Wacana Teosofik Râbi’ah al-‘Adawiyah

 

Sosok Promotor Sufistik Dunia yang Ideal dan Moderat

(Di Presentasikan dalam kajian Reguler PPMI-Mesir, 19 Juli 2009

Prolog

Islam hadir di tengah-tengah masa ambiguitas bangsa Romawi atas sisi kemanusiaan perempuan. Pelbagai seminar digelar sebagai respon atas pertanyaan yang selama ini menghantui mereka. Antara lain, “Apakah perempuan tergolong suatu benda atau manusia? Apakah perempuan hanya berfungsi sebagai alat penyenang kaum Adam ataukah mereka masih memiliki watak dan sisi kemanusiaan?

Pelbagai pertanyaan terus bermunculan dan berakhir pada satu kesimpulan yang menyatakan bahwa perempuan tak memiliki nyawa sama sekali. Ia dianggap tak memiliki hak menikmati kehidupan berikutnya di kehidupan kedua kelak. [4]

Demikianlah pandangan mereka ini kekal hingga akhirnya Islam datang mengangkat harkat dan martabat perempuan. Fakta ini kian berpijar dengan aktifitas Nabi ketika menggelar pelbagai halaqah keilmuan. Di mana Nabi memberikan hak meniti ilmu pada laki-laki dan perempuan dalam porsi yang sama. Dalam pelbagai pertemuan misalnya, Nabi turut menyertakan kaum perempuan untuk menyiarkan dakwahnya.

Persamaan hak pendidikan antara kaum Adam dan Hawa yang dilakukan Nabi melahirkan munculnya teladan-teladan kaum Hawa yang signifikan. Semisal Khadijah Binti Khuwailid. Beliau terlahir sebagai sosok cerdas yang mampu memberikan perlindungan pada Nabi ketika berselimut duka. Simbol penenang Nabi dalam kekalutan. Penyelesai pelbagai persoalan yang menimpa Nabi.

Aisyah patut kita jadikan sebagai contoh. Ia dikenal sebagai perawi hadis Nabi. Perempuan cerdas yang disebut Nabi dalam sabdanya, “Ambillah setengah pengetahuan agamamu (Islam) dari perempuan yang wajahnya merah merona ini.”[5]

Beberapa era kemudian, kita temukan sosok-sosok muslimah yang pandai mencarup ilmu agama dan menebarkannya pada masyarakat semisal Ummu ‘Ammar Bin Yasir dan Sayyidah Zainab yang memberikan dorongan penuh pada Imam Husein hingga kematiannya. Sosok lain yang tak lupa kita sebut, Sayyidah Nafisah, muhaddis dan ahli fikih yang darinyalah Imam Syafi’i menuntut ilmu-ilmu Islam.

Masih lengkap dalam ingatan, sosok muslimah prolifik yang memiliki hati mulia nan menentramkan batin. Mendengar namanya akan memberi stimulan kuat pada kita untuk beraktifitas religi lebih baik. Ikatan batin yang nampak ketika menggelar kisah kasih dengan Tuhan mencuat terang hingga membuat kita berbinar dan berdecak kagum. Betapa dia kekasih Tuhan. Ya, dialah Râbi’ah al-‘Adawiyah. Muslimah yang mendapat predikat sebagai salah satu pembesar kaum teosofis.

Wacana Sosio Kultural Masa Kenabian

Nabi ialah sosok paripurna yang memiliki keistimewaan luar biasa. Ajarannya secara karakteristik bisa dikategorikan menjadi tiga, posisi beliau sebagai seorang hamba Allah, sebagai penyebar syariat, dan pemimpin umat. Nabi amat zuhud, fakih sejati, dan pelopor penyebaran Islam di pelbagai penjuru.

Dari kezuhudannya, Nabi tak pernah sedikitpun meninggalkan salat tahajjud. Malam hari dipergunakannya untuk beribadah, siang untuk mengatur sistem pemerintahannya. Hidup seadanya. Rumahnya seumpama gubuk yang dihuni kaum papa. 

Terkisah, Nabi dan istrinya tinggal di dalam rumah yang terbuat dari batang tebu. Beliau tak hiraukan keadaan ini. Di dalam gubuk ini, Khodijah mendidik anak-anaknya, termasuk di dalamnya ialah Fatimah. Hasan dan Husein anak Ali dan Fatimah menatap pola hidup yang dirasakan ibunya. Itulah sebabnya Khodijah dan Fatimah memiiki nilai hidup sufistik yang diikuti perempuan setelahnya.[6]

Nabi sebagai penyebar syariat Allah, di pelbagai kesempatan, Rasulullah mengajarkan Khadijah tata cara salat, wudhu, dan bagaimana menetapkan waktu salat.[7] Ajarannya pada Khadijah ini turut mendarah daging di kalangan para ahli fikih setelahnya hingga kini. Terbukti dengan bilangan karya fikih yang melanglang buana di dunia Islam. Dengan tipikal fikih ini, mustahil kita meragukan bahwa Nabi hanya menyebarkan Islam tanpa mengajarkan syariat.

Sedang posisi Nabi sebagai pemimpin umat terbilang meraih kesukesan menjulang. Di beberapa peperangan, umat Islam meraih kemenangan. Dakwah Islam meluas dengan mudah dan diterima dengan welas asih oleh umat manusia.

Ketiga posisi Nabi tersebut di atas rupanya telah mengerucut pada pengelompokan umat Islam menjadi tiga kelompok. Sosok beliau sebagai seorang pemimpin umat diikuti oleh kaum bangsawan yang menempatkan posisi mereka di ranah perpolitikan. Posisi Nabi sebagai seorang fakih, mengantarkan kaum menengah meraup ilmu untuk menjadi mujtahid fikih. Terakhir, posisinya sebagai hamba Allah yang zuhud dan ahli ibadah diikuti para kaum papa untuk menjadi seorang sufi.

Di samping itu, didikan Nabi atas kezuhudan pada anak istrinya diikuti oleh para muslimah setelahnya dengan berkiblat pada pola ibadah dan kezuhudan Khadijah Binti Khuwailid dan Fatimah hingga tibalah masa hingar bingar sufistik era Basrah.

Biografi Singkat Râbi’ah al-‘Adawiyah

Irak awal abad dua hijriyah berhiaskan fenomena nan kaya akan spirit kehidupan, kekuatan, dan pemikiran. Kota Basrah ketika itu didaulat sebagai kota terbesar di Irak, mercusuar keilmuan dan ajaran makrifat sufistik Islam. Medan pencarian titian ilmu para ilmuwan dan pemikir. Kebesarannya mampu melahirkan empat ribu ulama yang berujar tentang makrifat.

Di tengah-tengah fenomena menyegarkan ini, kita akan temukan kafilah dari kaum mukmin Persia, Arab dan Romawi. Di antara mereka hiduplah kaum papa yang hidup di ujung Basrah di gubuk-gubuk kecil yang temboknya rentan runtuh. Dari sekian gubuk-gubuk reyot itu, hiduplah seorang lelaki tua pecinta ibadah dengan istrinya yang tengah hamil dan ketiga anak perempuannya.

