Posted by: Maik | October 1, 2007

Merespon Tradisi Baru

[Kolom Terbaik Pertama versi Lomba Menulis Kategori Kolom WIHDAH-PPMI 2007]

Di abad modern ini, perkembangan dunia nyatanya lebih banyak menimbulkan permasalahan daripada penyelesaian. Itulah fakta globalisasi, di satu sisi berhasil mencipta kemodernan dan kemegahan hidup, dan di sisi lain karena lengah oleh implikasi buruknya, seringkali praktek globalisasi membuat hidup kita “gusar” alias tidak tenang.

Bagi kita, kaum Muslimah khususnya, capaian dunia modern itu ironis sekaligus mengagumkan! Ya, kita kagum berkat kecanggihan dunia modern membuat sarana kehidupan semakin lancar, hidup jadi gampang. Tapi ironisnya, gegap-gempita kecanggihan dunia yang kita nikmati saat ini sarat melahirkan tradisi tidak baik.

Kini, modernitas yang menjadi ciri etos sekularisme telah mencetus budaya, aliran filsafat dan paham pemikiran sangat beragam. Dalam keragaman itu, aliran-aliran tersebut bertemu pada satu komando: yaitu semangat memperjuangkan “kebebasan kebablasan”. Darwin mendakwah atheisme yang diselipkan di teori evolusinya, filsafat Nietzhe menganggap Tuhan telah mati, J. Derrida mengasumsikan di era post-modernisme manusia hidup tanpa tujuan. (Masirry, al-Almâniyyah tahta Mijhar).

Di depan kita, kemodernan kreatif mencipta nilai-nilai tradisi baru yang bukan hanya berseberangan dengan ajaran etik Islam tapi memusuhinya. Naifnya, akhir-akhir ini ajaran-ajaran tersebut oleh beberapa kalangan dienyam sembari dijajakan dalam wacana keislaman kontemporer.

Fakta membuktikan, asas kebebasan “yang terlalu” itu sedikit banyak menyengsarakan wanita Muslimah, membuat mereka tercabik-cabik. Banyak kajian keislaman menyinggung, salah-satunya, tentang kebebasan kurang bermoral kepada wanita Muslimah, seperti wacana jilbab simbol pengekangan dan tidak wajib syar’ie hukumnya, lalu Muslimah boleh jadi Imam shalat pada jama’ah laki-laki seperti kasus Aminah Wadud, terus isu pemimpin wanita dan lain sebagainya.

Nampaknya, hasil kemodernan yang berasaskan kebebasan tersebut sepintas telah menindas moral kaum Hawa, menjauhkan mereka dari nilai-nilai otentisitas Islam sebagaimana disematkan generasi salaf dahulu. Dengan ini menjadi jelas, kenapa banyak membuat Muslimah di abad modern didera frustasi, merasa terpukul dan teralienasi oleh wacana yang cenderung epigonis pada Barat itu.

Lalu pertanyaannya, bagaimana sikap kita sebagai Muslimah dalam menghadapi “hingar-bingar” tradisi yang notabene baru tersebut? Lagi pula tradisi tersebut sudah menjadi “teriakan” nyaring, baik dalam tataran wacana ataupun diskursus praksis di seantereo dunia Islam.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas perlu ditegaskan bahwa Islam sendiri sama sekali tidak memusuhi tradisi, bahkan sebaliknya agama kita mengadopsinya. Dari awal sejarahnya, antara Islam dan tradisi lokal terus menjalin dialektika positif. Buktinya, sejak turun di Arab abad ke-7 M, Islam mempertimbangkan tradisi sebagai instrumen pelengkap doktrin agama.

