Melacak Akar Penciptaan Perempuan

 

(antara Divine Creation dan Social Construction)

Potret dunia perempuan selalu saja menempati obyek wacana yang diskursif dan diskusibel. Serbuan opini maupun asumsi terhadap makhluk perempuan ini sepertinya memang tak pernah kering dari sorotan kajian-kajian sosio-teologis, filosofis bahkan ideology politik budaya. Perkembangan trade-off system (perubahan) dari matriarchal ke patriarchal pun turut mengiringi jejak peralihan factor reproduksinya yang kemudian tergeserkan oleh factor produksi. Dimulai sejak zaman pra-primitif yang konon, menganut maternal system ( pola keibuan) hingga zaman post-abrahamic religions yang dianggap mentoleri faham missoginy. Kedudukannya pun kian mengalami dekonstruksi dan peyorasi dihampir semua poros kehidupan, sebagai bentuk implikasi negative dari sikap yang telah membudaya dalam pengalienasian fungsionalitas kedudukan perempuan  di ranah social masyarakat maupun faham yang muncul dari sumber tradisi keagamaan yang selalu dinilai bias gender.

Tak ayal lagi, bentuk eksploitasi dan marginalisasi terhadap ruang geliat perempuan ini telah tertancap dan mengakar  pada hampir semua persepsi masyarakat dunia. sekian lama perempuan tersiksa oleh keterpurukan yang lalim dan nista. Sosoknya laksana malapetaka dunia yang terkutuk sejak awal terciptanya sampai hari kiamat.

Contoh yang paling monumental, yang terjadi dimasa primitif, adalah dimana kodrat perempuan dengan masa menstruasinya, yang dianggap tabu (menstrual taboo) oleh bangsa yahudi, hingga menjadikannya harus diperlakukan layaknya binatang bahkan lebih rendah dari anjing hutan.

Contoh lain yang sangat populer adalah sebagaimana yang disinggung oleh Gayatri Spivaks dalam “can the subaltern speak ?” tentang nasib bangsa perempuan dimasa postkolonial yang ditakdirkan untuk “diam”. Diam, kaku dan vakum oleh penindasan bertubi-tubi  dari kaum imperialis maupun laki-laki pribumi. Wujudnya hanya sebagai pelengkap kebutuhan biologis dan obyek despotisme para orientalis dan kaum patriarkat. Dimasa tragis ini, perempuan tidak diberikan hak suara sama sekali. Mereka terbuang dan terbelakangkan. Hak pendidikan pun nyaris tak tercicipi. Disebut subaltren karena ruang geraknya yang terlalu stagnan, sehingga tidak mempunyai kesempatan sama sekali dalam upaya mengartikulasikan diri mereka sehubungan dengan wacana kolonialisme.

Dan gejala derita lainnya, yang amat fenomenal dan terjadi di masa postmodern, dimana perempuan masih terkungkung dalam domestifikasi peran. Semua kerincuhan dan beban rumah tangga bahkan kenakalan anak-anakpun secara otomatis menjadi tanggung jawab ibu. Nilai dominasi pria terhadap wanita menanamkan stereotip keras oleh dikotomi antar jenis kelamin. Signifikansi peran perempuan masih bernilai ambigu dimata public (public views). Disatu sisi, dia dituntut untuk eksis dan mencari nafkah di luar, agar tidak selalu menjadi beban laki-laki. Namun, disaat dia mampu berkreasi dan berkiprah di masyarakat luas bahkan menuai karier yang sukses, nilai kesalehahnya sebagai istri dan ibu diragukan. Padahal laki-laki dan perempuan memegang potensi dan tuntutan yang sama sebagai ‘abid di hadapan Allah dan khalifah di muka bumi. Namun, Lingkup geraknya terbatasi oleh pembagian sektor publik dan sektor  domestik. Secara implisit, terminasi ini melahirkan sikap ambivalensi dikalangan kaum perempuan. Anehnya, ketimpangan peran sosial ini tak banyak disadari oleh mereka, kaum perempuan khususnya. Karena mereka telah banyak termakan racun otoritas patriarkat yang menghegemoni hampir seluruh sektor politik, social, budaya bahkan asas teologi yang diplesetkan. Lebih ironisnya, lagi-lagi mereka menganggap stereotip ini adalah takdir dan kodrat semata (divine creation) dan bukan hasil konstruksi masyarakat (social construction).

