Sikap Kita terhadap Hegemoni Global Barat

  (Upaya Harmonisasi antara Klasik dan Modernitas)

Prolog

Dalam dua dasawarsa terakhir ini, peta dunia sedang ditandai oleh friksi dan tensi krusial dengan ragam wacana pembaharuan yang diprakarsai oleh modus pemikiran multikultural. Tak pelak lagi, iapun merambat melintasi setiap belahan bumi dengan mengatas-namakan dua peradaban besar, peradaban timur dan barat. Rupanya teori analisis “Permanen Confrontation”  yang pernah dicuatkan oleh Prof. DR. Naquib Al-attas dalam bukunya “Islam and Secularism” di awal dekade 1970-an itu kini telah menemukan jawabannya. Dimana konflik abadi antara peradaban Islam dan perdaban Barat itu terus mengalir, yang bermula dari level histori keagamaan menuju militer hingga berpangkal/berujung pada skala keintelektualan.

 

Ironisnya, Negara Islam terbesar, Indonesia, yang dulunya menjadikan timur-tengah sebagai kiblat kemajuan dan peradaban, nampaknya di era materialisme ini ia tak lebih sebagai ‘boneka’ pencaplokan para kapitalis Barat. Bagaimana tidak,  alih-alih Negara Indonesia, Negara yang sarat akan corak pluralitas ini, kini spirit kebersamaan dan kerukunan beragama serta seruan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Divercity) itu nyaris lirih terdengar . Pergolakan antar para penguasa negara yang tak bisa dibendung, perselisihan antar para stake holders, tokoh agama dan cendekiawan muslim, yang saling sikut dan melecehkan, bahkan tak jarang berakhir dengan tindakan anarkisme, maka bisa ditebak, sikap derisif dan kontroversial tanpa ujung ini dapat ditarik benang merah bahwasanya bangsa Indonesia masih terkungkung dalam jeratan konspirasi global. Sebuah konspirasi frontal yang tak hanya dilakukan oleh kalangan internal umat Islam atau Bangsa Indonesia sendiri, namun telah terasuki beberapa kepentingan dan kuasa tertentu di Barat.

Menyinggung soal Barat, peradaban bangsa yang sangat kental dengan ciri sekular-liberalnya ini begitu mudahnya terlepas, ibarat virus atau “penyakit menular” yang ganas, menyerang dan melejit jauh menghegemoni hampir setiap genderang keagamaan dan kancah perpolitikan dunia, termasuk didalamnya merasuki  generasi umat Islam yang sedang tertatih-tatih dalam gerbang persimpangan budayanya ini.

 

Sungguh memprihatinkan! Fenomena westernisasi yang sedang menduduki cap “trend” dan fenomenal ini kerap menyandingi keilmuan, pemikiran dan studi Islam di Indonesia. Hegemoni Barat bukan hanya menonjol dalam bidang ekonomi, politik, sosial ataupun budaya saja, namun terus merayap menghinggapi pemahaman keagamaan (baca: agama Islam).  Paham secular isme dan liberalisme yang lahir dari rahim peradaban barat ini menanamkan distorsi keras dengan upaya mengubah metode kajian Islam mengikuti tradisi Yahudi dan Kristen. Sehingga, mau tak mau, metode ini mengandung resistensi tinggi terhadap konsekuensi menghilangkan pandangan hidup islam dialihkan dengan memeluk paham dan pandangan hidup barat.  Anehnya, jejak liberalisasi agama ini ditelan mentah-mentah oleh para sarjana dari kalangan umat Muslim. Ketika muncul adagium “reduksi egaliter” terhadap interpretasi Nash Al-Qur’an dan Al-Hadits yang diklaim irasionalitas dan bias gender, serentak mereka ‘membebek’ saja membuntuti ajakan metode barat tanpa nalar kritis.

