Rindu Menulis

Aku rindu menulis…aku rindu sekali. dua bulan berkutat penuh dengan diktat kuliah, dua bulan ketegangan menghadapi ujian al-Azhar membuatku sangat merindukan untuk bersua kembali bersama perpustakaan kesayanganku yang belakangan ini terlihat agak berdebu. Kurasakan jemariku rada kaku setelah lama tak menari di atas keyboard mungilku.

Hari ini, adalah hari akhir ujianku. Setelah melangkah keluar gerbang kampus coklatku, ah… segarnya udara sore ini, sesegar pikiranku dengan berakhirnya ujian termin satu tahun ke tiga ini. Alhamdulillah…ujian telah selesai, tapi do’a tak boleh berhenti. just keep pray for the wish of life!!! oh..sejuknya lambaian angin senja..iapun turut  menyapu rasa lelah dan letih yang sekilas merayapiku diruang ujian barusan. Meski sedikit rasa kedinginan  menyelinap menyusupi celah-celah sweater putih-ku. kurapatkan kembali pakaian double-ku yang entah sudah berlapis berapa kain…untuk menyelimuti diri dari dinginnya kota Kairo di Winter tahun ini.

Kumelangkah ringan menjejaki pepasiran kampus-ku yang kian menua ini. menapaki setiap jengkal tapak silam yang historis ini. Tak terbayang, bangunan kokoh yang aku pijaki ini ternyata telah memakan usia lebih dari seratus abad. Jika tokoh Fahri dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” berikut film layar lebarnya mengatakan bahwa antara Mesir dan sungai Nil-nya adalah “jodoh”, tapi menurutku penjodohan ini masih terasa hambar dan ganjal. Bagiku, justru Mesir dan Al-Azhar lah yang tercipta untuk ber”jodoh”. Disepanjang perjalanannya yang kini jelang usia 1066 tahun, tak terhitung betapa terlahir dari rahimnya beribu-ribu ulama, tokoh cendekiawan, pun para scientist yang banyak menelu rkan karya-karya monumental berikut generasi-generasi brillian hingga menyebar melintasi segala belahan bumi, di seluruh penjuru dunia. beragam disiplin keilmuan pun banyak yang dibidani oleh keduanya. Jika Mesir dikenal sebagai pusat peradaban dunia, maka Al-Azhar pun tampil sebagai pusat keilmuan dunia. Tak heran…kalau tak hanya sekali ini aku mendengar ungkapan kebanggaan para penduduk mesir di sela-sela obrolanku dengan mereka, yang acapkali mengelu-elukan negeri-nya sebagai “ummu Dun’ya” (Sang Ibu Dunia).  spontan, aku mengangguk mengiyakan kenarsisan mereka yang sambil lalu disambut dengan sunggingan senyum sumringah tanda kebanggaan yang tiada tara.  dalam hati aku membisiki doa, “semoga suatu saat nanti negeriku Indonesia pun dapat bangkit mencetak bangsa berhiaskan ilmu, amal dan takwa hingga penghargaan “Abu Dun’ya” (Sang Imam Dunia) pun mampu di raih-nya…amin. meski tak perlu bermuluk-muluk dalam impian, tapi aku yakin “al-dun’ya min al-mumkinaat” (dunia penuh dengan segala kemungkinan).

Deg!!! sejenak ayunan langkahku terhenti. oh…rupanya aku terlalu sibuk dengan alam pikiranku demi mengitari kampusku tercinta ini. Sedetik kemudian, aku teringat sesuatu! owh…Serasa ingin mengambil langkah seribu, kupercepat jalanku sambil lalu kubergerak berlari kecil. Karena aku harus segera sampai ke flat-ku sebelum hari menjemput malam. Ya..karena aku Ingin sekali segera memeluk teman sejatiku…sang laptop kecilku.

Aku ingin menulis…ingin sekali. terlalu banyak yang ingin aku tulis. Serasa semuanya saling tumpang tindih di angan dan pikiranku. Hingga sulit tuk ku lukiskan dalam kata. Disudut hati yang paling dalam, ingin kumeratapi…entah bagaimana harus ku ungkapan apologi ku yang amat mendalam terhadap sikap apatisku dengan tragedi “Gaza” beberapa pekan yang lalu. Ternyata hari-hari ujian memang selalu memaksaku untuk mengurung dalam kamar hingga ku tak mampu berbuat apa-apa untuk Palestine kecuali dengan lantunan do’a-ku untuk kemerdekaannya dari kekejaman musuh Allah SWT, israel si zionis.

