Kontemplasi dalam Ambiguitas Realita

[ Divine Wisdom to Turn your Life Upside Down ]

Aku tahu…

Pintu itu sudah tertutup…

Dalam keremangan alam bawah sadar…terlihat samar… pintu itu semakin terkatup rapat..rupanya pemiliknya memilih untuk menutup diri dan bergerak menjauh…dan jauh melintasi tegaknya gerbang asas duo konvensi atas perpaduan konsepsi dan persepsi bersama yang telah lama berdiri kokoh itu. Ternyata dia melangkahinya…melanggarnya..tanpa dengungan suara maupun bisikan kata.

Selaksa jiwa yang dilematis dan ironis…ia hanya berdiri mematung..mencoba bertahan walau harus berdiam lama dalam gelap kabut suasana captive mind-nya…menunggu suatu saat pintu itu kan terbuka untuknya. Ia bukan tamu..bukan..ia adalah bagian yang pernah bernaung dalam pelita istana impian itu…yang sempat tercampakkan oleh beberapa kata dan sikap derisif yang menghentakkan jiwa primordialnya.

Tapi, ia tak peduli. “Saya tidak mengenal proses”, begitu dalihnya. Sepertinya ia mengalami jiwa masokistis karena desakan animo-nya sendiri yang menghegemoni perasaan dan hatinya ketika itu. Ia pun kembali mencoba mengetuk daun pintu yang kini terlihat agak memudar dalam pandangannya…mungkin karena telah lama tak tersentuh belaian tulus jemarinya. Ketika jari itu tergerak mengetuknya lembut, ah…pintu itu perlahan-lahan terbuka..ia tersenyum manis…oh rupanya belum terkunci. namun…ow..ia kembali tersentak !!!spontan pintu itu terbanting keras. sangat keras…hingga tak sadar bahwa kini dirinya telah terhempas keluar…terdampar kesudut degradasi esensialitas diri.

Aku sadar…

Ternyata hati itu sudah terkunci…

Kunci itulah yang menahannya kini…kunci itulah yang mengikatnya erat…istana itu bukan lagi berdiri diatas impian..sekarang ia laksana benteng penguat pijakan idealisme yang telah berhasil diraihnya. Rupanya…disana dia bahagia. Tersirat senyuman indah dan tertawa riangnya bersama sang pelita hakikinya. Walau tergores senyuman getir yang tak terhapuskan…dari sang close mate-nya dulu. Sosok pelukis dan pengukir makna relationship dan fellowship dalam meraih idealisme yang idealis dan ideologis. Yang mungkin…baginya hanyalah sebuah puing-puing memory kusam yang usang.

Aku percaya…

Man propose, God dispose

Aral rintang terlalu menanjak untuk meniti sebuah tangga yang prospektif. Fragmen empiris pahit itu masih terlalu kecil dibanding besarnya arti idealisme. “Sekali-kali batu karang raksasa pun mampu pecah karena kemarahan ombak. Maka tak mungkin jika sekerat hati tak pernah retak atau patah, padahal telah banyak badai yang membenturnya”. Tersenyumlah….bukan karena untuk menghibur diri dari dilematika hidup…tapi karena ikhlas oleh Mahakarya skenario agungNYA.

“ENJOY EVERY MOMENT OF LIFE…”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s