa asing. Namun, meski demikian, hal ini tentnya tidak mengurangi kredibilitas beliau sebagai penggagas mu’jam dengan aliran pembalikan kata menurut huruf hijaiyah.
2. Aliran menurut huruf qāfiyah (huruf akhir dari sebuah kata)
Pembaca yang ingin mencari suatu kalimat perlu melihat huruf terakhir pada kalimah (setelah dibuang huruf-huruf tambahan) dan kemudian melihat huruf terawal untuk mengetahui bagian yang menempatkannya (Faşl). Huruf terakhir pada kalimat tersebut dicari pada bab dan huruf terawal pada kalimah dicari pada bagian atau faşl. Contohnya dalam Bab Hamzah, faşl Waw, maka yang akan ditemui ialah وبأ, وثأ, وجأ, ودأ, وذأ, ورأ, وضأ, وطأ, وكأ, ومأ dan seterusnya.
Adapun beberapa tokoh leksikolog Arab yang mengikuti aliran ini ialah Muhammad ibn Mukarram ibn Ali yang dikenal dengan Ibn Mandzur (meninggal 711 H). Dengan mu’jam monumentalnya Lisan al-‘Arab. Kitab ini adalah kitab yang paling terkenal di kalangan penuntut ilmu asing maupun pribumi Mesir dan mayoritas bangsa Arab. Ia merupakan mu’jam yang paling populer, mencakup semua kosa kata Arab, makna yang jelas dan menggunakan dalil ayat al-Qur’an serta al-Hadith. Susunan asli Ibn Mandzur adalah berdasarkan akhiran kalimat seperti yang dinyatakan oleh pengkaji-pengkaji leksikografi Arab. Namun, untuk memudahkan pencarian dan membumikan manfaatnya, pencetak telah menukarkan bentuk susunan yang asal kepada susunan abjad yang normal. Seperti yang telah dicetak oleh percetakan Beirut dan Dār al-Ma’ārif Mesir.
Diantara kelebihan yang dimiliki mu’jam ini adalah:
 Mencakup isi kosa kata yang luas dan berbobot
 Banyak memuat daftar pustaka dan sumber-sumber mu’jam sebelunya yang terpercaya seperti mu’jam al-Tahdhîb karangan al-Azharî, Muhakkam karya Ibnu Sayyidihi, al-Şahhāh karya al-jawharî, al-Jamharah karya Ibnu Duraid dn lain sebagainnya yang menjadikan muatan kata di Lisan al-‘Arab ii mencapai hingga 80.000 kata. Dan hal ini menjadikannya terpercaya bagi banyak kalangan
 Dalam mu’jamnya Ibnu mandhur banyak memperbaiki kesalahan atau kekurangan-kekurangan yang ada pada mu’jam-mu’jam sebelumnya
 Banyak memberikan kata-kata sinonim, antonim, kata-kata langka dan lainnya
 Sangat memperhatikan lahjah-lahjah orang Arab yang berbeda-beda
Adapun beberapa sisi kekurangannya adalah sebagai berikut:
 Melupakan (meninggalkan) beberapa rujukan mu’jam sebelumnya yang dinilai sangat berkompeten seperti mu’jam al-Maqāyîs karya Ibnu Fāris
 Terdapat banyak pengulangan-pengulangan dalil. Dan hal ini dinilai wajar, mengingat mu’jam ini memang sangat mengandalkan dalil dan referensi yang terpercaya.
Ada juga Al-Qāmus al-Muhit karangan Muhammad ibn Ya‘qub ibn Ibrahim, al-Fairuz Abadi (wafat 817 H). Nama kitab ini yang sebenarnya ialah al-Qāmus al-Muhit wa al-Qabus al-Wasit al-Jami‘ lima Zahaba min Kalam al-‘Arab Syamatit. Secara etimologi, kata Qāmus mempunyai arti “lautan yang sangat besar dan luas”. Dan al-Muhîṭ berarti “meliputi cakupan yang luas”. Kitab ini begitu tinggi nilainya sehingga ia terkenal di timur dan barat. Bahkan, al-Qamus al-Muhit telah melampaui dunia ekabahasa dan menerobos dunia dwibahasa apabila ia diterjemahkan pula ke dalam Bahasa Persia dan Bahasa Turki.Maka sejak diterbitkan mu’jam inilah istilah “mu’jam” menjadi makin langka, karena terkalahkan dengan istilah kamus yang bersumber dari istilah al-Qāmus al-Muhit ini.