 Tak hanya itu, Graduasi arus pembaharuan serta membludaknya aliran pemikiran ditengah-tengah masyarakat kosmopolitan ini,  selalu dikerucutkan pada agama,sosial dan politik. Bisa diperhatikan dari corak gradasi yang dibentuk dimasa modern ini, sesuai dengan konteks neologi yang beredar, aliran-aliran pemikiran Islam terpecahkan oleh kecenderungan-kecenderungan yang diformulasikan dalam bentuk tradisionalis, modernis, neomodernis, postmodernis, revivalis, neorevivalis, dan lain sebagainya.

Tak mengherankan, jika kemudian muncul dikotomi ideologi antara golongan progresif  dan kelompok konservatif dikalangan wacana pemikiran Islam sendiri. Pemetaan konfrontatif inilah yang selanjutnya berimplikasi pada benturan-benturan dan perang terminologi dikalangan kelompok masyarakat khususnya kalangan kaum muslim sendiri dan Para cendekiawan muslim Indonesia.

Untuk kesekian kalinya, Indonesia terjerembab dalam “neoImperialisme” yang memprihatinkan. Lebih dari setengah abad Indonesia merdeka, namun kemerdekaan itu tak lebih hanyalah sebagai simbol formalitas belaka. Kenyataannya, sampai era reformasi ini Indonesia masih belum mampu mengatasi dominasi permainan otoritas barat. Kompleksitas permasalahan antara agama dan politik pun tak kunjung usai. Ibarat menimba air Zamzam di Tanah Suci, pembicaraan tentang masalah ini tidak akan ada habis-habisnya. 

 

Menurut Naquib Al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relativ diterima. Tidak ada satu kepastian! Itu poin kelemahannya. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. ‘Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhanpun dimanusiakan’. Berbagai problem kemanusiaan muncul sebagai hasil dari kacaunya nilai-nilai. Inilah potret kemajemukan berpikir manusia di era materialisme saat ini.

Antara Klasik dan Modernitas

Abid al-Jabiry, tokoh pemikir asal Maroko, pemilik kitab naqd ‘aql al-‘Araby’ (Kritik Nalar Arab) ini berkata, bahwa sejatinya bangsa arab sedang mengalami krisis mental dan kemasyarakatan. Keadaannya yang masih terkungkung dalam jerat belenggu kejumudan berpikir membuatnya harus mengakui kemajuan hegemoni Barat saat ini yang kepak sayapnya tak dapat terbendung lagi. Lebih lanjut Jabiri berpendapat bahwa mencari jati diri  dan mencapai kebangkitan Arab dan Islam itu takkan terwujudkan tanpa proses identifikasi diri dari pemikiran Barat. Yaitu melalui proses koreksi-mengoreksi, dan berlangsung dari generasi ke generasi.

Identifikasi diri inipun lebih dapat termanifestasikan melalui sikap yang seletif antara klasik dan modernitas. Tak dielakkan, setiap peradaban dan kebudayaan tentunya memiliki identitas, nilai, konsep, dan ideology sendiri-sendiri yang disebut  wordview (pandangan hidup). 

Lantas, apa maksud dari identifikasi diri itu? Abdul Qahir al-Jurjani mendefinisikannya sebagai sebuah hakikat yang mutlak. Sedang kamus Majma’ Lughah al-‘Arabiyah kontemporer mengartikannya sebagai hakikat sesuatu, privasi dan sifat esensial yang membedakan dengan lainnya. Sedangkan makna ‘identitas’ dalam sebuah peradaban berarti sebuah ciri dan sifat yang paling esensial dan membedakan antara konsep dirinya dengan pandangan peradaban bangsa yang lain.  

Bagaimana cara bermu’amalah dengan turats tersebut? Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan, ada empat pokok penting sebagai pemandu ketika kita berhadapan dengan turats (klasik) :

  1. Melihat keshahihan sanadnya. Karena, tidak semua ilmu klasik itu dibenarkan kecuali melalui kebenaran sanadnya.
  2. Hak prerogative kita dalam mengkritiknya, selama tidak bertentangan dengan Nash suci Rasulullah SAW
  3. Sikap yang adil dalam mengkritik
  4. Menggunakan metode kritik yang santun, tanpa adanya unsur-unsur cacian dn makian.

