Merespon Tradisi Baru

[Kolom Terbaik Pertama versi Lomba Menulis Kategori Kolom WIHDAH-PPMI 2007]

Di abad modern ini, perkembangan dunia nyatanya lebih banyak menimbulkan permasalahan daripada penyelesaian. Itulah fakta globalisasi, di satu sisi berhasil mencipta kemodernan dan kemegahan hidup, dan di sisi lain karena lengah oleh implikasi buruknya, seringkali praktek globalisasi membuat hidup kita “gusar” alias tidak tenang.

Bagi kita, kaum Muslimah khususnya, capaian dunia modern itu ironis sekaligus mengagumkan! Ya, kita kagum berkat kecanggihan dunia modern membuat sarana kehidupan semakin lancar, hidup jadi gampang. Tapi ironisnya, gegap-gempita kecanggihan dunia yang kita nikmati saat ini sarat melahirkan tradisi tidak baik.

Kini, modernitas yang menjadi ciri etos sekularisme telah mencetus budaya, aliran filsafat dan paham pemikiran sangat beragam. Dalam keragaman itu, aliran-aliran tersebut bertemu pada satu komando: yaitu semangat memperjuangkan “kebebasan kebablasan”. Darwin mendakwah atheisme yang diselipkan di teori evolusinya, filsafat Nietzhe menganggap Tuhan telah mati, J. Derrida mengasumsikan di era post-modernisme manusia hidup tanpa tujuan. (Masirry, al-Almâniyyah tahta Mijhar).

Di depan kita, kemodernan kreatif mencipta nilai-nilai tradisi baru yang bukan hanya berseberangan dengan ajaran etik Islam tapi memusuhinya. Naifnya, akhir-akhir ini ajaran-ajaran tersebut oleh beberapa kalangan dienyam sembari dijajakan dalam wacana keislaman kontemporer.

Fakta membuktikan, asas kebebasan “yang terlalu” itu sedikit banyak menyengsarakan wanita Muslimah, membuat mereka tercabik-cabik. Banyak kajian keislaman menyinggung, salah-satunya, tentang kebebasan kurang bermoral kepada wanita Muslimah, seperti wacana jilbab simbol pengekangan dan tidak wajib syar’ie hukumnya, lalu Muslimah boleh jadi Imam shalat pada jama’ah laki-laki seperti kasus Aminah Wadud, terus isu pemimpin wanita dan lain sebagainya.

Nampaknya, hasil kemodernan yang berasaskan kebebasan tersebut sepintas telah menindas moral kaum Hawa, menjauhkan mereka dari nilai-nilai otentisitas Islam sebagaimana disematkan generasi salaf dahulu. Dengan ini menjadi jelas, kenapa banyak membuat Muslimah di abad modern didera frustasi, merasa terpukul dan teralienasi oleh wacana yang cenderung epigonis pada Barat itu.

Lalu pertanyaannya, bagaimana sikap kita sebagai Muslimah dalam menghadapi “hingar-bingar” tradisi yang notabene baru tersebut? Lagi pula tradisi tersebut sudah menjadi “teriakan” nyaring, baik dalam tataran wacana ataupun diskursus praksis di seantereo dunia Islam.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas perlu ditegaskan bahwa Islam sendiri sama sekali tidak memusuhi tradisi, bahkan sebaliknya agama kita mengadopsinya. Dari awal sejarahnya, antara Islam dan tradisi lokal terus menjalin dialektika positif. Buktinya, sejak turun di Arab abad ke-7 M, Islam mempertimbangkan tradisi sebagai instrumen pelengkap doktrin agama.

Dengan diutusnya Nabi Arab, Muhammad, dan diturunkanya kitab suci, al-Qur’an yang berbahasa Arab, menandakan Islam ramah dengan tradisi lokal. Lihatlah, figur Nabi merepresentasikan klan (suku) Arab dan bahasa al-Qur’an adalah cermin bahasa resmi yang berlaku di Arab. Ini adalah bukti orisinil Islam mengadopsi tradisi, sebab Muhammad dan bahasa Arab hakekatnya adalah “anak resmi” dari tradisi lokal Arab, di tanah gersang itulah keduanya dilahirkan.

Bahkan, lepas dari masa awal sejarah Islam Nabi, sebegitu penting peran tradisi lokal, para ulama fikih klasik di masa dinasti Abbasiyyah menjadikannya sebagai pijakan merajut sumber hukum, yang kemudian dikenal dengan terma: al-‘urf. Sumber hukumpun bertambah, semula 4 jadi 5, yaitu: al-Qur’an, al-Hadis, al-ijma’, al-qiyas dan al-‘urf.

Karena Islam tidak memusuhi tradisi malah mengadopsi, maka tidak ada cara lain menghadapinya selain dengan merespon. Di sini, istilah “merespon” merupakan bentuk kerja pro-aktif sebagai bukti bahwa tradisi itu, baik atau buruk, bukan musuh Islam. Merespon adalah cara terbaik untuk menghadapi tradisi baru ketika kita tergiur mempertanyakannya.

Merespon bukan berarti menerima apa adanya, tapi lebih dari itu: merespon adalah sikap yang dibangun dengan memetik sisi kemaslahatan yang ada pada tradisi baru itu. Para ulama fikih klasik menginggatkan urgensitas sebuah “respon” lewat adagium: “al-muhâfadzah ‘alâ al-qadîm al-shâlih wa al-akhdz bi al-jadîd al-aslah”. Intinya, tetap memelihara tradisi klasik yang baik-baik dan dibarengi dengan membuka diri (merespon atau mengadopsi) tradisi baru sejauh itu baik menurut Islam.

Cara proporsional ini pernah diejawantahkan dengan bagus oleh Wali Songo ketika mempercantik bentuk dakwah untuk masyarakat grass root pedesaan. Dakwah para Sunan yang kini diteladani Kyai-kyai NU tulen nyatanya masih konkern mempertimbangkan tradisi sebagai unsur “internal” masyarakat yang tidak bisa dihilangkan begitu saja, oleh karenanya ajaran Islam sebagai unsur “eksternal” yang baru, dipandangnya harus melebur dengan unsur internal untuk mempermudah masyarakat menyerap ajaran Islam yang didakwakan. Gambaran ilustratif para Sunan dan Kyai NU dipotret sebagai usaha merespon tradisi dengan cara mempertahankannya untuk kemaslahatan dakwah Islam.

Seperti misalnya, mengisi tradisi lokal “begadang malam” selama 7 hari setelah wafatnya seseorang dengan senandung dzikir dan lantunan kalimah-kalimah thayyibah, ritual ini sekarang umum disebut “tahlilan” dan sudah mendarah-daging di basis pedesaan.

Walakhir, apapun tipe tradisi baru itu hakekatnya tetap tradisi, perkara apakah disinyalir menyebarkan keburukan atau kebaikan itu soal skunder, tidak prinsipil. Yang penting bagi kita adalah membangun sikap positif yaitu dengan merespon; sejauh itu positif patut kita ambil dan sejauh itu negatif selayaknya kita lewatkan. Demikian.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s