Ku ingin menuliskan bagaimana ungkapan duka dan empatiku terhadap peristiwa “Desember Kelabu” bagi para Mujahid Palestina oleh kaum imperialis zionis-israel itu. Dan bagaimana cara kuungkapkan rasa geramku dan sikap derisifku terhadap para pemimpin Arab yang ikut bersekutu bersama Israel. Apalagi, setelah ku mendengar ternyata presiden negeri tempat aku berkelana ilmu ini (Mesir), Husni Mubarak yang secara diam-diam telah ikut berunding bersama Israel dalam penyerangan Gaza Desember lalu. Sungguh memalukan! Mungkin itulah dua kata spontan yang terucap di bibir keluku saat itu. dalam hati aku ikut mengutuki mereka (segenap tentara Israel dan semua komponen yang bersekutu dengannya) dan mendoakan semoga tanda kekuasaan berikut kemurkaan Allah pada mereka akan segera datang…sebagaimana yang pernah ditampakkan-NYA pada perang Badar dan peristiwa penghancuran Ka’bah oleh pasukan gajah Abrahah dahulu.

Selanjutnya, kuingin menulis…mencurahkan segala takjub dan rasa bersyukur-ku yang amat mendalam atas segala tanda-tanda kekuasaan –NYA yang diperlihatkan pada hamba-NYA baik di alam maya maupun nyata. Ayat-ayat suci-NYA yang dua bulan ini kerap menyapa diri yang penuh kehampaan ini.

Ku ingin menuliskan sebuah refleksi tentang riset filologi dan leksikografi-ku yang dua bulan ini kerap menyandingi alam pikiran diantara kasak-kusuk kejenuhanku. meski melelahkan, tapi mengasyikkan !!!

Ku juga ingin meleburkan segala resah gelisah, gundah gulana, hati yang tertekan…disaat ia terpaksa harus melepaskan segala angan dan impian…meski terpaksa harus menepis segala bisikan kerinduan dan membuang semua benih-benih ketulusan dirinya.

tak terlupakan pula, ku ingin mengungkapkan kebahagiaanku menyambut “Expo Internasional 2009” ini. wow…disebut kata “ma’radh” mata-ku langsung berbinar, jantung berdebar-debar, kaki pun jadi tergerak cepat…seakan ingin segera beranjak dan bergegas menuju ma’radh sang idola dan idaman sejatiku. Kehadirannya yang hanya sekali dalam setahun itu membuatku harus berpikir-pikir lama untuk nge-meal Apalagi shopping di bulan ini. Kulirik kembali buku tabunganku tahun ini. “hmm…cukup ga ya nambah rak buku lagi?”, gumamku penuh harap. Segera ku buka internet, kutelusuri informasi dan ku hunting berita jadwal simposium dan seminar serta pagelaran seni sastra yang menjadi sasaran utamaku nanti disana. oh..Ternyata aku memang terlambat! Expo sudah dibuka sejak tanggal 22 januari yang lalu, di saat hari-hari ujianku, dan berakhir pada tanggal 5 februari nanti. Sedih…!!!memang itu yang kurasakan. Entah berapa ilmu yang telah tercecer secara cuma-cuma sejak seminggu yang lalu ini. hiks…hiks..

kalau begitu..sekarang aku tak boleh terlambat lagi…mumpung masih bulan Januari, I think it was not so long ago…I would like to congratulate, “HAPPY NEW YEAR 1430 H and 2009 M”. awali Bismillah sebagai pembuka kata, ungkapkan syukur dengan muka berseri, sungguh ia laksana penyibak tabir diantara dua pintu. Pintu Rahmat dan keajaiban-NYA, diantara tahun baru Hijriah dan Masehi yang datang bersamaan. May..mulailah kau ukir sejarah baru di tahun 1430 H dan 2009 M ini dengan tinta emas, yang berkilau diantara titisan mutiara dan permata yang indah. Bangunlah dari mimpi indahmu…berpandanglah luas, berpikir jauh kedepan…karena kini kau hidup di dunia realita yang penuh dengan tantangan arus ombaknya, meski terkadang membuatmu harus meneteskan air mata.

Those who believe and whose hearts find peace in the remembrance of God. Only in the remembrance of God can the heart find peace.


One thought on “Rindu Menulis

  1. semangat terus untuk melakukan perubahan walaupun dengan sesuatu yang kecil (pena).
    emang dah semester berapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s