Ghodad Saman; Kritikus Sastra Arab yang berwawasan Feminis

 

Menguak Citra Perempuan melalui Estetika Sastra dan Studi Kultural

-Dipresentasikan dalam kajian Regular-Eksklusif  ‘Salsabila Study Club’ pada hari Ahad, 12 Juli 2009

  1. A.   Prolog

Membincang dunia perempuan dalam realitas kehidupan masyarakat madani saat ini ternyata masih hangat menjadi santapan para diskusan di berbagai kalangan.  Baik di lingkungan akademis, sosial, politik, ekonomi dan bahkan dunia sastra. Topiknya selalu mengundang wacana yang diskursif dan debatable. 

Mengenai  perempuan arab, sejenak tergambar dibenak kita akan sosok perempuan yang pasif, mengisolasi diri, terkungkung dalam jerit tangis batin tiada terhenti, dan tak sedikit pula mereka yang cenderung mnginternalisasi diri terhadap laki-laki.   tak pelak lagi, berbagai macam eksploitasi sekian lama dideritanya. Hak perempuan mendapat pendidikanpun belum lama ini dirasakan mereka, tepatnya dimulai baru awal abad ke 19 M. Apalagi kiprah sosial, nyaris kita mendapatinya hanya segelintir dari sekian banyak mereka yang masih tersudut dalam domestikasi peran.

Perempuan merupakan hewan   yang paling sombong dan paling besar tipuannya melebihi Singa, paling besar nafsunya daripada kera, lebih berbisa daripada ular, dan lebih banyak kepalsuannya daripada jin” , tuding Robert Sarson tajam.

“Rasanya potret degradasi martabat perempuan yang tersirat dari kritik pedas bertubi-tubi ini lebih disyukuri daripada mereka yang mempraktekkannya dengan jalan mengubur bayi perempuan hidup-hidup dengan dalih menjaga aib kodrat perempuan itu sendiri, apalagi  jika diimplementasikan melalui marginalisasi sosial bahkan mengalienasikan kedudukan perempuan, lantas kemudian  mereka berdalih bahwa ini semua adalah  perintah kitab-kitab Samawi, sungguh hal ini lebih bejat dan lalim adanya”[3], tutur Ghodad Saman menjawab kritikan tersebut.    

Memetik sebuah tragedi bersejarah mengenai ‘pembunuhan bayi perempuan hidup-hidup’ yang konon menjadi tradisi masyarakat primitif arab zaman dahulu kala, rupanya noda hitam sejarah ini masih merambat implikasi buruknya hingga zaman kapitalisme di sepanjang dasawarsa ini. Bedanya, meski bukan lagi penyiksan total secara fisik, seperti pembunuhan bayi perempuan hidup-hidup yang mereka lakukan tersebut, namun diskriminasi sosial, politik, budaya dan nasib pendidikan perempuan  yang masih terpasung, serta pandangan masyarakat dunia yang didominasi oleh sistem patriarkal , rupanya dari peristiwa traumatis ini, kini lahirlah  para feminis-feminis arab yang bangkit menumpas kekejaman ideologi masyarakat yang tak kian mendera ini.  

Kini mereka bermunculan,  menduduki berbagai sektor-sektor penting masyarakat, baik itu kajian perpolitikan dan peran sosial seperti yang diduduki sang feminis Fatimah Mernissi asal Maroko,  atau yang ditekuni seorang penulis dan penggelut kancah perpolitikan serta sang tokoh kontroversial Nawal Sa’dawi asal Mesir, dan banyak lagi tokoh feminis , penggarus kebebasan kaum perempuan lainnya seperti Huda Sya’rawi, Mey Ziyadah, termasuk didalamnya, tokoh feminis kontemporer yang akan kita kaji kali ini, yaitu Ghodad Saman, tokoh feminis yang bergerak dalam dunia sastra.   