Dengan diutusnya Nabi Arab, Muhammad, dan diturunkanya kitab suci, al-Qur’an yang berbahasa Arab, menandakan Islam ramah dengan tradisi lokal. Lihatlah, figur Nabi merepresentasikan klan (suku) Arab dan bahasa al-Qur’an adalah cermin bahasa resmi yang berlaku di Arab. Ini adalah bukti orisinil Islam mengadopsi tradisi, sebab Muhammad dan bahasa Arab hakekatnya adalah “anak resmi” dari tradisi lokal Arab, di tanah gersang itulah keduanya dilahirkan.

Bahkan, lepas dari masa awal sejarah Islam Nabi, sebegitu penting peran tradisi lokal, para ulama fikih klasik di masa dinasti Abbasiyyah menjadikannya sebagai pijakan merajut sumber hukum, yang kemudian dikenal dengan terma: al-’urf. Sumber hukumpun bertambah, semula 4 jadi 5, yaitu: al-Qur’an, al-Hadis, al-ijma’, al-qiyas dan al-’urf.

Karena Islam tidak memusuhi tradisi malah mengadopsi, maka tidak ada cara lain menghadapinya selain dengan merespon. Di sini, istilah “merespon” merupakan bentuk kerja pro-aktif sebagai bukti bahwa tradisi itu, baik atau buruk, bukan musuh Islam. Merespon adalah cara terbaik untuk menghadapi tradisi baru ketika kita tergiur mempertanyakannya.

Merespon bukan berarti menerima apa adanya, tapi lebih dari itu: merespon adalah sikap yang dibangun dengan memetik sisi kemaslahatan yang ada pada tradisi baru itu. Para ulama fikih klasik menginggatkan urgensitas sebuah “respon” lewat adagium: “al-muhâfadzah ‘alâ al-qadîm al-shâlih wa al-akhdz bi al-jadîd al-aslah”. Intinya, tetap memelihara tradisi klasik yang baik-baik dan dibarengi dengan membuka diri (merespon atau mengadopsi) tradisi baru sejauh itu baik menurut Islam.

Cara proporsional ini pernah diejawantahkan dengan bagus oleh Wali Songo ketika mempercantik bentuk dakwah untuk masyarakat grass root pedesaan. Dakwah para Sunan yang kini diteladani Kyai-kyai NU tulen nyatanya masih konkern mempertimbangkan tradisi sebagai unsur “internal” masyarakat yang tidak bisa dihilangkan begitu saja, oleh karenanya ajaran Islam sebagai unsur “eksternal” yang baru, dipandangnya harus melebur dengan unsur internal untuk mempermudah masyarakat menyerap ajaran Islam yang didakwakan. Gambaran ilustratif para Sunan dan Kyai NU dipotret sebagai usaha merespon tradisi dengan cara mempertahankannya untuk kemaslahatan dakwah Islam.

Seperti misalnya, mengisi tradisi lokal “begadang malam” selama 7 hari setelah wafatnya seseorang dengan senandung dzikir dan lantunan kalimah-kalimah thayyibah, ritual ini sekarang umum disebut “tahlilan” dan sudah mendarah-daging di basis pedesaan.

Walakhir, apapun tipe tradisi baru itu hakekatnya tetap tradisi, perkara apakah disinyalir menyebarkan keburukan atau kebaikan itu soal skunder, tidak prinsipil. Yang penting bagi kita adalah membangun sikap positif yaitu dengan merespon; sejauh itu positif patut kita ambil dan sejauh itu negatif selayaknya kita lewatkan. Demikian.

Posted by: Maik | September 21, 2007

Pesan Suci Ramadhan Terus “Dianaktirikan”

[Dimuat di Buletin Prospek, Edisi 58. 21 September 2007]

Syiar Ramadhan kini mengelegar ke mana-mana, jutaan warga Muslim menyambut riang-gembira. Bulan suci yang dijanjikan Tuhan sebagai moment “keberkahan” disambut dengan kode-kode formal meriah. Sebagai umat beriman, hidup di bulan suci merupakan kepuasan tersendiri. Sebab, seperti dijanjikan di banyak ayat dan hadis Nabi, Ramadhan membawa “bonus” pahala tak terduga-duga.

