Ilmu Bahasa Arab;Kajian Nahwu dan al-Kitâb Sibawaehi

[Dipresentasikan dalam Kajian Eksklusif “Salsabila” dan “Fosgama”, November 2007]

I-

Urgensitas Ilmu Bahasa

 

Bahasa dan manusia merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Sejauh ini, tidak pernah ada suatu komunitas yang hidup tanpa berbahasa antara satu dan yang lain. Karena pada hakekatnya bahasa adalah alat komunikasi primordial yang dimiliki manusia. Di mana ada komunitas disitu ada bahasa.

 

Bahasa memang selalu menyertai manusia kapanpun dan dimanapun ia berada. Maka bisa diistilahkan: denyut dinamika berbahasa adalah denyut dinamika kehidupan manusia itu sendiri. Dalam perkembangannya, sebagaimana diajarkan Islam, bahasa memainkan peran penting sebagai mobilisator menuju arah reformasi (Arab: al-islâh). Siapapun yang menginginkan perubahan, maka, harus memulai dengan kecakapan bahasa. Mengapa? Karena kebangkitan hanya bisa diraih dengan cara berfikir; yaitu dengan menggali refleksi pemikiran kemudian diterjemahkan (baca: “dibahasakan”) dalam tindakan.

 

Karena pentingnya sebuah bahasa, Allah SWT., menurunkan Nabi pilihan-Nya dengan setting bahasa umat setempat. وما أرسلنا من رسول إلا بلسان قومه ليبين لهم فيضل الله من يشاء ويهدي من يشاء وهو العزيز الحكيم<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>

 

Sebagai orang terpelajar, kita berkewajiban-“aktif” menghidupkan dan mengkaji kembali literatur-literatur ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh ulama-ulama besar terdahulu. Terutama ilmu literatur bahasa Arab yang menjadi media utama untuk memahami dua sumber pokok ajaran Islam: al-Quran dan sunnah Nabi.

 

Pentingnya memahami bahasa Arab secara utuh karena dipicu; begitu banyak fenomena yang kontradiktif antarulama dalam menginterpretasi kedua sumber otoritatif tersebut. Interpretasi yang salah mengakibatkan keyakinan yang salah pula. Oleh karenanya, semuanya butuh pada gerbang bahasa. Ibaratnya bahasa Arab adalah kunci pertama untuk membuka (memahami) ajaran Islam. Dengan kunci itu pula kita leluasa membuka pintu-pintu disiplin keilmuan Islam lainnya: seperti Filsafat, Tasawwuf, Fikih, Ushul Fikih, Tafsir dan Hadits.

 

Singkatnya, setiap umat Islam yang bermaksud mempelajari ajaran Islam dari kedua sumber tersebut, maka seyogyanya ia “wajib” mengerti dan menguasai sistematika bahasa Arab. Ia harus “telaten” menguasai Ilmu Nahwu, Ilmu Sharf, dan ilmu kesusastraan bahasa Arab lainnya, seperti: Balaghah, Ma’ani, Badi’, Qira’at, Ashwat, Ilmu Dilalah, Semantik dan lain sebagainya. Bukankah semangat ini buah dari pengamalan kaidah cerdas: ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب juga kaidah: الحكم للمقاصد حكم لوسائلها.

 

-II-

Sejarah Muncul dan Perkembangan Ilmu Nahwu

 

Dorongan utama dari penyusunan Ilmu Nahwu ini adalah semata-mata untuk membentengi bahasa Arab dari kesalahan-ungkap (lahn)<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> yang pada masa itu mulai menular serta merusak “edisi” Arab fusha.