Tak lain tujuan utama gerakan feminisme ini adalah untuk menuntut persamaan hak, harkat,  derajat dan martabat perempuan sebanding dengan laki-laki dalam semua ranah yang dicapai masyarakat. Baik itu dalam skala perpolitikan, sosial, pendidikan, dan ekonomi. Yel-yel ‘kesetaraan Gender’ adalah jargon pertama yang mereka sebarkan. Dalam Women’s Studies Encyclopedia disebutkan, bahwa ‘jender’ sendiri adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat. Para feminis arab pun tak ketinggalan andil dalam memperjuangkan ‘spirit equality’ ini demi mewujudkan sistem pola kehidupan masyarakat yang adil dan rasional.

Ghodad Saman, perempuan pakar sastra berkebangsaan arab ini lebih bergerak memperjuangkan citra kaumnya melalui karya-karya sastra yang dizaman kontemporer ini, namanya cukup fenomenal dan mendunia, terlebih dikalangan para sastrawan  kontemporer.

Konon, sastra arab merupakan salah satu obyek tersohor pertama yang memiliki peran pemicu terbesar  bagi peradaban bangsa arab sejak dua abad kuno sebelum datangnya Islam, yang kita kenal dengan zaman jahili. Hal ini didorong oleh rasa kebanggaan mereka yang sangat besar terhadap bahasa arab, bahasa peradaban tertua yang masih eksis dan akan terus maju hingga akhir abad nanti. Tentunya karena bahasa Arab merupakan bahasa Al-Quran, kitab suci umat Islam yang janji Allah akan selalu dijagaNYA sampai akhir masa nanti.

Bahasa arab dikatakan bahasa tertua yang paling eksis, karena ia  satu rumpun dengan bahasa semit lainnya yang berdiri sejak tahun 2500 Sebelum Masehi[4]. Namun, rupanya kinibahasa-bahasa tersebut telah banyak punah seiring dengan aliran zaman yang kian berganti. Sebut saja seperti bahasa  Ibrani (bahasa kaum Yahudi), assyiria (bahasa bangsa assyiria), babilonia (dari bangsa babilon), kan’an (bangsa Nabi Luth), Habasyiayah, Akdiyah, dan bahasa kuno lainnya yang penduduknya pun turut punah ditelan puing-puing sejarah.  Hanya bahasa Arab lah satu-satunya bahasa semit yang masih berdiri kokoh menantang zaman melalui aneka mu’jizat yang Dianugerahi Allah SWT kepadanya.

B.   Studi Sastra-Kultural berbasis Feminis

Berbicara tentang sastra, sejenak bergelayut dalam benak kita akan aktivitas yang berkisar pada otak-atik  imajinasi dan kreativitas. Tampak sekilas, sastra lebih mengkerucut pada dunia fiktif dan imajinatif. Ironis sekali, jika ada yang beranggapan bahwa sastra tak lebih hanya sekedar gambaran produk manusia yang bersifat khayal dan fiktif belaka, Sastra cukup bercirikan keindahan dan kesenangan berkontemplasi saja, apalagi jika mendapatkannya cukup sebagai alat penghibur atau refreshing  tanpa mengambil kandungan bermakna dan pesan-pesan moral yang tersimpan  dibalik aneka karya sastra yang banyak mewarnai corak kehidupan masyarakat.

Namun, perlu ditekankan disini, bahwa Sastra tak ubahnya merupakan sebuah medium transformasi kenyataan dalam teks, upaya menyajikan dunia dalam kata, mengandung pengetahuan-pengetahuan sistematis yang dapat dibuktikan, dan karya sastra juga merupakan rekaman-rekaman kebudayaan.  Jadi, pemahaman teks sastra disini bukan sekedar renungan terhadap teks itu sendiri, tapi lebih sebagai pengkajian atas sejarah dan pengkajian yang berdampak politis. Memahami teks bukan sebagai pandangan sekilas tentang sebuah kenyataan yang dianggap ‘mungkin terjadi’, namun teks adalah acuan timbal balik dari kenyataan yang menciptakannya.  