Setiap tahun, istrinya hamil dan melahirkan anak perempuan. Setiap kali lahir anak perempuan, sang istri tersedu sedan. Baginya, kelahiran anak perempuan merupakan beban berat yang harus dipikul. Sebaliknya, suaminya yang taat beribadah menerimanya dengan rasa syukur. Detik-detik dilahirkannya Râbi’ah, keluarganya tak memiliki harta apapun. Minyak yang dipergunakan sebagai penerang tiada sedikitpun. Yang tersiapkan hanyalah sepotong baju lusuh sebagai kain penutup anaknya ketika dingin. Untuk meminta pada tetangganya, ayah Râbi’ah malu.

Dengan langkah kaku, Ayah Râbi’ah mengetuk pintu tetangganya satu persatu hanya untuk meminta minyak sebagai sumber alat penerang gubuknya yang reyot. Namun tak seorang pun terketuk hatinya memenuhi permintaannya itu. Hanya satu tetangganya yang memberinya sepotong kain sebagai kain penutup badan Râbi’ah. Akhirnya, dia hanya pulang dengan membawa sepotong kain.

Malam yang penuh derita itu menjadi saksi keluh kesah ayah Râbi’ah dan istirnya. Sembari menunggu anaknya lahir tanpa bantuan siapapun dan hanya menemani istrinya, ia hanya bisa terpekur bermunajat pada Allah atas apa yang menimpa diri dan keluarganya. Terpekur sendu menanti pertolongan Allah dalam sekejap. Tiba-tiba lampu menyala dan istrinya melahirkan Râbi’ah dengan susah payah.

Suatu malam, ayah Râbi’ah bermimpi bertemu dengan Nabi. Dalam mimpinya itu, Nabi berkata, “Janganlah bersedih. Tersebab anakmu ialah perempuan mulia. Sesungguhnya 70 orang dari umatku akan mengharap syafa’at darinya.” Kemudian Nabi memerintahkannya untuk menemui Isa Zadan gubernur Basrah dan menulis surat padanya yang mengabarkan bahwa Nabi telah mengunjunginya ketika dia terlelap istirahat di malamnya yang panjang. Dalam mimpinya itu, Nabi memerintahkannya untuk menemui Isa Zadan dan bersabda padanya, “Kamu telah membiasakan salat 100 raka’at salat tiap malam. Khususnya malam Jum’at, kamu membiasakan salat 400 raka’at. Sayangnya, di Jum’at terakhir kamu lupa. Maka dari itu, bayarlah 400 dinar pada pembawa surat ini sebagai kafarat atas kelalaianmu.”[8]  

Râbi’ah kecil tumbuh di tengah tempaan ilmu dari ayahnya, seorang ahli ibadah, zuhud, dan fakir. Sedari kecil, benih-benih kecerdasan nampak dari biasan wajahnya. Dari kecerdasannya itu, tak menampakkan bahwa dirinya masih berusia muda. Misalnya nampak pada kecerdasan batinnya yang tak nampak seperti kawan seusianya. Dia tak meminta sesuatu seperti yang dimiliki kawannya. Ketika duduk mendapatkan makanan, dia tak berebut meraihnya dan tak akan meminta tambahan.

Sedari kecil dia sudah fasih membaca al-Qur’an. Orangtuanyalah yang sedari kecil telah mendidiknya secara paripurna untuk menjadi anak yang berakhlak mulia. Dengan imannya yang murni dan rohani yang mulia, Râbi’ah menjadi anak taat akan perintah agama. Suatu ketika, ayahnya mengajaknya makan malam dengan keluarganya. Kemudian dia memperhatikan ayahnya dan berkata padanya, “Ayah, saya tak menganggap apa yang kau makan halal ini ialah sebagian dari makanan yang haram.”

Dengan penuh kesabaran, ayahnya berkata, “Yang kita makan ini bukanlah dari yang haram”. Râbi’ah kecil menjawab dengan sopan, “Kita bersabar dari kelaparan di dunia ini itu lebih baik daripada kita bersabar dari api neraka di hari kiamat nanti.” Ayahnya tersentak kaget akan jawaban anak semata wayangnya ini. Ia tak pernah mendengar gaya tutur yang dilontarkan Râbi’ah kecuali di majlis kaum zuhud dan halaqah para ahli ibadah.      

Suatu malam sebelum tidur, Ayah Râbi’ah melewati kamar Râbi’ah. Betapa terkejutnya ayahnya ketika mendapati Râbi’ah kecil bermunajat pada Tuhan. Munajatnya itu tak henti hingga sang fajar menampakkan bias-biasnya. Selepas mengkhatamkan lelahnya di istirahatnya malam itu, sang Ayah terpaku karena mendapati putri yang dicintainya masih di atas sajadah menengadahkan diri pada Tuhan.

Belum memasuki usia dewasa, Râbi’ah terpaksa kehilangan orangtua yang mendidiknya. Dia terpaksa terpisah dengan saudara-saudaranya. Râbi’ah kecil hidup seorang diri dan berpisah dengan saudara perempuannya. Ia hidup papa. Ayahnya hanya mewarisinya perahu yang biasa dipergunakan ayahnya untuk mengantar orang-orang dari satu pantai ke pantai yang lain. Dari perahu ini, ia mengantar orang dari satu tempat ke tempat yang lain.

Malang sekali nasib Râbi’ah, kala itu Basrah sedang ramai-ramainya memanfaatkan kaum papa sebagai budak. Râbi’ah yang masih hijau terpaksa menjadi budak di sebuah keluarga kaya nan bengis. Tiap hari tumpukan kerjaan harus dilakukannya hingga lengan tangannya terluka penuh lecet. Di suatu malam, Râbi’ah bermunajat pada Allah, “Ya Allah, lenganku penuh dengan luka. Aku harus merasakan sakit yang mengaduh dan pahitnya keyatiman. Apakah Engkau ridha akan apa yang terjadi padaku, ya Allah? Ya Allah, inilah yang ingin kuketahui.[9] 

Suatu hari selepas ia bekerja seharian, malamnya ia bermunajat sebagaimana biasa. Tuannya yang seorang pedagang tiba-tiba melewati bilik reyotnya, ia mendengar munajat Râbi’ah dan menghampiri kamarnya. Matanya terbelalak ketika menyaksikan penerangan yang biasanya terletak di sudut ruangan berputar-putar di atas Râbi’ah. Esoknya, pedagang itu memerdekakannya seraya berkata, “Kamu saya merdekakan, wahai Râbi’ah. Setelah ini, jika kau berhasrat bersama kami, kami sekeluarga akan membantumu. Namun, jika kamu ingin pergi, pergilah! Aku restui kepergianmu.”

Râbi’ah akhirnya segera bangkit dan menuruni tangga rumah tuannya dan pergi meninggalkan kehidupan perbudakan yang dideritanya selama ini.[10] Adapun setelah itu, ia mengarungi kehidupan sufistik selayaknya kaum sufistik lain.