Sebagaimana yang telah disinggung diatas, bahwa sejatinya, bentuk diskriminasi maupun tiranisme dalam formulasi sosio-teologis yang tidak henti-hentinya menyelimuti kehidupan kaum perempuan ini, itu semua tidak lepas dari esensialitas penciptaan perempuan yang diasumsikan miring oleh mayoritas masyarakat dunia. karena hawa yang tercipta dari unsur organic adam yaitu bagian tulang rusuknya, sehingga kemudian dicap sebagai “the second human being”. Dan yang lebih naif, karena itu semua efek dari hukum kausalitas “original sin”. Sebagaimana ajaran kaum nasrani yang  mempercayai bahwa turunnya adam dari surga yang penuh kesenangan ke bumi yang penuh kerusakan ini, tak lain disebabkan tipu daya hawa terhadap adam. Sehingga makhluk perempuan dianggap sebagai iblis bumi yang amat berbahaya. Bahkan unsur penciptaannya yang dari tulang rusuk laki-laki itu, diyakini bahwa perempuan semata-mata tercipta sebagai helper, pelayan dan makhluk komplementer saja dalam realitas kehidupan laki-laki.

Memang kerap masih terdengar di perbincangan masyarakat, bahwa asal mula perempuan adalah dari tulang rusuk laki-laki. Pernah suatu kali dalam obrolan ringan, penulis mendengar ungkapan salah seorang teman,” aku ingin sekali cepat menemukan dimana gerangan tulang rusukku itu berada..” ada lagi’ “ sepertinya aku masih merasa cacat karena tulang rusukku yang masih terbelah. Entah dimana dia tersimpan. Ingin sekali cepat mendapatkannya agar aku bisa menyempurnakan hakikat diriku” sekilas kedengarannya meyakinkan. Namun ia tampak klise. secara rasio, mana mungkin perempuan yang secara fisik hampir seluruhnya serupa dengan bentuk laki-laki itu, bisa dikatakan bahwa ia tercipta dari tulang rusuknya. Unsur yang membedakannya hanya terletak pada segi anatomi fisik-biologisnya saja. Analogi absurd inipun baru yang dapat dilihat dari kaca mata logika. Walau terlepas dari keyakinan bahwa segala kemungkinan akan terjadi jika Allah SWT berkehendak.

Kemudian, jika ditelisik dari segi tekstual agama, beberapa ayat Al-Qur’an yang nampak  mengisyaratkan asal mula penciptaan perempuan, adalah 1) Q.S al-nisa’/4:1, 2) Q.S Al-A’raf/ 7: 189, 3) Q.S Al-Zumar /39 : 6. Dari ketiga ayat tersebut, tidak ada satu lafadz pun yang secara eksplisit mengatakan penciptaan manusia dengan nama adam dan hawa. Seperti di ayat 1 surah al-nisa’ :

ياأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dari “diri” yang satu (a single self), dan dari
padanya Allah menciptakan pasangan (pair)-nya, dan dari pada keduanya
Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu
saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu
”.