 

Dengan dilema yang ada, maka para ulama merasa khawatir atas keautentikan bahasa Arab yang akan berimplikasi pada pengkontaminasian cara membaca dan memahami al-Quran. Keprihatinan ini amatlah wajar sebab, sebelum bahasa Arab terjangkit lahn, masyarakat Arab sendiri sudah mendapat masalah internal dalam ketatabahasaan: mereka terbagi ke dalam klan (suku) yang bermacam-macam, tiap klan memiliki bahasa yang berbeda-beda antara satu dan yang lain.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Upaya menyatukan bahasa menduduki urutan penting pertama sebelum memerangi virus lahn yang datang setelah agenda penaklukan (Arab: al-futûhât).<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>

 

Atas perintah Khalifah Ali ibn Abi Thalib, Abu al-Aswad al-Duali<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> (Nama lengkapnya: Dhalim ibn ‘Amru ibn Sofyan ibn Hambal ibn Jundl ibn Sulaiman ibn Hils al-Duali al-Kinnani [1 SH-69 H/605-688 M]) berjuang untuk menyusun kaidah-kaidah dasar bahasa Arab yang akan menjadi rujukan di kala terjadi kesalahan-ungkap tersebut.

 

Meski para sarjana bahasa berbeda pendapat tentang Abu al-Aswad sebagai peletak dasar Ilmu Nahwu. Namun tidak boleh dilupakan bahwa di sana banyak sekali pendapat yang menguatkan keabsahannya sebagai pioner Ilmu Nahwu (Arab: wâdhi`-u `Ilm al-Nahw-i) itu sendiri, seperti disinggung dengan bagus oleh Ahmad Amien, bahwa Ibn Qutaybah dalam kitab al-Ma’ârif mengafirmasi posisi Abu al-Aswad sebagai orang: “Yang pertamakali meletakkan dasar pondasi Nahwu”, Ibn Hajar pun dalam kitab Fî al-Ishâbah mengutarakan hal yang senada: “Orang yang pertamakali memberikan “titik” di mushaf dan meletakkan pondasi Nahwu adalah Abu al-Aswad.<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>

 

Inovasi yang digagas oleh Abu al-Aswad ini, lambat-laun, kemudian disambut hangat oleh para penduduk Arab dikala itu. Maka tak heran jika ilmu ini berkembang begitu pesatnya sehingga melahirkan banyak generasi mahir di bidang ilmu Bahasa Arab.

 

Setelah Abu al-Aswad wafat, dua muridnya yaitu: Nashr ibn Ashim al-Laitsi (Wafat 89 H) dan Yahya ibn Ya’mur (Wafat 129 H) langsung siagap mengambil tongkat estafeta gurunya dalam mempelopori perkembangan bahasa Arab dari masa ke masa. Selang beberapa tahun kemudian, setelah kematian murid-murid Abu al-Aswad, munculah seorang ulama popular yang karya agungnya menjadi disiplin ilmu terkenal dalam sastra arab yaitu: Khalil ibn Ahmad al-Farahidi. Estafeta Khalil ini melahirkan murid brilian, Sibawaehi, dengan karya besarnya: “al-Kitâb”.

 

Lagi-lagi di sini menarik sekali menyelipkan argument Ahmad Amien, bahwa Sibawaehi tercatat sebagai murid Khalil ibn Ahmad al-Farahidi, pengarang kitab “Mu’jam al-Ayn”, darinya pula ia belajar gramatika bahasa Arab dengan benar. Ahmad Amien memuji Khalil telah memberi sumbangsih banyak dalam memperkaya khazanah Nahwu, tapi herannya selepas al-Kitâb Sibawaehi muncul pamor nomer satu Khalil merosot. Malah, seperti amatan Ahmad Amien, dalam kitab al-Zubaidi Mukhtasar Kitâb al-`Ain misalnya, menyebut al-Kitâb karya Sibawaehi telah melumpuhkan kitab-kitab Nahwu sebelumnya dan mematahkan kitab-kitab Nahwu yang datang setelahnya.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Ini adalah isyarat bahwa peran Sibawaehi sudah melampaui gurunya sendiri.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

 

Dalam mempelajari ilmu tata Bahasa Arab, prioritas yang harus diutamakan adalah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharf sebagaimana kata sebagian ulama: إعلم أن الصرف أم العلوم والنحو أبوها Ilmu Sharf diasumsikan induk segala ilmu, sebab ilmu inilah yang dapat melahirkan semua bentuk kalimat, sedangkan kalimat-kalimat itu menjadi petunjuk segala ilmu. Adapun Ilmu Nahwu diasumsikan sebagai bapaknya karena ilmu inilah yang mengatur susunan kalimat tersebut.