Ritual Sufistis Râbi’ah Adawiyah

  1. Puritas Rohani

Râbi’ah Adawiyah meraih derajat kejernihan rohani secara bertahap hingga pada tahap  paripurna. Pencapaiannya ini tak didasari taklid, akan tetapi merujuk pada tabi’at anugerah Ilahi. Sebagaimana dikisahkan Abû al-Qâsim al-Nîsâbûrî, suatu hari Hayyûnah, salah seorang tokoh sufi perempuan mengunjungi Râbi’ah dan mendapatkan Râbi’ah tertidur di tengah malam. Kemudian dia menyentuh kaki Râbi’ah dan berkata, “Bangunlah, telah tiba waktu berkumpulnya hamba Tuhan yang mendapat hidayah, wahai pengantin dan pembesar salat malam.”[11]   

Fase-fase sufistiknya berawal pada aspek ridha pada Allah. Terbukti dengan kerelaannya beribadah dan menjalankan kewajiban yang digariskan Allah. Di samping itu, ia menghafal al-Qur’an semasa kecil. Hari-harinya dipenuhi dengan ritual zikir pada Allah. Karena baginya zikir ialah wasilah penyentuh kalbu.

Fase selanjutnya yang ditempuhnya ialah fase murâqabah yang kemudian menjunjungnya menuju fase makrifat. Pada fase ini, berubahlah fase cinta-Nya pada Allah menjadi fase cinta yang paripurna. Fase yang menggeliatkannya berfikir untuk apa dirinya beribadah dan atas dasar apa ia beribadah. Apakah untuk meraih surga-Nya dan takut akan siksa-Nya? Bukankah Allah merupakan satu-satunya yang berhak mendapat cinta dan hanya pada-Nya lah manusia beribadah. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menaikkannya mencapai martabat sufistik tinggi, dari fase ridha pada Allah menjadi cinta pada Allah semata.[12]

  1. Cinta Ilahi

Di suatu kesempatan, Râbi’ah al-‘Adawiyah berkata, “Aku tidak menyembah-Nya karena takut api neraka-Nya, dan bukan pula karena cinta kepada surga-Nya, sehingga aku bak seorang buruh yang tidak baik. Namun, aku menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya.”

Di lain, Râbi’ah al-Adawiyah ditanya tentang sebab penyakit yang menimpanya. Ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu sebab penyakitku. Surga ditawarkan kepadaku, kemudian hatiku jatuh cinta padanya. Lalu aku menduga bahwa Kekasihku merasa cemburu kepadaku kemudian Ia mencaci maki diriku. Tetapi biarlah Ia berhak untuk mencaci maki.”[13]

Menurut al-Muhasibi, apa yang diucapkan Râbi’ah al-‘Adawiyah berupa konsep fana’ dan konsep cinta hubb merupakan  sesuatu yang dilebih-lebihkan pelakunya. Para pelaku bentuk mistik seperti itu telah keluar dari apa yang digariskan oleh Islam yaitu al-Qur’an dan Hadis. Al-Muhasibi sendiri memandang bahwa dalam beribadah kita memerlukan adanya al-Khauf dan al-Raja’ yang berprinsipkan al-Qur’an dan Sunnah. Karena Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang takwa berada di dalam taman-taman (surga) dan aliran-aliran mata air sambil mengambil segala apa yang didatangkan Tuhannya kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang selalu berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di waktu sahur (akhir malam) mereka selalu memohon ampunan kepada-Nya.” (QS 51: 15-18)[14]

Al-Qur’an menghimbau kita agar mau menempatkan nalar dan pengambilan pelajaran sebagai salah satu cara untuk mencari jalan keselamatan dari azab Tuhan, sebagaimana Dia berfirman:

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang selalu ingat kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Mereka selalu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, seraya berkata, “Ya Tuhan kami, Engkau tidak menciptakan (alam) ini dalam keadaan sia-sia. Mahasuci Engkau! Lindungilah kami dari siksa neraka” (QS 3: 190-191)

Konsep ibadah dan cinta yang masyhur di kalangan sufi tidak ada keterkaitannya sama sekali dengan rasa takut (rahbah) dan keinginan (raghbah), sebagai suatu pengabdian kepada Allah secara tulus. Dengan mengesampingkan pikiran takut pada neraka dan keinginan untuk meraih surga, konsep cinta dan ibadah mereka merupakan suatu yang tidak benar menurut al-Muhasibi. Sebab sikap itu bertentangan dengan penjelasan al-Qur’an dan Sunnah yang mengajarkan pada kita agar –dalam melaksanakan kewajiban- mengajak orang untuk beriman, dan melakukan amal salih harus selalu didasarkan atas rasa takut dan harapan itu.[15]

Konsep al-Hubb al-Ilâhî juga menghantarkan Râbi’ah pada penolakan pernikahan. Hal ini dipaparkannya dalam suatu pertanyaan yang disodorkan padanya:

“Ada tiga hal –penyebab kebimbanganku-. Apabila terdapat seseorang mampu menghantarkanku pada ketiga hal ini, maka aku akan menikah dengannya:

 

Yang pertama, apabila aku meninggal, aku dapat menemui- Nya dengan iman yang murni.

Yang kedua, apabila aku mendapat raport pahalaku dengan tangan kanan di hari akhir nanti.

Yang ketiga, apabila telah tiba hari pembangkitan, golongan kanan akan masuk surga, dan golongan kiri akan ditenggelamkan di lautan api neraka. Di antara kedua tempat itu, siapakah yang dapat menjamin tempatku.”

Sang penyodor permasalahan tak kuasa menjawab. Yang terkais dari kedua daging merah yang menyembul sedikit di bawah hidungnya hanya sekelumit ujar, “Aku tak mengetahui sedikitpun tentang itu. Yang Mengetahuinya hanya Sang Pencipta.”

Râbi’ah lantas menjawab, “Kalau memang begitu, bagaimana mungkin aku membutuhkan pernikahan, sedang diriku masih sibuk dan bersiteguh dengan tiga perkara ini.”

Râbi’ah telah terpaut hatinya dengan Tuhan. Tak secuilpun rongga hatinya diberikan pada selain-Nya. Acap kali Râbi’ah menyenandungkan syair sufistik.

راحتي يا إخوتي في خلوتي                و حبيبي دائما في حضرتي

لم أجد لي عن هواه عوضا                  و هواه في البرايا محنتي

حيثما كنت أشاهد حسنه                     فهو محرابي إليه قبلتي

إن أمت وجدا و ما ثم رضا                 وا عنائي في الورى وا شقوتي

سا طيب القلب يا كل المنى                 جد بوصل منك يشفى مهجتي

يا سروري و حياتي دائما                   نشأتي منك و أيضا نشوتي

قد هجرت الخلق جميعا أرتجي             منك وصلا فهل أقضي أمنيتي[16]

 

Signifikansi Gaya Sufistik Râbi’ah

Sejarah mencatat, Irak, sebuah negara berperadaban besar yang menoreh tinta emas di sepanjang perjalanan sejarah keilmuan dunia, corak negara yang berkontribusi besar demi kepesatan lalu-lalang para penggali ilmu agama sejak abad pertama Hijriah. Konon, tiga kota besar di dalamnya, Bashrah, Kufah dan Baghdad  yang sarat membidani banyak para tokoh bahasa, Tasawwuf, Filsafat dan Fiqh ini  menjadi gerbong pertama, di mana cikal-bakal disiplin keilmuan Islam dilahirkan.

