Pesan Suci Ramadhan Terus “Dianaktirikan”

[Dimuat di Buletin Prospek, Edisi 58. 21 September 2007]

Syiar Ramadhan kini mengelegar ke mana-mana, jutaan warga Muslim menyambut riang-gembira. Bulan suci yang dijanjikan Tuhan sebagai moment “keberkahan” disambut dengan kode-kode formal meriah. Sebagai umat beriman, hidup di bulan suci merupakan kepuasan tersendiri. Sebab, seperti dijanjikan di banyak ayat dan hadis Nabi, Ramadhan membawa “bonus” pahala tak terduga-duga.

Karena yang dipandang itu syiar, umat Islam berbondong-bondong mendatangi masjid, mereka datang silih berganti; dari pagi, siang, sore sampai malam. Semakin sering seseorang ke rumah suci Tuhan, syiar Ramadhan akan semakin seru. Logikanya, seberapa besar keaktifan seseorang meramaikan syiar itu semakin besar pula pahala dikantongi.

Lihatlah, di banyak fenomena yang cukup detail, ketika bulan puasa menyapa gambarannya tetap sama. Di sana-sini diwarnai kesibukan umat meramaikan masjid dengan syiar. Ramadhan isinya semakin sumpek. Ironis memang, selalu saja syiar-syiar itu yang ditampakkan, keadaannya selalu begitu dan akan tetap begitu seterusnya. Sepertinya, itu fenomena abadi umat Islam. Berkali-kali syiar itu diulang sehingga membuat kita jera, bahkan bosan. Bulan kerahmatan lumrah disebut bulan perayaan rumah ibadah ketimbang bulan berkah bagi umat.

Gejolak muram ini persis dialami Masisir beberapa hari menjelang bulan suci tiba, begitu banyak acara syiar (Tarhib Ramadhan) digelar dengan pembicara yang lagi-lagi, itu-itu saja, garis berpikirnya juga tentang, itu-itu saja. Sehingga pesan suci selalu ditampakkan versi, itu-itu saja, alias kabur dan remang-remang. Wajarlah karena sumbernya, itu-itu saja, jadi penyampaiannya yah, itu-itu saja. Dari dulu kok mereka berbicara syiar-syiar melulu. Apa nggak ada tema lain lagi selain syiar?

Sebagai bulan suci untuk manusia, Ramadhan juga moment suci untuk Tuhan, karena di bulan itu Allah menurunkan semua kitab suci-Nya: Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Sayangnya, ajaran kitab suci tidak sampai menjelma pada pesan suci yang mampu diartikulasikan dengan apik oleh kita. Malah faktanya, di bulan yang suci ini seringkali ajaran kitab suci dibaca ala huruf-huruf suci. Tak jarang pula mereka membacanya dengan semangat “mantraisme” dan kekuatan supranatural.

Itulah panorama syiar yang saya sebut “menggelegar” yang kini ramai bergemma di masjid-masjid ketika Ramadhan menjelang. Betapapun “pesan suci” al-Qur’an lebih penting karena itu upaya mengartikulasikannya juga sangat penting. Di bulan suci ini sepatutnya pengartikulasian itu terjadi, sebab itulah inti pesan suci Ramadhan yang esensial: yaitu dengan mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur’an, bukan mengamalkan syiar dengan membacanya ala tadarrusan sampai mulut “berbusa-busa.”

Di sini, saya menangkap “pesan suci” Ramadhan yang sebenarnya substansial dianaktirikan. Kita lebih tergiur meramaikannya dengan “men-kitab-suci-kan” al-Qur’an daripada menalarnya sebagai “pesan suci”. Pengalaman Ramadhan sekedar diisi dengan bersusahpayah melantunkan lafadz daripada mempraktekkan isi ajaran al-Qur’an. Saking besar praktek syiar tersebut diagung-agungkan seolah-olah mengeyampingkan pesan sejatinya.

Mengamalkan pesan suci Ramadhan seyogyanya adalah dengan menganggap keimanan terhadap eksistensi al-Qur’an berpengaruh dalam praksisme kehidupan sosial. Sebagai kitab suci, ia bukan sebatas formalisasi kitab yang menuntut pribadi Muslim membacanya hingga berbunga-bungah. Tapi lebih dari itu, ia adalah blue-print praktis dan petunjuk kebenaran untuk kita terjemahkan ke realitas duniawi. Makanya al-Qur’an menutut umat untuk membahasakan idiom-idiomnya dimaknai demi keberkahan dan kesejahteraan umat manusia. Hal inilah yang sebenarnya menjadi titik tolakukur keimanan kita terhadap kalam Ilahi.

Ramadhan memang bertautan dengan al-Qur’an mengingat di bulan itulah kitab samawi terakhir diturunkan. Nuzulul al-Qur’an merupakan salah satu unsur keutamaan bulan tersebut. Sungguh naif jika bulan yang penuh berkah ini dipahami oleh sebagian orang sebagai kesempatan untuk mensakralkan al-Qur’an: memosisikannya sebagai “kitab suci” belaka, seperti memujanya tapi luput mengamalkannya. Atau barangkali mereka menghafal dan mentadarusinya sepanjang hari tapi tak banyak yang bangkit kesadarannya untuk mengkaji, menelaah ataupun merefleksikan “pesan suci”-nya.

Di bulan penuh pengampunan ini, tak jarang khalayak salah-kaprah memandang kedudukan al-Qur’an. Ini terjadi karena hanya menganggapnya sebatas “kitab suci” yang harus dimuliakan, diagungkan, dihafal, ditilawahkan namun nonsense tanpa realisasi nyata dari “titah” sucinya.

Seringkali syiar Ramadhan yang dirayakan dengan membaca al-Qur’an dengan semangat “kitab suci” belaka sehingga, di penghabisan bulan suci syiar yang temporal 30 hari itu hilang sama sekali. Gambaran ini samahalnya dengan orang yang berkesempatan datang bulan Ramadhan, mereka bertaubat, berlomba-lomba mengamalkan kebajikan, berbondong-bondong shalat ke masjid namun ketika Ramadhan lewat, rutinitas ini mendadak berhenti bahkan tidak sedikit kembali ke jalur kemaksiatan. Mereka inilah seburuk-buruk manusia, karena tidak mengenal Allah kecuali di bulan itu saja.

Bulan Ramadhan yang diproyeksi sebaqai bulan suci seharusnya meneguhkan sikap kita terhadap “pesan suci” al-Qur’an. Yaitu: berupaya mengartikulasikan dan mempraktekan ajaran-ajaran suci ke tataran praktis, sebab al-Qur’an tidak sebatas I’jaz yang membuai ketika dibaca dan didengar, tapi ia juga huda, petunjuk, bagi umat di dunia yang butuh diejawantahkan. Imam al-Syatibi dalam al-Muwâfaqât memberi penjelasan menarik: Barangsiapa yang ingin mengetahui keuniversalan syari’at, berkeinginan mengenal tujuan-tujuannya serta mengikuti jejak para ahlinya maka harus menjadikannya sebagai kawan bercakap dan teman duduknya siang dan malam dalam teori dan praktek.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s