Karena yang dipandang itu syiar, umat Islam berbondong-bondong mendatangi masjid, mereka datang silih berganti; dari pagi, siang, sore sampai malam. Semakin sering seseorang ke rumah suci Tuhan, syiar Ramadhan akan semakin seru. Logikanya, seberapa besar keaktifan seseorang meramaikan syiar itu semakin besar pula pahala dikantongi.

Lihatlah, di banyak fenomena yang cukup detail, ketika bulan puasa menyapa gambarannya tetap sama. Di sana-sini diwarnai kesibukan umat meramaikan masjid dengan syiar. Ramadhan isinya semakin sumpek. Ironis memang, selalu saja syiar-syiar itu yang ditampakkan, keadaannya selalu begitu dan akan tetap begitu seterusnya. Sepertinya, itu fenomena abadi umat Islam. Berkali-kali syiar itu diulang sehingga membuat kita jera, bahkan bosan. Bulan kerahmatan lumrah disebut bulan perayaan rumah ibadah ketimbang bulan berkah bagi umat.

Gejolak muram ini persis dialami Masisir beberapa hari menjelang bulan suci tiba, begitu banyak acara syiar (Tarhib Ramadhan) digelar dengan pembicara yang lagi-lagi, itu-itu saja, garis berpikirnya juga tentang, itu-itu saja. Sehingga pesan suci selalu ditampakkan versi, itu-itu saja, alias kabur dan remang-remang. Wajarlah karena sumbernya, itu-itu saja, jadi penyampaiannya yah, itu-itu saja. Dari dulu kok mereka berbicara syiar-syiar melulu. Apa nggak ada tema lain lagi selain syiar?

Sebagai bulan suci untuk manusia, Ramadhan juga moment suci untuk Tuhan, karena di bulan itu Allah menurunkan semua kitab suci-Nya: Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Sayangnya, ajaran kitab suci tidak sampai menjelma pada pesan suci yang mampu diartikulasikan dengan apik oleh kita. Malah faktanya, di bulan yang suci ini seringkali ajaran kitab suci dibaca ala huruf-huruf suci. Tak jarang pula mereka membacanya dengan semangat “mantraisme” dan kekuatan supranatural.

Itulah panorama syiar yang saya sebut “menggelegar” yang kini ramai bergemma di masjid-masjid ketika Ramadhan menjelang. Betapapun “pesan suci” al-Qur’an lebih penting karena itu upaya mengartikulasikannya juga sangat penting. Di bulan suci ini sepatutnya pengartikulasian itu terjadi, sebab itulah inti pesan suci Ramadhan yang esensial: yaitu dengan mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur’an, bukan mengamalkan syiar dengan membacanya ala tadarrusan sampai mulut “berbusa-busa.”

Di sini, saya menangkap “pesan suci” Ramadhan yang sebenarnya substansial dianaktirikan. Kita lebih tergiur meramaikannya dengan “men-kitab-suci-kan” al-Qur’an daripada menalarnya sebagai “pesan suci”. Pengalaman Ramadhan sekedar diisi dengan bersusah-payah melantunkan lafadz daripada mempraktekkan isi ajaran al-Qur’an. Saking besar praktek syiar tersebut diagung-agungkan seolah-olah mengeyampingkan pesan sejatinya.

Mengamalkan pesan suci Ramadhan seyogyanya adalah dengan menganggap keimanan terhadap eksistensi al-Qur’an berpengaruh dalam praksisme kehidupan sosial. Sebagai kitab suci, ia bukan sebatas formalisasi kitab yang menuntut pribadi Muslim membacanya hingga berbunga-bungah. Tapi lebih dari itu, ia adalah blue-print praktis dan petunjuk kebenaran untuk kita terjemahkan ke realitas duniawi. Makanya al-Qur’an menutut umat untuk membahasakan idiom-idiomnya dimaknai demi keberkahan dan kesejahteraan umat manusia. Hal inilah yang sebenarnya menjadi titik tolak-ukur keimanan kita terhadap kalam Ilahi.