Sebut saja Bashrah, kota bersejarah yang melahirkan sosok Sufi perempuan terkenal, Râbi’ah al-‘Adawiyah. Nama perempuan suci ini dikenal dunia karena kisah-kisah kehidupannya yang selalu menakjubkan bahkan berbau kemistisan.

Konon, Gaya sufistik Râbi’ah nampak ideal, unik dan berbeda dengan tokoh sufi lainnya. Adapun para ahli ibadah lainnya mengekspresikan ketawadhu’an dan rasa ketakutannya dengan cara berteriak histeris, menangis sekeras-kerasnya, meratap tersedu-sedu. Seperti yang dilakukan oleh Abdu al-Wahid Ibn Zaid, seketika dalam halaqah pengajian di sebuah masjid yang kala itu hadir sebagai penceramah  adalah Malik Ibn Dinar. ketika sang Malik menyebutkan sebuah ayat Allah yang berupa peringatan, seketika ‘Abd al-Wahid berteriak histeris, hingga jamaah pendengar yang hadir di masjid itu tak dapat mendengar suara Malik karena terlalu nyaringnya jerit tangis sang sufi Abdu al-Wahid. Berbeda dengan tokoh sufi Râbi’ah Adawiyah, dia memilih jalan beribadah dan berzuhud  dengan diam dan tenang. Sehingga bilik tempat tinggalnya yang kecil, nampak semakin damai dan syahdu. Inilah yang menjadi ciri khasnya, yakni bersuara dalam kalbu.

Adapun dua teori besar yang diusung sosok teosofik berpengaruh ini , adalah teori ‘al-Hubb dan al-Khullah’ atau “Cinta Ilahi dan Berteman dengan Tuhan”. Tak pelak, sebuah adagium “Cinta Ilahi” yang disorot dari konsep kesufian Râbi’ah ini mampu mengubah konsep awal yang telah berdiri lama, sejak abad pertama Hijriah. Yaitu teori “Rasa Takut”.  Di mana, Teori ini mengajarkan beriman pada Allah karena rasa takut pada neraka, dan merebut surga-Nya.  Munculnya teori ini karena terilhami dari berbagai fenomena gonjang-ganjing perpolitikan masa itu, juga keadaan sosial yang menganut sistem rasisme serta krisis perekonomian masyarakat yang sekarat, dan otoritas kekuasaan yang tak dapat dibendung lagi. Akhirnya fenomena ini membuat banyak penduduk Bashrah lebih memilih sikap berlindung pada Tuhan daripada menghadapi segala ancaman kerusakan dunia yang menghujam kejam saat itu.

Namun, seperti layaknya sunnah alam, peradaban pun mengiringi perubahan, dan menawarkan konsep baru yang lebih mencerahkan. Muncullah di abad kedua, teori fenomenal yang diusung Râbi’ah beserta kawan-kawannya, adalah “Cinta dan Berteman dengan Ilahi”. Esensi dari sebuah konsep Cinta ini lebih mewarnai sisi kedamaian dan ketenangan pada jiwa para Sufi. Teraplikasikan dalam jiwa Râbi’ah, bagaimana besarnya kecintaannya pada Allah dibanding pada semua ciptaanNYA. “Jika aku menyembah Allah karena takut NerakaNYA, maka perdekatkanlah neraka itu padaku, jika aku menyembahNYA karena ingin meraih SurgaNYA, maka jauhkanlah surga itu dariku, janganlah sekali-kali beriman pada Allah karena mengharapkan upah dariNYA, tapi Cintailah Dia dengan penuh keikhlasan dan ketulusan”, inilah pijakan dasar dari konsep Cinta yang didengungkan oleh sang perempuan suci, Râbi’ah Adawiyah.

Sebuah kisah yang menakjubkan, dari perbincangan Râbi’ah dengan salah seorang tokoh Sufi Riyah ibn ‘amr al-Qaysi, disaat itu Râbi’ah terkejut melihat Riyah menciumi anak kecil yang sedang bermanjaan dipangkuannya. Râbi’ah bertanya, “kamu mencintai anak kecil itu?” iya, jawab Riyah. Tak pernah kusangka, ternyata kau masih berani menyisakan ruang cinta kepada selain Allah”, tegur Râbi’ah heran. Riyah pun tak kalah takjub dengan penuturan Râbi’ah, lantas dia pun segera jatuh tersungkur, menangis seraya berteriak, “Sungguh merupakan Rahmat Allah yang tercurahkan kepada hamba-Nya melalui rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan kepada anak kecil”. kisah ini menyerap sebuah perbedaan mendasar antara ‘Cinta Ilahi’ khas Râbi’ah dengan ‘Cinta Ilahi’ versi tokoh sufi lainnya. Bahwa kecintaan Râbi’ah pada Allah sangat murni, menangkis semua embel-embel cinta meski kepada satupun dari makhlukNYA. Sedangkan Riyah, tokoh sufi ini menyatakan cintanya pada Allah dengan mengaplikasikannya pada cinta terhadap makhluk-Nya.  

Sebuah riset filologi membuktikan[17], bahwa teori “Cinta Ilahi” Râbi’ah ini terpengaruh dari ajaran “neoplatonisme” melalui syi’ir-syi’ir Dzu-Nun al-Masri. Konon, Ajaran Neoplatonisme yang mengajarkan kasih cinta pada Tuhan ini  dibawa oleh Hellenisme berkebangsaan Yunani  yang saat itu menyebarkan ideologinya di kota Alexandria, Mesir. Dzu-Nun al-Masri, seorang guru besar filsafat, berkebangsaan Mesir  yang banyak bersentuhan dengan filsafat Yunani ini bersenandung dalam syi’ir

أحبك حبين حب الوداد     #     وحبا لأنك أهل لذاك

فأما الذي هو حب الوداد    #      فحب ششغلت به عن سواك

وأما الذي أنت أهل له    #    فكشفك للحجب حتى أراك

 

Syi’ir ini sangat mirip dengan salah satu lagu syi’ir Râbi’ah yang disenandungkan pada Tuhannya:

 

أحبك حبين حب الهوى     #     وحبا لأنك أهل لذاكا

فأما الذي هو حب الهوى    #     فذكر ششغلت به عن سواكا

 

Dzu-Nun al-Masri yang hidup satu masa dengan Râbi’ah, tepatnya dilahirkan tahun 180 H dan wafatnya tahun 245 H ini, sangat memungkinkan adanya keterpengaruhan ideologi antar mereka berdua, walau dalam bentuk filologi sekalipun.