Karya sastra adalah pesan kebudayaan yang ditampilkan oleh  realitas kehidupan manusia  dalam usaha mengidentifikasi diri.  Sedangkan studi kultural adalah upaya untuk melihat dan memahami nilai-nilai budaya yang hidup dalam suatu masyarakat. Sastra dan kultural memiliki ikatan yang sangat erat dalam mengkaji aktivitas manusia. Seperti halnya sastra adalah hakikat fiksi, maka kebudayaan adalah hakikat fakta.  Dan jika sastra merupakan kemampuan imajinasi yang didasarkan kemampuan emosional, maka kebudayaan adalah kemampuan akal yang berdiri diatas cermin intelektualitas.

Berbalik pada sastra feminis, maka disini hendaknya pembaca atau penonton tidak hanya membacanya secara objektif, tetapi sebagai langkah intervensi. Dimana para feminis mencoba merekam peristiwa-peristiwa diskriminatif yang terjadi di masyarakat, yang pada umumnya, perempuan selalu menjadi korban ketimpangan yang ada. Sembari mereka juga melihat nilai-nilai budaya dan hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam tingkatan praksis kebudayaan. Yang kemudian, kenyataan yang terjadi di lingkup sosial masyarakat ini diangkat oleh para feminis sebagai obyek tema karya sastranya, setelah menyampaikan berbagai kritikan-kritikan dan pesan bermakna bagi seluruh masyarakat.

Salah satu buku kumpulan cerita, karya monumental Ghodad saman adalah berjudul  ‘Imro’ah Arabiyah…wa hurrah’ (Perempuan arab serta Kebebasannya). Disana Ghodad bercerita tentang kisah disebuah pesta, dimana terjadi pertudingan sengit dari seorang laki-laki arab  yang menyebut salah seorang perempuan miskin yang ditemuinya saat itu dengan sebutan “Drakula”. Drakula disini digambarkan seperti yang dilakukan orang pintar tapi gila akalnya , pergi ke sebuah kawasan pertkuburan massa, kemudian orang tersebut menggali setiap gundukan tanah perkuburan, lantas mengumpulkan tulang belulang mayat manusia, dikumpulkan menjadi satu bentuk kerangka manusia berburuk rupa, yang kemudian ia menyebutnya sebagai ‘Drakula’. Tentunya lucu dan klise, kisah pembentukan sang drakula yang tidak punya identitas pribadi ini.

Kemarahan serta cemoohan laki-laki ini tak lain karena disebabkan perempuan itu mengenakan pakaian bercorak barat. Lantas menyebut perempuan tersebut seperti drakula yang tak punya malu  dan tak ada identitas pribadi.  Ghodad pun menyangkal tudingan laki-laki ini dengan alasan bahwa disinilah muncul sikap arogan dan hegemoni otoritas para laki-laki arab yang selalu semena-mena mengekang keleluasaan gerak perempuan. Disatu sisi, Ghodad berdalih bahwa saling keterkaitan dan keterpengaruhan antar budaya Bangsa adalah lazim adanya. Disini Ghodad bukan berarti membenarkan pola pakaian yang dikenakan perempuan itu, melainkan ia ingin melontarkan soal kritis, tentang bagaimanakah kebenaran hakiki fenomena pengalienasian perempuan yang dianggap berlaku buruk, ataukah perempuan semacam ini dianggap sebagai bagian dari gejala penyakit masyarakat?

Disini Ghodad berusaha menghadirkan sikap kasih sayang antar sesama makhluk, tanpa perbedaan ras, etnik, apalagi jender. Salah satunya adalah kesopanan berbicara, sehingga tidak lantas memanggil perempuan dengan olokan-olokan hewani yang tak manusiawi. Dan kemudian dia menyatakan bahwasanya perempuan yang terpengaruh oleh peradaban barat, bukan lantas dia kehilangan identitasnya, akan tetapi hal ini menggambarkan ‘krisis kebudayaan dan peradaban’ yang melanda bangsa arab itu sendiri. sikap mengekor pada  kebudayaan bangsa lain telah lama menggejala  di tubuh kebudayaan arab, maka hal ini perlu diarahkan dalam pandangan komprehensif, bukan memicingkan  sebelah mata saja.