Penafsiran kontroversial dalam ayat tersebut terletak pada lafadz nafs wahidah, dhomir “min”, dan zaujaha. Para ulama tafsir secara umum berpendapat bahwa lafadz “nafs” yang dimaksud disini adalah adam. Kemudian lafadz “min” diambil dengan proposisi makna “dari”(sesuatu dari sesuatu yang lain) dan lafadz “ zaujaha” diartikan sebagai istri adam, hawa. Sehingga dengan mudah dipahami bahwasanya hawa diciptakan dari bagian unsur organ tubuh adam tepatnya pada tulang rusuknya. adapun kitab-kitab tafsir mu’tabar yang turut mengiyakan bentuk penafsiran diatas, diantaranya yaitu, tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Mizan, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Bahr al-Muhith, Tafsir Ruh al-Bayan, Tafsir al-Kasysyaf, Tafsir al-Sa’ud, Tafsir Jami al-Bayan dan Tafsir al-Maraghi.

Berbeda dengan penafsiran imam Abu Muslim al-Asfahani dalam tafsir al-Razi yang mengatakan bahwa maksud dari dhamir “minha” disini bukan dari tubuh adam, melainkan tercipta dari gen, unsur pembentuk adam. Jadi, adam dan hawa sama-sama tercipta dari tanah. Hanya saja adam lebih didahulukan penciptaannnya baru setelah rampung, kemudian Allah menciptakan hawa dari tanah pula. Rifat Hassan, Tokoh feminis muslimah berkebangsaan India itu,  menolak keras dengan penafsiran jumhur tadi. Dia berpendapat bahwa, kata “nafs” disini netral. Tidak harus merujuk pada adam. jika nafs wahidah disini diartikan adam, maka kata”adam” dalam semantis-linguistiknya berarti kata benda maskulin yang sederajat dengan arti al-insan, al-basyar dan al-nas dan bukan diartikan sebagai jenis kelamin. Begitu juga Seorang penasehat menteri wakaf Mesir, DR. Abdul Ghani Shama mengatakan bahwa adam dan hawa diciptakan dari unsur materi yang sama. Sedangkan pihak yang mengatakan bahwa hawa tercipta dari tulang rusuk adam, hepotese ini hanyalah hasil adopsi dari kisah-kisah israiliyat yang tidak jelas keabsahannya.

Menyinggung argumen DR. Abdul Ghani Shama, berangkat dari sejarah awal interpretasi Al-Quran, kehidupan sosial dan budaya yang menjalar ketika itu, adalah kehidupan yang dikuasai makhluk berpaham patriarchal. Tentunya, paradigma eksentrik ini jauh diluar dogma yang telah diajarkan nabi. Tak diragukan lagi, tokoh teladan sejuta umat, pembawa risalah suci sejagat raya, Nabi Muhammad SAW dengan segala praktik gender equality dan spirit equality yang diusungnya, berhasil mengangkat kedudukan perempuan dimasa itu sejajar dengan laki-laki dalam ranah politik, ekonomi, pendidikan baik dalam skala local, regional sampai global. Hingga julukan tokoh feminis dunia pun berhasil disanding oleh sang kampiun penyelamat kaum perempuan ini.

Namun yang sangat disayangkan, implementasi dari exemplary behavior ini hanya mampu tersalurkan cerah dimasa hidupnya nabi saja. Dan belum memasuki ruang masa  interpretasi teks Al-Quran dan Al-Hadits. Apa sebab ?

Menurut penelitian para antropolog, keadaan dunia islam pasca wafat nabi merupakan masa yang sarat akan gejala-gejala dekadensi hukum dan budaya meski sempat tercerahkan sebelumnya. Apalagi keadaan nash Al-Quran dan Al-Hadits yang ketika itu masih berada dalam tahap kodifikasi serta proses interpretasi. Yang tentunya, kondisi dan situasi local yang terjadi pada suatu masa, memiliki tendensius besar bagi para ulama tafsir maupun para exegesist dalam usaha manifestasi interpretasi hukum teologis yang akan ditetapkan.