Menarik dicermati, dari syi’ir ini nampak Râbi’ah dalam ambigu dalam dua bentuk cinta yang ada dalam hatinya. Pertama, Cinta karena kemauannya. Dan kedua, Cinta karena Allah memang Pemilik cinta dan berhak dicintai. Dan cinta yang pertama, diaplikasikan dengan cara berdzikir pada Allah, sedangkan yang kedua, semata cinta murni dan tulus pada Allah dan ini  merupakan sebuah ‘keistimeawaan’ yang Allah karuniakan untuknya.

Teori “Hub Ilahi” inipun  juga dikatakan sebagai pengaruh dari guru Râbi’ah, ‘Abd al-Wahid Ibn Zaid. Konon, Abd al-Wahid Ibn Zaid dikenal sebagai tokoh sufi pertama yang menyeru ‘Kecintaan pada Tuhan’. Yaitu dengan teori yang lebih mengarah pada cara mencintai Tuhan, bukan bagaimana cara melihat Dzat Tuhan itu sendiri.

Hayunah, seorang perempuan sufi Bashrah, yang terkenal sebagai ahli ibadah dan zuhud inipun juga memiliki andil yang sangat besar sebagai salah satu guru spiritual Râbi’ah dan dalam mewarnai siraman Ruhaninya[18]. Meski Hayunah tidak menggunakan teori khas sufi seperti tokoh sufi lainnya, namun begitu tingginya jiwa spiritual dan kekhusyu’an Hayunah hingga dikenal dengan sebutan “Pelayan Allah” dan seorang tokoh sufi Sufyan al-Tsaurî memberinya gelar “Jamuan Allah”.

Hayunah memang perempuan yang paling kuat ibadahnya. Ritual puasanya tak pernah berhenti, hingga tubuhnya menjadi hitam, kurus-kering. Akhirnya diapun menjadi bahan cemoohan orang, karena mereka memandang puasanya telah menyiksa tubuhnya sendiri. Namun dengan sigap, Hayunah menatap langit dan berkata, “Ya Allah…makhluk-Mu telah menghinaku karena pelayananku pada-Mu. Tapi, hamba tetap akan selalu setia menjadi pelayan sejati-Mu meski tubuhku tinggal tulang belulang sekalipun”. 

Terkisah, suatu hari Râbi’ah sedang menginap di kediaman Hayunah. Disaat malam menjelang, Râbi’ah yang kurus dan tubuhnya yang kecil nampak tidak kuasa bangun untuk beribadah malam. Dia memilih menarik selimutnya dan terbang ke alam mimpi. Namun, dengan penuh kesabaran Hayunah mencoba membangunkan Râbi’ah, menasehatinya dan membimbingnya supaya terbiasa menghabiskan waktu-waktu malam bersama sang kekasih, Allah SWT. Sejak itulah, kehidupan rohani Râbi’ah tercerahkan, dan menjadikannya sebagai sosok penguasa waktu malam, bermunajat pada Allah SWT. 

Sedangkan teori kedua,  teori “al-Khullah”[19], ‘Berteman dengan Tuhan’ adalah sebuah konsep yang dia dapati dari salah satu tokoh sufi ‘pecinta Ilahi’ lainnya, Riyah Ibn ‘Amr al-Qaisy. Konsep ini berangkat dari “al-Hubb al-Ilâhî”, sebuah kecintaan pada Tuhan yang begitu  mendalam, mendominasi seluruh jiwa, nafsu dan hatinya. Hingga dalam tingkatan yang paling tinggi, rasa cinta ini meliputi dan menguasai seluruh jiwa raganya, hingga Allah pun akan membalasnya dengan kecintaan yang serupa. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Maidah ayat 54,” Allah Mencintai mereka, dan merekapun mencintaiNYA”. Sehingga, jadilah hubungan antara Tuhan dan hambanya laksana teman dan sahabat  karib yang saling mencintai.

Adapun konsep ‘teman’ disini adalah sistem yang dijalankan dengan saling bertukar dan timbal-balik. Seperti hukum mencuri atau berzina yang dihukumi boleh untuk mereka, sehingga bukan lagi berpatok pada hukum halal. Sebagaimana dibolehkannya seorang teman mengambil hak milik temannya, meski tanpa izinnya. Sistem inipula berlaku pada para sufi yang menganut teori ini dalam hubungan persahabatannya dengan Tuhan.

Teori ‘al-Khullah’ atau ‘persahabatan’ ini dijadikan pijakan dasar beberapa kaum Sufi, yang diambil dari kisah nabi Ibrahim as sehingga diangkat oleh Allah dengan gelar “ Kholil Allah”. Kisah  nabi Ibrahim konon menjadi figur  suri tauladan berpengaruh bagi mereka, seperti yang diterapkan dalam penyembelihan kurban oleh dan untuk Allah, hingga mencuatkan ide bagi mereka untuk menjadi kurban dan domba Allah. Yang darinya, hidup mereka dipersembahkan untuk menjadi domba Allah yang menuntun mereka nantinya pada kematian hakiki untuk Allah semata. Terlebih, Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali dibakar hidup-hidup dalam kobaran api dunia, yang kemudian diselamatkan oleh Allah SWT, nabi Ibrahim pula manusia yang pertama kali berpikir tentang alam ciptaan Allah, dan juga seorang hamba yang pertama kali meminta ketenangan batin, seperti firman Allah dalam Surah al-Baqarah ayat 260: “ Allah berfirman, belum yakinkah kamu? Ibrahim manjawab, ‘aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. karena itu, teori “khalîl Allah” ini adalah sebuah konsep yang berlandaskan pada Al-Qur’an.

Tak aneh, sebuah tuduhan ‘Sufi Atheis’ kerap ditudingkan kepada tokoh teosofik Râbi’ah Adawiyah beserta tiga tokoh sufi lainnya yang mengatasnamakan dirinya sebagai tokoh penegak ’al-Hubb al-Ilâhî dan al-Khullah’ ini, mereka ialah Riyah ibn ‘Amr al-Qaisy, Abu Habib dan Ibn Hayyan al-Hariry. Julukan ini berangkat dari implementasi keempat tokoh sufi ini yang lebih berlandaskan pada teori filsafat, atau lebih tepatnya dengan mensifati Tuhan sebagai manusiawi atau memanusiakan Tuhan. Meskipun nampak segi penafsirannya adalah dengan cara melihat ayat-ayat Allah dengan pandangan esoteris Islam.

Sebuah kisah yang menjadi isarat falsafah kesufian Râbi’ah, suatu hari sekelompok anak muda melihat Râbi’ah membawa air di tangannya dan api di tangan satunya lagi. “Hendak kemana kau, wahai perempuan Sufi dan apa yang ingin kau lakukan?”,tanya mereka keheranan. “Saya mau pergi ke langit, untuk menyemburkan api ini di surga, dan menuangkan air ini dalam neraka, hingga tak ada lagi  orang yang berperasaan takut (dari siksa neraka) dan berharap (pada kenikmatan surga) dan akhirnya mereka akan memusatkan pikirannya pada cinta Allah dan kekal dalam pelukan cinta kasih Ilahi”, jawab Râbi’ah tegas. Apalah artinya, jika beriman pada Allah hanya karena mengharap kesenangan materi saja, bersibuk ria dalam Surga dengan aneka kebahagiaannya tanpa menoleh lagi pada Allah SWT. Demikian penggalan kisah Râbi’ah, sosok perempuan yang Mencintai Allah dengan segala keikhlasan dan ketulusannya hingga menjadikan Allah sebagai kekasih dan sahabat sejatinya hingga ajal menjemputnya. Dan dari cara pandang inilah Râbi’ah akhirnya diklaim sebagai Sufi Atheis.

