Homesickness;

[ Inspired by Moonlight ]

Ditengah asyiknya mengeksplorasi wacana kesusasteraan arab, seketika perasaan-ku dipenuhi distimia yang begitu mencekam. Spontan gerak tanganku macet.

Kulirik jam tanganku menunjukkan pukul dua malam. Masih terlalu dini untuk ukuran malam musim panas Kairo. Tapi kurasakan malam ini tiba-tiba dalam kesenyapannya yang mendalam. Sungguh! biasanya tiap malam, suara riuh perbincangan dan obrolan orang-orang Mesir kerap terdengar dari balik tirai jendela kamarku. Keramaian suasana malam pasar gami’ diseberang flat-ku yang tak begitu berjarak jauh ini memang rentan kedap suara meskipun flat-ku ber-alamat dilantai sutuh( lantai lima, paling atas).

Kurasakan seketika nyanyian yang mengalun lembut dari dedaunan dan pepohonan yang biasa dibelai angin malam pun berhenti sunyi. Sapaan sejuknya angin malam yang biasa mengipasi kegerahanku dari balik pintu jendela ini tak menghampiri lagi. Semuanya berhenti mematung. Termasuk pikiranku yang membuntu ini…

Oh..Hari-hari “Ramadhan” memang saat yang paling tepat untuk ber-kontemplasi (bertafakkur dan merenung diri).

Saat ini..aku memilih untuk duduk di daun pintu jendela kamar-ku. Sambil menikmati sebuah lagu instrumental, ku pandangi langit dengan bulan purnama-nya. Bulan itu indah…putih bercahaya terang..semakin menghiasi dan mempercantik suram gelapnya langit. Dengan didampingi kerlap-kerlip bintang, semakin membuat sang rembulan nampak gagah dan mempesona. Sejenak aku teringat salah satu petuah Ibn Thufail, yang menyuruh agar manusia selayaknya mengikuti “akhlak langit”. Yang selalu memberi, tanpa meminta balasan.

Ah..memandangnya lekat, membuat hati dan jiwa sejuk dan damai. Seakan dunia hanya milik aku bersama sang rembulan saja.

Namun, selang berapa lama kemudian, aku tersadar…ternyata aku tidak hanya di ajak untuk menikmati keindahan-nya saja. Tapi, seperti ada ilham yang menyusup, kehadiran sang rembulan kini menyiratkan kalau disaat persandingan ini, aku diajak untuk kembali menelusuri jiwa yang rupanya masih terjangkit oleh keganjalan iman yang tipis ini.

Tanganku beralih, ku putar lagu “al-Abd” (the slave) dengan vokalis “syekh Mashary Rashed”. Sebuah lagu religi yang sendu, menggugah dan menyentuh hati. Serasa diingatkan akan semua kesalahan, dosa dan khilaf yang senantiasa menyelimuti diri disetiap langkah kehidupan.

Menyelami senandung kata demi kata yang yang terurai, meniti rangkaian bait yang tersirat rapi, mengantarkan pikiran dalam renungan dimasa silam. Mengetuk hati untuk menggapai kasih dan taubat-NYA.

Seketika dada serasa sesak oleh desakan dosa-dosa masa lampau yang masih terasa implikasi buruk-nya hingga sekarang. Terbisik sayup tangis bathin, ” Ya Rabb…tiadalah diri ini, hanyalah seorang hamba yang terlalu menderita karena dosa. Yang gelisah, bersedih dan bermuram durja, karena ketergelicirannya oleh benturan kerikil-kerikil dosa yang senantiasa menemani titian jalan kehidupan hamba”. “Oh Lord..di bulan suci-MU ini, perkenankan hamba menggapai Barokah dan Rahmat-MU. Izinkan hamba untuk kembali berduet nan bersua mesra dengan-MU. Merengkuh cinta abadi-MU sebagaimana KAU pancarkan cahaya cinta-MU melalui pesona sang rembulan di sepanjang malam-nya”.

