“Hubungan Antara Orientalisme dan Imperialisme”

Kajian Politik:

(Dipresentasikan dalam kajian reguler SASC (Said Aqil Siradj Center), pada hari Kamis, 1 Oktober 2009)

Abstraksi

Bagaimanapun kajian orientalis tak memiliki orientasi tunggal. Orientalisme adalah kajian tetang budaya Timur yang bermula dari misi kristenisasi kemudian berlanjut pada misi imperialisme hingga akhirnya berakhir pada misi ilmiah, seperti berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di universitas-universitas tersohor seperti di Barat.

Makalah saya di bawah ini mencoba menjelaskan hubungan antara kajian orientalis Barat terhadap praktek penjajahan Eropa terhadap negara-negara Timur.

***

Bab I

[Pengaruh Studi Orientalis Terhadap Imperialisme]

 

I. Timur Sebagai Basis Kolonialis

Ada dua pembagian Timur yang telah ditetapkan Eropa dan Amerika di abad  ke-19, pertama, Al-Syarq Al-Adnâ atau Timur Dekat, yang mencakup sebelah selatan timur Eropa. Kedua Al-Syarq Al-Aqshâ atau Timur Jauh, meliputi India, selatan timur Asia, Cina dan Jepang.

Namun di awal abad ke-20, pembagian geografis ini lambat laun mulai tergeser dan mengikis seiring terjadinya ekspansi wilayah Timur. Akhirnya kedua kubu ini menyatu menjadi satu kesatuan barisan “Timur Tengah”.

Label Timur Tengah ini tak lain digencarkan oleh seorang sejarahwan-militer Amerika terkemuka, Alferd Thayer Mahan, di tahun 1902, yang mencatat bahwa pelabelan ini tak luput dari siasat politik untuk menguasai kekuatan armada laut dan strategi kekuasaan Timur. Seperti yang digencarkan dalam penguasaan Hawaii, Cuba, Puerto Rico, Philippines dan Amerika Tengah.

Lebih lanjut Alferd Thayer Mahan menguatkan pendapatnya bahwa strategi pembatasan Timur Tengah ini  karena Timur Tengah membentang dari Jazirah Arab hingga Persia, termasuk Afghanistan dan Pakistan.

Beranjak setelah Perang Dunia kedua, istilah Timur Tengah mulai mendominasi hingga disebut dengan “mideast”.

Istilah ini pun akhirnya tak hanya populer dikalangan Barat, namun melintasi pada bahasa daerah Timur Tengah itu sendiri. Sehingga tak sedikit para jurnalis dan protokol-protokol resmi yang menyebut Arab dengan Al-Âlam Al-Arabî atau Negara Arab. Sebagai sebuah isyarat pada seluruh negara yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa nasionalnya, baik yang di Timur Tengah maupun di utara Afrika, dari Irak sampai Maroko.

Karena itu, nampaklah bahwa Timur Tengah merupakan istilah baru yang dirancang sendiri oleh Barat untuk kepentingan politik dan kekuasaan.   

II. Dinamika dan Orientasi Orientalis

Sebenarnya studi peradaban Timur oleh intelektual Barat menjadi diskursus dan wacana kontroversial berkisar pada scholarly knowledge of eastern cultures, languages, and people (Pengetahuan tentang budaya, bahasa, dan bangsa-bangsa Timur).

Kajian orientalis diawali dengan misi kristenisasi akibat pengaruh misionaris yang mulai bergrilya sejak abad ke-8 Hijriah.

Sekedar catatan! Rupanya pengalaman traumatis akibat kekalahan gereja dalam perang Salib menimbulkan dendam kesumat tersendiri. Maka umat kristiani kemudian bersumpah menekuk kekuatan Islam.

Cendekiawan Kristen berpikir keras agar dakwah kristenisasi mengelabuhi pikiran umat Islam. Pemuka gereja juga mulai mendalami ajaran Islam untuk membentengi akidah umat kristiani dari pengaruh ajaran Islam, dan berusaha menggali kelemahan umat Islam.