Fayruz membagi kamusnya dalam 27 bab sesuai huruf hijaiyah dengan memasukkan huruf ya’ dan waw dalam satu bab . Kemudian membagi masing-masing bab pada 28 faşl atau bagian sesuai urutan huruf hijaiyah. dan menjaadikan bab akhir adalah huruf alif layyinah yang tidak dikembalikan pada huruf aslinya sebagaimana yang dipakai oleh al-Jawharî. Selain itu, Fayruz memberikan simbol-simbol untuk lebih mempermudah pada pembaca. Simbol tersebut misalnya د (untuk simbol negara) atau huruf ج untuk menunjukkan Jama’ (makna plural).
Beberapa keistimewaannya adalah :
• Lebih ringkas dan tidak banyak memakai dalil-dalil yang baginya terlalu ‘pemborosan’ memenuhi isi kamus. Dan juga banyak memakai simbol-simbol tertentu untuk menunjukkan nama tempat, makna plural dan lain sebagainya
• Mencakup kosa kata yang sangat banyak hingga mencapai 60.000 kata. Kemudian ditambah dengan kosa kata yang ada di mu’jam karya al-Jawhari 20.000. dan menambah dari Ibnu Mandzur sebanyak 20.000 kata hingga mencapai 100.000 kosa kata Arab
• Memisah antara bab ‘waw’ dan ‘ya’
• Lebih teliti dalam pemilihan kata
• Lebih teliti dalam memilih kata-kata muwallidah, a’jamiyah, juga asing. Serta memberikan isyarat tersendiri mengenai kata-kata tersebut
• Fayruz sangat memperhatikan ‘ketepatan’ sebuah kata dan makna
• Lebih memperhatikan pada istilah-istilah keilmuan
• Banyak menyebutkan al-A’lām (nama sahabat, tokoh keilmuan, nama tempat dengan ringkas)
• Menyebutkan nama hewan dan tumbuh-tumbuhan secara tepat dan singkat.
Adapun sisi kekurangan kamus tersebut menurut kritikus leksikologi arab adalah :
• Ketika kamus ini ditujukan bagi pelajar Arab, maka sebaiknya Fayrūz menggunakan susunan abjad Hijaiyah hingga menjadi lebih mudah dan praktis. Sehingga bisa diterima oleh banyak kalangan
• Kamus ini terlalu ringkas, sehingga ditemukan banyak kata yang tidak jelas
• Terdapat beberapa kesalahan morfologi (Şarf) didalamnya

3. Aliran menurut susunan Abjad Hijaiyah.
Susunan ini adalah kaidah yang paling populer, praktis dan mudah karena tidak memerlukan pembaca menghafal kedudukan makhraj atau mencari huruf yang terawal dalam binaan kalimah. Ialah cukup dengan mengikuti abjad hijaiyah. Dan beberapa leksikografi Arab yang mengikuti aliran ini antara lain: Asas al-Balaghah karangan al-Zamakhshari (wafat 538 H), Mukhtar al-Sihah karangan al-Rāzi,Al-Misbāh al-Munîr karangan al-Fayūmi, Al-Mu‘jam al-Wasîṭ keluaran Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah Kairo.
Adapun Al-Mu‘jam al-Wasit keluaran Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah dikeluarkan oleh sekelompok tokoh leksikolog Arab yang kompeten dan menguasai pelbagai macam bahasa baik bahasa arab, bahasa asing juga bahasa semit. Diantara mereka ialah Prof. Ibrahim Musthafa, Prof. Hamid ‘Abd al-Qadir, dan lain sebagainya. Organisasi khusus leksikologi Arab Mesir ini mulai terbentuk pada hari Selasa, 14 Syawwal 1352 H atau bertepatan dengan tanggal 30 Januari 1934 M. Diantara tujuan berdirinya adalah :
a) Setelah melalui zaman penjajahan, umat Islam dan Arab khususnya mulai menderita kelemahan di dalam penguasaan Bahasa Arab. Penjajahan menporak-poranda bangsa untuk mengikuti acuan mereka dan mengubah tradisi kehidupan supaya umat Islam menjauhi Bahasa Arab yang memiliki ikatan yang intim dengan ajaran Islam. Antara hadiah kelahiran organisasi ini ialah terbitnya al-Mu‘jam al-Wasit yang dirasakan mampu memimpin penutur Bahasa Arab dalam arus kemodernan dan perkembangan juga menjaga keotentikan bahasa Arab dari jajahan bahasa asing
b) Membentuk kamus “sejarah”, sehingga dapat diketahui sejarah pembentukan kata atau kalimat berikut perubahan-perubahan yang terjadi kemudian
c) Untuk membentuk study Ilmiah mengenai aneka lahjah (dialek) bangsa Arab modern
d) Untuk membincang segala bentuk kemajuan bahasa Arab dimasa depan
Fokusnya, al-Mu‘jam al-Wasit telah disusun mengikut kaedah penyusunan alfabet hijaiyah untuk memudahkan masyarakat awam dan penuntut ilmu yang merujuk kepadanya.Dan keistimewaan yang terkandung dalam al-Wasiṭ ialah:
• Teratur, praktis dan mudah mencari arti kata, hal ini karena penyusunannya yang sistematis
• Terdapat simbol-simbol perkamusan guna penjelasan dan keringkasan
Yaitu(( و) simbol pen pengulangan kalimat untuk makna yang baru
(مو) untuk kata yang dipakai dahulu sebelum masa periwayatan bahasa
(مع ) kata asing yang diubah orang arab baik dengan cara pengurangan, penambahan atau pembalikan kata
( د) kata asing yang masuk ke bahasa arab tanpa ada perubahan
( مج ) kata yang ditentukan oleh majma’ al- Lughah al-‘Arabiyah
( محدثة) kata yang biasa dipakai orang-orang modern masa kini dan terpakai dalam percakapan secara umum.