 

-III-

Polemik Ahli Nahwu di Bashrah dan Kuffah 

 

Sejarah mencatat bahwa formulasi gramatika bahasa Arab tidak berjalan mulus apa adanya, di sana ada pergolakan yang akut. Kiranya tiga kota besar: Bashrah, Kuffah dan Baghdad, patut diperhitungkan untuk meninjau kasus polemik ilmu Nahwu.

 

Di antara tiga kota besar itu adalah Bashrah dan Kuffah yang banyak mewarnai polemik pembahasan ilmu bahasa Arab. Faktor penyebabnya tiada lain karena kedua kota tersebut sama-sama memiliki ulama ahli bahasa andalan. Bashrah memiliki pakar bahasa sekaliber Khalil ibn Ahmad al-Farahidi dan Sibawaehi, sedangkan di Kuffah, sejak munculnya Abu Ja’far al-Ruasi kemudian disusul dua orang muridnya: al-Farra’ dan al-Kisa’i, tercatat menjadi lawan (oposan) bagi ulama bahasa Bashrah.

 

Penting diketahui bahwa imbas perbedaan ulama Bashrah dan Kuffah, dengan sendirinya, membuat Mazhab pemikiran keduanya berbedah drastis. Aliran Bashrah berpijak pada qiyas karena terpengaruh pada logika Yunani yang kuat waktu itu, sedangkan Kuffah lebih tergiur pada pendengaran (sama’ie).

 

Sementara itu kegiatan mengembangkan bahasa di Bahsrah dan Kuffah semakin sistematis, masing-masing dari dua kubu tersebut memiliki sebuah majlis khusus bagi pecinta bahasa maupun syi’ir. Majlis hanya digunakan untuk mengkaji, mendalami, dan meningkatkan bakat bahasa Arab. Kelompok ini kemudian dikenal dengan “madrasah”. Dalam perkembangannya, Bashrah telah mendirikan madrasahnya jauh lebih lama daripada Kuffah, dengan selisih 100 tahun lamanya. Di Bashrah nama madrasah itu “Ukadz” yang berdiri sejak zaman jahiliyah, sementara nama madarasah di Kuffah adalah “al-Naqasyah”.

 

-IV-

Kisah Perjalanan Hidup Sibawaehi

 

Adalah Sibawaehi (Nama lengkapnya: ‘Amr ibn Utsman Ibn Qunbar [148-180 H./765-795 M.]) pengarang al-Kitâb yang terkenal itu. Julukannya adalah: “Abu Bisyr tapi orang banyak mengenalnya: Sibawaehi. Dalam bahasa Persia, kata Sibawaehi artinya: harum buah apel.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Imam pakar Ilmu Nahwu ini dilahirkan di suatu komunitas besar di kota Baidha’, salah satu kota di propinsi Istikhar, Persia (Iran sekarang).

 

Dalam umur yang relatif dini, Sibawaehi kecil bersama keluarganya hijrah ke kota Bashrah meninggalkan tanah kelahirannya, Baidha’. Dunia metropolitan Bashrah yang menjadi basis keilmuan Islam saat itu merupakan saksi awal keilmuan Sibawaehi dibangun dan ditata. Di situlah tempat ia menuntut ilmu bersama para ulama-ulama terkemuka di zamanya hingga ajal menjemput di usia yang belum terlalu tua, tahun 180 H. Ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang di kota Ahwaz, Iran.