Bentuk karya satra feminis yang lain, adalah seperti yang ada di Indonesia, Sebagaimana yang kita ketahui di Indonesia sendiri,  bahwa gerakan feminisme tak kalah hebohnya dibandingkan dengan yang terjadi di Negeri-negeri Arab dan Barat.

Sebagai contoh yang paling dekat, Belum lama ini kita disuguhkan oleh sebuah tayangan layar lebar, dari Novel berjudul “Perempuan Berkalung Surban” karya Abidah. Siapapun yang membaca ataupun menonton film  tersebut, tentunya akan meneteskan air mata kesedihan yang begitu mendalam, saat kita dipertontonkan berbagai penyiksaan yang dialami seorang perempuan, baik itu siksa mental, batin, gerak sosial, hak memilih pasangan hidup, dan bahkan pendidikannya pun turut terbelenggu.

Sebuah apresiasi terhadap keberanian sang novelis ‘Abidah ‘ dalam mengangkat suara perempuan pesantren, berikut kritikan-kritikannya yang tajam, dan dibungkus ‘apik’ dalam sebuah karya novelnya yang sempat kontroversial tersebut.

Film ini mengisahkan sosok Anisa, anak seorang kyai yang masih menganut sistem patriarkal, sehingga pesantren yang dipimpinnya pun membudayakan tradisi Islam yang tak ramah pada perempuan. Bisa dilihat ketika banyaknya ajaran-ajaran yang disuguhkan pada santri-santrinya mengenai perempuan yang tak layak menjadi pemimpin, perempuan yang tak patut mengenyam pendidikan perguruan tinggi, perempuan yang tak berhak bersuara bahkan untuk memilih pendamping hidupnya, apalagi berangan-angan untuk merancang masa depannya. Semuanya di ancam garis pembatas ‘otoritas dan hegemoni paternalistik yang masih meracuni pemikiran masyarakat dunia.

Nampak beberapa pihak yang kontra terhadap film ini mengancam keras terhadap penanyangan film tersebut  karena menganggap bahwa ajaran Islam yang diaplikasikan adalah bias jender.

Namun, menurut hemat saya, justru sang  penulis membawa pesan moral yang begitu tinggi dan cermat kepada para pembaca dan para penonton bahwasanya Islam sangat ramah terhadap perempuan. Islam sejatinya adalah Rahmat bagi seluruh umat. Hal ini nampak pada sosok ‘lek Khudori’, yang cukup moderat, seorang alumnus Al-Azhar yang telah banyak mengenyam pendidikan berbasis agama. Sosok nya hadir di pertengahan akhir cerita, untuk mengakhiri sekian lama  jerat dilematika kehidupan yang dijalani Anisa, kemudian menawarkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Bahwa Islam mengangkat derajat wanita tiga kali lipat lebih tinggi dari laki-laki, Islam menganjurkan perempuan supaya berpendidikan tinggi dan bahkan berpartisipasi aktif dalam aktivitas keilmuan yang kemudian digambarkannya lewat usaha pembangunan perpustakaan, seperti idealisme yang pernah dicita-citakan oleh Anisa. Islam juga menunjukkan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan wanita dengan segala kelebihan dan kelemahan masing-masing, sejatinya untuk saling menyempurnakan satu sama lain, saling membantu kelemahan, memaklumi dan melengkapi kekurangan yang ada. Hal ini tergambar ketika sang suami ‘lek Khudori’ ikut membantu mencuci piring yang sewajarnya dilakukan istri,namun  karena dia melihat sang istri sedang sibuk menulis, yang merupakan salah satu idealismenya, maka sang suami pun ikut memahaminya. Selain itu, sang suami juga ikut membantu dan menemani istri masak untuk kemudian dimakan oleh mereka berdua. Jadi, jauh dari kategori Islam, jika ada yang berimej buruk terhadap perempuan yang tercipta laksana kutukan alam, sebagai helper laki-laki, sebagai the second Human being, apalagi korban para hedonis (pemuas nafsu kesenangan belaka) na’udzubillah.