Namun, sikap manusia modern saat ini justru berbeda-beda dalam menghadapi turats. Ada tiga golongan, yang pertama memandang turats dengan penuh kebencian dan kedengkian dan bahkan membuangnya mentah-mentah. Ada dua ciri dalam golongan ini. Ada yang membenci turats karena kesalahan persepsi dan cara pandang, adapula yang memakinya karena sikap sentiment dan ego yang menguasainya. Kedua, mereka yang menafikan turats karena kebodohannya. Ketiga, mereka yang menerima mentah-mentah tanpa memfilter terlebih dahulu. Dari ketiga golongan ini, golongan ketiga merupakan golongan yang paling berbahaya, karena mereka menafikan fungsi akal dan nalar kritis di dalamnya. 

Pengaruh Metodologi Orientalisme terhadap Pemikiran Generasi Islam

Metodologi study tentang peradaban Timur yang diprakarsai para kaum intelektual Barat yang nampak membahana menjadi diskursus dan wacana kontroversial  ini berkisar pada kajian budaya, agama, kultur, sejarah dan bahasa.  

Setidaknya ada tiga orientasi besar yang bisa dikategorikan pada kajian yang digagas oleh para orientalis Barat, diawali dengan misi kristenisasi, akibat pengaruh misionaris yang dimulai sejak abad 8 Hijriah. Rupanya pengalaman traumatis akibat kekalahan gereja dalam perang salib ini menimbulkan dendam kesumat cendekiawan Kristen yang kemudian menggencarkan praktik dakwah lewat kristenisasi. Mereka perdalami ajaran Islam, untuk membentengi akidah umat kristiani dari pengaruh ajaran Islam, dan berusaha menggali kelemahan umat Islam, lantas kemudian menjerumuskan  umat Islam dalam iming-iming yang dipoles melalui upaya kristenisasi. Namun misi ini tak berlangsung lama, diapun segera punah seiring punahnya doktrin gereja yang bersumber dari fanatisme dan kekuasaan Roma.

Abad ke 15, awal kegemilangan Eropa yang  mengawali spirit Renaissence  “Lahir Kembali” ini mampu mereformasi, mendobrak kejumudan berfikir teologi kristen menuju kebebasan yang falsafi. Masa kebangkitan Eropa mengilhami para orientalis untuk mengkaji Islam dan timur bukan lagi bermisi kristenisasi, tapi berlajut pada praktik kolonialisasi. Seperti dalam asumsi, ‘pengetahuan berdampak pada penjajahan’. Siasat inilah yang kemudian dikembangkan kaum orientalis dalam menguasai timur secara keseluruhan. Seperti India yang dijajah Inggris, al-Jazaer dijajah Perancis, kemudian Mesir dan Tunis. Wilayah Asia pun tak ketinggalan, seperti ibu pertiwi kita Indonesia yang menjadi sasarn empuk Belanda selama hamper tiga abad lamanya. Nampak sudah, ternyata tiga Negara besar, Inggris, Prancis dan Amerika adalah dalang dari imperialisme. 

Melangkah pada awal abad 20, obyektifitas kajian orientalis mulai nampak.  Para orientalis pun berlomba-lomba melakukan riset professional. Bisa kita lihat Sekolah bahasa timur, institusi dibangun demi kepentingan riset ilmiah.

Tak pelak lagi, imperialisme yang digencarkan Eropa rupanya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap masyarakat dunia, terlebih dampak modernisme yang bisa kita nikmati auranya hingga saat ini.

Bagaimanakah generasi Islam bersikap???