Ramadhan memang bertautan dengan al-Qur’an mengingat di bulan itulah kitab samawi terakhir diturunkan. Nuzulul al-Qur’an merupakan salah satu unsur keutamaan bulan tersebut. Sungguh naif jika bulan yang penuh berkah ini dipahami oleh sebagian orang sebagai kesempatan untuk mensakralkan al-Qur’an: memosisikannya sebagai “kitab suci” belaka, seperti memujanya tapi luput mengamalkannya. Atau barangkali mereka menghafal dan mentadarusinya sepanjang hari tapi tak banyak yang bangkit kesadarannya untuk mengkaji, menelaah ataupun merefleksikan “pesan suci”-nya.

Di bulan penuh pengampunan ini, tak jarang khalayak salah-kaprah memandang kedudukan al-Qur’an. Ini terjadi karena hanya menganggapnya sebatas “kitab suci” yang harus dimuliakan, diagungkan, dihafal, ditilawahkan namun nonsense tanpa realisasi nyata dari “titah” sucinya.

Seringkali syiar Ramadhan yang dirayakan dengan membaca al-Qur’an dengan semangat “kitab suci” belaka sehingga, di penghabisan bulan suci syiar yang temporal 30 hari itu hilang sama sekali. Gambaran ini samahalnya dengan orang yang berkesempatan datang bulan Ramadhan, mereka bertaubat, berlomba-lomba mengamalkan kebajikan, berbondong-bondong shalat ke masjid namun ketika Ramadhan lewat, rutinitas ini mendadak berhenti bahkan tidak sedikit kembali ke jalur kemaksiatan. Mereka inilah seburuk-buruk manusia, karena tidak mengenal Allah kecuali di bulan itu saja.

Bulan Ramadhan yang diproyeksi sebaqai bulan suci seharusnya meneguhkan sikap kita terhadap “pesan suci” al-Qur’an. Yaitu: berupaya mengartikulasikan dan mempraktekan ajaran-ajaran suci ke tataran praktis, sebab al-Qur’an tidak sebatas I’jaz yang membuai ketika dibaca dan didengar, tapi ia juga huda, petunjuk, bagi umat di dunia yang butuh diejawantahkan. Imam al-Syatibi dalam al-Muwâfaqât memberi penjelasan menarik: Barangsiapa yang ingin mengetahui keuniversalan syari’at, berkeinginan mengenal tujuan-tujuannya serta mengikuti jejak para ahlinya maka harus menjadikannya sebagai kawan bercakap dan teman duduknya siang dan malam dalam teori dan praktek.”

Posted by: Maik | April 20, 2007

Akademis Berbasis Fakultatif


(Arah Baru bagi Masisir Profesional)

[Dimuat di Buletin Prospek, edisi April 2007]

Dewasa ini, perkembangan kemodernan zaman memiliki pengaruh melahirkan generasi bergengsi yang idealis. Di sini, dunia kemahasiswaan dengan ragam aktivitasnya turut andil dalam mewarnai mahasiswa untuk meningkatkan life skill dan life inteligensi. Terlebih mengingat kita adalah delegasi insan akademis Indonesia, yang secara natural dibebani tuntutan meningkatkan skill menuju sosok pribadi yang visioner dan profesional.

Hal tersebut sangat relevan diwacanakan terutama setelah mencermati geliat dinamika Masisir beberapa pekan terakhir ini. Sekedar renungan saja, bahwa rutinitas harian Masisir setelah rampungnya ujian term satu kemarin banyak dijejali program yang membludak. Kita amati bersama, dinamika mereka dipenuhi kegiatan-kegiatan yang variatif, mulai dari kegiatan perkuliahan, keorganisasian, wisata hiburan, sampai acara ke pelaminan (nikah). Sebagai bentuk simbolisme, dinamika tersebut adalah cermin kreativisme seorang mahasiswa yang kinetis dan dinamis.