 

Hingar-bingar keilmuan Bashrah membuat Sibawaehi kecil kerasan alias beta, dengan tekun ia belajar Hadits dalam halaqah Syeikh Himad ibn Salamah ibn Dinar, salah seorang Muhadist termashur saat itu. Dalam kegigihan itu, Sibawaehi mendapati lahn (kesalahan-ungkap) pada pembelajaran Syeikh ketika membacakan beberapa hadist Nabi.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–> Ia kecewa dengan sang guru. Dirinya bertekat tidak mengulangi kesalahan tersebut (lahn) sebagaimana telah dialami Syeikh Himad. Di sinilah awal Sibawaehi tergiur belajar bahasa Arab agar terhindar dari lahn yang mengjengkelkan itu.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

 

-V-

Karya Monumental Sibawaehi: al- Kitâb”

 

Hampir disetiap diktat Ilmu Nahwu yang kita pelajari tak pernah lepas dari rujukan yang bersumber dari al-Kitâb Sibawaehi. Benar juga kesaksian yang mengatakan kitab-kitab Nahwu selepas Sibawaehi tidak lebih dari sekedar pengulangan-pengulangan al-Kitâb, serasa tidak ada referensi lain selain karya dari aliran Bashrah itu. Hal ini bukti ketajaman dan ketelitian pengarang dalam mempelajari gramatika bahasa Arab.

 

Al-Kitâb Sibawaehi terdiri tiga juz dan terdapat 1500 bait syi’ir yang dimulai dari bab kalam dan diakhiri dengan bab jer. Konon, sejarah dinamakan al-kitab ini merupakan kumpulan tulisan Sibawaehi tentang kaidah Bahasa Arab yang lebih dominan membahasa tentang Ilmu Nahwu. Tanpa menafikan ilmu Balaghah di dalamnya. Kemudian setelah beliau wafat, maka para ulama bahasa membukukan tulisan-tulisannya dengan nama yang megah: “al-Kitâb”.

 

Abu Ja’far berkata, Muhammad ibn Zaid bercerita bahwasanya para pengoreksi tulisan-tulisan Arab dan orang-orang yang ahli bahasa di negara Arab banyak yang merujuk pada al-Kitâb Sibawaehi dan mereka berkesimpulan bahwasanya kitab Sibawaehi tidak pernah meninggalkan kosa kata yang berpatokan pada lisan orang arab kecuali pada tiga kata.<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–>

 

Adapun salah satu kaidah yang beliau tetapkan adalah “bahwasanya fi’il harus senantiasa dibarengi oleh isim sehingga akan membentuk suatu kalam. Dan sebaliknya, isim tidak membutuhkan fiil seperti contoh الله إلهنا و عبد الله أخونا ”  ”.<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–>

 

-VI- 

Epilog

 

Demikianlah pemaparan singkat saya. Sibawaehi adalah seorang ulama bahasa populer yang mampu mengalahkan para ahli bahasa sebelum dan sesudah periodenya. Konon, al-Kitâb ini merupakan suatu kitab langka sampai di era modern. Isinya bukan hanya mencakup pembahasan Nahwu, melainkan bisa disebut sebagai buku “ensiklopedia” ilmu-ilmu kaidah bahasa yang konkrit.

 

Terlepas dari pemaparan di atas, perlu kiranya kita menyadari bahwa ilmu bahasa harus dikembangkan seiring kemajuan zaman. Usaha mengembangkan bahasa Arab di era kontemporer sekarang sudah dipelopori oleh, di antaranya: Abbas Aqqad, Syauqi Dhayf. Tidak dipungkiri lagi, bahasa Arab memang merupakan satu-satunya bahasa terkaya sedunia. Kesaksian ini terekam dalam Mu’jam karya Ibn Faris, yang menyebutkan bahwa setiap satu huruf hijaiyah memiliki arti yang bervariasi. Bahkan, misalnya, tercatat lafadz bahasa Arab yang mempunyai arti onta terdapat lebih dari 82 kata.

 

Selamat berdiskusi…!