Pasalnya, Membludaknya penyaringan enkulturasi yang diserap islam dari budaya androsentris yang notabene missogamis, sangat niscaya jika menjamin terkontaminasinya pemikiran para ulama oleh paham patriarki tersebut. Diantaranya, adalah pengaruh ekspansi dakwah islam di hampir seluruh belahan bumi eropa dan Afrika dengan percampuran antara budaya wilayah jajahan Persia di timur, wilayah jajahan Romawi yang teradopsi oleh budaya Yunani, bahkan Mesir yang terpengaruh oleh budaya Mesir kunonya, semakin mendukung pada proses enkulturasi tersebut. Sehingga, sangat beralasan jika kemudian penafsiran ayat-ayat Al-Quran maupun Al-Hadits yang cenderung mengisyaratkan mekanisme penciptaan perempuan itu, kemudian ditafsirkan mirip seperti dengungan redaksi kitab genesis dalam perjanjian lama tepatnya di pasal 21-23 yang mengatakan bahwa, “ketika adam sedang sendirian ditaman surga, maka Allah menidurkannya. Kemudian dalam keadaan tidur, Allah mengambil bagian tulang rusuk kiri adam dan melapisinya dengan daging akhirnya terbentuklah makhluk sejenis perempuan. Dan setelah bangun, muncul disisinya sosok perempuan cantik tersenyum padanya. Bertanya adam, “siapa kamu?” “perempuan”, jawab hawa. “Mengapa kamu diciptakan”?, Tanya adam lagi. “supaya kamu mendapat kesenangan dari saya”, kata hawa. Dan ditanyakan ke malaikat bahwa dia dinamakan hawa karena dia diciptakan dari sebuah benda hidup (tulang rusuk)”. Kisah estetis yang ternyata juga tersirat di kitab yahudi ini dan kitab semit lainnya, ternyata sudah menjadi santapan obrolan lama berikut kepercayaan dasar dari mayoritas umat agama islam semenjak dahulu kala. Bagaimana tidak, la wong ulama tafsir klasik pun menyuapi kisah dan keyakinan yang sejalan dengan kisah-kisah israiliyat tersebut. Dari sini, nampak sudah akar penyebab ayat-ayat yang terkesan bias gender sehingga berimplikasi pada tersubordinasinya posisi perempuan dalam bingkai kehidupan filosofis-teologis berikut sosio-kultural yang menganak-turun ini.

Tak hanya nash Al-Quran, teks Al-Hadits pun turut termanipulasikan oleh budaya dan tradisi lokal. Teks-teks hadits bahkan lebih banyak diklaim bias gender. Posisi hadits yang dinyatakan sebagai bentuk tafsir perincian dan penjelas dari nash Al-Quran ini semakin memperkuat asumsi the second creation-nya perempuan karena tertulis sangat jelas disana adanya lafadz “al-Dhol’i “ yang berarti tulang rusuk. Yang semula di Al-Quran masih bermakna ambigu, ternyata telah tertera sangat gamblang di Al-Hadits bahwa nyatanya perempuan selalu disandingkan oleh kata tulang rusuk. Diperkuat lagi dengan perawi-perawi hadits yang mengupas tentang hal ini, adalah kebanyakan para perawi shohih, seperti Bukhori Muslim. Padahal, jika kita mau menelisik lebih dalam lagi, Seperti yang disinggung saudari Hayati Fasiha, Lc di makalah “Nasib kaum Hawa” disebutkan bahwa, dari sekian banyak hadits yang memuat ciri perempuan yang dari tulang rusuk itu, selalu diawali dengan huruf” lam jeir” yang berarti “seperti”. Meskipun ada sebagian yang bergandengan dengan huruf “min”, itupun hanya segelintir. Dan lagi, kumpulan hadits yang berbicara masalah perempuan ini, tak ada satupun yang berjudulkan “penciptaan perempuan” tapi “ cara bermu’amalah dengan perempuan”. Seperti dalam contoh :

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ، وَِإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلْعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ وَفِيْهَا عِوَجٌ

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” (HR. Al-Bukhari no. 3331 dan Muslim no. 3632).