Pengaruh Gerakan Sufistik Râbi’ah ‘Adawiah dalam Pembentukan Karakteristik Teosofik Setelahnya

Dimensi spiritual Râbi’ah Adawiyah yang menakjubkan, serta gaya sufistik ideal dan moderat yang diperankannya, rupanya mengundang sambutan hangat dari banyak kalangan aliran sufi, seperti aliran tasawwuf Sunni, tasawwuf murni dan tasawwuf falsafi[20]. Terbukti pengaruh besar yang tercermin dari ritual dan teori sufistik Râbi’ah hingga mewarnai pemikiran dan keyakinan ketiga aliran yang saling berbeda tersebut.

 Adapun aliran sufi Sunni, memberikan apresiasi besar terhadap Râbi’ah hingga menyebutnya sebagai ‘tokoh sufi berkedudukan tinggi’. Gelar agung ini sangat pantas diterimanya atas landasan tiga konsep dasar yang diangkat Râbi’ah, yaitu: “Keridhoan, Cinta, dan persahabatan dengan Tuhan”. Dengan tiga tiang utama inilah yang menjadi pemicu mencuatnya para tokoh-tokoh sufi yang meneruskan tongkat estafet keimanannya. Diantaranya adalah, Syaqiq al-Balkhi, Ibrahim ibn adham, Sahl Ibn Abdillah al-Tastary, dan berujung pada Abu hamid al-Ghazali.

Sedang teori “al-Hub al-Ilahi dan al-Khullah” yang dicuatkan oleh Râbi’ah, rupanya memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap praktif sufistik yang murni dan  bahkan menstimulasi kuatnya paham gnostisme. Yang karena terbentuk dari aliran inilah, beberapa golongan ekstrim menjuluki Râbi’ah sebagai tokoh teosofik atheis.

Selanjutnya, sejarah juga mencatat besarnya dampak sufistik Râbi’ah terhadap dua madzhab besar, yaitu  madrasah Syam dan Madrasah Baghdad. Abu Sulaiman al-Darani, Seorang Guru Besar berkubu madrasah Syam ini senantiasa tekun mengkaji pemikiran ‘al-Hubb al-Ilâhî’ dari sang Râbi’ah. Begitu juga tokoh sufi perempuan dari Syam yang bernama Râbi’ah Bintu Ismâ’îl al-Syamiyah (istri Ahmad ibn Abi al-Hawariy) yang muncul di abad ke tiga Hijriah ini, justru mengenal dunia tasawwuf karena terilhami dari ajaran Râbi’ah Adawiyah, lewat gurunya Abu Sulaiman al-Darani.

Sedang tokoh madrasah Baghdad yang ikut menyerap pemikiran ‘al-Hubb al-Ilâhî’ Râbi’ah Adawiyah, terpancar dari sosok Sufi besar, al-Hallâj dan al-Syablî.

Demikian sosok Sufi perempuan Râbi’ah Adawiyah yang berpengaruh kuat, berpemikiran tinggi , berwawasan luas, ahli ibadah dan pandai bersya’ir.

  1. A.      Kritik Nawal Sa’dawi atas Sikap Kaum Patriarkis Pada Râbi’ah Adawiyah

Kepribadian Râbi’ah al-‘Adawiyah yang dikenal masyarakat dunia sebagai tokoh sufi yang mempersembahkan hidupnya demi Cinta pada Allah semata, rupanya mengundang kritik keras dari Sosok feminis kontroversial, Nawal Sa’dawi.

Nawal mengecam bahwa wacana ini sengaja diangkat oleh kaum patriarkal untuk membedakan antara tokoh sufi laki-laki dan sufi perempuan[21]. Dengan  mengindahkan segala perjuangan kaum sufi laki-laki dan dominasi mereka dalam dunia tasawwuf, berikut mengaburkan bentuk perjuangan tokoh sufi perempuan dan asumsi miring terhadap mereka yang dianggap minim dan lemah.

Nawal pun maju sebagai pihak provokatif dan menuding dengan berbagai macam bentuk sarkasme kepada para penyebar wacana sosok Râbi’ah al-‘Adawiyah yang terkesan bias. Terkhusus kepada Husein Marwah, yang buku-bukunya banyak menceritakan sisi miring dari perempuan sufi ini.

Dalam salah satu bukunya, Husein Muruwah banyak mengisahkan tentang biografi dan sisi keilmuan al-kurkhi yang dianggap pakar dalam ilmu ‘Ladunni’, sehingga mengenal Allah secara kognitif, melalui ilmu dan pemikirannya. Berbeda ketika mengkisahkan sosok Râbi’ah, Muruwah justru menyebutkan bahwa Râbi’ah mengenal Allah hanya karena sebagai pecinta saja, yang berpatokan pada perasaan dan emosional. Dari sini, Nawal melihat bahwa banyak kaum patriarkal yang menilai kepribadian perempuan sebelah mata saja, bahkan  keintelektualannya  dikucilkan dari wacana publik.

Secara realistis, gerakan sufi digencarkan saat itu sebagai pelarian dari sistem pemerintahan arab yang carut-marut, serta kebijakan pemerintah yang nyaris menyimpang dari syari’at Islam, penuh kedzaliman dan kelaliman. Akhirnya, tak sedikit mereka yang menghindar dari interaksi sosial, menjauh dari hiruk-pikuk pemberontakan kepada pengalienasian diri dengan bertaqarrub pada Allah.  Namun, yang sangat disayangkan, mengapa justru ritual ‘uzlah yang mereka praktikkan lebih ditujukan sebagai penghindaran  dari nafsu kepada perempuan. Seperti ‘Amir Ibn Abdu Qais yang pernah berdoa, supaya Allah mencabut rasa cinta dari dalam hatinya kepada perempuan”. Apalagi dalam pidatonya,  Hasan Basri, pakar Sufi tersohor itu pernah berkata, “Jika mengharapkan kebaikan dari Allah, maka jauhilah istri dan anak-anakmu”.

Disalah satu riwayat hidup Râbi’ah Adawiyah dikatakan,  jika malam menjelang, Râbi’ah segera  bergegas naik ke  atap rumahnya dan berseru, “ wahai Tuhanku…saat langit memancarkan cahaya gemerlapan bintang-gemintangnya, kala manusia terlelap dalam mimpinya, para penguasa mengunci gerbang istananya, dan disaat sepasang kekasih mabuk dalam asmara cinta kasihnya , dan inilah aku…sedang bersua, ingin bermesraan denganMU”. 