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Disampaikan dalam kajian eksklusif “Salsabila” dan “Fosgama”

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Ahmad Amien, seorang sarjana Muslim tercerahkan, menilai: Bahwa “Lahn” merasuki bahasa Arab sebagai konsekuensi dari imbas penaklukkan Islam atas wilayah Ajam (non-Arab). Kondisi ini memanggil orang-orang Ajam datang ke Makkah sebagai pusat agama Islam ketika Ibadah Haji, maka terjadilah berbauran dan persilangan budaya, akhirnya bahasa Arab, sedikit-banyak, terkontaminasi oleh pergesekan bahasa Ajam yang membaur di setiap lini kehidupan Arab. Lihat keterangan lebih lanjut di: Ahmad Amien, Dhuhâ al-Islâm (II), Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut-Lebanon, Hal. 193-194

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Ahmad Amien, Dhuhâ al-Islâm (II), Hal. 187

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Upaya menyatukan bahasa Arab dalam Quraysh ini sudah diperjuangkan Khalifah Utsman ibn Affan ketika menasehati para tim penulis mushaf al-Qur’an. Utsman menyatukan bahasa al-Qur’an dalam dialektika Quraysh.

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–> Abu al-Aswad al-Duali adalah orang yang pertamakali meletakkan tanda “titik” (nuqthah) dalam bacaan al-Qur’an.

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Ahmad Amien, Dhuhâ al-Islâm (II), Hal. 220

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Ahmad Amien, Dhuhâ al-Islâm (II), Hal. 222-223

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> Sumber lain mencatat meski Sibawaehi melangkahi gurunya, tidak boleh dipungkiri bahwa karya Sibawaehi, al-Kitâb, banyak memuat pendapat-pendapat gurunya, Khalil ibn Ahmad al-Farahidi. Alasan ini menjadi kuat dikarenakan Sibawaehi murid Khalil, darinya pula ia belajar ilmu bahasa Arab. (Keterangan ini dinukil dari Muhadharah Dosen penulis di Kuliah Bahasa Arab Tingkat II, yakni: Dr. Ahmad Amshy).

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Lihat: al-Mausû’ah A’lâm al-Fikr al-Islâmi, Muhammad Hamdi Zaqzuq (Isyraf wa Taqdim), Wazaratul Awqaf Majlis A’la Li Syu’un al-Islamiyyah, Cairo, 2007, Hal. 467

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–> Setelah mendapati gurunya (berujar) banyak ‘lahn’, ketika itu juga Sibawaehi berkata sambil bersumpah: “Saya akan bersungguh-sunggu mencari ilmu yang bisa menjaga saya dari ‘lahn’.”

<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–> الهندلع وهي بقلة .(3 والدراقس وهو عظم في القفا.(2 وشمنصير وهو اسم أرض .(1


19 thoughts on “Ilmu Bahasa Arab;Kajian Nahwu dan al-Kitâb Sibawaehi

  1. Assalamualaikum

    Smoga situsnya bermanfaat…

    ohya,da sdikit kritikan nih…

    julukannya abu bashar, yg bener adl abu bisyr

    gurunya himad ibn salamah ibn dinar, yg bener adl hammad ibn salamah ibn dinar

    bisa dilihat di:

    1. alkitab sibawaihi,tahqiq syaikh abdussalam harun
    2. al-ansab, abu sa’ad assam’ani
    3. al-a’lam, azzirikli

    dll

    syukron

    wassalamualaikum

    1. wa’alaikumussalam wr wb.
      terimakasih atas komentar dan masukannya. iya..antum benar…”Abu Bisyr” bukan Abu Bashar. atau mungkin karena sama dengan nama antum ya…? he he..

      senang sekali bisa diperbaiki. ahlan dikoreksi jika ada kesalahan yang lain..:). sebelum dan sesudahnya, terimakasih ya…:)

  2. bagus,
    tapi say lagi membutuhkan tentang imam al-kisa’i buat reverensi skripsi. punya kitab-kitab karangan beliau ga?