Pikiranku kemudian beralih pada sebuah bayangan meneduhkan. Bayangan mereka..keluargaku yang begitu aku cintai. Terlintas sosok bayangan “Aba, Umi dan saudara-saudaraku” yang tak terbilang berapa kali mereka menelpon-ku selama bulan Ramadhan ini. sekedar menanyakan belajar-ku, kesehatan-ku dan apa saja yang aku makan ketika sahur dan buka puasa-ku. Sebuah perhatian dan kasih sayang yang tiada pernah kering walau jarak dan masa yang melintasinya.

Aku merindukan mereka…rindu sekali. Rindu dengan suasana ramadhania bersama mereka, event yang paling harmonis dan romantis (kukatakan Ramadhan, karena aku yang semenjak kecil di pesantren, membuatku hanya punya kesempatan bersama mereka di liburan Ramadhan saja). Rindu dengan suasana diskusi dan obrolan ringan oleh semua personil keluargaku disetiap menjelang istirahat malam. Rindu untuk cerita dan tertawa bersama mereka, mereka yang begitu berarti dalam hidup-ku. Yang telah berkontribusi penuh dalam arus pendidikan-ku baik dari segi moril maupun materil.

Ingin kutumpahkan tangis kerinduan ini dalam rangkulan dan keharibaan pangkuan ayahanda dan ibunda tercinta. Sang raja kebanggaan dan ratu jelita-ku. figur teladan-ku. Teringat bagaimana beliau mengusahakan menyambung internet, agar bisa berkontak dan melihat-ku langsung. yang selalu belum merasa cukup dengan sekedar mendengar suaraku melalui telpon, apalagi jika seminggu tak ada kontak. sungguh interaksi dan telepati bathin yang begitu kuat..! semakin dalam keterharuanku dan kebanggaan-ku pada beliau.

Teringat juga bagaimana ca’ umang, caca’-ku yang kedua, yang tak pernah absen setiap malam menasehati-ku lewat sms-nya tentang apa saja yang menyangkut filosofi kehidupan. sosok-nya yang humoris dan bijak. dan ca’ Ali, caca’ sulung-ku yang suka menanyakan problem-problem-ku dan sambil lalu berdikusi santai. Terkenang pula bagaimana suci, leha dan nunk adik-ku yang selalu berkonsultasi dan meminta ide serta pendapatku di setiap masalah yang mereka hadapi. Apalagi Aus, adik bungsu-ku yang lucu dan menggemaskan itu. Dan terekam jelas, bagaimana mereka berjuang mati-matian dan berusaha menegarkan, membangkitkan serta mensupport-ku, khususnya di saat peristiwa “dilematika semi nan syahdu” bulan maret lalu. Yang sempat menggoncangkan mental dan jiwa-ku yang memilukan itu.

Begitu besar harga cinta yang mereka pertaruhkan. Cinta tulus..Murni..tak tertukarkan oleh apapun..meski oleh jiwa-ku sendiri. begitu dalam dan besarnya akan harapan untuk kesuksesan bersama. “Oh Allah…berilah hamba kesempatan untuk membahagiakan mereka…berilah kami umur panjang dan berbarokah..untuk berkumpul kembali dalam sunggingan senyum indah dan tangis bahagia mereka bersama hamba nanti. Seindah cahaya gemerlapan kehidupan langit sana, dengan keharmonisan bersama cerahnya sang rembulan dan kerlipan bintang-bintang-nya.”..Amin Allahumma Amin..

oh my great family..really..i miss you all.


One thought on “Homesickness;

  1. Imay sehat?sorry aq ga pnya FS.jd aq pengen nyapa u disini aja ya..
    imay td q lht di TV ada warung makan yg nyajiin terong bakar..enak banget kayaknya. may..jd ingat masakan nte may..
    kangen abizzz…apalgi dicampur ayam bumbu specialmu..kwkwkwk 10x
    gmn cairo msh panas or udah dingin ne?aq balik oktober.pkoqnya hrs disambut sm masakanmu.ocle?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s