Husein Marwah menilai, bahwa kalimat munajat cinta yang dituturkan ini menyiratkan bahwa Râbi’ah adalah satu dari sekian banyak perempuan yang mengalami derita dilematika psikologis. Dimana pengaruh peristiwa traumatis yang dialaminya  semenjak kecil, membuatnya putus asa. Histori kehidupannya yang selalu berhadapan dengan penderitaan lahir-batin  oleh derita kemiskinan, kefakiran, terasingkan dari lingkungan sosial serta penyiksaan  sebagai hamba sahaya yang dialaminya, membuat jiwa Râbi’ah memilih mengisolasi diri dari lingkungan, tidak menikah dan sebagainya. Jadi, Marwah menganggap bahwa munajat Râbi’ah ini lebih cenderung sebagai curahan seorang perempuan yang sedang mengalami tekanan bathin dan kebenciannya pada laki-laki, sehingga lebih memilih Tuhan sebagai kekasih sejatinya.

Selanjutnya Nawal berdalih, Pemberontakan dan kritik pedas pun mengalir deras dari tulisan-tulisan Nawal yang ditujukan pada Husein Marwah yang dianggap satu dari sekian penganut sistem paternalistik. Diantaranya, 1) Mengapa dalam konsep ‘al-Hub al-Ilahi’, Râbi’ah justru lebih dikenal sebagai sosok perempuan ‘pecinta berat’ daripada perempuan ‘berintelektual luas’? 2) Mengapa Râbi’ah mengenal Allah hanya dengan melalui ‘cinta’ dan bukan secara kognitif (Ma’rifah) seperti yang dilabelkan pada tokoh Sufi al-Kûkhî  3) Mengapa Husein Muruwah tidak pernah menuliskan kisah seorang Sufi laki-laki yang terbelenggu cintanya dari perempuan? Mengapa permasalahan laki-laki selalu berkutat pada perpolitikan, sosial, agama dan filsafat saja? Dan mengapa hanya perempuan yang selalu terikat dalam problem cinta dan keputus asaan? 4) dan Mengapa kesufian mereka dijadikan alasan besar atas alienasi diri dan penghindaran dari makhluk bernama perempuan?

Dari sini Nawal memberikan konklusi mendasar, rupanya ahli sejarah telah menggunakan  skala riwayat yang tercampur aduk, terutama kaitannya dengan reputasi sosok Râbi’ah al-‘Adawiyah. Tak ada satupun riwayat yang mengatakan akan ‘ilmu Ma’rifah’ yang dimiliki Râbi’ah, pun perjalanan keintelektualannya, nyaris tak banyak yang mengenalnya. Hingga  konsep “al-Hub al-Ilahi” pun disosialisasikan sebagai bentuk pelarian dari cintanya yang terputus dari makhluk Adam. Jadilah, perempuan semata terbentuk sebagai korban wacana, sebatas jasad yang perasa dan bukan seorang intelek yang berpengaruh besar bagi  peradaban manusia

G. Epilog

Dari historisitas Râbi’ah yang singkat ini, ada sedikit pembelajaran bahwa Râbi’ah ialah salah satu promotor sufistik dunia. Ia seorang muslimah namun itu tak membuatnya berfikir bahwa ia tak berhak dinobatkan sebagai salah satu motor penggerak sufistik Islam. Ini membuktikan bahwa perempuan dapat disejajarkan dengan kaum Adam. Mereka memiliki kemampuan luar biasa yang selaiknya ditunjukkan pada dunia.

Dengan cara memaparkan kisah Râbi’ah dan mendaulatnya sebagai tokoh penggagas sufistik al-Hubb al-Ilâhi, akan kita temukan bahwa eksistensi perempuan sedemikian nyata. Perempuan sudah saatnya membuktikan bahwa mereka mampu tegak berdiri di tengah-tengah pendapat simpang siur para filosof. Misalnya pernyataan Voltaire. Dalam buku Mu’jam al-Falsafah, dia bertutur,

“Ketika kami merujuk al-Qur’an berdasar interpretasi ulama yang tak masuk akal, kami meyakini bahwa al-Qur’an tak berisikan interpretasi semacam ini. Anehnya, banyak penulis kita yang dengan mudahnya mengemukakan bahwa Muhammad menempatkan perempuan sebagai hewan pemilik kecerdasan. Dan dalam timbangan syariat, mereka serupa hamba sahaya yang tak berhak memiliki kebahagiaan di dunia. Dan tak mendapat posisi di akhirat kelak. Tak dinyana, asumsi ini terang benderang ialah asumsi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sayangnya, banyak manusia yang mempercayai.”[22]

Naguib al-Raihani berkata, “Perempuan adalah suatu elemen yang tanpa eksistensinya pun, kehidupan akan tetap berjalan. Fakta ini merujuk pada perilaku kehidupan Adam yang tetap eksis sejak awal penciptaan. Bahkan sebelum diciptakannya Hawa.”[23]

Dengan langkah ini, kita telah cukup membuktikan pada dunia dan telah menegakkan sisi kemanusiaan perempuan. Karena pada dasarnya, menegakkan sisi kemanusiaan perempuan menjadi sedemikian penting di tengah hingar-bingar gerakan feminisme yang cenderung liar dan tanpa arah. Nilai penting tersebut karena muncul satu asumsi kuat bahwa kaum perempuan hanyalah hewan yang memiliki kecerdasan. Label semacam itu hanya akan mengarah pada stereotip ketakberdayaan wanita. Di samping akan melemahkan semangat mereka dalam menjalankan amanah kehidupan

Sikap-sikap subordinatif masyarakat terhadap perempuan perlu segera dihapuskan. Karena image-image yang memojokkan perempuan akan menimbulkan tindakan ketidakadilan gender di masyarakat. Seperti terjadinya double burden (peran ganda),[24] subordinasi, stereotype (pelabelan),[25] violence (kekerasan),[26] dan marginalisasi.[27] Ketimpangan tersebut akan teratasi dengan mengadakan pendekatan kepada masyarakat melalui deep dialogue and critical thinking. Penulis yakin, model pendekatan ini akan membentuk persepsi dan opini yang sehat dan jernih terhadap perempuan. Di samping itu, tentu perlu mengadakan gerakan-gerakan pemberdayaan perempuan sebagai upaya memahamkan hak dan kewajiban perempuan secara proporsional sebagaimana diatur oleh agama.

Di samping itu diperlukannya reaktualisasi peran-peran perempuan di pelbagai ranah dengan mengkisahkan perempuan-perempuan sukses dunia sehingga menarik perhatian kaum perempuan untuk menyuarakan kembali suaranya. Sehingga hingar bingar peran perempuan kian menyuarakan bahwa perempuan pernah menjadi sosok pelopor di ranah intelektualitas. Termasuk salah satunya dapat kita temui dalam ranah pengembangan sufistik ini.    

