Power Sharing

[ Sebuah Adagium; Menyoal komparasi antara maskulinitas dan feminitas yang imbang]

Sejenak aku tertegun dengan tubrukan bacaanku di sebuah weblog, “Kaum hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam, bukan dari kepalanya untuk dijadikan atasannya, bukan dari kakinya untuk dijadikan budaknya, bukan dari bawah perutnya untuk dijadikan tujuannya, melainkan dari sisinya, untuk dijadikan teman hidupnya, dekat pada lengannya untuk dilindungi, dekat pada hatinya untuk dicintai, dekat pada perutnya untuk dibuahi dan dikaruniai” sangat estetis dan respektif, begitu kagumku.

Lama aku berpikir dan merenungi esensi dari kata-kata unik tersebut. Dalam hati aku bergumam pelan, “walau unsur penciptaan tulang rusuk yang diklaim mendiskreditkan perempuan, sepertinya analisa filosofis diatas diramu sebagai bentuk eufemistis yang justru menepis asumsi miring para hedonis terhadap artikulasi wujud perempuan”( itupun kalau tidak mau dikatakan sebagai tindakan antitese dari historitasnya yang traumatik dan bentuk pembelaan terhadap hak-hak perempuan dalam hal citra kasih sayang antar sesama). Meski dalam aspek penalaran teks teologis, yang secara esoteris, ia mengingkari penciptaan perempuan dari tulang rusuk adam. Satu titik point alasan bahwa dalam memahami agama tidak harus secara dogmatis, namun berdasarkan penalaran yang kritis.

Terkesan Sangat bijak untuk bisa ditarik benang merah akan filosofi afektif ini, bahwasanya, siti hawa adalah “belahan jiwa” bagi jiwa adam. Bagai dua magnet yang saling tarik-menarik. Artinya, suami istri itu merupakan satu jiwa. Yang nantinya akan melahirkan adanya keterikatan afeksi. Saling membutuhkan dan berketergantungan satu dengan lainnya. Hingga tidak terjadi konflik dehumanisasi yang biasanya banyak bersumber dari dominasi paternalistik.

Betapapun, makhluk perempuan tercipta sangat istimewa. Bahkan seorang tokoh sufi besar “Ibn ‘Arabi” berkekuatan spiritual, intelektual dan filosofi tinggi yang mendapat gelar syaikh al-Akbar (sang Mahaguru) dan Muhyiddin (sang penghidup agama) asal Murcia, Spanyol ini, pernah menyebutkan dalam kitab fusus al-hikam bahwa, “ pada dasarnya, dalam diri kaum perempuan terdapat titisan penjelmaan keindahan Allah SWT yang sarat menonjol, yang kemudian disempurnakan oleh serapan citra keagungan Allah SWT dalam diri kaum laki-laki”. Sebuah pesan sufistik yang terealisasi nyata oleh cara Rosulullah dalam mencintai kaum perempuan dengan pandangan keindahan spiritualitas bukan pandangan keindahan fisik.

Di kitab lainnya beliau menuturkan, “dalam diri perempuanlah Allah SWT lebih sempurna memanifestasikan diriNYA” bahkan di suatu kesempatan beliau menyatakan, “untuk menjadi sufi sejati, maka seseorang harus menajadi perempuan lebih dulu” mengapa begitu?

Terilhami dari sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi,” Kasih-sayang-KU mendahului murka-KU” pernyataan yang mencerminkan dua kategori sifat Allah SWT yaitu sifat jalaliyyah (yang bercorak maskulin) dan jamaliyyah ( yang bernuansa Feminin). Tak dapat dipungkiri, bahwa sifat feminin (Rahman dan Rahim) Allah tentunya lebih mendominasi dalam barisan Asma’ul Husna-NYA daripada sifat-sifat-NYA yang keras. Dari sini, bisa kita petik kesimpulan logis bahwa perempuan, sejatinya ia memiliki peluang besar dalam memahami dan mengenal Allah SWT serta mengamalkan ajaran-NYA.

Dan seperti yang pernah dituturkan Siti Musdah Mulia dalam sebuah refleksinya, “karena sifat feminin yang menghiasi diri perempuan inilah yang kemudian menjadi alasan kuat Rasulullah untuk menghadiahkan seorang ibu dengan penghargaan derajat tiga kali lipat lebih besar daripada seorang ayah”. Disini pula Ibn ‘Arabi mencetuskan analogi brilliantnya, bahwa manusia ideal dan sejati, ialah manusia yang dalam dirinya tumbuh unsur maskulinitas dan feminitas secara imbang, sebagai cermin gambaran Ilahi yang tiada terbatas. Hingga tidak ada dikotomi antara laki-laki dan perempuan.

Lebih dari itu, secara kodrati, perempuan tercipta dengan kemampuan berperan ganda. Hanya dari rahimnya-lah terlahir para tokoh-tokoh besar di seluruh belahan dunia. sosok pendidik utama yang berperan aktif dalam mencerdaskan umat dan mencerahkan bangsa. Tak heran jika Dr. James spaegry asal Ghana, mengatakan bahwa, “ dalam mengajar dan mendidik satu orang laki-laki , sama hal-nya mendidik seorang anak bangsa. Namun, mengajar dan mendidik satu orang perempuan, ia laksana mendidik satu bangsa”. Perempuan memiliki naluri kuat untuk berbagi dengan lingkungannya. Karena itu, sebuah pendidikan cerdas dan bekal keilmuan yang luas, menempati porsi signifikan bagi kaum perempuan.