    1. terima kasih…kitab karangan Imam al-Kasa’i, tokoh Nahwu dari kubu Kufah saya belum punya. cuma kalau kitab secara majemuk tentang perdebatan ulama kufah dan Bashrah saya ada.
      hmm…,antum butuh biografi beliau, obyek bahasan beliau dalam kaidah nahwu, atau apanya? biar nanti saya carikan kitabnya atau file nya. oke?
      semoga bisa membantu…syukron…

  3. maaf baru saya buka lagi, kemarin pulang dulu ke sukabumi.
    biografinya sudah lumayan banyak, kalau ada pemikiran beliau dalam ilmu nahwu serta contoh yang sering beliau pakai dalam menuangkan pemikirannya apa dari al-Qur’an atau lainnya. maaf mbak, kalau ada kitabnya apa saya harus bayar atau gratis. he-he-he….
    terima kasih atas bantuannya.
    wassalamu’alaikum

    1. baiklah…Insya Allah, nanti akan saya carikan. maaf juga baru buka blog…coz kemaren sedang banyak acara disini. nanti akan saya carikan apa yang antum minta, cuma mungkin nanti setelah tanggal 18 Juli ya kak…coz saat ini saya lagi persiapan presentasi disebuah club diskusi disini.

      saya sangat senang jika ada yang bisa saya bantu..apalagi mengenai tema yang termasuk saya gemari. jadi, ga usah pke acara bayar2 segala..he..he..oke? jika ada yang bisa saya bantu lagi, mungkin tentang ulama nahwu atau bahasa yang lain, insya Allah saya akan dengan senang hati membantunya…oke?

  4. makasih ya dah mau bantu, maaf jadi ngrepotin orang yang nun jauh di sana. ma’lum dapat tema dan judul skripsi yang diterima agak gampang-gampang susah, tar kalo dah ada yang bantu dan do’ain serta ada yang ngasih smangat mudah-mudahan jadi susah gampang-gampang………3x

    oke terima kasih banyak.
    mudah2-an presentasimu lancar dan memuaskan.

  5. gimana dah beres & lancar presentasinya. dengan banyaknya yang bantu mudah2an jadi lancar. makasih atas semua bantuannya mudah2an menjadi amal ibadahmu.
    wassalamualaikum
    tar dilanjut

    1. salam…kak..kemaren ana add id antum. ana dah dapat bukunya. ada dua: nasyatu al-Nahwu dan al-Madaris al-Nahwiyah karangan Syauqi Dhaoif (Tokoh nahwu kontemporer). gimana kalau kita ngobrol di chat saja, biar ana tau lebih jelasnya, apa buku nya di kirim, di scan, atau ana kirim tulisan dari hasil ana mengkaji? oya…kapan target skripsi antum?

      kayaknya pke chat atau email saja…coz klo di blog kurang efektif!
      syukron….

  6. its Great my sister…kalo tokoh Hamka d Indonesia yang mengungkap ttg sufi sebagai sebagai metode terapi krisis manusia modern km menguasai gak> kasih inspirasi dunk buat sidang syapa tau bisa jawab pertanya2an penguji..
    Jazakumullah…

    1. tapi koq barusan ana kirim ke email antum ga nyampe? koq dapet mailer daemon? email nya “smsthea@yahoo.com”. benar ga?

    1. email saya “rislamd@yahoo.com”. dah saya add antum kemaren. saya dah dapat pdf nya. udah saya kirimkan ke email antum. ntar tolong dibuka ya kak…sesuai atau nggak nya ntar tolong di confirm lagi…oke?

  7. ass. maaf ganggu lagi, soalny jdul yang aku punya dah ada, jadi kalo ga ganti judul harus bisa cari kitab asli karangannya al kisa’i, antara lain : kitabu ikhtilafu al ‘ada, kitab al huruf, kitab al mashadir, kitabu al ‘adad, kitan al qira’ah.
    kalo bisa cariin ya salah satu aja
    makasih semoga ilmumu bmanfaat.
    wassalamu’alaikum

    1. maaf baru balas…kemaren2 lagi sibuk…maklum, lagi padat acara presentasi..he..:). insya Allah akan saya carikan…tp klo bukunya ksulitan juga…gimana saya cara ngirimnya. mending saya carikan PDF nya..ok? ntar akan sambil saya usahakan..dan saya tanyakan juga ke senior disini. semoga bisa idapat..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s