• Terdapat beberapa “gambar” yang dapat menjelaskan bentuk rupa dari kata yang dimaksud
• Penjelasan kata yang jelas dan mudah
• Banyaknya kata-kata ilmiah yang terkandung didalamnya, hingga mencapai 30.000 kata yang tersusun dalam dua juz
• Selain itu, yang terpenting lagi, bahwa al-Wasîṭ merupakan leksikografi Arab kontemporer yang memuat kumpulan kata sejak masa jahili hingga abad ke 20, dari sini ia merupakan kamus yang mennembus lorong waktu paling panjang, ia pun juga mengandung banyak kata-kata ilmiah dan modern yang mana oganisasi leksikologi perancis pada awalnya tidak rela memasukkannya pada perkamusan mereka hingga 100 tahun kemudian atau pada cetakannya yang keempat
Lantas, Dari manakah bahasa-bahasa mu’jam itu diambil? Perlu diklasifikasi dulu pembagian bahasa yang dipakai di mu’jam adalah setelah melalui penelitian yang sangat lama dan penyaringan bahasa yang tak perlu waktu sedikit pula. Adapun jenis bahasa tersebut dibagi menjadi empat :

1. Al-fasşîh: kata yang banyak dipakai bangsa arab, asli dan terpercaya
2. Al-gharābah: bahasa yang tidak lazim atau tidak jelas maknanya. Yang artinya harus dicari dulu di buku-buku bahasa
3. Al-Mubtadhil: Bahasa yang dipakai atau dikenal luas secara umum tapi tidak dikalangan khusus
4. Al-Wahshî: bahasa yang merusak pendengaran (jarang terdengar-aneh)
Adapun khalil mengumpulkn bahasanya dengan proses hitung-hitunga. Sehingga akan nampak semua baginya baik fashih atau wahsyi nya Bahasa Arab.

Daftar Pustaka
Ibrāhim Muhammad Abū Sikkîn, “al-Mu’jam al-‘Arabî fikran wa ta’lîfan”, penerbit al-Amanah, Sibrā-Mesir 1983 M
Abu Hasan ‘Ali Ibn Hasan Ibn Husein al-Hanā-î, “Al-Muntakhab min Gharîbi kalām al-‘Arab”, Dār al-Hadîth Kairo, cet. Thn 2005
Al-Fayrūz Al-Abādî, Al-Qāmūs al-Muhîṭ, al-Hay-ah al-misriyyah al-‘Ămmah li al-Kitāb, juz 1-2 cet. thn 1977
Ibn Mandzūr, Lisān al-‘Arab, Dār al-Hadîth cet. Thn 2003
‘Abdu al-Fattāh Abu al-Futūh Ibrāhîm Husnî, “Dirāsāh fî al-Mu’jamāt al-‘Arabiyyah al-‘Ămmah wa al-khāssah”, kulliyah Banāt Kairo Mesir 2008
‘Abdu al-Fattāh Abu al-Futūh Ibrāhîm Husnî, “Min Qađayā Fiqh Lughah al-‘Arabiyyah”, kulliyah Lughah al-‘Arabiyyah-universitas Al-azhar Kairo, 2010
Muhammad Ahmad Abu al-Faraj, ”Al-Ma’ājim al-Lughowiyah fi Ďow’i Dirāsāah ‘ilmi al-Lughoh al-Hadith, Dār al-NahĎah al-‘Arabiyah, 1966
D. A. Cruse, The Handbook of Linguistics, 2002
Abdul Chaer, Linguistik Umum, Rineka Cipta Jakarta, 2007
Taufiqurrahman, H.R, M.A.2008.Leksikologi Arab. Yogyakarta: UIN MALANG-PRES
Abdul Chaer, “Psikolinguistik kajian Teoritik”, Rineka Cipta Jakarta, cet. Thn 2009

Posted in 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s