Filosofi Bola

[Dimuat di Majalah Afkar PCI-NU Mesir, edisi Juli 2008]

Oase peradaban baru manusia telah merambah ke semua lini kehidupan, termasuk merambah ke modernisasi dan globalisasi. Dan sepak bola pun ikut dijarahnya. Ia memiliki andil dalam mewarnai dunia.

Bagaimana tidak, hingar-bingarnya telah mampu membangkitkan naluri manusia dan masyarakat dunia. Bahkan para pecintanya datang dari santereo dunia demi mendengungkan semangat kesetiakawanan dan empati terhadap simbol-simbol negara yang mereka jagokan.

Tidak hanya itu, media informasipun cukup ramai dijejali berita-berita bola. Cukup menghebohkan. Para penggemarnya datang dari semua garis sosial kemanusiaan. Sehingga, tak jarang tema bola selalu terselip dalam obrolan sehari-hari. Lebih-lebih tahun 2008 ini yang baru saja dihebohkan oleh piala Eropa 2008.

Betapa sepak terjang pengkembangan bola dalam kancah peradaban dunia begitu memuaskan. Pantaslah bola dielu-elukan sebagai “agama baru” yang mendunia. Tergambar jelas oleh sajian-sajian ritual yang menggema, yaitu dengan ditandai munculnya Piala Dunia, Piala Eropa, Liga masing-masing negara, Liga Champion, Piala UEFA dan lain sebagainya.

Sungguh nyata, persahabatan dunia dan persekutuan team work sejatinya mampu dirangkul oleh model permainan macam ini.

Sedemikian besarkah pengaruh bola bundar yang dikemas dalam permainan yang berlangsung dalam durasi 90 menit ini, tak henti-hentinya menghipnotis jutaan publik supaya jatuh kedalam permainan uniknya. Itulah bola. Di sana banyak mengandung sisi filosofis kehidupan yang mengagumkan.

Dilihat dari prinsip setiap pemainnya yang terdiri dari sebelas kepala, masing-masing memegang peranan penting untuk sama-sama meraih kemenangan dari lawan. Karena setiap individu diberikan kepercayaan penuh pada posisinya dan harus ada kerjasama tim, bukan individualistik.

Bola mampu menciptakan suasana keakraban dan kekompakan dalam satu tim. Sehingga, fanatisme pada kelompoknya lebih ditekankan guna meraih persaingan yang matang. Maka, kemenangan yang nantinya diraih, bukan menandakan kehebatan kapten tapi kebersamaan tim. Bentuk kerjasama di dalam tim adalah sarat diprioritaskan. Di sini juga persamaan persepsi dan integrasi visi dan misi dalam dunia bola harus diutamakan.

Kemudian, jika dipantau dalam segi aturan mainnya, permainan dikatakan berhasil jika bola dapat masuk goal. Sejatinya, ia melatih kesabaran, menuntut ketelitian, dan melahirkan ketangkasan juga kecerdasan bermain. Patut ditiru filosofi usaha di dalamnya, yaitu melatih ketekunan. Sikap dalam mengambil keputusan dan kesabaran yang membaja juga perlu ditekankan.

Bola itu bundar bergulir-gulir kesemua arah. Sinyal akan potret fenomena kehidupan yang berubah-rubah. Hal ini menjadi pacuan spirit seorang pelatih Jerman Joachim Loew dalam usaha menyiapkan dan memicu semangat pasukannya. Seperti halnya pelatih Turki yang sempat kehilangan sembilan pemain utamanya, ia senantiasa mengingatkan anak buahnya supaya tetap awas dan waspada.

Gambaran filosofis yang telah dipaparkan tadi, menandakan bahwa bola tidak hanya digemari karena ia bentuk olahraga atau perlombaan saja, namun lebih dari itu, sistem permainannya yang mendecak kagum itu telah mampu membius para anak manusia untuk mengimplementasikan sisi positifnya dalam warna kehidupan yang ada.

Lebih dari itu, perlu disadari, bahwa permainan sepak bola modern ini nyatanya bergerak untuk menghilangkan sekat negara, ras, tradisi maupun aspek kewilayahan. Seperti yang kita lihat di Piala Dunia 2006 lalu, Para supporter yang hadir langsung ataupun penonton dalam siaran stasiun televisi dan juga para pemburu dan pembaca di media cetak, kesemuanya hadir dalam benak yang didesaki gelora semangat untuk memotivasi sambil lalu meneriakkan semangat berapi-api untuk tim idolanya dari jauh.

Berbondong-bondongnya para supporter yang hadir dari berbagai negara dan ras ini, menghilangkan rasa termarginalisasi sekat negara. Permainan ini, secara tidak langsung, mendidik anak bangsa dalam menciptakan kerukunan berbangsa dan keakraban antar bangsa sedunia.

Tak diragukan lagi, sulapan hebat muncul dari aura bola kecil ini. Pertandingan sepak bola tidak hanya mengasyikkan untuk ditonton, namun juga ia menyerap banyak pelajaran kehidupan bagi kita. Lantas, sejauh apakah nilai-nilai positif tersebut menjalar dalam tubuh Islam sendiri? Bagaimanakah pengaruh ajaran Islam sebagai rahmat seluruh alam terhadap multikulturasi peradaban dunia yang bahagia?

Dalam salah satu ungkapan yang pernah dipaparkan oleh Cak Nur, bahwa Islam adalah agama yang paling banyak mencakup berbagai ras dan kebangsaan, dengan kawasan pengaruh yang meliputi hampir semua ciri klimatologis dan geografis. Dari sini, maka Islam harus mampu menembus peradaban dunia lebih dari pengaruh yang terpancar dari permainan bola tadi. Semoga bermanfaat!


4 thoughts on “Filosofi Bola

  1. wahhh,,alfu mabruk yaaqq…. buat imay..RA (rodiayllahu anhu. kekkeke)

    bagi para blogger pamula,,,menuruk kaca mataku sudah lumayann…tapi,,,,,,:D masih perlu adanya improving…dari mulai substansi tulisan yang dibungkus secara apik agar bisa menyihir para pembaca. terus…mana profile kamu may….kan misteriuss tuh….hehheheheh😀

    chayoooo may terus berkarya…….mumpung masih muda….
    aku daftar dehhh kalo getuww jadi fans club mu weeekkkkkkk kkekekekkee….

  2. Imay..rupanya dikau hosting di sini. Wah-wah, saya tau link-mu ini hanya dari blog satu orang saja. Km tahulah siapa dia..hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s