Nampak alur cerita film tersebut yang menentang keras pola pikir masyarakat yang saat ini masih ada mereka yang menyiksa perempuan melalui tindakan-tindakan seperti yang dilakukan sang ayah, suami dan bahkan kakak laki-laki terhadap Anisa (tokoh perempuan korban diskriminasi tersebut). Dan kita bisa memahaminya, bahwa salah satu contoh tindakan sang ayah yang tak memperbolehkan anisa mengenyam pendidikan perguruan tinggi adalah semata karena penafsirannya yang salah terhadap ajaran islam yang hanif (lembut) ini.

C. Meneropong gelut kehidupan Ghodad Saman yang Nasionalis dan Moderat

Imperium Yasmin yang terletak di kota Damaskus (ibu kota negara Syiria), salah satu kota tertua didunia,  merupakan daerah dimana Ghodad Saman dilahirkan. Namun, semenjak kecil Ghodad Saman pergi merantau menuntut ilmu melanglang buana di berbagai negeri-negeri Barat seperti Perancis, Inggris dan Amerika. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ghodad adalah perempuan berwawasan Barat, yang berkebangsaan Arab.  

Meski demikian, jiwa patriotik dan nasionalis Ghodad terhadap negeri kelahirannya sangat mendalam, mengakar kuat di hatinya. Dua kota besar yang begitu berpengaruh dalam sejarah hidup Godad adalah, kota Damaskus (Syria) dan kota Beirut (Libanon). Kota beirut, kota mulia yang dipenuhi para dermawan, berkontribusi besar dalam hal pendidikan Ghodad hingga Presiden Republik Libanon pun pernah  menganugerahkannya  penghargaan atas karya produktifnya.

Begitu besar kecintaan Ghodad dengan kota Beirut, hingga tak jarang tulisan-tulisannya yang sengaja menyinggung kebanggaannya pada Syam, seperti “ Asraru hikayatu Gharami ma’a Syam”[5] (rahasia kisah asmaraku bersama Syam). Dalam tulisan ini ia mengisahkan ketika suatu hari Ghodad yang semenjak kecil merantau ke amerika, tiba-tiba pada tahun 1970 M, setelah menikah beberapa bulan yang lalu, dia diutus untuk melanjutkan program magister nya di negeri Syam, tepatnya di universitas Amerika, Beirut. Saat itu kerinduannya begitu membara, hingga dia menyebutnya sebagai “Syijar al-‘isyaq” (pertikaian antara cinta dan kerinduan).

Dan ditahun 1973 M, kala sedang gencarnya penyerangan Israel ke Damaskus, hingga Ghodad menuliskan:  

دمشق, يا لؤلؤة الزمن! ليست مصادفة أن تضربك إسرائيل فأنت أقدم مدينة مأهولة في التاريخ وفي مجرد (وجودك) تحد لكل من يفتقد إلى العراقة والأصالة و العظمة الإنسانية , وكنت دوما مقبرة للغزاة …إنه الحب الكبير , يستمر على الرغم من تماريني السويدية اليومية على النسيان

Damaskus…sang permata dunia! Bukan merupakan suatu kebetulan jika Israel menyerangmu…pantaslah jika kamu dijadikan sasaran empuk mereka, selain karena kau adalah  kota bersejarah  tertua yang paling berpengaruh bagi sejarah peradaban manusia, kau juga tempat dimana para generasi muda mencari arti orisinalitas, identitas dan sebuah keunggulan. Saya akan selalu siap membelamu…karena kecintaanku yang begitu mendalam, meski disana, banyak pihak yang membantahku”.

Dari secercah harapan yang diungkapkan melalui kata-kata indah penuh penghayatan ini menandakan bahwa Ghodad  terlalu mencintai tanah arab kelahirannya, terkhusus negeri Syria, negeri idaman yang melahirkannya dan berkontribusi besar dalam membentuk semangat keilmuannya semenjak kecil. Hingga tak mengherankan, jika perjuangannya membela perempuan Arab selalu menjadi semangat membara yang mendarah daging didalam tubuhnya. Hingga dia berhasil menelurkan banyak karya-karya kritis demi kemajuan dan kebebasan para perempuan Arab kontemporer.