Sebagai kaum akademis yang mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, ada dua sikap yang perlu diperhatikan, terlebih menghadapi hegemoni global Barat yang sarat menghegemoni masyarakat dunia.

Pertama, hubungan yang dialogis. Yaitu, dengan cara sharing idea, diskusi dan dialog secara kekeluargaan. Tidak bersikap antipati terhadap pemikiran barat apalagi sampai menghadapinya dengan emosi yang meletup-letup. Namun, harus dihadapi dengan pikiran yang jernih dan sikap kritis  pada level intelektual.

Kedua, melawan hegemoni Barat dengan menguasai budaya, peradaban dan persaingan keilmuan. Sehingga umat Islam mampu untuk bersaing dan tidak hanya menjadi penonton dalam kancah peradaban dunia. Seperti dalam permainan bola, jika sebuah tim melakukan strategi bertahan, maka tim musush akan serta merta all-out menyerang dari segala arah. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah strategi baru untuk menguasai permainan dengan cara menyerang. Seperti dalam pepatah ” menyerang adalah pertahanan yang paling baik”.  

Dua hal tersebut bisa diperoleh oleh umat Islam dengan kembali merekonstruksi infrastruktur pemikiran setiap individu muslim. Minimal dengan mengadakan revolusi pendidikan sebagai media pencetak pemikiran yang akan mempengaruhi pola pandang dan pola laku individu tersebut. Karena pemikiran adalah kekuatan untuk merubah individu yang tersubordinasi menjadi dominasi.

Epilog

Setiap manusia memiliki masa lalu. Masa lalu itu adalah cermin kita pada masa kini, dan cambuk kita untuk masa depan. Seperti kata pepatah “Lâ hâdhira liman lâ mâdhiya lahû, walâ mustaqbala liman lâ hâdhira lahû”. Jadi, masa lalu adalah sejarah yang tak bisa dilupakan.

Islam sebagai agama yang memiliki sejarah yang sangat panjang. Tentunya, dipenuhi dengan berbagai macam pemahaman dan model pemikiran. Maka, untuk memilah mana yang baik dan yang buruk dibutuhkan sebuah referensi yang valid dan bisa dipercaya. Hal ini tentunya akan menyebabkan kita membutuhkan seorang pembaharu untuk mengubah pola keberagamaan kita.

Islam adalah agama yang memiliki dogma gerakan pembaharuan. Seperti yang disebutkan dalam Hadits yang menyatakan bahwa disetiap awal seratus tahun itu akan ada seorang tokoh pembaharu yang akan melakukan pembaharuan terhadap keberagamaan kita. Karena keberagamaan umat Islam dari masa ke masa mengalami reduksi, maka harus ada seorang pembaharu yang dapat mengembalikan umat Islam pada khittah awalnya.

 Tak dapat dinafikan, perubahan-perubahan dalam umat pada dasarnya adalah suatu fenomena social yang akan berlangsung secara terus-menerus. Perubahan itu akan berjalan lebih cepat dan dinamis, antara lain karena makin cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi. Agama tentunya tidak akan berubah, tetapi keberagamaanlah yang akan berubah. Karena, pemikiran manusia tentang ajaran agamalah yang ikut mempengaruhi dan membentuk sejarah peradaban umat manusia selama berabad-abad.  Demikian! Wallahu a’lam bi al-showab

 

Referensi:

 

Dr. Yusuf Qardhawi, Kayfa Nata’âmal ma’a al-Turâts wa al-Tamadzhab wa al-Ikhtilâf, Maktabah Wahbah, 2001

 

Dr. Muhammad Imârah, Al-Istiqlâl al-Hadhârî, Maktabah al-Usroh, 2005

 

Dr. Halah Musthafa, al-Islâm wa al-Gharb mina al-Ta’âyusy ilâ al-Tashâdum, Maktabah Usroh, 2002

 

Zachari Lockman, Târîkh al-Istisyrâq wa siyâsâtuhû, Dar Al-Syuruq, 2007

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s