Telah terpampang jelas tema besar dalam permulaan hadits ini, yaitu “ cara bermu’amalah dengan perempuan” sangat tidak etis jika penafsiran lafadz “diciptakan” diatas, kita artikan secara tekstual. Tentunya, teks kalam Ilahi maupun sabda Rasul mengandung makna eksoterik dan esoteric yang mendalam. Berkaitan dengan makna esoteric, suatu teks yang didalamnya bermakna rahasia yang mampu diketahui oleh orang-orang tertentu saja (orang-orang yang berilmu). Termasuk makna teks hadits tersebut, yang sarat mengandung makna metaforis. huruf “min” diatas berarti “bersifat” yang artinya, perempuan diciptakan dengan “bersifat tulang rusuk”. Isyarat akan ciri kelembutannya, kehalusan perasaannya, sikap dan bawaannya yang mudah berubah-ubah, cepat emosi dan temperamental. Untuk itu, Rosulullah mengarahkan kaum laki-laki untuk bersikap sabar, pemaaf dan bijaksana. Seperti filosofi yang terkandung dalam tulang rusuk itu, bahwa jika sang laki-laki tidak mau memahaminya, bahkan menghukum istrinya dan memaki-makinya, maka niscaya tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali keretakan dan perpecahan dalam rumah tangga. Sangat bijaksana jika kita telusuri makna tabiat “kebengkokan” tersebut, adalah salah satu ciri keistimewaan perempuan oleh pengaruh fungsionalitas anatomiknya yang mengandung, melahirkan, menyusui dan memelihara anak-anaknya. Yang dengannya, membutuhkan feeling yang kuat, perasaan yang halus, dan daya sensitivitas yang tinggi.

Dari sini, bisa kita pahami bahwa hakikat tulang rusuk yang sempat heboh oleh dengungan adagium para ulama tafsir, ulama fiqh serta exegesit klasik, perlu kita kaji ulang teks-teks yang berkaitan dengannya. Pengaruh tradisi, budaya maupun geografis suatu tempat dan masa, sangat identik pada tendensi lahirnya suatu interpretasi teks teologis. Begitu juga ajaran teologis, iapun memiliki dampak yang sangat besar pada pembentukan pola pikir dan kepercayan suatu kaum. Menyangkut beberapa teks Al-Quran dan Al-Hadits yang bias, sehingga menimbulkan ketimpangan sosial, ekonomi politik dan pendidikan serta memunculkan segregasi yang menistakan perempuan. Itu semua memerlukan usaha reduksi egaliter secara matang . Dengan mengutip istilah Nasaruddin Umar, “ Al-Quran perlu kiranya merombak struktur masyarakat yang berciri patriarki-paternalistik menjadi umat yang berciri bilateral-demokratis. Karena yang menjadi ukuran utama bermasyarakat dunia, adalah sebuah prestasi dan kualitas tanpa dikotomi status, jenis kelamin, kedudukan maupun suku bangsa. Wallahu a’lam bish-showab.

 

 

 

 

 

 


2 thoughts on “Melacak Akar Penciptaan Perempuan

  1. Kamu ternyata bagus menulisnya, runtut dan mengena. Btw, untuk perempuan dr tulang rusuk laki2 itu adalah hadis yang sudah kemasukan kisah Israiliyat, jadi hadis itu jauh dari shoheh. Dalam al-Quran tdk pernah di temukan tentang kisah tulang rusuk ini, malah cerita ini adanya di Injil.

  2. makasih mbak..atas support-nya..saya belajar nulis dari tulisan mbak dan banyak terinspirasi dari gagasan mbak mengenai “gender discourse”.
    makasih juga atas tambahan ilmu dari mbak..semoga dari dukungan mbak, saya dapat lebih memperbaiki dan meningkatkan diri..amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s