Tapi sangat disayangkan sekali, dari seabrek kegiatan yang “diterjuni” Masisir, sejauh ini masih sangat minim sekali yang mengarah ke fakultatif atau yang menjurus pada penekunan spesialisasi seperti yang diminati di bangku kuliah. Padahal kalau kita mau menilai dan berfikir akurat, justru kegiatan ini memiliki urgensitas tinggi demi memotivasi kita dalam profesionalisasi akademis. Setidaknya sisi urgensitas bisa dibaca dalam empat faktor:

Pertama, aktifitas senat fakultas sejatinya adalah wadah untuk menuangkan berbagai bakat keilmuan yang dimiliki setiap individu untuk mencari problem solving dan sharing ide antarsesama khususnya dalam masalah yang berkitan dengan bidang kajian (fakultas) yang diambil. Kedua, menfokuskan sasaran utama ke negeri yang kaya sains dan kultur Islami ini, sebab tujuan ke Mesir adalah untuk belajar semata. Ketiga, melahirkan idealisme yang tinggi sebagai mahasiswa yang berakademisi. Keempat, memunculkan “sense of belonging” yang kuat sebagai mobilitas kita ke depan.

Di sini, kita bisa ambil sampel senat fakultas Bahasa Arab sebagaimana saya alami. Senat bahasa secara rutin setiap dwi mingguan mengadakan perkumpulan bersama. Acara tersebut menegaskan peraturan ketat seperti melarang anggotanya mengunakan bahasa ‘amiyah ataupun bahasa Indonesia. Semua anggota wajib berkomunikasi dalam bahasa Arab fusha. Kumpul senat lazimnya mengulas strategi peningkatan bahasa dengan cara-cara yang serba guna. Ini ditempuh dengan, misalnya, menyuruh setiap anggota senat membuat karangan ataupun surat berbahasa Arab yang langsung dibimbing dan dikoreksi oleh senior Strata 1. Selain kumpul senat, para anggota secara inovatif mengadakan evaluasi mingguan untuk pembahasan materi kuliah satu minggu yang lewat. Tidak terbatas itu saja, mereka pun membahas berbagai persoalan lain yang dirasa krusial.

Pemaparan terhadap aktifitas senat Bahasa hanya satu contoh saja, itu penting untuk ditiru bagi Masisir yang ada di Ushuluddin dan Syari’ah. Kegiatan senat memang harus digalakkan karena melihat realita Masisir kini minim kegiatan bertendensi besar dalam memobilisasi meningkatkan prestasi di Al-Azhar. Lagi pula, kenyataan yang ada sekarang, interaksi Masisir sendiri sepertinya kurang terarah dan terkoordinasi ke arah akademis. Dan lagi, ujian termin kedua sebentar lagi menyapa kita.

Dilihat secara empirik, dunia perkuliahan Al-Azhar sendiri mengikuti sistem otodidak. Kesuksesan tidak bergantung penuh pada label Al-Azhar kita. Tapi dilihat sejauh kesadaran dan usaha kita menyelami lautan ilmu didalamnya. Karena tidak mudah menjadi pengembara ilmu dalam arus lingkungan yang tidak mendukung ke cita-cita akademis. Pengoptimalisasian senat diproyeksikan demi mengarahkan Masisir ke jenjang profesionalisme akademik, yaitu untuk mendalami ilmu-ilmu lain yang di luar kajian fakultasnya. Namun pertanyaannya: bagaimana kita menekuni semua disiplin keilmuan jika dalam satu bidangpun kita belum terbukti profesional. Selalu spirit, sportif, aktif, dan positif ok?

« Newer Posts

Categories