Kau…terlalu sakral bagiku…

(Masa lalu..tangkap aku dalam kefanaanmu…)

Kubutuh ketenangan…

Kuingin kedamaian…

Kuimpikan kasih sayang tulus itu…

Biarkan aku dalam kesendirianku…

Biarkan aku dalam kontemplasiku…

Biarkan aku  dalam alienasi diriku…

            Dalam penghujung malam yang kian tenggelam di kesunyian dan kesenyapannya. Aku terpekur sendiri…menatap gelap kelamnya langit..sepi, sunyi dan hening. Meski jalanan Kairo malam ini begitu ramai, hilir mudik penduduknya yang tak kunjung berhenti, tetap saja tak kuhiraukan. Walau Digemerlapan cahaya lampu-lampu malam sana kulihat segerombolan manusia yang tengah bersua, berpesta ria sambil meneguk Jus buah ala Mesir dikehangatan malam musim panas Kairo yang layaknya musim semi itu, tetap juga tak kuindahkan. Aku hanya duduk mematung disamping flatku…sekali-kali aku berdiri, berjalan searah kaki melangkah. Kumenyelami alam anganku, sambil mengikuti alunan instrument ‘caravansary’ yang sendu, cukup mewakili perasaanku saat ini.  Kadang aku terlalu menikmati kesendirianku ini. menurut mereka aku sendiri, tapi sejatinya aku tidak sendiri. Justru aku merasa berada dalam keramaian dengan obrolanku bersama akal, jiwa, perasaan hati, dan senandung curahanku bersama Ilahi.

            Tapi terkadang aku ingin berontak. Aku lelah dengan kesunyianku. Aku bosan dengan ruang alienasiku. Aku ingin terbang…terbang dalam keramaian..yang bisa membuatku tersenyum, tertawa dan riang bergembira. Aku inginkan kebebasan itu…aku mengimpikan hidup dalam kebebasan. Tidak terbelenggu dalam kehimpitan angan ini. Sungguh!!!aku ingin bebas!!!

            Tapi…Ah…Kau…lagi-lagi kau menjelma bagai singa yang menakutkan! Kharismamu menyulapku menjadi mangsamu yang terkapar-kapar tiada berdaya. Sekian lama aku hanya berjalan tertatih-tatih. Aku melangkah terhuyung-huyung. Hati kecilku berbisik, aku butuh tongkat itu. Tapi aku masih buta, kemana tongkatku. Aku kehilangan tongkatku hingga dua tahun berjalan ini. Kau lah tongkatku. Kau lah dambaanku. Tapi kau juga duriku, kau jurangku. Kau yang telah membuatku sakit…sakit lahir bathin sekian lama. Kau yang telah banyak mengubah alur hidupku…hidupku yang dulu selalu dihiasi  keceriaan, kini hanya berbentuk kesemuan, kejemuan dan pesakitan yang teramat menusuk. Aku ingin bangkit… Sampai kapan aku seperti ini???

Aku takut…ya…aku masih takut mengenalmu lagi. Aku masih terjangkit fobia yang teramat kronis. Kau…terlalu sakral bagiku. Jatuh bangun aku karenamu, Pikiranku kosong terkuras anganmu, waktuku habis tersita karenamu, jiwaku mati terampas olehmu, hatiku hancur terinjak-injak keangkuhanmu. Akankah kesetiaan itu masih berarti bagimu??? Benar kata orang, “kesetiaan itu menyakitkan”. Tapi aku tak punya modal lagi akan ketulusanku, kecuali dengan kesetiaanku ini. salahkah aku jika aku masih menjagamu dihatiku?

            Tapi Kau… pergi dan menjauh. Dan bahkan jauh selama-lamanya. Aku turut tersenyum menyaksikan kebahagiaanmu dari jauh. Meski hanya dengan seulas senyum getir yang menyimpan kepahitan dan bahkan meracunkan diriku sendiri. Biarlah…kau bahagia disana. Biarlah…kau tiada menoleh padaku sedikitpun. Biarlah…kau anggap diriku hanya bagian puing-puing masa lalumu yang tak pantas ditengok kembali. Meski aku masih bertahan menyimpan rapi segala wujudmu dalam lubuk kalbuku yang teramat dalam. Percayalah..!!!kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Meski kau bukan berbahagia denganku.

Kau memang terlalu sakral bagiku…membuatku turut mensakralkan siapapun yang sejenismu. Semuanya bermula darimu, kau membuatku terjatuh, namun tak membuatku bangkit kembali. Kau menjadikanku buta, hingga ku tak lagi mampu melihat indahnya perasaan fitrah manusia. Kau membuatku terpenjara, hingga sekian lama aku terjerat dalam keterkungkungan bathin, isolasi diri, dan gelap pekatnya warna hidupku.  Kau telah membunuhku, hingga ku tak lagi temukan spirit hidup.

            Aku tak kan lagi mengharapkanmu. Ya…karena kau tak lagi membutuhkan harapanku. air mataku mengering, Harapanku berbuah kehampaan. Bagaimanapun warna air mata itu….beningkah, atau darahkah, Mata sembabku lelah menampungnya. Mataku telah berubah menjadi muara dari telaga kesedihan yang bermerah darah. Aku lelah meratap, aku letih mengenang, aku terlelap dalam mimpi yang teramat buruk. Kumohon, lepaskan aku dari belenggu ini…

Aku ingin belajar menghargai hidup. Aku ingin belajar mencari hikmah hidup.  Aku ingin belajar ikhlas. Aku ingin meraih spirit jiwaku, menarik self motivatorku, menggapai citaku. Aku ingin memungut kembali serpihan-serpihan jiwa yang   hancur itu. Aku ingin merebut kembali hatiku, menjadi manusia yang utuh, bak bayi yang baru lahir.

Aku merindukanmu…ya..aku merindukan sosokmu untuk bertemu dalam ikatan suci. Siapapun kau…aku tetap kan menunggumu!!!

Ya Rabb..pasrahku hanya padaMU. Ridhoi-lah ketulusan hamba, lindungi hamba dari putus asa!!!


3 thoughts on “Kau…terlalu sakral bagiku…

  1. Kunci hidup hanya 2
    Bersyukur&Sabar
    Yakinlah Robb sedang merajut rencana paling indah untuk kita
    Hanya waktu yang kan menjawab semua
    Tabbasam fa inna hunaaka man yuhibbuka wa yarooka wa yasmauka wa huwaALLAH
    Wa ma ahzanka illa liyusaiduka
    Wa ma akhodza minka illa liyu’tiika
    Wa ma abkaaka illa liyudhikuka
    Wa ma ibtalaaka illa liannahu yuhibbuka
    Fa qul La ilaa ha illa Allah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s