Diantara kotak pemikiran para feminis zaman kontemporer, diantaranya feminis radikal, feminis liberal, feminis sosialis(moderat), maka dari beberapa karya yang cetuskannya, ghodad Saman termasuk salah satu Feminis sosialis yang moderat.

 Dalam salah satu tulisannya, Ghodad menyatakan bahwa dirinya bukanlah feminis yang ekstrim. Hal ini dipertegas ketika dia menangkis bahwasanya, sebuah gambar perempuan porno dan vulgar yang dipajang depan umum,  ia tak ubahnya lebih buruk dari pelecehan terhadap perempuan sekaligus sastra itu sendiri.  Dan janganlah memandang bahwa laki-laki adalah satu-satunya pelaku kriminal yang paling bejat, lantas kemudian menilai bahwa perempuan hanyalah korban massa, jika penilaian ini dijadikan dasar sebagai pembebasan untuk kaum perempuan. Karena, ‘kejahatan terjadi bukan hanya karena pelakunya saja, namun karena kesempatan itu sendiri’.  

Jadi, disini ghodad lebih menjadikan sastra sebagai media ekspresi mengadvokasi perempuan, dan membela hak-hak perempuan dari ketertindasannya, tapi bukan berarti membiarkannya memberikan kesempatan kepada para kaum lelaki untuk berbuat lalim pada kaum perempuan. Ghodad juga berkeyakinan, bahwa merana derita yang dialami kaum perempuan, perempuan arab khususnya, adalah merupakan isyarat nyata dari kesedihan dan keterpurukan negeri Arab itu sendiri. Apalagi ketika dia dihadapkan dalam perjuangan menghadapi norma-norma patriarkal yang merasuki tatanan bermasyarakat, yang selalu saja membedakan atas latar belakang etnis, pendidikan, profesi, kelas sosial, berikut kemampuan fisik dan psikologis golongan tertentu.

D.     Sikap Missogamis Masyarakat barat, sebagai dampak gerakan Feminis-Radikalis Barat Kontemporer

 Sebuah adagium yang menyorot gerakan feminisme radikal diBarat saat ini nampak sedikit meredam.  Sebuah konsep sosiologi “Kesetaraan Gender” yang untuk pertama kalinya digencarkan oleh kaum  feminis London pada medio abad ke 20, tepatnya tahun 1977 itu kini patut memangku  resah dalam tipuan dan penyesalannya,  Terbukti negara Swiss , negara pelopor feminis pertama, seperti yang dipaparkan oleh  DR. Fawzeya Al-Ashmawi, [6]Ketua Forum Muslimah Eropa, dalam forum temu Alumni Al-Azhar di serangkaian acara “Dialog antar Agama” 28-30 Juni yang lalu, beliau menuturkan bahwa saat ini, lebih dari 50% kehidupan rumah tangga penduduk Swiss yang menganut paham feminisme  terancam hancur, dan mahligai pernikahan kini tak lagi menemukan sisi sakralitasnya, pendidikan anak-anak pun kian terbengkalai.

Bagaimana tidak, ketika spirit independensi semakin marak  dikoar-koarkan oleh para perempuan, kala  ego mengalahkan kemurnian hati nurani, ketika  proposisi letak peran laki-laki dan perempuan menjadi kabur dan pincang, Pun manakala arti kodrat (Divine Creation) mereka  rancang semau mereka tanpa menghayati makna ciptaan Tuhan, kala sikap missogamis (membenci pernikahan) itu menghantui naluri mereka, hingga pernikahan yang sejatinya dibentuk untuk membina keluarga yang saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan, nyatanya spirit equality ini hanya menebarkan racun berbisa yang tak lagi menjunjung arti keharmonisan, malah tersungkur dalam kebencian dan dendam sejarah yang tiada berujung.                                                                                                                                                                           