Menurut pendapat penulis sendiri merasa perlu adanya kesatuan ide dan prinsip yang jelas dari gerakan pemberdayaan perempuan itu sendiri. Yang mungkin dapat penulis sampaikan ialah bahwa gerakan pemberdayaan sejatinya memperhatikan tiga asas kebangkitan perempuan, yaitu perlunya menjunjung tinggi kemanusiaan, mempertahankan sisi keperempuanan, dan memberikan label kehormatan. Adapun spesifikasi dari ketiga asas ini, diperlukan beberapa studi intensif dan kesempatan yang sesuai.[28]

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Muhammad ‘Athiyah Khumais, Râbi’ah al-‘Adawiyah, al-Jazîrah li al-Nasyr wa al-Tauzî’, 2006.
  2. Al-Sayyid Hasan Mansûr, Râbi’ah al-‘Adawiyah; al-‘Âbidah al-Zâhidah Baina al-Hubb al-Ilâhî wa al-Ma’rifah, Maktabah al-Husain al-Islâmiyah, 2000.
  3. Dr. Ibrahim Hilal, Tasawuf: Antara Agama dan Filsafat, Pustaka Hidayah, 2002.
  4. Muhammad Raji’ Kannâs, Hayâh Nisâ’ Ahli al-Bait, Dâr al-Ma’rifah, Beirut-Libanon, 2008.
  5. Abdurrahman al-Baghdadi, Emansipasi Adakah dalam Islam, Gema Insani Press, cet.I, Jakarta, 1998.
  6. Mushthafa al-Sibâ’î, al-Mar’ah Baina al-Fiqh wa al-Qânûn, Maktabah Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2003.
  7. Sayyid Shiddîq Abdul Fattâh, Rawâi’ Min Aqwâl al-Falâsifah wa al-‘Uzhamâ’, Maktabah Madbouly, Kairo, 1999.
  8. Dr. Nawal Sa’dâwî, ‘An al-Mar’ah; al-A’mâl al-Fikriyyah, Maktabah Madbouly, Kairo, 2005.
  9. Dr. ‘Ali Sâmî al-Nasysyâr, Nasy’ah al-Fikri al-Falsafî fi al-Islâm, Maktabah Dar al-Salâm, Kairo, 2008.
  10. Dr. Su’âd ‘Alî Abd al-Râziq, Râbi’ah al-‘Adawiyah Baina al-Ghinâ’ wa al-Bukâ’, Maktabah Al-Anglo al-Masriyah, Kairo, 1982.

[4] Abdurrahman al-Baghdadi, Emansipasi Adakah dalam Islam, Gema Insani Press, Jakarta, 1998, cet. I, hal. 9.

[5] Al-Sayyid Hasan Mansûr, Râbi’ah al-‘Adawiyah; al-‘Âbidah al-Zâhidah Baina al-Hubb al-Ilâhî wa al-Ma’rifah, Maktabah al-Husain al-Islâmiyah, 2000, hal. 41.

[6]  Muhammad Raji’ Kannâs, Hayâh Nisâ’ Ahli al-Bait, Dâr al-Ma’rifah, Beirut-Libanon, 2008, hal. 113.   

[7]  Ibid, hal. 114-115.

[8] Muhammad ‘Athiyah Khumais, op. cit, hal. 16-17.

[9]  Ibid, hal. 30.

[10]  Ibid, hal. 30-31.

[11] Ibid, hal. 63.

[12] Ibid, hal. 63-65.

[13] Dr. Ibrahim Hilal, Tasawuf: Antara Agama dan Filsafat, Pustaka Hidayah, 2002, hal. 74.

[14] Ibid, hal 75-76.

[15]  Contohnya, antara lain, adalah firman Allah:

Berdoalah kepada Allah dengan penuh rasa takut dan penuh harapan (QS 7: 56)

 

   Mereka selalu memohon kepada Tuhannya dalam keadaan takut dan penuh harapan (QS 32: 16)

 

 Sesungguhnya, mereka selalu berlomba dalam kebaikan. Mereka selalu berdoa kepada kami dalam keadaan penuh harapan dan ketakutan (QS 21: 90)

[16] Muhammad ‘Athiyah Khumais, Op.cit., hal. 48.

[17] ‘Alî Sâmi al-Nasysyâr, Nasy’atu al-Fikr al-Islamî fi al-Islâm, Maktabah Dâr al-Salâm, 2008, Juz 3, hal. 1382

[18] Dr. Su’âd ‘Ali Abd al-Râziq, Rabi’ah al-Adawiyah bayna al-Ghinâ’ wa al-Bukâ’, Maktabah al-Anglo al-Masriyah, Kairo, 1982, hal. 25

[19] ‘Âli Sâmî al-Nasysyâr, op.cit, hal 1366.

[20] Ibid, hal 1389

[21] Dr. Nawâl al-Sa’dâwî, ‘An al-Mar’ah, al-A’mâl al-Fikriyah, Maktabah Madbouli, 2005, hal. 153

[22] Mushthafa al-Sibâ’î, al-Mar’ah Baina al-Fiqh wa al-Qânûn, Maktabah Dâr al-Salâm, Kairo, Mesir, 2003, hal. 142

[23] Sayyid Shiddîq Abdul Fattâh, Rawâi’ Min Aqwâl al-Falâsifah wa al-‘Uzhamâ’, Maktabah Madbouly, Kairo, 1999, hal. 27

[24] Double Burden (peran ganda) ialah adanya dua beban pekerjaan bahkan lebih yang harus diemban oleh perempuan. Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 59.

[25] Stereotype (pelabelan) ialah label-lebel negatif yang diberikan masyarakat kepada perempuan, karena budaya di dalam masyarakat kita, pelabelan atas dasar seksualitas masih berlaku. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 59-60.

[26] Violence (kekerasan) ialah suatu tindakan yang menyakitkan atau tindakan penyerangan yang menimbulkan luka, trauma dan penderitaan yang berkepanjangan terhadap korban. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 60.

[27] Marginalisasi (pemiskinan) ialah pemiskinan terhadap perempuan yang terjadi di tempat kerja, dalam rumah tangga, masyarakat, bahkan dalam negara. Selengkapnya, silakan membaca: PP. Fatayat Nahdhatul ‘Ulama, Modul Analisis Gender, Tim LKP2 PP Fatayat NU dan The Asia Foundation, Jakarta, 2003, hal. 63.

[28]  Selengkapnya lihat: Tim Penyusun, Mi’ah Âm ‘alâ tahrîr al-Mar’ah, al-Majlis al-A’lâ li al-Tsaqâfah, Kairo, 2001.


One thought on “Wacana Teosofik Râbi’ah al-‘Adawiyah

  1. Tema kajian ini menarik tapi terlalu panjang. Dalam menulis tidak semua wacana harus disajikan, melainkan harus dipilah-pilah terlebih dahulu. Sebelum masuk tekstualisasi (disajikan dalam makalah), khazanah turats ada baiknya diambil apa yang patut disuguhkan dalam konteks kehidupan modern saat ini. Inilah proses rasionalisasi… kita Masisir ini belum banyak menguasai metodologi. Memang kajian ini tidak diajarkan di Al-Azhar, tapi itu tidak menjadi alasan karena kita di sini berpeluang membaca banyak buku. Apa pun dengan banyak buku pemikir2 progresif mesir, kita akan terbiasa dengan sajian kajian metodologi…. terus menulis mai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s