Sayang misi ini tak berlangsung lama, misi tendensius kristenisasi gereja Latin dan Eropa segera punah seiring melapuknya doktrin gereja yang bersumber dari fanatisme dan kekuasaan membabi-buta gereja Roma.

Pada mulanya studi bahasa Timur sejatinya tak luput dari faktor ideologi kristenisasi, seperti pada Abad Kegelapan gereja tekun belajar bahasa Arab untuk mengenal Islam meski harus mereka akui sendiri semuanya demi niat busuk menghancurkan Islam.

Masa Abad Pertengahan, studi bahasa dan kebudayaan Arab tunduk pada misi misionaris. Sebuah interesting baru dalam mengkaji Timur ini juga tak lain karena terilhami runtuhnya Granada pada tahun 1492 dan hanya meninggalkan sekelompok kecil bangsa Moriscos yang berbahasa Romawi.

Maka seruan untuk mengkaji Timur lebih digaungkan sebagai pengganti dari semakin pudarnya bahasa Romawi, selain juga memasukkan studi Timur setelah menyatu kedalam kurikulum bahasa Semit, sehingga studi Timur pun diupayakan masuk pula di bawah kontrol Vatikan.

Usaha dini ini juga tentunya akan sangat membantu mereka nantinya, dalam usaha peningkatan strategi politik dan komersial yang lebih baik dalam menyambut kebudayaan yang universal dan membantu untuk bisa bergabung bersama studi muslim.

Demi rasa bakhti pada agama, dan jiwa patriotnya pada Perancis, Guillume Postel (1510-1581) ikut berkontribusi besar dalam pembelajaran bahasa Bangsa Timur dengan mengumpulkan sejumlah manuskrip-manuskrip yang bersumber dari Timur.

Murid Postel, Joseph Scaliger (1540-1609), seorang ensiklopedis terkemuka. Scaliger turut berusaha keras meningkatkan bobot kajian orientalis di jamanya.

Abad ke-15 adalah awal kegemilangan Eropa yang  mengawali spirit Renaissence  (arti Renaissence adalah: “lahir kembali”).

Renaissence mampu mereformasi kejumudan berfikir teologi Kristen menuju kebebasan falsafi hakiki. Abad Kebangkitan Eropa mengilhami para orientalis mengkaji Islam dan Timur bukan bermisi kristenisasi, tapi berlajut pada praktik kolonialisasi.

Ada asumsi mengatakan: “pengetahuan berdampak pada penguasaan”. Atau lebih mendetail hubungan ini dijelaskan Focault sebagai keterkaitan antara knowledge and power.

Teori ini kemudian dikembangkan kaum orientalis untuk menguasai wilayah Timur. Artinya, semakin pakar orientalis mempelajari Timur maka semakin banyak kesempatan untuk menjajah wilayah Timur. Penjajahan ini yang dipraktekkan imperialis Eropa.

Seperti India yang dijajah Inggris, Al-Jazaer dijajah Perancis, kemudian Mesir dan Tunis ikut dicaplok juga. Wilayah Asia Indonesia pun tak ketinggalan. Ibu pertiwi Indonesia dijajah Belanda sejak pertengahan abad ke-17.

Pada tahun 1587 percetakan Kardinal Ferdinand de Medici Tuscany mencetak buku-buku Arab di Eropa. Di antaranya adalah karya-karya filsuf Ibn Sina di bidang kedokteran dan filsafat.

Di penghujung abad ke-17 dan awal abad ke-18, isu kristenisasi di kajian orientalis tak lagi mendominasi. Bahkan di abad ke-18, di seluruh Inggris dan Prancis, para orientalis sudah putus relasi dengan ulama-ulama teologia gereja.

Sejak itu riset akademik orientalis murni obyektif. Bahkan tak segan-segan di antara mereka jujur mengakui peradaban Islam.

Periode ini bak masa pencerahan Eropa dalam bidang sains, karya ilmiah, politik, ideologi, dan perekonomian yang ditunjangi oleh ilmu pengetahuan ini.

Kemajuan sains ini terus berkembang dan maju hingga akhirnya tak hanya didasari oleh hasrat misionaris belaka, namun lebih sebagai kebutuhan bagi mereka sendiri.

