an Ignored Point

Siang tadi ada lomba pidato dua bahasa. Bahasa arab dan inggris. Dalam rangka pekan keputrian kekeluargaan di WIHDAH-PPMI. Awalnya aku disuruh kekeluargaanku untuk jadi utusan pidato bahasa inggris. Spontan aku menolak mentah-mentah. Pasalnya, aku illfil sekali kalau sudah disuruh ngomong bahasa inggris. Dua tahun berpisah dari ekosistem pondok yang biasa forthnight dua bahasa popular itu, mungkin sangat niscaya pada implikasi minimnya fluensi English speaking ku. “Iam sprue in English”, begitu ungkapan penolakanku ke mereka. Apalagi dalam benak ini, serasa sesak sekali dengan bayangan-bayangan tugas yang menghujaniku. Belum lagi tulisan jurnal yang masih belum kelar-kelar dalam garapan dua bulan ini. Lagi BT kali ya….he he. Akhirnya tanpa persiapan hafalan yang matang, selain juga karena SK yang tiba-tiba, aku disuruh pidato bahasa arab.

Sepertinya memang patut disalahkan atas anggapan apatisku terhadap pidato. Aku tersenyum geli seraya sedikit mengejek, “ah pidato..kayak anak kecil aja..seharusnya kan sudah saatnya untuk aplikasi lomba dakwah lapangan atau retorika dan ga usah pke formalitas pidato segala..”. dari asumsi miring ini, membuatku ogah-ogahan dan masih saja aku sibuk baca tanpa mau menghafal teksnya dengan sungguh-sungguh. padahal sudah aku persiapkan teks nya jauh hari sebelumnya. Tepatnya pukul satu siang, aku datang ke aula KSW dan hanya membawa niat sekedar partisipasi saja. Walau sebenarnya sudah aku persiapkan latihan dan hafalannya meski belum menguasai seluruhnya.

Setiba giliranku untuk membawakan pidato, tiba-tiba di pertengahan penyampaian, aku lupa. Ya..aku tersentak pada diriku sendiri. Lupa dipertengahan menjadikan rintangan besar untuk sampai pada garis finish. Akhirnya, begitulah! Sangat mengecewakan.

Aku pulang membisu. Kemudian melangkah perjalanan menuju KBRI di Tahrir untuk mengajukan proposal jurnalku berdua bersama partnerku. Diperjalanan, aku merenungi tentang diriku yang menjadi sentris akal dan jiwaku saat ini. Belum pernah aku merasakan bias kecewa diriku dalam pidato. Karena selalu aku persiapkan dengan matang. Tapi kali ini, aku meremehkannya. Malu!!!ya aku malu dan sangat malu terhadap diriku sendiri. rupanya eksperimen masa kecilku tak ada sisi profitabelnya sama sekali. Sekilas aku teringat sesuatu. Sebuah pesan backing up dari seseorang. Seorang yang wujudnya kini telah jauh dan jauh sekali. Tapi segala memoar itu masih selalu dekat dan dekat tak terlupakan.

Aa tuh lebih suka kalau de pintar pidato, ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu syari’ah, bahasa arab dan inggris, pergaulannya baik ama setiap orang, bisa menjadi maroji’ di masyarakat, memimpin pengajian, pokoknya sesuatu untuk bekal jadi orang besar. Apalagi sekarang saatnya perempuan berkiprah di dunia. Siap ga? Jangan sia-siakan waktu untuk berleha-leha. Manfaatkan waktu untuk hal-hal yang berguna. Mumpung masih di Mesir, gudangnya ilmu. Keruk semua ilmu untuk bekal menjadi orang besar. Kecil orangnya, tapi besar jiwanya dan lautan ilmunya”, begitu nasehat brilliantnya di sela-sela kemalasanku dulu. Betapa dia menaruh harapan besar agar aku bisa berkiprah didepan khalayak umum. tak hanya sekedar pesan, tapi sungguh motivator utama bagiku yang sarat membakar semangat berapi-api. Seorang cerminan masa depan, idealis dan sangat pro-akademis. Selalu berpandangan dan berafirmasi positif pada setiap geliat keoptimisan. Kekuatan itu muncul drastis. Where are you right now? Are you there?, Still wanna striving to back me up once more?

Nota kecil catatan abadi itu masih erat dalam genggaman. Sepulang dari Tahrir, aku turun dari bus ke Hadiqoh Dauliah dan memilih jalan kaki lonely menuju daerah Tamin. Ingin menikmati suasana summer Kairo di sore hari. Tak ku gubris pandangan orang-orang Mesir dijalanan yang mungkin memandangku aneh. Berjalan di trotoar sambil baca buku, sebuah pemandangan yang masih tabu mungkin bagi mereka. kecuali saat-saat examination days. Tidak seperti nuansa pondokku dulu yang mewajibkan pegang buku kemanapun kaki melangkah. Taking a walk Sembari membaca pesan itu berulang-ulang. Dan merenungi banyak pesan nasehat lainnya yang senantiasa terukir rapi dalam muara hati dan catcilku. aku hanya sibuk ber otosugesti. pidato adalah salah satu medium dalam seni wicara, kekuatan mental sekaligus means of communication. terngiang petuah guruku dulu, bahwa dalam berdakwah, setidaknya kita memiliki tiga sarana besar. yaitu dakwal bi al-kalam (dengan lisan), bi al-Qolam( dengan tulisan pena) wa bi al-hal (dengan perbuatan). urgensitas seni orasi ada di point teratas.

Kekecewaanku bukan karena kekalahanku. Tapi karena diriku yang sudah mengabaikan kepercayaan itu. Aku yang terlalu cuek dan meremehkan. Tendensiusku yang fanatis.

Akhirnya, aku harus berapologi pada semuanya. Pada mereka yang telah mempercayaiku tapi aku yang mengalienasikan trusteeship itu. Pada dia sang memorabel. Pada diriku yang yang lalai akan anugerah agungNYA. Pardon me!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s