Sebagai tambahan refleski, aku teringat beberapa tokoh dunia yang banyak menuai kesuksesan dalam etos kepemimpinan, menelurkan karya agung dan menguak ide pemikiran tercerahkan. Dan tak terbantahkan, bahwa dibalik semua kecanggihan yang mereka tuangkan, ada sosok bermuatan kekuatan cerdik, dan toga super inspiration yang menopangnya. Dialah seorang perempuan, sang inspirator utama yang berpengaruh besar dalam mengarungi sepak terjang perjuangan mereka.

Sebutlah seperti Sayyidah Khodijah binti Khuwailid yang dengan harta dan tingkatan tinggi spiritualnya, banyak membantu perjuangan dakwah dan perjalanan wahyu Rasulullah. Saking besarnya pengaruh dan kecintaan Nabi pada sayyidah Khodijah, Hingga tahun wafat beliau diabadikan dengan sebutan “ ‘Am al-huzni”(tahun kesedihan Nabi). Kemudian, sayyidah Asiyah binti Muzahim yang dengan kecerdikan dan kesucian iman-nya mampu melunakkan kerasnya hati dan watak raja Fir’aun. Aura kelembutan dan ketulusannya menghipnotis Fir’aun yang terlalu mencintainya walau harus berhadapan dengan malapetaka besar dengan resiko mengasuh dan mendidik musuh besar Fir’aun( Nabi Musa a.s )dalam istana kemurkaannya. Sehingga membuat Sayyidah Asiyah patut berbangga oleh buah ketaatannya pada Allah SWT dan suaminya berikut jiwa kepahlawanannya terhadap nabi Allah SWT (nabi Musa a.s.). kemudian, Seorang gadis perancis yang memiliki daya interaksi kuat dan intektual tinggi, sehingga dari pengaruh keistimewaan akal dan pola pikir perempuan tersebut, mampu menjadi tonggak penggugah kesadaran sekaligus sumber inspirasi sang tokoh pelopor feminisme Mesir, Qasim Amin. Yang kemudian Qasim Amin boleh merasa puas oleh lahirnya dua karya magnum-opusnya yang terkenal itu. yaitu “tahrir al-mar’ah” terbit pada tahun 1899 dan “al-mar’ah al-jadidah” terbit pada tahun 1900. yang dari keduanya, muncul peradaban pemikiran baru di Mesir pada khususnya dan negeri Arab pada umunya oleh wacana berbasis kebangkitan perempuan yang semula gagap dan stagnan. Dan ada lagi, putri seorang syeikh asal Isfahan, yang dengan ketajaman jiwa sufistiknya dan ketangkasan ilmunya, kehadirannya mampu menyulap Ibn ‘Araby menjadi sang pecinta dan pengagum makhluk-NYA. Hingga terciptalah kitab karangan beliau yang sangat popular “Tarjuman al-Asywaq”. Dan masih banyak lagi kampiun-kampiun perempuan yang berkontribusi besar dalam kedudukannya sebagai mitra laki-laki.

Tak cukup itu, karena mereka tidak hanya hebat dibalik kesuksesan laki-laki. Bahkan, tak sedikit figur ideal seorang perempuan yang berperan aktif dan mandiri dalam mewarnai peradaban dunia. jasa, karya dan nama mereka selalu meniupkan angin segar dalam kehidupan masyarakat luas. bahkan dikitab suci Al-Quran pun banyak mengabadikan nama-nama mereka sebagai perempuan berkedudukan mulia dan tinggi.

Tak asing lagi ditelinga, ketika mendengar nama ratu Balqis. Sang tokoh politik yang mampu memimpin kerajaan super powernya (‘arsy ‘adzim)hingga membuat nabi Sulaiman berdecak kagum, mengakui kehebatan ratu Balqis meski nabi Sulaiman sendiri sempat terkalahkan oleh-nya. Kemudian sayyidah Maryam, perempuan suci pilihan Allah SWT dan “the single parent” yang mampu mencetak dan mendidik seorang putra yang dewasanya, sang putra ter-utus dengan mandat agung untuk menjadi nabi pilihan-NYA (nabi Isa a.s ). Dan Khansa’, Tokoh penyair perempuan yang hidup di dua zaman (zaman Jahiliah dan zaman kedatangan islam), yang dengan syi’ir andalannya berkategori “Ratsa’ ”(ratapan), mampu berdiri unggul diatas para penyair arab dimasa itu. Kemudian sayyidah ‘Aisyah, beliau adalah guru-nya kaum laki-laki(para sahabat nabi). dengan kecerdasan dan keilmuannya yang luas, tak jarang beliau dijadikan “maroji’ “(referensi utama) para tokoh tafsir, fiqh, hukum, hadits, maupun tabib dizaman kenabian tersebut.hingga beliau mendapat gelar “Ummul Mukminin” (ibunda kaum mukmin).Dan Cut Nyak Dien, tokoh pahlawan kemerdekaan. Yang ikut berjuang dalam peperangan melawan para kolonialis. Menyusul kemudian RA. Kartini, sang reformis dan tokoh pendidikan dimasa kemerdekaan dan orde lama. Ditambah kemudian Megawati Soekarno Putri, pemimpin bangsa berkelas dunia, pejuang berkepribadian kuat, visioner dan prinsipil.

Dan tentunya, masih banyak exemplary women lintas agama, politik, ekonomi, pendidikan serta dunia dan peradabannya, yang ikut menjejali barisan tokoh-tokoh diatas.

Namun, dari sekian banyak kelebihan, keunikan dan keistimewaan yang Allah SWT anugerahkan untuk kaum perempuan, ternyata mereka hanya memiliki “satu kekurangan”.

“ Perempuan banyak lupa bahwa ternyata diri-nya sangat berharga”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s