Pada Abad ke-17 isu kristinisasi pun mulai berkurang. Saat itu Eropa sudah bisa berpikir mandiri. Eropa dapat berpikir sendiri meski tanpa bimbingan gereja.

Seiring dengan bubarnya perang antaragama, dan seiring dengan kesadaran kaum intelektual untuk ilmiah, kajian orientalis cenderung bebas dari misi indoktriner Gereja. Faktor yang membentuk perubahan seperti ini tentunya tak luput dari pengaruh yang rasionalisme .

Sejatinya kemajuan ilmu pengetahuan di zaman Abad Pertengahan dan yang berlanjut pada masa renaissance adalah sebuah pukulan berat yang menghantam ideologi kristiani sendiri.

Barat mulai bergeser menuju sisi obyektifitasnya di abad pertengahan, dikarenakan beberapa faktor: kedekatan geografis, relasi politik yang erat, peningkatan perekonomian, dan perkembangan para misionaris yang berkunjung ke Timur, dan bersatunya umat kristiani di eropa.

Obyektifitas paling besar adalah karena dipengaruhi oleh nilai studi tentang ajaran moral Islam.

Bangsa Eropa melihat bahwa umat Islam di Timur sebagai padang daratan luas yang kaya dan makmur, dan peradaban maju bak sebuah monumen agung mewah yang tak terungkapkan dengan kata.

Zaman renaissance yang identik dengan ciri kosmopolitanisme dan jati diri yang ensiklopedis dengan segala ekspresi budayanya, telah mempersilahkan umat muslim Timur untuk mempelajari hak mereka.

Pada awal abad 20, obyektifitas kajian orientalis mulai nampak mendominasi.  Para orientalis pun berlomba-lomba melakukan riset professional. Bisa kita lihat beberapa Sekolah bahasa Timur dibangun demi kepentingan riset ilmiah seperti di Perancis dan Belanda.

Tak pelak lagi, imperialisme yang digencarkan Eropa rupanya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat dunia.

Imperialisme berhasil menjajah tak lain berkat dorongan ilmiah orientalis yang mengabdi pada ambisi Eropa untuk menguras kekayaan Timur.

III. Kenapa Barat Menjajah Timur?

Kolonialisasi adalah contoh paling signifikan akan bukti tercorengnya harga diri bangsa Timur. Bagaimana tidak, selama berabad-abad umat Islam berhasil menaklukkan pelbagai belahan dunia dari Eropa Timur, Afrika, Timur Tengah hingga Asia telah lumat, tunduk di bawah kekuasaan Islam. Namun, kemenangan itu kini kabur ditelan puing-puing sejarah belaka. Diawali abad ke-19 umat Islam dipaksa tunduk di bawah Adikuasa kolonial Barat.

Harapan terakhir umat Islam bertumpu pada kekhalifahan Turki Utsmani. Namun ironisnya, tahun 1942 kekhalifahan itu diruntuhkan Kemal attaturk, bangsa Turki sendiri yang menganti sistem khalifah menjadi negara repubrik yang sekular.

Runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani serta koalisi bersama Jerman di Perang Dunia, justru semakin memperpanas keadaan. Yang akhirnya praktik kolonialisasi Barat terhadap Timur semakin merajalela. Saudi Arabia berusaha membebaskan diri justru dipatahkan oleh Turki. Libanon dan Palestina pun dirampas Inggris, Napoleon datang ke Mesir tahun 1789, Belanda pun mendarat di Malaka tahun 1602. Inggris dan Perancis pun berebutan tanah kekuasaan di Afrika. Hingga pada tahun 1914, 85% wilayah Timur menjadi lahan subur adikuasa Barat.

Pada Abad ke-18 Eropa mulai masuk menembus perekonomian dan politik. Sejalan dengan itu pula, negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda dan Perancis saling berebut tanah kekuasaan di negara-negara yang berpenduduk Islam. Seperti India, dan sebelah selatan timur Asia, termasuk Indonesia.

Abad ke-19, adalah abad di mana orientalis mencapai puncaknya dalam membentuk kebudayaan Barat.