 Apalagi media  informasi ‘kompas’[7]  terbaru, tepatnya pada hari kamis tanggal 9 juli 2009 yang lalu, kembali mengejutkan dunia oleh berita mencengangkan mengenai penemuan Sains yang dicetuskan  ilmuwan Inggris dengan menciptakan ‘Sperma Buatan’. Profesor Nayernia, peracik sprema buatan ini mengatakan bahwa sel batang embrionik yang  menjadi bahan dasar ‘sperma buatan’ ini lebih difungsikan bagi para pria yang kurang subur dan sedikit harapan untuk memiliki keturunan. Namun, menurut hemat saya, penemuan aneh ini lebih besar dampak buruknya terhadap ancaman degradasi nilai perkawinan antara laki-laki dan perempuan.  Dan semakin memicu masyarakat untuk menjauhi pernikahan antara laki-laki dan perempuan, toh mereka akan menganggap bahwa untuk mendapatkan keturunan pun kini tak  lagi harus membutuhkan dua pasangan berlawanan jenis, tapi cukup menggunakan penemuan sains berupa ‘sperma buatan’ itupun,  maka menciptakan seorang anak manusia dapat dengan mudah terwujudkan.

Inilah yang kita saksikan sekarang di dunia realita, budaya masyarakat yang plural sarat melahirkan gejala-gejala miris, bahkan semakin jauh dari norma-susila yang mencerminkan kepribadian manusia yang berbudi tinggi dan berakhlak luhur. Disaat gerakan feminis-sosialis dibutuhkan demi menghapus imej buruk masyarakat terhadap perempuan dan memotivasi perempuan agar berkiprah dan berdakwah di masyarakat, sehingga ia benar-benar menjalankan amanah Allah sebagai khalifah dimuka bumi, namun, semakin gencarnya gerakan feminis ini, hingga berdampak pada  gerakan feminis-radikalis yang mencoba menyamaratakan semua jenis manusia, dari segala sisi, tak hanya dalam lingkup sosio-kultural, tapi juga menuntut kesetaraan dalam sisi biologis. Sungguh menyalahi kodrat yang telah Allah Anugerahkan!

E.      Epilog

Sebuah karya sastra, meski berupa teks dan atau tontonan audio-visual, namun ia tak ubahnya titisan dan jelmaan dari realitas kehidupan manusia, serta bentuk manifestasi budaya masyarakat. Memang ia nampak tak mendidik secara langsung, namun  pengaruhnya sangat besar terhadap pembentukan kwalitas emosional, yang bernilai pendidikan, pengajaran, etika, budi pekerti, dan sistem norma yang lain.

Sastra feminis lebih mengusung fenomena sosial yang erat kaitannya dengan sisi kultural mnasyarakat, tepatnya, menganalisa sejauh implikasi postrukturalisme terhadap kebudayaan yang sempat terjadi pergeseran paradigma, dari kedudukannya di pusat menuju pinggiran. Yaitu sebagaimana yang telah termanifestasikan dalam sikap budaya masyarakat terhadap terminasi ruang lingkup perempuan yang tak membebaskan itu. Wallahu A’lam bi al-showab

Selamat Berdiskusi!

 

 


[3] Ghodah Saman, “Imro’ah ‘Arabiyah wa Hurrah’, al-a’mal ghairu kamilah 16, Beirut-Libanon, 2006, hal 123

[4] DR. Abd al-Fattah Abu al-Futuh Ibrahim Husnain, Dirasat fi al-qira’at al-qur’aniah wa al-Lahajat wa fiqh al-‘arabiah, Diktat Kuliah Al-Azhar fakultas Bahasa Arab, Kairo, 2009, hal 9

[5] Majalah Arab “Al-‘Araby”, Kuwait, cetakan bulan Oktober 2008, hal 116

[6] Dikutip dari makalah seminar beliau, DR. Prof. Fawziya Al-Ashmawi, Chairman of European Forum for Muslim Women, yang berjudul “al-Qiyam al-Islamiyah wa al-Qiyam al-Insaniyah al-Musytarikah bayna al-Adyan”

[7] www.kompas.com, 9 juli 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s