Orientalis menkaji hampir semua disiplin ilmu seperti eksotika, ekonomi, histori, dan teks politik. Secara umum, orientalis telah berhasil menjadi bagian signifikan dari kemajuan budaya dan peradaban Barat.

Di abad ini pula Abraham Hyacinthe Anquetil dan william Jones telah menangkap khayal imajinatif mengenai masa “kontemporer” mengenai dunia baru yang eksotis, dari Timur menjadi Barat.

British yang berada di India dan Napoleon yang sedang menduduki Mesir telah mengenal potensi besar untuk memanfaatkan orientalis, seperti Jones, untuk membangun imperium mereka. Berhubungan dengan mutu intelektual para orientalis dengan kepalsuan dominasi politik.

Meninjau kembali pengalaman buruk masa lalu, peristiwa dilematis ini kini mengundang pertaanyaan-pertanyaan tak kunjung usai dari   kaum intelektual Timur, apakah penyebab Barat menjajah Timur? Adakah yang salah dengan Timur (Islam)?

Ada dua kelompok cendekiawan Islam yang mencoba menjawabnya dengan jawaban yang saling kontradiktif. Kelompok pertama lebih menyalahkan pada pihak luar. Adi, kenapa umat Islam terpuruk, menderita, miskin dan malang, tak lain karena orang-orang Eropa sengaja ingin menghancurkan umat Islam diseluruh belahan dunia. Alas an ini tentunya mereka menyudutkan para orientalis yang banyak berpartisipasi aktif dalam membantu kolonialis Barat dalam penguasaan Timur terutama dalam bidang politik dan militernya.

Kelompok kedua, lebih memilih menyalahkan diri sendiri, tubuh umat Islam. Kelompok ini memandang bahwa keterpurukan umat Islam, miskin dan bodohnya adalah dikarenakan  kelalaian dan kemalasan mereka dalam mengkaji Al-Qur’an. Dan tak mengindahkan kekayaan khazanah keilmuan Islam yang yang rupanya telah banyak di adopsi Barat jauh berabad-abad sebelumnya. Kelompok ini pun menguatkan, sepanjang umat Islam kuat dan bersatu, maka mustahil Eropa berani menjajah kita. Umat Islam terpuruk, tak lain karena umat Islam sendiri yang jauh dari ruh-ruh keislaman itu sendiri. Karena tak dipungkiri, Barat pun mau karena mengadopsi keilmuan-keilmuan Islam. Yang darinya pencerahan “Enlightenment” Eropa dimulai.

Maka, kelompok kedua ini tak segan-segan mengajak umat slam untuk belajar pada Barat. Karena, hanya dengan menguasai ilmu, teknik, dan filsafat modern Barat, maka Umat Islam akan menemui kejayaanya kembali. Berbeda dengan kelompok pertama yang ‘anti Barat’. Baginya, cara Islam meraih kembali pencerahannya adalah dengan kembali pada tradisi lama Islam. Karena mempelajari tradisi ilmu dan filsafat Barat hanya akan menjerumuskan umat Islam pada system kebaratan yang tak ada sisi warna keislamannya itu.

Sample yang paling dekat adalah munculnya paham liberalisme yang merupakan cermin paling transparan dalam meramaikan modernisme barat. Ada yang berpendapat, liberalisme adalah racun ganas di era saat ini yang mencoba mengaburkan kajian keislaman dari jati dirinya. Namun, kelompok kedua berpendapat bahwa liberalisme perlu dipelajari, di perdalami, dan dipahami secara benar. Jangan sampai trauma searah kolonialisme terulang lagi.

Bersambung…!

Referensi :

  1. Maxime Rodinson, Europe and the Mystique of Islam, I. B. Tauris & Co Ltd London, 1988.
  2. Zachary Lockman. Târîkh Al-Istishrâq Wa Siyâsah; Al-Shirâ’ `Alâ Tafsîr Al-Sharq Al-Awsath (first ed.). 2007. Beirut: Dar Shorouk.

3. A.L. Macfie, Orientalism, The American University, Kairo, 2000


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s